My Handsome Pilot

My Handsome Pilot
Trauma



Dimas memasuki kamar Risa dengan wajah sendu tak seperti kemarin yang sangat berambisi, ia menyerahkan dua tiket pesawat kepada dua wanita itu di mana malam ini mereka bertiga akan kembali ke Indonesia dan melanjutkan perawatan untuk Risa di sana. Wanita itu hanya menatap kertas tiket yang ada di hadapannya dengan sayu seakan tak ingin menerimanya.


" Kau kenapa Ris, kau juga tidak mau menerima tiket dari ku ? " tanya Dimas ketus.


" Bukan itu, apa bisa kita tidak pulang naik pesawat? " Ucap Risa sukses membuat Dimas dan Maya terkejut.


" Jangan bilang kalau kamu trauma naik pesawat.? " Sahut Maya menatapnya tajam.


" Maafkan aku, tapi aku masih takut akan bayang-bayang kecelakaan itu, bisa kan kita naik kapal saja.?" Tanya Risa sekali lagi pada Dimas.


" Tapi perjalanan naik kapal sangat lama, sementara kau sedang sakit. " Balas Dimas tampak khawatir.


" Kalau begitu biar aku saja yang naik kapal, kalian berdua bisa naik pesawat. " lanjut Risa lagi.


" Kau ini bicara apa, aku mana mungkin meninggalkan mu sendirian. " sanggah Maya kesal.


" Baiklah, kalau itu mau mu, aku akan memesankan tiket pesawat. Dan mungkin besok kita sudah berangkat.. Kau kembali lah beristirahat. " Dimas berlalu meninggalkan ruangan itu dan bergegas mencari tahu soal tiket kapal pesiar.


Begitu Dimas pergi, Maya meminta waktu kepada Risa untuk memberitahu Alex soal ini. Dan Risa hanya membalasnya dengan anggukan pelan, Maya harus meminjam salah satu ponsel milik seseorang karena ponselnya dan milik Risa hilang saat di pesawat.


Kini tinggal Risa sendirian yang ada di ruangan itu, ia melirik keluar jendela yang menampilkan luasnya langit biru yang cerah namun tidak membuat hati Risa merasa senang begitu melihatnya lagi. Padahal sebelumnya ia sangat senang melihat warna biru dari langit, namun sekarang rasa takut dan trauma yang besar membuatnya tidak bisa naik pesawat lagi.


Soal karirnya sebagai pramugari pun seakan hilang di telan bumi, bahkan jauh di lubuk hatinya kini tidak ada lagi keinginan untuk kembali menjadi seorang pramugari. Ia tak menyangka dampak dari kecelakaan itu akan membuatnya sampai se trauma ini. Berusaha untuk melupakannya dan berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa hanya akan membuatnya semakin tersiksa, Risa tidak mau mengambil resiko besar atas trauma yang di alaminya dan memilih untuk tetap mengikuti kata hatinya itu.


**


Keesokan harinya setelah Dimas berhasil memesan tiket kapal, Ketiganya bergegas meninggalkan rumah sakit untuk bertolak kembali ke Indonesia. Sebelum memasuki kapal tersebut, Risa berhenti sejenak dan meyakinkan dirinya bahwa perjalanan jauh tidak akan menjadi masalah dan ia juga tak ingin merepotkan Dimas dan Maya yang sudah repot-repot menemani nya sampai kembali pulang.


Adapun tiket kapal yang di pesan Dimas sangatlah mewah, ia memesan dua kamar khusus satu untuknya dan satu lagi untuk Risa dan Maya. Selain itu ia juga meminta pelayanan istimewa untuk Risa yang masih dalam keadaan sakit, Tentu hal ini tidak bisa di terima Risa dengan cuma-cuma dan sebelum kapal benar-benar berangkat Risa mengajak Dimas untuk bicara berdua selagi Maya beres-beres di dalam kamar.


Keduanya kini berada di deck pertama yang di mana mereka langsung dapat melihat keindahan laut yang sangat luas dengan panorama matahari senja yang perlahan mulai menghilang di telan oleh waktu, Risa yang masih belum bisa berjalan normal mengharuskan nya menggunakan kursi roda saat itu. Dan sekarang Risa terlihat membiarkan rambutnya yang panjang di terpa oleh lembutnya angin laut, dan senyuman manis di bibirnya mengawali perbincangan yang entah sejak kapan menjadi se canggung ini.


