My Handsome Pilot

My Handsome Pilot
91



Juan keluar dari kamar Cindy bersamaan dengan sang dokter, mereka mengobrol seputar kondisi Cindy dengan bahasa Portugis sehingga tidak di ketahui oleh kedua orang tua Risa, Begitu dokter itu pulang setelah di antar oleh Juan sampai di pintu masuk, Saat Juan kembali ia di hampiri oleh mama mertuanya.


" Sakit apa wanita itu.? " Tanya Mama Risa penuh selidik


" Dia terserang kram perut karena diet, Makanya jadi sakit perut. " Jawab Juan yang di mana sudah mengatur jawaban seperti ini


" Jangan terlalu perduli kan dia, dia hanya kru yang tidak lebih dari seorang teman kerja, Kau harus lebih perhatian dengan Risa. " Ucap Mama mertua dan tentu saja membuat Juan langsung membenarkan


" Risa tentu segalanya bagiku, mana mungkin aku menyakitinya. " Ungkap Juan membuat Risa meliriknya dengan datar


" Kalau begitu kita lanjut makan malam yang tertunda ini, Setelah itu biarkan asisten rumah tanggamu yang mengurus wanita itu. " Ajak Mama Risa seakan tidak bisa di bantah lagi


☁️✈


Pagi keesokan harinya, Risa mendengar suara mamanya yang ribut-ribut di halaman rumah, Risa pun bangkit dari tempat tidurnya menuju jendela untuk melihat apa yang terjadi di luar sana, Setelah di lihat rupanya Mama nya sedang memarahi Cindy yang tidak bisa merapihkan bunga-bunga di luar, Risa pun merasa cemas karena saat ini Cindy sedang hamil dan semalam ia mengalami sakit perut dan pagi ini Mamanya dengan sengaja menyuruh-nyuruh Cindy untuk bekerja.


Risa meraih sweaternya dan bergegas untuk turun, Juan yang terbangun sempat melihatnya dan ikut penasaran sebab Risa berjalan cukup cepat keluar dari kamar. Setibanya di halaman rumah, lagi-lagi Mamanya memarahi Cindy karena tidak becus dalam menyiram tanaman hal itu membuat Risa langsung berakting memanggil Cindy untuk menyiapkan sarapan namun mama nya tidak mengizinkan hal itu karena tugas masak memasak telah di kerjakan oleh asisten rumah tangga Risa.


" Mah.. Dia seorang pramugari mana bisa di ajak kerja seperti ini, udahlah jangan di teruskan lagi pula halaman rumah kami tidak berantakan. " Ucap Risa


" Dia seorang wanita harus tahu cara bercocok tanam, Dia kan sedang numpang di rumah kalian jadi harus ada kontribusi nya dong dia tinggal di sini. " Lontar Mama nya kemudian


Cindy yang tak tahan dengan semua ini membanting selang yang ia pegang dan menatap Mama Risa dengan tajam, Risa mulai takut kalau Cindy akan mengatakan sesuatu pada mamanya.


" Aku lelah, aku butuh istirahat." Lanjut Cindy sukses membuat Risa merasa lebih lega


" Tunggu dulu, kamu belum merapihkan semua ini, " Cegah mama Risa lagi-lagi


Cindy hanya menoleh sekilas kemudian melanjutkan langkahnya dan yang benar saja saat Mama Risa berusaha menarik lengan Cindy keseimbangan tubuhnya hampir goyah, Risa dengan cepat membantunya namun Risa juga tidak memperhatikan langkah kakinya sehingga membuat nya terjatuh duluan, Cindy dan mamanya berhasil menyeimbangkan tubuh mereka dan langsung terkejut saat melihat Risa terjatuh dalam posisi yang tidak baik.


Risa meringis kesakitan dan darah segar terlihat keluar dari sela-sela kakinya, Mamanya pun panik dan Cindy segera memanggil Juan untuk membawa Risa ke rumah sakit, Risa menangis takut jika sesuatu terjadi pada anaknya sementara itu mamanya ikut menangis dan bingung harus melalukan apa. Hingga Juan datang dengan wajah paniknya dan segera menggendong Risa, Cindy membantu dalam membuka pintu mobil dan Papa Risa yang akan menyetir selagi Juan memangku tubuh Risa di kursi belakang.


