
Karena banyak yang request up tiap hari maka author akan up tiap hari 2 chapter, Tetap dukung author dengan like dan komen yang manis yah biar bisa up yang lebih banyak lagi...
selamat membaca 😉
.
.
.
Nyatanya tugas mereka untuk terbang dari satu sektor ke sektor lain sudah memakan sebanyak dua minggu bertugas tanpa mendapat jatah libur yang cukup, Kabar tentang Tante dan Nenek Juan yang akan ke Indonesia pun di batalkan karena suatu kendala, hal ini tentu menamba ke khawatiran Risa dalam memutuskan tanggal pernikahannya dan Juan, sampai saat ini pun ia belum memberitahu siapapun tentang rencana pernikahan itu karena takut jika suatu saat hal tal terduga terjadi dan ia lebih memilih untuk diam sampai tanggal pernikahan yang jelas telah di tetapkan.
Berulang kali Juan selalu menyebarkan Risa dan terus meyakinkannya bahwa setelah semua tugas ini selesai, maka ia benar-benar akan ke Brazil bersamanya, dan Risa pun percaya akan hal itu. Saat ini mereka akan mendarat di I gusti ngurah rai Bali dan setelah itu akan ada pergantian jam kerja sampai sore, di saat itulah mereka akan menghabiskan waktu untuk beristirahat. Pesawat pun sudah memasuki wilayah bandara dan saat ini pilot tengah memberikan sinyal kepada menara ATC untuk bersiap lepas landas.
Sekitar sepuluh menit kini pesawat berhasil lepas landas dengan sempurna, Pesawat yang masih berjalan di runaway segera menuju area parkir untuk menurunkan para penumpang, Pramugari di dalam pun bersiap membantu proses meninggalkan kabin, Risa yang saat ini tengah melamun tiba-tiba di kagetkan dengan Sabrina yang baru saja menyenggol lengannya, Ia bertanya soal sikap aneh Risa barusan namun wanita itu hanya menyunggingkan senyuman kecil.
" Karena kita ada di Bali, gimana kalau nanti kita jalan-jalan. " Usul Sabrina
" Boleh. " Balasnya singkat
" Kamu yakin nggak apa-apa.? " Sambung Sabrina yang masih merasa kalau Risa ada apa-apa saat ini
" It's oke, don't worry. " Lanjutnya berlalu meninggalkan Sabrina
" Pasti ada sesuatu yang membuatnya sampai bad mood seperti ini. " Benak Sabrina benar-benar penasaran
Â
\*
Â
Malam di Bali sama seperti malam di Jakarta, kehidupan manusia begitu hiruk-pikuk di jalanan banyak turis asing yang sekedar berjalan kaki memasuki toko pernak-pernik untuk di jadikan oleh-oleh, ada juga pengendara sepeda motor meskipun begitu tempat mereka tinggal kali ini sangat bersih dan udaranya pun jauh dari polusi udara yang kotor, lampu-lampu neon menghiasi sepanjang jalan dan beberapa tempat makan yang di depannya terdapat ucapan selamat datang seakan menyambut orang-orang yang datang, Deburan ombak pantai terdengar begitu jelas menyapu malam yang cukup sepi, Herannya masih ada satu orang yang terlihat sendu dari sebuah villa yang berada tak jauh dari lokasi pantai, seorang wanita yang tengah memandang lautan luas itu baru saja mendesah kasar dengan wajah sendu membuat seorang wanita lain meliriknya dengan heran.