" Kak, terima kasih untuk semuanya, terima kasih telah datang dan membantu kami berdua pulang dengan kapal seindah ini. Dan juga tolong jangan diam seperti ini terus. Sejak kemarin kamu selalu saja menghindar tatapan mataku bahkan sebelumnya kamu menunjukkan sikap dingin seperti itu, kita kan bisa berteman baik meskipun tidak bisa bersama. " Ucap Risa mantap.


" Aku juga minta maaf kalau selama ini sudah menyulitkan mu, aku seharusnya sadar kesalahanku yang sudah menikah dan terus mengikuti mu memang terkesan sangat jahat, maafkan aku Ris. " Balas Dimas sontak membuat Risa tersenyum lega.


" Mulai hari ini kita teman kan, " Lontar Risa menyodorkan jari kelingking nya dan di balas lembut oleh Dimas saat itu.


" Boleh aku memeluk mu untuk yang terakhir. " Gumam Dimas begitu mereka sudah mengikat janji.


Risa mengangguk setuju dan membentangkan tangannya, Dimas datang ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat seakan tak ingin kehilangan wanita itu.


" Maafkan aku Ris, sulit bagiku dapat berteman denganmu.. Aku sungguh tulus menyukaimu, rasa suka ku sudah berubah menjadi Cinta sejak saat kita bertemu dan ini bukan obsesi seperti yang di katakan oleh Maya. " Benak Dimas saat masih memeluk Risa


**


Sudah dua hari berlalu tanpa ada kabar dari Risa dan Maya kapan mereka akan tiba, terakhir kali Alex di beritahu oleh Maya lewat ponsel Dimas kalau mereka sudah berangkat dua hari yang lalu dan setelah itu sudah tidak ada kabar lagi.


Bukan hanya Alex yang terlihat galau menunggu kabar dari sang kekasih, namun Juan juga yang sejak tadi terus menerus menatap layar ponselnya. Dimana saat ini ia sedang menatap pesan singkat yang telah di kirimkan kepada seseorang yang sampai saat ini belum mendapatkan balasan, padahal sudah ada tanda bahwa pesan tersebut sudah di baca oleh si penerima.


" Dia pasti sengaja melakukannya. " gumam Juan kesal sambil melempar ponselnya dengan malas.


" Kau kenapa, aku yang galau karena tidak mendapat kabar Maya kenapa jadi kamu yang ikut-ikutan galau. " Lontar Dimas kebingungan.


" Bukan apa-apa, hanya kesal saja. " Balas Juan sambil menyenderkan kepalanya dengan menyilang kan kedua tangannya sebagai bantalan.


Baru saja kedua pria itu kesal menunggu kabar dari dua wanita yang di sukainya, tiba-tiba saja ponsel Alex berbunyi menandakan ada panggilan video yang masuk. Sontak Alex langsung bahagia bukan main sebab yang melakukan panggilan video adalah Maya, yang di mana wanita itu meminjam ponsel Dimas sebagai sarana untuk memberi kabar. Mendengar hal itu tentu Juan ikut antusias dan beralih mendekati Alex dengan kedua manik mata yang saat ini terfokus pada layar ponselnya.


" Akhirnya kamu nelpon juga, aku sudah rindu banget.. Kira-kira kapan kapal kalian berlabuh di Indonesia ?" Tanyanya lirih.


" Aku tidak bisa mendengar suaramu dengan jelas. " Sahut Maya di seberang sana.


" Aku bilang kamu kapan sampai di sini.. " Alex mulai memakai bahasa isyarat agar Maya paham atas pertanyaannya.


Di samping Alex dan Maya sedang video call bersama, tatapan Juan tetap fokus pada dua orang di belakang Maya yang saat ini sedang asyik bercerita bersama seakan tak peduli kalau Maya sedang melakukan panggilan jarak jauh dengan kaptennya. Juan yang melihat nya pun merasa kesal dan enggan untuk melanjutkan panggilan video itu, ia beralih ke atas tempat tidur dengan perasaan yang benar-benar dongkol.


" Lewat WhatsApp saja, suaramu mulai tidak kedengaran dengan jelas. " lontar Maya dan segera mengakhirinya.


Beberapa saat kemudian pesan singkat dari Alex telah di kirim dengan pertanyaan yang sama, dan sejurus kemudian balasan pun masuk yang membuat Alex mendadak ikut dongkol sebab masih membutuhkan waktu seminggu lagi untuk mereka tiba di Indonesia.


" Seandainya Risa tidak trauma naik pesawat mungkin mereka sudah tiba lebih awal, masih butuh seminggu lagi untukku bisa bertemu dengan Maya... Ahhh menyebalkan sekali." celetuk Alex sambil mengacak-acak rambutnya, Juan yang mendengarnya ikut mendengus kesal.


