My Handsome Pilot

My Handsome Pilot
55



Sebelum lanjut baca jangan lupa di like yah :)


Stay safe and healthy guys semoga corona cepat berlalu..


.


.


.


.


Pria itu berlari menelusuri koridor rumah sakit dengan tatapan tajam memperhatikan papan ruangan yang di lewatinya, mulutnya nampak mengucapkan angka 201 dengan nada yang kecil dan raut wajah yang begitu khawatir. Ia tiba di depan sebuah ruangan dengan nomor yang sama dengan yang di ucapkan sejak tadi, tanpa menunggu waktu lama lagi pria itu langsung membuka pintu dan mendapati dua orang wanita yang saat ini meliriknya dengan wajah terkejut.


" Risa/Kak Dimas.? " Ucap mereka bersamaan


Dimas perlahan memasuki kamar itu, langkahnya sedikit lemas ketika melihat Risa lagi-lagi terbaring di rumah sakit, Sabrina bangkit dari kursinya dan mempersilahkan Dimas untuk duduk menggantikannya di sebelah Risa. Pria itu menatap Risa dengan sendu ia begitu ingin memeluknya namun ia tahu batasan dan hanya dapat duduk dengan pasrah.


" Bagaimana kau tahu aku bisa berada di sini.? " Tanya Risa penasaran


" Aku tahu dari salah satu pramugara yang melapor tadi pagi, Aku langsung ke sini begitu tahu kalau itu adalah kamu, aku turut berduka atas apa yang menimpamu. " Ucap Dimas menunduk bersalah


" Apa kau akan tetap merasa sedih jika mengetahui orang yang melukaiku adalah adikmu sendiri.? " Benak Risa dalam hati


" Apa sebaiknya kita melapor ke polisi agar pelakunya segera di tangkap. ? " Usul Dimas tiba-tiba


Risa hanya dapat melirik Sabrina dengan tatapan bingung, ia tak tahu apakah hal ini baik untuk di katakan kepada Dimas mengingat dia adalah kakak dari pelakunya, seperti apa respon Dimas nantinya apakah ia akan tetap melakukan proses hukum atau sebaliknya.


" Ada apa? Kau tidak ingin pelakunya di temukan.? " Tanya Dimas bingung


" Bukan begitu kak, ada sesuatu yang tidak kau ketahui dan mungkin akan membuatmu berpikir dua kali nantinya. " Sahut Risa semakin membuat Dimas tampak kebingungan


\*


Dimas tiba di sebuah pelataran rumah yang megah dan keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa, wajahnya menampilkan amarah yang meluap seakan tak bisa terbendungi saat ini, Ia masuk ke dalam rumah itu setelah kemarin sempat berkunjung, Dimas tak peduli saat Mamanya menyambut kedatangannya dengan hangat bahkan saat itu ada Tania yang kebetulan datang berkunjung ke rumah mertuanya, Dimas benar-benar tak peduli dan terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamar yang berada di lantai dua ketiga dari kanan.


Pintu itu di bukanya dengan kasar dan mencari sosok yang di cari-cari nya, dia tak ada di sana sehingga membuat Dimas kembali mencari di tiap ruangan sambil memanggil nama Rama adiknya, Mamanya kembali menghampiri dan bertanya begitu pun dengan Tania yang ikut penasaran dengan sikap suaminya yang seperti orang kesurupan itu.


" Rama di mana ma, Dimas mau ketemu sama dia. " Balas Dimas sambil mengecek satu persatu ruangan yang ada di lantai dua itu


" Rama ada di halaman belakang sama pacarnya. " Jawab Mamanya dan membuat Dimas buru-buru berlari menuju halaman belakang rumah


Langkah Dimas semakin cepat mendekati Rama yang terlihat melihat sesuatu di layar ponsel bersama seorang wanita yang di yakini sebagai pacar adiknya, Satu tendangan berhasil membuat Rama tercebur ke dalam kolam membuat Mamanya, Tania dan juga Celine pacar Rama teriak dan menatap Dimas dengan kedua mata yang terbelalak sempurna. Rama yang baru saja keluar dari kolam mengusap wajahnya dan mulai berteriak pada Dimas atas aksinya barusan.


" Sejak kapan kau menjadi pria bodoh yang tidak punya hati !!! Apa Ayah pernah mengajarimu melakukan hal itu, Hah. " Sentak Dimas tegas


" Apa maksud mu, bicara yang jelas. " Sahut Rama kesal


" Kau telah melukai karyawan di perusahaan dan meninggalkannya tanpa bertanggung jawab, Sekarang juga pergi mengakui kesalahan mu padanya dan minta maaf sebelum semuanya menjadi kacau. "


Rama mulai berenang ke tepi kolam dan segera keluar dari sana dengan bantuan Celine, Mamanya kembali setelah dari dalam membawakan handuk untuk membalut tubuh Rama agar tidak masuk angin, tatapan tajam kedua kakak beradik itu seakan membuat suasana menjadi dingin dan mencekam.