Mama Risa pun ikut naik di kursi depan, sementara Cindy berkata akan menyusul nanti, Mereka pun berangkat secepat yang papa Risa bisa dengan bantuan Juan dalam mengarahkan papa mertuanya menuju rumah sakit.


" Anak kita...,Aku tidak mau sampai terjadi apa-apa padanya." Ucap Risa sambil meringis kesakitan


" Tidak akan terjadi apa-apa, kau bertahanlah. " Balas Juan yang mencoba untuk menenangkan istrinya itu


✈☁️


Risa masuk ruang gawat darurat untuk segera di tindak lanjuti, di luar Juan dan kedua orang tuanya menunggu dengan rasa cemas. Juan tampak sangat khawatir terbukti dari tubuhnya yang terus bergetar hebat, Melihat hal itu papa mertuanya langsung menenangkan Juan menyuruhnya untuk berdoa demi keselamatan istri dan calon anaknya, Mendengar ucapan beliau ia pun dapat kembali tenang dan mulai berdoa.


" Ini semua karena wanita itu, dia membuat Risa jatuh dan harus masuk rumah sakit. " Ucap Mama Risa membuat Juan dan Suaminya menoleh heran


" Kenapa menyalahkan orang lain? Mama kalau tidak suka sama dia jangan menyalahkan dia dong. " Sahut suaminya membuat mama Risa kesal mendengarnya


Pintu ruangan itu terbuka dan dokter keluar, Ia menghampiri keluarga Risa dan Juan bertugas mendengar hasil dari penanganan Risa dari dokter itu.


" Tivemos que fazer uma cirurgia para a sra. Risa, um de seus filhos morreu e tivemos que remover o feto morto imediatamente. Pedimos a sua aprovação, senhor. ( Kami harus melakukan operasi untuk nyonya Risa , salah satu anaknya meninggal dan kami harus segera mengangkat janin yang meninggal. kami meminta persetujuan dari anda tuan. ) " Jelas sang dokter seketika itu membuat tubuh Juan lemas, Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa salah satu anaknya meninggal dan harus di angkat.


" Juan apa kata dokternya.? " Tanya Mama dan Papa Risa


" Risa harus di operasi, Salah satu anaknya meningal. " Jawab Juan sontak membuat mereka juga terkejut


" Lakukan operasinya sekarang,!!! Kita harus menyelamatkan ibu dan juga bayi yang masih hidup, Yang terpenting saat ini. " Sahut Papa Risa dan segera membuat Juan menyetujui permintaan dokter untuk segera melakukan operasi


✈☁️


Risa terheran saat melihat pemandangan yang ada di depannya, pemandangan yang sungguh luar biasa Indah dengan berbagai macam bunga warna warni bahkan ada bunga kesukaannya juga. Risa kemudian berjalan mendekat ke arah bunga kesukaanya tapi saat ia ingin memetik bunga itu tiba-tiba saja terdengar suara tangis anak kecil yang membuat Risa langsung menoleh keheranan. Ia mendapati dua anak laki-laki dan perempuan yang sekiranya berusia empat tahun, Yang satu menangis entah karena apa dan yang satunya terlihat menyunggingkan senyum dan meminta anak perempuan itu untuk berhenti menangis.


Saat Risa mendekati mereka, ia langsung terkejut ketika melihat wajah kedua anak itu yang sangat tampan dan juga cantik, bola matanya berwarna biru dan rambut mereka blonde mirip seperti rambut Juan. Risa berjongkok kemudian menyapa keduanya dengan penuh kelembutan.


" Kamu kenapa cantik? Kok menangis tersedu-sedu seperti itu. ?" Tanya Risa pada si anak perempuan


" Dia akan pergi meninggalkan kita." Jawabnya sambil menunjuk anak laki-laki itu, Risa pun heran saat mendengar jawaban anak perempuan itu seakan merujuk kepada dirinya juga.


