
Mampir Kesini juga jangan lupa ya ❤️
Spoiler!!!
Pagi itu Jingga bangun dan langsung menuju kamar Arkana, hari ini Arkana libur sehingga dia akan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.
Jingga sudah mengetuk pintu kamar itu beberapa kali sampai pada akhirnya Arkana keluar dan menatapnya dengan tatapan kesal.
“ Ada apa? “
“ Aku mau ngomong serius sama kamu mas.”
“ Masuk.” Arkana kemudian berjalan masuk ke dalam kamar di ikuti langkah kecil Jingga.
Arkana duduk di atas tempat tidurnya sedangkan Jingga tampak berdiri di depannya, Jingga mendadak bingung memulainya dari mana. Semalaman dia sudah memikirkan keputusan itu baik-baik, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuknya bicara sama Arkana.
“ Mau ngomong apa? Cepetan, aku mau tidur.” Sahut Arkana ketus.
“ Aku mau minta cerai mas.” Ucap Jingga tak berani menatap wajah Arkana.
Arkana mengangkat wajahnya menatap Jingga dengan tatapan tak percaya, ucapan Jingga barusan cukup membuatnya kaget dan membuatnya menyuruh Jingga untuk mengulanginya.
“ Aku nggak mau pisah sama kamu.” Balas Arkana yang akhirnya membuat Jingga menatap wajahnya.
“ Kenapa? pernikahan kita bahkan sudah nggak sehat sejak awal, kamu sering pukul aku, jahatin aku, dan bahkan sewa orang buat hamilin aku. Alih-alih melakukan semua itu, kamu bisa cari wanita yang kamu cinta dengan berpisah dari aku.” Sahut Jingga yang tak tahan lagi dan kembali menangis di depan Arkana.
“ Aku bilang nggak ya nggak. Kamu harus ingat kalau istri minta cerai sampai kapan pun itu nggak akan pernah terjadi, beda halnya dengan aku jika aku yang bilang hari ini juga maka kita berdua pasti akan resmi berpisah.” Kata Arkana menunjuk Jingga dengan tatapan tajam.
Arkana beranjak dari tempatnya dan mulai menarik Jingga untuk masuk ke dalam kamar mandi, Jingga menahan tarikan Arkana untuk pertama kalinya dan dia melawan atas kehendaknya saat itu.
“ Mau sampai kapan kamu nyakitin aku kaya gini mas? Dari pada kamu capek melakukannya berkali-kali, kenapa kamu nggak bunuh aku aja sekalian mas.” Kata Jingga menatap Arkana serius.
Pria itu kembali mendekati Jingga dan mendorongnya ke tempat tidur, Arkana kemudian menyekik leher Jingga dengan sekuat tenaga. Saat itu Jingga sudah pasrah jika ini adalah akhir dari hidupnya, dia lelah jika setiap harinya mendapat penyiksaan dari Arkana dan ingin mengakhiri semuanya sekarang.
“ Kalau kita bercerai akan banyak rumor buruk tentangku nanti, aku nggak mau orang-orang menganggap aku gagal dalam membina rumah tangga. Dan terlebih lagi aku nggak mau mama kecewa, kamu seharusnya paham dengan hal itu.” Arkana masih tetap menyekik Jingga hingga membuat tubuh Jingga lemah tak berdaya.
Jingga mulai tidak bisa melihat wajah Arkana dengan jelas, dia akan segera pingsan sebelum akhirnya Arkana menyudahi aksinya tersebut. Arkana yang tersadar segera menepuk wajah Jingga pelan, taka da respon darinya sama sekali.
Arkana kemudian mengecek denyut nadi Jingga yang masih berdenyut meski terasa lemah. Arkana segera memperbaiki tubuh Jingga untuk dapat tidur dengan nyaman, kemudian dia segera mengambil tindakan untuk membuatnya tidak dalam masalah besar.