" Sabrina. " Panggil Risa lirih
" Ada apa Risa. " Balasnya ikut menjatuhkan tubuhnya di sebelah rekan kerjanya itu
" Aku pengen cerita. " lanjutnya setelah memikirkan baik-baik apakah yang mengganggu pikirannya saat ini dapat membuatnya merasa lega begitu menceritakan semuanya pada Sabrina
" Cerita aja, aku siap kok mendengarkannya. " Kini Sabrina telah duduk di sebelah Risa menatapnya lekat-lekat
" Sebagai wanita yang pernah di ajak Kapten Juan ke rumahnya, apa dia pernah menawarkanmu ajakan untuk menikah.? " Sabrina mengernyitkan dahi sejenak dan menggelengkan kepalanya cepat
" Aku kan sudah pernah bilang kalau aku dan Kapten Juan tidak pernah berhubungan, bagaimana mungkin dia bisa mengajakku menikah.? " balas Sabrina tak habis pikir
" Seseorang memberitahuku kalau alasan Juan mengajak seorang wanita ke rumahnya adalah untuk memperkenalkan wanita itu ke neneknya dan setelahnya dia akan menikahi wanita yang di ajaknya itu. "
" Karin? Apa Karin yang memberitahu mu.? " Sahut Sabrina ketus dan perlahan di balas oleh anggukan pelan Risa
" Kau lebih percaya sama Karin atau Kapten Juan,? dan seandainya jika benar Kapten Juan seperti itu Karin yang pernah di ajaknya kesana kenapa tidak menerima ajakan Juan untuk menikah, aku yakin dia sengaja mengatakan itu untuk membuatmu menyerah dengan Kapten Juan. "
" Selain itu ada yang masih menggangguku, Alasan Kapten Juan mengajak wanita ke rumahnya tak lain untuk mengenalkan mereka pada neneknya, dan waktu itu aku juga sempat di ajak tapi dia bilang padaku kalau aku tidak termasuk dalam list wanita yang ingin diperkenalkan kepada neneknya, bagaimana kalau neneknya lebih suka dengan wanita yang sebelumnya pernah di bawa ke sana.? "
" Risa... Risa.., hal itu pun masih kau pusingkan, Kapten Juan tidak mungkin.…,Tu..Tunggu dulu, alasanmu mengatakan hal ini apa? Apa Kapten Juan sudah melamarmu.? " Tanya Sabrina yang mulai tersadar dengan maksdu Risa menanyakan hal tersebut
Risa mulai menunjukkan cincin dari Juan pada Sabrina, Sontak Wanita itu langsung menutup mulutnya karena terkejut, Ia bersorak seraya mengucapkan selamat kepada Risa, Melihat Risa yang mengkhawatirkan ucapan Karin akhirnya membuat Sabrina menguatkannya dan memberinya kepercayaan untuk tetap mempercayai Juan bagaimana pun juga, Setelah sebelumnya merasa resah akhirnya Risa dapat kembali lega ia pun tak menyesal telah menceritakan hal ini kepada Sabrina.
" Masih ada lagi? Karin nggak puas apa buat kamu sampai down begini. " Tanya Sabrina yang semakin kesal jadinya
" Apa kau mengenal Cindy.? "
" Cindy? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, memangnya ada apa dengan Cindy.?"
" Tidak ada apa-apa, Aku hanya asal bertanya. " Lanjut Risa mencoba untuk kembali tenang
Â
\*
Â
Pagi keesokan harinya, dari Bali mereka akan terbang menuju Banda Aceh setelah itu istirahat satu setengah jam kemudian di lanjutkan penerbangan berikutnya menuju Riau, Karena hari ini sangat sibuk Risa bahkan tak sempat mengobrol dengan Juan, bahkan semalam pun saat semua kru selesai makan malam Juan tak menyempatkan waktunya bertemu dengan Risa dan memilih untuk ke villa beristirahat dan hari ini tepat saat briefing Juan tampak tidak seperti biasanya raut wajahnya menandakan seperti ada sesuatu yang mengganggunya, Risa begitu ingin bertanya padanya hanya saja ia tahu kalau urusan pribadi tidak seharusnya di bawa ke dalam urusan pekerjaan.
Setelah melakukan briefing, semua awak kabin bergegas memasuki pesawat untuk memulai tugas mereka masing-masing, proses boarding di lakukan sekitar tiga puluh menit dan setelah penumpang telah memasuki pesawat dan duduk di kursi mereka, awak pesawat pun melakukan laporan mereka di area masing-masing bersiap terbang meninggalkan Bali, Saat ini pesawat mulai pushback dengan bantuan toeing car atau mobil kecil menuju landasan pacu, Beberapa saat kemudian pesawat telah berhasil terbang menyapu langit dengan ketinggian yang hampir mencapai batas ketinggian normal.
