
Malam harinya, Juan baru saja pulang dari bertugas dan mendapati rumahnya dalam keadaan gelap gulita walaupun masih ada cahaya lampu yang remang-remang dari arah ruang keluarga, Saat Juan masuk pun ia merasa rumah itu memiliki aura dingin yang mencekam. Juan memanggil-manggil nama Risa sambil mencarinya ke beberapa tempat di rumah setelah ia menyalahkan lampu. Juan melirik ke lantai dua dengan wajah heran tidak biasanya Risa tidur secepat ini sehingga Juan pun segera menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
" Risa.. " ucap Juan saat membuka pintu kamarnya, ia mendapati sosok istrinya sedang duduk di bibir tempat tidur lagi-lagi dengan penerangan lampu tidur sehingga membuat Juan langsung menyalahkan lampu kamar mereka.
" Hey.., aku sudah kembali, kenapa kau tidak menyambut ku seperti biasa.? " Tanya Juan sambil melepas jas dan dasinya
Risa tak memberikan respon apapun, Bahkan sekedar berbalik pun tidak sehingga membuat Juan penasaran dan langsung menghampirinya. Saat Juan berusaha untuk merangkulnya secara bersamaan Risa menyerahkan selembar kertas yang di kira Juan adalah hasil check up Risa hari ini, dan setelah di lihat Juan tampak membeku tak bisa berkata-kata, Risa meliriknya dengan mata yang sembab setelah berjam-jam menangisi apa yang sudah ia tahu hari ini.
Tubuh Juan seakan melemah dan membuatnya langsung bersujud di hadapan Risa " Aku bisa menjelaskannya. " Ucapnya membuat Risa sakit hari melihatnya.
" Ku pikir kau akan mengelak semua ini, ternyata memang benar.., Sikapmu kemarin-kemarin sudah menjawab semuanya, untuk apa menjelaskan sesuatu yang sudah terjadi dan kau tutupi selama dua bulan terkahir ini. " lontar Risa ketus, Juan mengangkat kepalanya dan berusaha meraih tangan Risa namun Risa tak ingin Juan menyentuhnya dengan beranjak dari tempatnya menuju keluar kamar.
Tak berhenti sampai di situ, Juan tetap mengejar Risa dan memintanya untuk memberikan kesempatan, Risa menutup pintu kamar sebelah yang di mana kamar itu merupakan kamar yang telah di siapkan untuk calon anak mereka, Risa menguncinya dan tak membiarkan Juan masuk.
" Risa kumohon, Aku tidak sengaja melakukan nya, itu sebuah kecelakaan dan aku sangat menyesal..., Risa kumohon jangan marah padaku, aku tahu aku salah dan aku sangat bodoh, aku sangat bodoh, aku suami yang bodoh... Risa... Risa.... Risa....!!!! "
Percuma saja Juan mencoba untuk menyuruh Risa membuka pintu, saat ini Risa sedang dalam keadaan tidak ingin di ganggu dan hanya ingin sendirian, Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan linangan air mata mendengar Juan terus mengoceh di luar sana, Rasanya ia tak pernah sesakit ini sampai jantungnya serasa akan meledak, Risa benar-benar sakit hati sampai tak bisa menerima kenyataan yang ada.
🍉
Pagi keesokan harinya, Juan mencoba menyuruh Risa untuk membuka pintu karena merasa khawatir bahkan sejak semalam ia tak keluar sama sekali. Juan terus menerus mengetuk pintu sambil memanggil nama Risa, meskipun tak ada jawaban ia tetap memohon agar Risa membuka pintu segera mungkin.
" Risa kumohon, Buka pintunya.., kau sedang hamil dan tidak boleh seperti ini, aku sudah membuatkan sarapan ayo kita makan bersama. " ajak Juan terdengar parau
Juan melirik pintu berwarna putih itu dengan sayu, Entah harus berkata apa lagi samai Risa mau membukakan pintu, Juan benar-benar khawatir dengan kondisi Risa saat ini, ia tahu kalau seorang ibu hamil tidak boleh stress apalagi usia kandungan Risa yang sudah hampir memasuki lima bulan. Tiba-tiba saja suara pecahan kaca dari dalam sukses membuat Juan kaget dan berusaha untuk membuka pintu dengan paksa, rasa khawatir Juan semakin besar setelah mendengar pecahkan itu yang di mana membuat Juan langsung mendobrak pintu dengan segenap kekuatan yang ia punya.
