
Pria itu menantap rekan kerjanya yang saat ini terlihat sedang senyam-senyum sendiri, Sadar tengah di perhatikan sehingga satu tamparan pelan baru saja mendarat di wajahnya. Ia membalas ingin menampar ulang namun Juan dengan sigap menangkis tangannya dan pindah dari tempatnya duduk.
Alex menatapnya tajam sambil mencibir sementara Juan hanya membalasnya dengan senyuman kecil, Lagi-lagi pandangan Juan fokus tertuju pada layar ponselnya. Hal itu tentu tidak biasa di mata Alex sebab selama ini Juan jarang memainkan ponsel ketika pesawat sudah terbang tinggi, merasa ada yang aneh ia pun mulai menyahut.
" Kau pacaran dengan Risa kan. " Ucapnya mendadak membuat Juan menatapnya kaget.
" Ngomong apa kau, Ada-ada saja. " Balasnya salah tingkah.
" Kalau begitu kau sedang pdkt dengannya kan, Pasti saat ke Brazil waktu itu nenekmu sudah memilih Risa sebagai pasanganmu kan. " Sahut Alex lagi.
" Sok tahu. "
" Juan.. Juan.., kau ini pria yang tampan tapi bodoh. "
" Maksudmu apa? "
" Bukan main berapa banyak wanita cantik yang kau gaet selama ini, pertama Karin terus Sabrina dan satu lagi siapa aku lupa. "
" Hentikan omong kosong mu, Dua jam lagi waktuku menerbangkan pesawat tiba jadi lebih baik kau beristirahat saja. "
Alex mengangkat bahu sambil terkekeh kemudian mulai berbaring bersiap untuk tidur, Juan sempat meliriknya sebelum akhirnya pandangannya kembali tertuju pada layar ponsel di mana saat ini menampilkan foto profil Risa di akun WhatsApp.
**
Pesawat kini telah mendarat di landasan pacu dengan selamat di bandar udara internasional Wellington (sebelumnya dikenal sebagai Bandar Udara Rongotai), yang di mana merupakan bandar udara internasional yang berlokasi di daerah suburban Rongotai di Wellington Ibu kota Selandia Baru. Seperti biasa semua penumpang bergegas turun dari pesawat tentu dengan bantuan dari para kru pesawat.
Langit Selandia baru terlihat begitu cerah dengan langit biru yang menarik semua mata, Setelah menyelesaikan briefing masing-masing dari kru bergegas menuju penginapan untuk beristiraha. Rupanya hanya sehari mereka bisa menikmati waktu jalan-jalan sebab pesawat akan kembali terbang besok ke Australia yang kebetulan hanya memakan waktu 4 jam untuk tiba di sana. Sebelum meninggalkan pesawat, Risa yang saat itu hendak turun sempat melirik Juan yang sedang mengamatinya sembari memberikan kode untuk ajakan jalan besok pagi melihat hal itu Risa pun hanya melemparkan senyum dan berlalu dengan cepat.
Setibanya di hotel, Karin tiba-tiba berulah dengan menukar teman kamarnya menjadi Risa yang awalnya adalah Maya. Karena mereka tidak dapat protes Risa pun menurut dan harus bersabar hati sekamar dengan wanita protektif itu. Karin menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur terlebih dulu sementara Risa memilih untuk bersih-bersih. Sejak tadi Karin terus memperhatikan nya seakan tatapan itu tidak bisa menghilang walau sejenak membuat Risa merasa risih dengan sikapnya.
" Aku mandi duluan ya kak. " Ucap Risa yang tak mendapat respon apapun dari Karin.
Begitu Risa masuk ke dalam kamar mandi, Karin mulai beraksi dengan memastikan apakah Risa benar-benar memulai aksinya di dalam apa tidak. dan setelah yakin ia pun bergegas mencari tas Risa berusaha menemukan ponselnya untuk mengecek sesuatu.
" Ketemu juga. " Gumam Karin setelah berhasil menemukannya.
Sayangnya ponsel Risa memakai sandi nomor sehingga sulit bagi Karin mengetahui sandinya, Ia berusaha memasukkan ulang tahun Dimas setelah mencaritahu lewat salah satu kenalannya di perusahaan. Namun sayang bukan tanggal ulang tahun Dimas, ia pun kembali mencoba dengan tanggal ulang tahun Juan dan lagi-lagi tidak bisa terbuka. Dan Karin pun terus mencoba membuka beberapa tanggal yang ada sangkut pautnya dengan Risa namun selalu berakhir gagal.
" Ih apa sih sandinya. " Ucap Karin kesal.