" Memangnya dia mau kemana?" Tanya Risa yang mencoba mengikuti alur pemikiran si anak perempuan


" Jauh…, meninggalkan aku dan mama papa. " lanjutnya lagi


" Memangnya mama kalian ada di mana? " keduanya langsung menunjuk Risa dengan wajah yang sangat menggemaskan, sejenak Risa terdiam ia berpikir apakah ini sebuah mimpi yang di alaminya, kedua anak ini apakah anaknya di masa depan? Jika memang benar maka dia akan merasa sangat bersyukur sebab mereka anak-anak yang manis dan sangat menggemaskan.


" Mama.. " Ucap si anak laki-laki yang tiba-tiba memeluk Risa, tak mau kalah si anak perempuan pun ikut memeluk Risa.


Air mata Risa terjatuh di pelupuk mata, Ia tak mengerti kenapa rasanya sangat menyedihkan saat mereka memeluk Risa seperti itu, Selang beberapa menit setelah mereka puas memeluk Risa, si anak laki-laki kemudian berpamitan dengan cara yang sangat menggemaskan secara bersamaan anak perempuan itu kembali menangisi kepergiannya, Membuat Risa berusaha menenangkan anak perempuan itu dengan menggendong nya. Risa pun bangkit dan berjalan mendekati anak laki-laki itu, namun semakin ia berjalan cepat anehnya anak laki-laki itu semakin menjauh.. Jauh.. Dan jauh dari pandangannya.


✈☁️


Juan tertidur sambil memegangi tangan Risa, ia terbangun saat menyadari tangan Risa perlahan mulai bergerak-gerak, Juan melirik Risa yang saat ini membuka mata namun tidak bisa berkata apa-apa dan hanya melirik sekitar dengan tatapan heran. Ia pun mengecup punggung tangan Risa seraya bersyukur karena istrinya telah siuman setelah semalam menjalani operasi pengangkatan janin.


Risa mencoba mengingat apa yang terjadi padanya sampai bisa berada di rumah sakit, kemudian ingatan saat ia jatuh perlahan muncul dan membuatnya shock kemudian menanyakan keadaan bayinya pada Juan, mimpi yang ia alami barusan membuatnya takut kalau salah satu bayinya benar-benar pergi seperti yang ia lihat di mimpi itu di mana anak laki-laki itu pergi meninggalkannya.


" Salah satu janin mu meninggal, Dan satunya lagi masih hidup, dokter bilang kalau kondisi janin laki-laki sudah melemah sejak beberapa minggu terakhir, Ukuran tubuhnya pun lebih kecil dari janin yang satunya, Sehingga saat kau jatuh kemarin dia sudah tidak bisa di selamatkan lagi. " Jelas Juan seakan membuat hati Risa hancur mendengar nya


Risa mulai menangis sakit hati yang di mana suaranya sulit keluar, nafasnya mulai terengah-engah hingga membuat Juan segera memanggil dokter, Melihat Juan yang keluar dengan panik, kedua orang tua Risa yang menunggu di luar pun ikut panik. Mereka semua masuk ke dalam ruangan melihat Risa yang kesulitan untuk bernafas, hingga saat dokter datang Risa segera di berikan alat bantu pernafasan, Kondisinya pasca operasi kembali di cek hingga akhirnya ia di beri obat bius untuk menenangkan dirinya.


" Apa yang terjadi padanya.?" Tanya kedua orang tua Risa setelah dokter itu selesai menanganinya


Juan menjelaskan bahwa Risa sudah mengetahui soal janinnya yang harus di angkat dan dokter pun menyimpulkan bahwa Risa mengalami trauma akibat kejadian itu, ia sulit menerima kenyataan bahwa salah satu anaknya harus di angkat, Jika ia sudah siuman lagi Risa mungkin akan lupa dengan kejadian itu sehingga pihak keluarga tidak boleh memberitahu sekaligus dan harus pelan-pelan memberitahu yang sebenarnya pada Risa.