**


Wanita itu tak bisa tidur meskipun sudah berusaha menutup mata, Ia merasa gelisah yang entah karena apa penyebabnya. Maya yang ternyata masih belum tidur berbalik badan melirik ke arah Risa yang di mana saat ini mereka saling melempar senyum.


" Kau tidak bisa tidur.? " Sahut Maya sembari membenarkan posisi tidurnya.


" Aku juga tidak tahu kenapa sulit sekali untuk tidur, seperti ada yang mengganggu pikiranku. " Balas Risa kemudian menatap langit-langit kamar.


" Risa, Apa kau yakin setelah kembali kau akan berhenti menjadi seorang pramugari. ?" Tanya Maya tiba-tiba.


" Entahlah, aku masih memikirkannya. Mungkin aku akan meminta cuti penyembuhan sama perusahaan, Aku masih takut dengan pesawat. saat kau pergi aku merasa tiba-tiba tertekan berada di dalam kabin bahkan sampai sekarang pun jika mengingatnya membuatku merasa takut. " jelas Risa.


" Aku paham situasi mu, tapi kita sebagai pramugari di tuntut untuk selalu siap dan berani menghadapi berbagai kondisi yang terjadi di pesawat, kau masih menginginkan jabatan FA 1 kan, jangan sampai karena trauma itu membuatmu melepas impian yang sebentar lagi dapat kau raih. "


Risa terdiam mendengar penjelasan Maya yang ada benarnya juga, namun traumanya sangat besar meski pun ia mencoba untuk melawan. Tiba-tiba saja Risa teringat sesuatu yang di mana ia ingin menanyakan hal ini sejak dulu pada Maya, namun ia ingin menemukan waktu yang tepat dan mungkin inilah saat nya untuk menanyakan hal itu pada Maya.


" Boleh aku menanyakan sesuatu padamu?? " Tanya Risa menatap Maya yang terlihat bingung dan juga penasaran.


" Tanya apa,? "


" Kalau kau tidak mau cerita juga tidak masalah, yang terpenting saat ini aku sudah baikan denganmu. " Lanjut Risa berusaha merubah suasana yang tadinya dingin menjadi hangat.


" lima tahun yang lalu, saat aku pertama kali bergabung di maskapai ini aku mempunyai salah seorang teman dekat yang bernama Sabrina, dia sangat cantik dan juga ramah seperti mu, tapi setelah Kapten Juan bergabung bersama kami semua berubah. "


" Kapten Juan terkenal selalu mengajak wanita ke rumah nya sebelum ia bergabung, dan sebelum dia mengajak Sabrina dia mengajak Karin. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Kapten Juan dengan mengajak wanita lain ke rumahnya, dia mungkin tampan dan terkenal namun reputasinya sudah buruk di mataku terlebih lagi ketika Sabrina menjadi korban kedua. Dia mengajak Sabrina sebulan setelah mengajak Karin dan setelah itu Sabrina selalu mendapat masalah, aku tahu semua masalah yang di dapatnya berasal dari campur tangan Karin. Tapi yang membuatku kesal adalah Kapten Juan yang seakan membuang Sabrina dan bahkan tidak peduli kepadanya setelah itu, hingga akhirnya Sabrina mendapat teguran dari perusahaan karena fitnah yang di dapat nya. Sabrina terpaksa di pindahkan ke maskapai tipe Airbus dan sejak saat itu dia tidak pernah menghubungi ku lagi, aku kesal dengan Kapten Juan dia tidak membantu Sabrina sedikit pun oleh karena itu aku tidak ingin kau sampai mengalami hal yang sama, Bagiku kau adalah sahabat kedua yang ku temui setelah Sabrina. "


Tanpa sadar Risa hampir menjatuhkan air mata saking terharunya mendengar penjelasan Maya yang sangat menyentuh, Dia beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri Maya kemudian memeluknya dengan lembut seraya mengucapkan rasa terima kasihnya yang besar atas kepedulian nya selama ini.


" Oh iya.., ada satu hal yang ingin ku jelaskan padamu. " Ucap Risa setelah melepas pelukannya.


" Apa itu? "


" Sebenarnya kapten Juan bukan pria jahat seperti yang kamu pikir, buktinya saat dia mengajakku ke rumahnya meskipun tidak sengaja dia tidak melakukan apapun padaku. Bahkan saat tiba di sana aku di sambut hangat oleh nenek dan tantenya, Tak banyak yang terjadi di sana tapi seperti nya dia bukan orang jahat yang mengajak sembarang wanita ke rumah neneknya. Dan soal rumor dia selalu mengajak banyak wanita ke rumahnya itu tidak benar, dia bilang padaku kalau sejauh ini hanya tiga orang yang di ajaknya termasuk Karin dan mungkin Sabrina yang kau maksud. Aku tidak tahu siapa yang dia ajak lagi tapi aku yakin Juan tidak melakukan hal yang jahat dan mungkin kasus Sabrina juga, dia pasti punya cara sendiri untuk membantu Sabrina yang mungkin kamu tidak mengetahuinya. " Jelas Risa kemudian.