Suara pintu terkuak berhasil membuat Karin kaget dan langsung melemparkan ponsel Risa ke atas tempat tidur, Rupanya yang datang saat itu adalah Maya yang kebetulan datang hanya untuk mengambil file di ponsel Risa.
" Risa di mana.? " Tanyanya pelan.
" Mandi. "
Maya mengangkat bahunya pelan kemudian meraih ponsel Risa, Dari belakang Karin terlihat berusaha melihat apakah Maya bisa membuka nya atau tidak. dan ternyata Maya tahu sandi ponsel Risa yang membuat Karin mulai memikirkan sesuatu.
" Oke sudah, tolong beritahu Risa kalau aku sudah mengambil file nya dia lamban sekali jadi aku memutuskan untuk mentransfer nya langsung. " Maya meninggalkan kamar itu setelah meletakkan ponsel Risa di atas meja di mana ponsel itu masih dalam keadaan aktif.
" Ini kesempatan ku. " Karin langsung menggambarnya dan dengan cepat mencari nama kontak Juan.
" Ini dia. " Karin membuka isi pesan Risa bersama Juan yang saat ini membuat Karin mulai merasakan api cemburu.
Kedua mata karin membelalak kaget ketika mengetahui kalau hari ini keduanya akan pergi jalan-jalan bersama, lagi-lagi suara pintu terkuak berhasil membuat Karin kaget dan segera meletakkan ponsel tersebut. Rupanya kali ini Risa yang muncul dengan balutan handuk yang melilit di kepalanya.
Karin yang di buat kesal dengan isi pesan itu hanya dapat menahan emosinya untuk saat ini, yang terpenting ia sudah tahu kalau besok pagi keduanya akan pergi jalan-jalan bersama.
" Kenapa ponselku ada di luar.? " Gumam Risa bingung.
" Kau menuduh aku mengeluarkannya, temanmu sendiri yang datang untuk mengambil file, bukan aku. " sahut Karin ketus.
" Bukan seperti itu kak, aku hanya heran saja, Kalau memang Maya yang datang itu tidak masalah. " Balas Risa.
" Tentu saja akan menjadi masalah jika aku yang buka, tapi sayangnya aku sudah tahu rencana mu hari ini." Benak Karin merasa cukup puas.
**
Malam ini selepas dari makan malam bersama, Karin dan Risa kembali ke kamar secepat mungkin untuk beristirahat. Karin yang sedang memakai masker wajah pun melirik Risa yang saat itu sedang asik membaca sebuah buku yang di mana Karin langsung bergeming melihatnya.
" kau sangat ingin menjadi pusher yah. " Sahut Karin setelah selesai memasang masker wajahnya dan mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur.
" Iya Kak, salah satu impianku ingin menjadi sepertimu. " Jawabnya tersenyum manis.
" Kau tidak akan bisa mendapat kan gelar itu di usiamu yang sekarang, pengalaman terbang pun masih sedikit tentu menjadi sepertiku memerlukan waktu yang lama. " balasnya ketus.
" Tidak apa-apa, aku akan menunggunya dan terus berusaha yang terbaik semampuku" Lanjut Risa langsung di cap sangat naif oleh Karin.
" Terserah kau saja. " Karin mulai menarik selimut dan merebahkan badannya membelakangi Risa, matanya sulit tertutup memikirkan rencana yang akan di lakukan nya besok, pokoknya Risa tidak boleh pergi bersama Juan dan apapun akan ia lakukan.
" Kau sudah tidur.? " sahut Risa memastikan apakah Karin sudah tidur apa belum, melihat tak ada respon ia pun mulai menutup buku dan mematikan lampu bergegas untuk ikut tidur juga.
**
Pria itu melirik arlojinya sambil menatap gedung besar di hadapannya, Saat ini ia sedang menunggu seseorang di mana sebelumnya ia sudah janjian. namun setelah menunggunya cukup lama bahkan hampir mendekati jam yang sudah di sepakati wanita itu tak kunjung turun menemuinya, dia bahkan sudah mengirimkan beberapa pesan namun belum ada yang di balas sehingga membuatnya langsung menghubungi wanita itu.
Panggilan berhasil terhubung namun suara wanita yang di teleponnya terdengar tidak mengatakan apa-apa bahkan ketika ia bertanya beberapa kali, entah apa yang sudah terjadi dan akhirnya panggilan berakhir membuat Juan menatap layar ponsel kebingungan.
" Apa yang sudah terjadi.? " Ucap Juan benar-benar ingin tahu.
Beberapa saat kemudian pesan singkat baru saja masuk di ponsel Juan, membuat pria itu langsung membuka isi pesan tersebut.