✈☁️


Tengah malam Risa terbangun lagi dan mendapati Juan di sisinya yang sedang menggenggam tangannya, Risa mengerjapkan matanya beberapakali dan ia teringat akan mimpinya saat bertemu dua anak kembar di sebuah taman bunga, Kemudian ia melirik perutnya yang masih buncit yang artinya anaknya masih ada di dalam sana, namun anehnya ia merasa ada yang kosong di dalam sana, Hal yang ia takutkan di mimpinya akan terjadi di dunia nyata.


Juan terbangun ketika dirinya merasa ada yang sedang menangis, Ia melirik Risa dan mendapati istrinya menangis tersedu-sedu, Juan kembali menggapai tangan Risa mengelusnya lembut dan menenangkan Risa.


" Dia baik-baik saja, kau tidak perlu cemas. " Jawab Juan lembut


" Bohong, salah satu dari mereka tidak ada, aku tahu itu.. Aku merasakannya. " Lanjut Risa membuat Juan tak kuasa menahan tangis


Melihat ekspresi Juan yang mulai sedih membuat Risa akhirnya tahu, namun kali ini ia tidak seperti sebelumnya yang membuatnya sampai sulit untuk bernafas, Risa dapat mengontrol emosinya namun tetap saja ia merasa sakit hati telah kehilangan salah satu bayinya.


" Aku minta maaf karena tidak berhati-hati saat berjalan, aku minta maaf karena tidak bisa menjadi ibu yang baik, mereka belum lahir dan salah satu dari mereka harus pergi.. Aku benar-benar minta maaf padamu, aku istri yang bodoh... "


Juan meraih Risa ke dalam pelukannya, ia menenangkan Risa dengan kalimat yang lembut, atas kejadian ini Juan tidak menyalahkan Risa atau siapapun, semua murni karena kecelakaan dan takdir yang sudah tertulis, Dengan penuh kasih sayang Juan meminta Risa untuk berhenti menyalahkan dirinya dan tetap fokus pada pemulihan dirinya saat ini, bagaimana pun juga mereka masih punya satu bayi lagi yang harus di jaga baik-baik sampai ia terlahir nanti.


☁️✈


Tok.. Tok.. Tok..


Risa yang sedang menikmati makan siangnya bersama Juan dan kedua orang tuanya tiba-tiba menoleh ke arah pintu, Papa Risa yang kebetulan dekat dengan pintu segera membuka pintunya dan sosok Cindy datang bersama buket bunga di tangannya, Ia menyapa kedua orang tua Risa dengan sopan meskipun saat itu Mama Risa tidak sudi untuk melihatnya datang. Cindy kemudian menghampiri Risa dan memberikan buket itu, ia turut berduka atas kejadian yang menimpa Risa dan saat itu Risa seperti tidak suka dengan kehadiran Cindy padahal sebelumnya ia merasa empati terhadap nya.


" Kalau sudah kau bisa keluar, terima kasih atas buketnya. " Ucap Risa ketus bahkan membuat Juan baru melihat Risa sedingin itu pada Cindy


" Baiklah aku akan pulang, tapi kedatanganku kemari sebenarnya bukan hanya untuk mengunjungimu, tapi untuk meminta Juan menemaniku sebentar. " Lanjut Cindy terang-terangan


" Heh.. Apa maksud mu meminta suami putriku untuk menemanimu? Kau punya kaki dan mata kenapa tidak bisa pergi sendiri? Enak sekali ganggu hubungan orang, Gara-gara kamu juga kan Risa jatuh, seandainya bukan karena kamu dia tidak akan kehilangan bayinya. " Seloroh Mama Risa menunjuk-nunjuk wajah Cindy dengan geram


" Bukannya yang harus di salahkan adalah tante sendiri? Kalau tante waktu itu tidak menahanku aku tidak akan terjatuh dan Risa tidak akan berusaha menolongku. " Sahut Cindy membuat suasana berubah


" Dasar wanita tidak tahu sopan santun, beraninya melawan orang yang lebih tua.!!"