Pintu berhasil terbuka dan saat ini pandangan Juan tertuju pada Risa yang tergeletak di lantai dengan pecahan kaca di sebelahnya, entah apa yang sudah terjadi namun yang pasti Juan segera menggendong istrinya itu untuk segera di bawa ke rumah sakit. Untuk kesekian kalinya Juan menitihkan air mata melihat istrinya pingsan, ia takut sesuatu terjadi pada istri dan anaknya, dan sepanjang perjalanan Juan hanya dapat berdoa kepada tuhan untuk keselamatan mereka.
Juan duduk di sebelah Risa yang terbaring lemah dengan tali infus yang terhubung ke tangannya, Risa masih belum siuman dan entah kapan baru akan bangun, dokter mengatakan bahwa tubuh Risa sangat lemah seiring mengalami stress atau tekanan batin membuat nya dalam kondisi yang tidak baik, Namun dokter mengatakan ini bukanlah sesuatu yang perlu di takutkan sebab jika Risa sudah bangun nanti itu artinya ia tidak kenapa-napa.
" Banyak hal yang menakutkan sudah terjadi, tapi hari ini melihatmu terbaring lemah seperti ini merupakan hari yang paling menakutkan untukku. Tolong sadarlah, biarkan aku meminta maaf sekali lagi dan memperbaiki kesalahan yang ada. " Gumam Juan sambil menggenggam erat tangan Risa
Pintu baru saja terkuak dan memunculkan seorang wanita dengan wajah khawatirnya melihat Risa yang terbaring di sana, Ia mendekati Risa dan Juan dengan mata sembabnya kemudian melirik ponakannya yang juga sedang menangis.
" Apa yang sudah terjadi? Kenapa Risa bisa sampai seperti ini.?" Tanya Diana pada Juan
" Aku melalukan kesalahan, aku pantas menerima hukumannya asalkan Risa segera siuman dan dia bisa sehat seperti sebelumnya." Ujar Juan membuat Diana tak mengerti dengan ucapannya
" Kau ini bicara apa sih? Katakan dengan benar ada apa dengan kalian berdua? Semalam Risa menelpon untuk memintaku menjemput nya dan pagi ini kau menelpon Risa masuk rumah sakit, Kalian kenapa sampai seperti ini.???? "
" Aku menghamili wanita lain, Risa tahu dan dia marah sampai pingsan seperti ini dan.. " Belum sempat Juan melanjutkan ucapannya Diana sudah menamparnya dengan penuh amarah, tak peduli saat ini ada Risa yang sedang sakit baginya menampar Juan belum cukup untuk meluapkan kekesalannya.
" Aku tidak pernah memiliki anggota keluarga yang bodoh seperti ini, kau harusnya malu pada ibu dan nenekmu!!! Bagaimana mungkin seorang pria berpendidikan bisa melakukan hal bodoh itu, sekalipun kau mabuk itu pasti tidak akan pernah terjadi kecuali kau sengaja melakukannya.!!! " protes Diana benar-benar di bakar api emosi
" Aku tidak yakin kalau wanita itu hamil denganku karena seingat ku aku tidak pernah melakukan. " Balas Juan pasrah
" Kalau begitu untuk membuktikannya kita lakukan tes DNA saja, kalau ternyata kau benar melakukannya aku tidak akan memaafkan mu meskipun kau adalah keponakanku sendiri. "
" Tapi bayinya belum lahir, bagaimana mungkin bisa melakukan tes DNA.??? "
" Tentu saja bisa, resikonya memang besar bagi ibu dan anaknya tapi untuk membuktikan itu semua kita harus melakukannya, sekarang juga panggil wanita itu untuk melakukan tesnya. " Pinta Diana dan langsung di turuti oleh Juan tanpa berpikir panjang