Wanita itu terus menatap seorang wanita lainnya yang saat ini duduk di sebelahnya, sadar tengah di perhatikan Sabrina pun mulai bertanya pada Risa alasan tatapan mata yang tak biasa barusan. Risa menggelengkan kepala seakan mengurungkan niatnya mau untuk mengatakan sesuatu, namun Sabrina tahu kalau Risa tak ingin mengatakannya karena tidak enak atau apapun itu, ia kembali memberikan kesempatan untuk Risa bicara.
" Jadi begini, apa boleh aku yang menawarkan para pilot makanan dan minuman, untuk satu kali saja. "
" Boleh. " Balas Sabrina Sukses membuat Risa tersenyum senang
" Lain kali kalau ingin mengatakan sesuatu padaku langsung ngomong saja, aku lebih suka orang yang blak-blakan dari pada bertele-tele seperti tadi. " Lanjut nya mengundang tawa dari Risa
Setelah lima belas menit terbang kini lampu sabuk pengaman telah di matikan sehingga seluruh awak kabin segera melakukan tugasnya masing-masing, sesuai kesepakatan Risa yang segera menuju ruang kokpit menekan bel untuk segera di bukakan pintu, Pintu kokpit berhasil terbuka dan dari sana Risa mulai memasuki ruangan yang di penuhi oleh alat kontrol kemudi itu, ada tiga orang pilot yang berada di dalam satunya menunggu waktu untuk bertugas dan dua lainnya sibuk mengawasi laju pesawat.
" Loh, kok bukan Sabrina.? " Sahut co-pilot membuat Juan ikut menoleh
Kedua mata mereka saling menatap satu sama lain, Juan menyunggingkan senyum kemudian kembali fokus menerbangkan pesawat sementara itu Risa pun menjelaskan maksud dan tujuannya masuk, ia meminta daftar menu apa saja yang akan mereka hidangkan siang ini, Pilot pengganti bertugas untuk menyebutkan menu yang akan mereka santap namun pandangan Risa terus tertuju pada Juan saat itu.
" Kau mendengar ku.? " Sahut pilot pengganti yang bernama Dave itu, Seketika Risa tersadar dan meminta kepadanya untuk mengulang menunya
Setelah Dave mengulanginya, Risa pun keluar dari dalam kokpit dengan wajah sendu, ia tak bersemangat sama sekali terlebih lagi ketika melihat ekspresi Juan yang seperti orang asing, begitu banyak pertanyaan yang mulai terlintas membuat Risa semakin gagal fokus dan tidak bekerja seperti dia yang terkenal sangat kompeten, Sabrina menegurnya tatkala ia sudah kembali ke Galley sembari memberikan daftar menu kepada Sabrina.
" Apa kau ingin mengantar makanannya juga.? " Tanya Sabrina
" Tidak, kamu saja, aku ingin melayani para penumpang. " Balas Risa pelan dan berlalu menuju kabin para penumpang, Sabrina menatap kepergiannya dengan wajah kebingungan sambil mengangkat bahu heran.
Â
\*
Â
Author mau promosiin novel recomended nih buat kalian, buruan di kepoin ceritanya di jamin bikin kalian baper abissss..Kalian bisa dapat pelajaran tentang kedokteran sekaligus bahasa asing yang mudah di pahami, ceritanya ringan dan keren banget pokoknya...!!!!
I Want You To Love Me Now
Crystal mengalami patah hati yang amat sangat dalam sejak Cinta pertamanya memilih wanita lain. Luhan sahabatnya datang di waktu yang tepat mengobati luka itu, Status persahabatan yang mereka jalani sejak kecil awalnya biasa-biasa saja hingga perasaan Cinta itu muncul entah sejak kapan. Tapi apakah Crystal dapat melupakan Cinta pertamanya itu dan memilih Luhan sebagai Cinta berikutnya????