" Dimas, kau tidak boleh melakukan ini pada adikmu, kau bisa bicara baik-baik dan tidak perlu sampai bertindak kasar seperti ini. " Ucap Mamanya menatap Dimas dengan mata yang berkaca-kaca


" Mama, kau tidak tahu apa-apa, putra bungsu kesayanganmu ini baru saja melakukan kejahatan pada pramugari kami dan dia dengan tega memukulnya hingga tak sadarkan diri. "


" Punya bukti apa kau sampai menuduhku melakukannya. " Sahut Rama lantang


" Mungkin aku tidak punya bukti atas kejahatan mu ini, tapi aku percaya pada pramugari itu, dia tidak pernah berbohong padaku. "


" Apa dia Risa? Kau masih berhubungan dengannya? " Sahut Tania yang mulai tak tahan dengan sikap Dimas yang berlebihan.


" Diam lah Tania, ini urusanku dan Rama sebaiknya kau tidak usah ikut campur. " Balas Dimas lugas


" Aku istrimu, bagaimana mungkin aku tinggal diam saat melihat suamiku mempedulikan wanita lain lebih dari batas wajar. "


" Ada apa ini.? " Sahut seseorang berhasil membuat semuanya menoleh ke arah sumber suara


\*


Risa menunduk bingung sembari memikirkan apakah tindakannya memberitahu Dimas seperti itu adalah cara terbaik atau tidak, dan sebelumnya ia tak mengira kalau Dimas akan membelanya sampai berjanji akan memasukkan Rama ke penjara jika memang ia sudah terbukti bersalah. Sabrina baru saja masuk dan memperlihatkan layar ponselnya di mana ada nama Juan di sana, Risa menatap Sabrina dengan mata membulat sempurna, Risa bingung harus menjawabnya atau tidak dan setelah di pikir baik-baik Risa pun meraih ponsel Sabrina dan menjawab panggilan itu.


" Iya capt. " balasnya pelan


" Kau tidak apa-apa ? Tentang Video itu kau sedang di jebak kan, beritahu aku apa benar pria itu adalah putra bungsu direktur utama? " Tanya Juan membuat Risa kaget karena ia belum pernah memberitahu hal ini pada siapapun selain Sabrina dan Dimas, Melihat Sabrina yang menunjuk diri sambil mengatakan aku yang memberitahunya membuat Risa hanya dapat pasrah saat ini.


Risa mulai menceritakan detailnya pada Juan sambil berusaha menahan tangisnya agar Juan tidak semakin khawatir, Meskipun Juan mengetahui bahwa pria itu adalah Rama setidaknya ia tidak mengetahui dengan kejadian yang membuat Risa terluka dan Risa belum berani menceritakan hal ini kepadanya. Setelah mendengar apa yang di katakan oleh Risa, Ia tak mendengar suara apapun di seberang sana bahkan ketika ia menanyakan apakah Juan masih di sana atau tidak Juan tak menjawabnya.


" Halo capt.., kau mendengar ku.? " Tanya Risa sekali lagi


" Maafkan aku. " ucap Juan kemudian


" Kenapa kau harus minta maaf ? Kau bahkan tidak salah." Balas Risa


" Di saat seperti ini aku bahkan tidak berada di samping mu, aku benar-benar minta maaf. "


" Kau sedang bertugas, jangan sampai melibatkan urusan pribadi dengan pekerjaanmu kalau tidak aku akan marah. "


" Aku akan kembali secepatnya ke Indonesia begitu penerbangan ke Itali selesai, tunggu aku dan kita akan membuat pria yang bernama Rama itu mengakui kesalahannya. "


Panggilan pun berakhir karena Juan ingin Risa istirahat sebab saat ini di Indonesia sudah malam beda halnya dengan negara yang di kunjungi nya saat ini, Risa menyerahkan ponsel Sabrina pada wanita itu dan mulai merenung lagi.


" Sepertinya pak Dimas akan menyelesaikan masalah ini sebelum Juan datang, Apa kau bisa menjelaskan hal ini nantinya? Aku takut kalau Juan akan salah paham karena kau tidak memberitahu kondisi mu saat ini. " Sahut Sabrina


" Besok aku sudah keluar dari rumah sakit, sebelum Juan kembali aku akan kembali sehat seperti biasa, lagi pula soal kasus ini hanya kak Dimas dan kamu yang tahu kan. " Jawab Risa ringan


\*


Pria itu menatap lawan bicaranya dengan tatapan tajam dan tegas, Sementara itu ia baru saja di beritahu untuk tidak mengurus masalah orang lain dan melibatkan anggota keluarganya dalam kasus yang belum terlihat buktinya. Merasa geram mendengar seorang pria setengah baya terus mengoceh membela adiknya membuat pria itu mengeprak meja sehingga membuat semua orang menatapnya bingung.