" Maafkan aku jika aku telat keluar, Ada sesuatu yang harus ku atasi terlebih dulu" tulis Risa yang kemudian membuat Juan merasa jauh lebih tenang, sebelumnya ia pikir Risa sengaja melakukan ini karena tak ingin jalan dengannya.
Di lain tempat, Risa yang baru-baru saja mendapat pesan dari Juan semakin khawatir untuk segera meninggalkan kamar, Karin terlihat seperti seekor singa yang di mana jika bergerak sedikit akan langsung menerkam membuat Risa sangat takut untuk menghilang dari tempat itu.
" Apa yang harus ku lakukan, Karin tidak boleh tahu kalau aku akan pergi bersama Juan. " benak Risa terus memperhatikan Karin yang asik mengecat kuku jarinya.
Padahal saat ini Risa sudah rapih dengan dress biru muda dan rambut yang di biarkan terurai, anehnya sampai saat itu Karin belum melontarkan apapun sehingga membuat Risa semakin memikirkannya.
" Kak.., Aku mau keluar dulu. " Ucap Risa takut-takut, Karin hanya meliriknya sinis dan membuat Risa sedikit canggung namun tetap bergegas meninggalkan kamar itu.
" kau boleh keluar Risa, tapi lihat saja nanti. " Benak Karin tersenyum senang.
Setibanya di pelataran hotel, Risa mendapati Juan yang sedang melamun sambil menatap bunga-bunga yang bermekaran Indah, rupanya saat ini di Selandia baru sedang musim semi sehingga tak heran banyak bunga-bunga cantik yang bermekaran di sepanjang jalan.
" Capt. " Sahut Risa berhasil membuat Juan menoleh dengan raut wajah yang dapat menggambarkan kebahagiaan.
" Kau sudah siap, ayo kita pergi. " Ajaknya dengan semangat.
Risa mengangguk pelan dan mulai mengikuti langkah kaki Juan yang terkesan pelan dan ringan, Ia bahkan menyamakan langkah kakinya dengan Juan menelusuri jalan hingga menemukan taksi untuk mengunjungi beberapa tempat yang menarik di Kota Wellington.
Wellington, merupakan ibu kota negara Selandia Baru. Kota ini merupakan daerah urban kedua terbesar di Selandia Baru, serta merupakan ibu kota nasional yang terpadat di Oseania. Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka menemukan halte bus dan beberapa saat kemudian bus berikut nya lewat, dan Juan pun langsung memberhentikan nya setelah itu Risa di persilahkan untuk masuk duluan. Keduanya memilih duduk di kursi ketiga dari belakang dan Risa pun terlihat memperhatikan keluar jendela dengan senyuman kecil.
Tujuan mereka di awali dengan mendatangi pusat kereta kabel untuk menikmati keindahan Kota Wellington dan sekitarnya, Kereta kabel bersejarah yang telah direnovasi akan berjalan dari pusat kota Wellington hingga ke Botanic Garden. Dimana terdapat pemandangan yang menyapu kota dan pelabuhan yang Indah. Hanya memakan waktu selama sepuluh menit kini mereka tiba di tempat tujuan, di depan mereka sudah ada sebuah kereta kabel berwarna merah terang yang membuat Risa tak sabar untuk segera mencobanya.
Kereta kabel kini telah siap untuk berangkat menuju Botanic garden, selama perjalanan menuju tempat itu Risa tak berhenti berdecak kagum melihat pemandangan yang sangat menakjubkan dari dalam kereta itu. Rasanya sayang jika tidak di abadikan sehingga ia pun langsung mengeluarkan ponselnya dan mulai memotret, Juan yang ada di sebelahnya hanya dapat tersenyum puas bisa melihat Risa sebahagia itu.
Setibanya di Botanic garden, kereta kabel itu akan menunggu para penumpangnya selesai menikmati keindahan kebun tersebut lalu setelah itu kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju kebun binatang Wellington dan yang terakhir adalah Museum kota.
Sebelum memasuki Botanic Garden, semua pengunjung di minta untuk membayar tiket masuk yang terbilang cukup murah dan saat itu Juan langsung mengeluarkan uangnya sebelum Risa, Wanita itu mengucapkan terima kasih karena sudah di bayarkan dan Juan pun hanya tersenyum getir membalasnya. Dari pintu masuk mereka sudah dapat di sajikan dengan keindahan hutan purba hingga hamparan bunga penuh warna, Wellington Botanic Garden menghadirkan pengalaman menyenangkan, lengkap dengan pemandangan kota dan pelabuhan yang memukau.