" Maafkan aku tante tapi aku harus pergi bersama Juan, jika dia menolak, Eu vou dizer a eles se estou grávida do seu filho ( aku akan memberi tahu mereka jika aku sedang mengandung anakmu.) "


Mama Risa tampak bingung dengan lanjutan kalimat Cindy yang menggunkan bahasa Portugis, Risa dan Juan yang tentu mengerti artinya tidak bisa berkata apa-apa.


" Aku akan pergi sebentar dengannya, ini maslahat pekerjaan kami. " Sahut Juan yang akhirnya bergerak dari tempatnya di sebelah Risa


" Jangan pergi. !!! " Cegah Risa menatap Cindy dengan tajam


" Eu tive que fazer um check-up e o médico me disse para levar meu marido, você mesmo me disse que minha posição talvez não fosse como esposa, mas agora é diferente, é sobre meu filho e Juan. ( aku harus check up dan dokter menyuruhku untuk mengajak suamiku , kau sendiri yang bilang padaku posisiku mungkin bukan sebagai seorang istri, tapi saat ini berbeda, ini soal anakku dan Juan. )" Lontar Cindy lagi


" Juan harus berada di sini, kau tidak boleh mengajak nya pergi. " Sambung Risa


Juan pun merasa bingung dan juga takut, ia mulai gugup menghadapi situasi ini, Risa pun tidak bisa di ajak kerja sama dan Cindy juga bersih keras akan membongkar kehamilannya jika Juan tidak pergi.


" Kamu bisa tidak sih ngomong nya pake bahasa Indonesia.??? " Sahut Mama Risa kesal dengan bahasa yang terus di gunakan oleh Cindy


" Aku sedang hamil, dan ini adalah anak Juan, aku datang untuk meminta menemaniku check up sesuai permintaan dokter. " Jelas Cindy seketika membuat satu ruangan itu terkejut


" Apa katamu? Kau tidak sedang mabuk mengatakan itu? " Tanya Mama Risa yang terlihat sangat shock


" Maafkan aku ini bukan salahku merahasiakan identitas ku dari kalian, Aku dan Juan sudah menikah seminggu yang lalu dan saat ini aku sedang mengandung anaknya. " Lanjut Cindy


" Cukup, hentikan semua ucapan mu..!!!" Sahut Risa geram


" Bukannya kau sendiri yang memaksaku untuk mengatakannya, aku sudah bernegosiasi tapi kau tetap menolak, jadi ini bukan salahku." Kata Cindy dengan ekspresi yang sangat santai


" Apa yang di katakan oleh wanita ini benar, Juan.? " Sahut Papa Risa yang sejak tadi tidak banyak berkata-kata


Juan terlihat gugup dan bingung harus mengatakannya seperti apa, Melihat sikap Juan yang seperti itu tentu membuat Papa mertuanya merasa apa yang di katakan oleh Cindy adalah benar sebab tak adanya pengelakkan yang di lontarkan oleh Juan, Papa Risa bangkit dari tempatnya duduk kemudian menghampiri Juan dengan langkah yang tegas.


Satu tamparan keras mendarat di wajah Juan yang membuat tiga wanita itu terkejut melihatnya, Tak berhenti sampai di situ Papa Risa menarik Juan keluar dari ruang rawat Risa kemudian mendorongnya hingga membuat Juan tersungkur, Setelah itu ia dengan tegas menyuruh Cindy ikut keluar, Risa berusaha untuk melepas infus agar dapat menghampiri Juan namun papa nya menggertak Risa agar tidak meninggalkan tempat tidur.


Setelah Cindy ikut keluar dengan sendirinya, Pria itu menutup pintu dan menguncinya agar Juan tidak bisa masuk ke dalam, Di luar Juan berusaha memohon agar dapat menjelaskannya dengan benar namun Papa Risa terlanjur kesal dan emosinya yang meluap-luap membuatnya menggertak istri dan anaknya agar tidak mengizinkan pria itu masuk ke dalam.