" Aku bicara seperti ini bukan karena aku dan Risa pernah dekat, tapi aku bicara seperti ini sebagai seorang direktur pelayanan yang mengurus masalah yang di hadapi oleh karyawan penerbangan, Ayah kau adalah seorang direktur utama seharunya kau bertindak lebih dari aku, apa kau tidak malu dengan jabatan itu hanya karena kau tak ingin nama keluarga tercoreng atas perbuatan kejam putramu itu.? "


Hening seketika setelah Dimas mengatakan hal itu, Semua orang tertunduk kecuali Rama yang sampai saat ini tak berhenti melirik kakaknya, Dimas merasa pembicaraan sudah cukup sampai di sini ia pun bangkit meninggalkan ruang keluarga disusul oleh Tania istrinya, namun sebelum pergi Dimas berkata akan mencari bukti kuat untuk mengungkapkan kebenaran atas kejadian itu tapi jika Rama mau mengakui kesalahannya sebelum jam 12 maka Dimas tak akan membuat kekacauan yang akan merusak kehidupan Rama.


Dimas kembali melangkah dengan langkah lebar dan membuat Tania kesulitan mengejarnya, saat keluar rumah dan menuju mobilnya, Dimas tak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang tak asing namun ia tak tahu siapa wanita itu, mereka hanya saling menatap satu sama lain dan setelah itu Dimas berlalu pergi begitu pun dengan Tania yang mengendarai mobilnya sendiri sehingga keduanya pergi dengan mobil masing-masing.


Di perjalanan Dimas mengecoh Tania agar tak mengikutinya dan ia pun berhasil, Saat ini Dimas melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati setelah itu ia mengeluarkan ponsel dan mencari kontak seseorang, setelah berhasil menemukannya ia pun mengirimkan sebuah pesan singkat dan di kirimnya saat itu juga.


Di tempat lain, seorang pria baru saja mendapat notifikasi pesan dari ponselnya, ia pun meraih ponsel itu dan melihat pesan yang masuk dengan nomor baru membuatnya mengangkat sebelah alisnya, sejurus kemudian ia pun membaca pesan yang seketika itu membuatnya terbelalak kaget. Juan mencoba menghubungi nomor untuk mengkonfirmasi apakah pesan yang di dapatnya barusan adalah benar dan ia ingin memastikan juga siapa oknum yang mengirimkannya pesan seperti itu.


Sayangnya nomor itu sudah tidak aktif dan membuat Juan berdecak kesal, ia kembali menghubungi seseorang namun sayang nomor orang yang ingin di hubunginya pun sedang tidak aktif. Pengumuman untuk segera bertugas baru saja di bunyikan membuat pria itu dalam keadaan bingung dan juga penasaran, Sulit rasanya melakukan tugasnya sebagai co-pilot sementara saat ini dirinya benar-benar di rundung kegelisahan.


" Ada apa Juan.? " Tanya Alex ketika melihat Juan dalam keadaan murung


" Risa sedang di rumah sakit, dan dia tidak memberitahuku sama sekali. " Jawabnya pelan


" Kau harus mengerti keadaan Risa, bukan berarti dia tidak memberitahumu karena dia tidak peduli, dia pasti tidak ingin membuatmu khawatir sampai melakukan hal ini, kau harus tetap berpikir positif. " Sahut Alex seakan memberikan kepercayaan diri lebih pada Juan yang sebelumnya sempat down mendengar kabar Risa masuk rumah sakit.


" Rasanya aku ingin secepatnya kembali. " gumam Juan lagi


" Kita akan terbang ke Itali setelah itu kita bisa kembali ke Indonesia, bersabarlah, aku yakin Risa wanita yang kuat. " Alex menepuk pundak Juan beberapa kali dan setelah mereka tiba di kokpit keduanya pun langsung mengambil alih penerbangan, Juan berusaha fokus dan percaya pada omongan Alex.


.


.


.


.


***Gimana nih Readers, kira-kira Dimas menolong Risa karena ada maksud lain atau udah tobat nih wkwkw, untuk scene Juan ketemu Risa kalian harus Sabar dulu yah, Juan harus bertugas guys itulah pekerjaan dia yang tidak bisa menetap dalam satu tempat meskipun dia mau tinggal..., Soal Risa kalian nggak usah khawatir, Dia wanita yang tegar dan mandiri meskipun banyak yang julid sih hehehe


.


.


.


Jangan lupa untuk like dan vote nya yah sampai jumpa besok***