" Ini benar-benar jalan-jalan pertamaku yang sangat menyenangkan, aku tidak akan melupakannya. " decak Risa sembari memperhatikan satu tanaman yang sangat langkah ,di mana tanaman itu memiliki warna yang sangat cantik dan aroma harum yang membuat semua orang pasti akan suka baunya.
" Aku senang kau menyukai nya. " Balas Juan.
" Tapi capt, boleh aku menanyakan sesuatu padamu.? " Risa berbalik ke arah Juan yang saat ini memasang wajah penasaran dengan kalimat Risa barusan.
" Tanya apa.? "
" Sebenarnya apa alasanmu mengajakku jalan-jalan, bukannya kita belum begitu kenal lama dan terlebih lagi masih ada kru lain yang mungkin lebih dekat denganmu dari pada aku. sebenarnya aku ingin menanyakan ini kemarin tapi ku rasa itu bukan sesuatu yang penting dan akhirnya aku tetap menanyakannya karena penasaran. " Sambung Risa sukses membuat Juan kehilangan kata-kata, wajahnya mulai kebingungan namun berusaha untuk tetap terlihat santai di depan Risa.
" Ada apa Capt, kenapa kau sangat sulit menjawabnya.? " Tanya Risa.
Baru saja Juan hendak mengatakan sesuatu seseorang tiba-tiba datang menghampiri mereka bahkan meneriakkan nama Risa dengan sangat keras, ketika Juan berbalik ia mendapati Alex Maya dan juga Karin yang entah mengapa bisa berada di tempat ini.
" Wah.. Wah.., ada apa ini kenapa kalian berdua pergi jalan-jalan tanpa memanggil kami." Ucap Alex sambil merangkul Juan.
" Itu..kami hanya,"
" Tidak sengaja bertemu." Sambung Juan ketika Risa hendak menjelaskannya dengan cara terbata-bata.
" Benarkah, ku pikir kalian sudah janjian. " sahut Karin terdengar sinis.
" Karena kita sudah berkumpul seperti ini bagaimana kalau kita jalan barengan. " Seru Alex melirik mereka satu persatu namun tak ada satupun dari mereka yang merespon dengan baik bahkan Maya sekalipun.
Sejak kedatangan ketiga pengganggu itu baik Risa maupun Juan terlihat lebih pendiam, Terlebih lagi dengan Karin yang merasa puas dengan rencananya yang membuat keduanya tidak bisa menikmati waktu berdua. Bagi Karin walaupun ia tak bisa jalan bersama Juan setidaknya tidak boleh ada wanita lain yang bisa jalan bareng dengan pria itu.
Tujuan berikutnya yaitu kebun binatang namun karena Alex mengeluh lapar terus akhirnya mereka memutuskan untuk meng cancel kunjungan mereka kesana dan memilih untuk makan di sebuah restoran yang tersedia di dekat botanic garden. Risa duduk di hadapan Juan dan Karin sementara Alex dan Maya berada di sebelahnya, entah mengapa posisi saat ini sangat tidak nyaman bagi Risa sehingga membuatnya lebih banyak diam saat itu.
Setelah mereka memesan makanan hingga makanan tiba yang banyak bicara saat itu hanyalah Alex, Karin sedikit menanggapinya namun Maya yang merasa ada yang aneh dengan situasi ini memilih waktu yang tepat untuk menanyakannya pada Risa.
" Capt aku nggak tahu loh kalau kamu dan Maya sudah pacaran sejak lama, kenapa baru memberitahu kami soal ini.? " Ucap Karin di sela-sela makannya.
" Soal itu, Maya tidak ingin kalau hubungan kami terkuak sebab dia tidak ingin orang-orang tahu kalau ternyata pacarnya adalah seorang pilot tampan. " jawabnya rada bercanda namun Maya hanya memberikan tatapan tajam seakan tak suka dengan lawakan pacarnya itu.
Hening tiba-tiba kembali membuat Alex berkoar, ia melirik Juan yang menatap keluar jendela setelah menghabiskan menu makanan nya sementara Risa sibuk mengaduk-aduk cappucino nya.
" Kenapa kalian berdua diam saja, kalian tidak sedang marahan kan karena kami datang tiba-tiba. " Ucap Alex sangat monoton.
" Kau ini bicara apa, siapa juga yang marah. " Balas Juan ketus.
" Aku ingin ke toilet. " gumam Risa tiba-tiba dan segera meninggalkan meja itu.
Selang beberapa waktu Maya ikut menyusul Risa, Karin hanya melirik mereka dengan tajam namun memilih untuk tetap berada di kursinya lebih tepatnya ia lebih suka duduk di sebelah Juan saat ini.