Risa telah selesai menjelaskan semua kejadian yang menimpanya kemarin-kemarin, kedua orang tuanya tidak banyak berkomentar setelah mendengar ceritanya, namun terlihat jelas di raut wajah mereka yang sedih mendengar kalau putrinya sudah di khianati, bahkan setelah sehari tinggal di Brazil mereka tetap di bohongi dengan sandiwara mereka, Mama Risa yang selama ini membanggakan Juan seakan bungkam dan tidak membelanya sama sekali.


Anehnya yang membuat Papa Risa geleng-geleng kepala adalah sikap Risa yang terlihat santai dan tidak mempermasalahkan masalah ini ke jalur yang semestinya, Cinta Risa pada Juan sangatlah besar sampai membuatnya dapat mengesampingkan sakit hati itu, Tak ada pilihan lain selain memisahkan mereka berdua untuk sementara waktu. Dan karena Risa masih sakit maka malam ini mereka akan tinggal di rumah sakit.


" Istirahat lah, Kami akan menjagamu malam ini. " Ucap Mama Risa sambil membelai rambut putrinya, bisa di katakan ini pertama kalinya sejak Risa mengenalkan Juan pada beliau dia memperlakukan Risa sangat lembut dan penuh kasih sayang.


" Mah.. Aku tidak mau sampai pisah dengan Juan. " gumamnya pelan agar tidak sampai terdengar oleh Papa Risa


" Nanti kita pikirkan soal itu lagi, sebaiknya kau istirahat saja, kasihan anakmu. " Ungkap beliau dengan lembut


Risa melirik Papanya yang tampak sedih di pojok ruangan itu, Ia menatap keluar jendela dengan tatapan menerawang jauh, Bagaimana pun juga Risa sudah sangat mengenal sifat sanga Papa yang sangat menyayangi dirinya, dan melihat ia sedang di khianati oleh Juan membuatnya sangat marah bahkan sebelumnya ia membanggakan perjanjiannya dengan Juan yang di mana perjanjian itu mungkin sudah hancur berkeping-keping.



" Kau puas sekarang. Kau sudah menghancurkan semuanya. " Ucap Juan menunduk dengan segala beban yang di rasakan nya saat ini


" Aku tidak berniat mengatakannya, hanya saja Risa membuatku kesal karena tidak meminjamkan dirimu padaku. " Lontar Cindy merasa tenang-tenang saja sejak tadi


" Kau kan bisa pergi sendirian tanpa harus denganku? Risa saja bisa pergi check up sendiri saat aku sedang bertugas. Kenapa aku merasa kalau ini hanya akal-akalan mu saja untuk membuat hubungan ku dan Risa rusak.?? " Sentak Juan menatap Cindy penuh amarah


" Kau harus sabar menghadapi sikap Juan saat ini, sekali kau membuat kesalahan maka kesempatanmu akan berkahir. " benak Cindy mencoba memikirkan kata-kata yang baik untuk membalasnya


" Aku minta maaf... Aku mengaku salah." Gumamnya pelan


" Minta maaf pun sudah percuma, Papa Risa sudah menganggap ku buruk di matanya, aku tahu kalau dia sangat menyayangi Risa dan bodohnya aku..., Akhhh..!!! " Ungkapnya dengan penuh kekesalan sampai menendang kaleng kosong yang ada di hadapannya


Saat ini baik Juan dan Cindy masih berada di rumah sakit, mereka habis bertemu dokter kandungan Cindy dan menunggu di atas atap sampai Juan dapat bertemu kembali dengan Risa, Juan harap kedua orang tua Risa mau memberikan kesempatan agar sekiranya dapat menyelesaikan permasalah ini dengan kepala dingin, Juan sangat takut kalau Papa mertuanya akan menggugat cerai setelah apa yang mereka tahu.



Halo readers ter♥️, apa kabar semuanya semoga tetap dalam keadaan sehat, Episode kali ini cukup sampai di sini, besok atau lusa kita ketemu lagi yah, sekaligus penutup akhir dari novel ini, sooooo jangan lupa untuk memberikan like dan vote untuk mendukung author.. See you soon. 🎉🎉🎉