Di toilet, Risa baru saja mencuci tangannya di wastafel kemudian mulai menatap dirinya di pantulan cermin, entah mengapa ia merasa kesal saat ini namun alasan apa yang tepat untuk menggambarkan kekesalan nya. Dia tak tahu Maya tiba-tiba datang dan menghampirinya ia mengikuti Risa dengan mencuci tangan kemudian melirik temannya itu di pantulan cermin.
" Sejak kapan kau dekat dengan Capt Juan.? " Tanyanya lirih.
" May, aku minta maaf tidak memberitahu mu dulu. "
" Tidak masalah, mungkin kamu punya waktu yang tepat untuk menjelaskannya dan ku rasa ini waktu yang tepat kan. ?"
Risa mulai menceritakan semuanya kepada Maya, ia bahkan menceritakan dari awal mengapa dirinya tiba-tiba bisa dekat dengan Juan hingga ajakan jalan-jalan baru-baru ini yang di mana Maya cukup kaget mendengarnya.
" Kau tidak takut dengan ancaman Karin, dia bisa saja mencoba mengusir mu dari maskapai Ris, sudah berulang kali aku melarang mu dekat dengan Juan tapi kau masih saja dekat dengannya. "
" Aku juga tidak bisa menolak May, Kapten Juan orang yang sangat baik dan sering kali menolongku di saat aku kesulitan, Aku tahu kau sangat peduli padaku tapi kau tidak bisa melarang ku untuk dekat dengan dia kan. " Ucap Risa menatap Maya dengan sendu.
" Terserah kamu saja, kau boleh dekat dengan siapapun tapi ingat saja kau akan mendapat masalah karena ini. " Maya meninggalkan Risa yang dalam keadaan bingung saat ini, kenapa Maya sampai marah sekali hanya karena ia dekat dengan Juan sebenarnya apa yang sudah terjadi sampai ia bisa mengatakan kata-kata yang cukup tajam tadi.
Setelah dari toilet dan kembali ke mejanya, Risa sudah tidak melihat Maya dan Alex ia pun bingung dan menanyakannya kepada Juan dan Karin yang saat itu masih duduk menunggunya kembali.
" Maya di mana Capt. ?" Tanya Risa penasaran.
" Dia dan Alex pergi setelah Maya kembali dari toilet, memangnya ada apa dengan Maya saat di toilet, pas dia datang wajahnya sudah kesal dan pergi bahkan tanpa mengajak Alex. " jelas Juan sukses membuat Maya kebingungan.
" Kalau begitu sebaiknya kita kembali ke hotel saja, waktu jalan-jalan nya pun percuma jika di lanjut, jam 3 nanti kita harus berangkat kan. " Lontar Karin yang pada dasarnya memang ingin membuat keduanya tidak jalan bersama.
Mau tidak mau Juan harus mengubur keinginan nya untuk melanjutkan perjalanannya bersama Risa, jujur ia kesal pada Karin yang sangat protektif dalam hal ini dan tentunya Juan tahu bagaimana Maya dan Alex bisa datang ke Botanic garden tadi kalau bukan karena ajakan dari Karin.
**
Pukul dua siang, setelah Risa selesai berdandan lengkap dengan seragam kebanggaannya, ia pun mulai beranjak sambil menarik kopernya menuju ke lobby di mana semua kru sedang berkumpul di sana. ketika Risa keluar dari kamarnya secara bersamaan Maya juga keluar dan keduanya sempat saling melirik satu sama lain.
" Maya.. " Risa menahan langkahnya ketika Maya tak menghiraukan panggilan nya.
Melihat sikap Maya yang seperti itu tentu saja membuat hati Risa sakit, selama ini teman yang paling dekat dengannya di maskapai hanyalah Maya dan saat ini Maya sudah menunjukkan ketidaksukaan nya bahkan saat ingin menggunakan lift. Maya tak mengizinkan Risa masuk, terpaksa Risa harus menunggu lift yang satunya terbuka.
" Maafkan aku Ris, aku terpaksa melakukan hal ini. " Batin Maya ketika lift yang ia gunakan sudah membawanya ke lantai bawah.
Maya yang telah berhasil sampai di lantai bawah segera bergabung dengan kru yang lain, salah satu dari mereka bahkan menanyakan keberadaan Risa. Namun Maya hanya menggelengkan kepala tak tahu membuat Juan yang melihatnya merasa ada yang aneh, Juan bahkan masih melirik pintu lift dengan tatapan penuh harap hingga beberapa saat kemudian pintu terbuka dan memunculkan Risa yang memasang wajah sendunya.
" Apa mereka bertengkar, tapi karena apa.? " Benak Juan benar-benar penasaran.