" Kau menyukai Kapten Juan yah.?" Gumam Maya sukses membuat Risa terbelalak kaget.


" Apa yang kau katakan, tentu saja tidak. " tolak Risa cepat.


" Aku bisa melihat nya kalau kau sudah menyukai Kapten Juan. " Lanjut Maya lagi.


" Sudahlah aku ingin tidur, aku sudah merasa lega setelah mendengar ceritamu. " Risa beranjak dari tempat tidur Maya dan bergegas kembali naik ke tempatnya.


" Apa yang akan terjadi jika Kapten Juan juga menyukaimu, apa kau akan senang? " Sahut Maya membuat Risa tempak membeku di atas tempat tidurnya.


" Selamat tidur. " Ucap Risa menarik selimut dan membelakangi Maya yang terlihat tersenyum kecil dengan sikap lucu Risa barusan


" Selamat tidur. " Balas Maya ikut menarik selimutnya lagi dan bergegas untuk tidur.


**


Tanggal 20 bulan April 2020 tepat pukul tujuh lewat tiga puluh menit, dua orang pria sudah stay di pelabuhan untuk menunggu kedatangan dua orang wanita yang sudah seminggu lalu di nantikan pulang. Sebelumnya mereka telah di kirimkan sebuah pesan bahwa hari ini kapal mereka akan berlabuh di pelabuhan masalah nya saat ini mereka berdua belum tahu pasti jam berapa tepatnya kapal itu tiba, sementara menurut pesan dari Maya ia hanya menyebutkan akan segera tiba di hari itu juga.


Mungkin masih terlalu dini untuk Mereka berada di tempat itu sehingga membuat Alex merasa ngantuk dan memilih untuk tidur sambil menyandarkan tubuhnya di jok mobil, Sementara Juan terlihat sibuk memperhatikan dermaga dengan penuh harap sebuah kapal segera muncul. Juan melirik ponselnya dengan isi pesan yang entah sudah berapa banyak ia kirimkan pada nomor Dimas, di mana ia meminta untuk dapat menghubungi Risa malah sampai saat ini pesannya hanya di lihat tanpa di balas sama sekali membuat Juan benar-benar kesal pada pria yang menjadi calon direktur utama perusahaan penerbangan itu.


Satu jam dua jam hingga waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh kapa itu belum juga datang, Alex yang terbangun dari tidurnya pun merasa kecewa sebab ia mengira jika dirinya bangun nanti kapal itu sudah tiba di pelabuhan. Sebaliknya Juan yang masih Setia menunggu sudah berapa kali memesan makanan dan minuman melalui Go food meskipun ia bisa pergi sendiri, namun hal itu di urungkan nya sebab ia tak mau sampai kehilangan kesempatan untuk menjemput Risa.


Tuuuuutttt......


Suara keras yang menandakan ada kapal yang datang sontak membuat kedua pria itu terkejut dan langsung turun dari dalam mobil, Kedatangan sebuah kapal pesiar besar membuat kedua mata mereka membelalak sempurna. Awalnya mereka mengira bahwa kapal itu bukan kapal yang di tumpangi oleh Risa dan yang lain, namun sebuah pesan singkat baru saja masuk yang di mana isinya berbunyi bahwa mereka sudah tiba dan saat itulah Juan dan Alex segera mendekat untuk menjemput mereka.


Kedua pria itu kini sudah menaiki kapal mencari sosok yang di tunggu-tunggu nya sejak tadi, dari arah jam dua belas Juan dapat melihat seseorang menggunakan kursi roda dengan bantuan dari seorang pria yang membuat suasana hatinya berubah. Dia tahu kalau dirinya akan melihat adegan ini tapi tetap saja dirinya masih merasa sebal jika harus di perlihatkan hal seperti itu.


" Maya!! " sahut Alex sukses membuat si pemilik nama berbalik ke arahnya begitu pun dengan Risa dan Dimas.


Risa yang melihat kehadiran Juan saat itu hanya dapat melemparkan senyuman kecil dan di balas senyuman yang sama oleh Juan, begitu mereka telah di pertemukan tiba saatnya untuk Juan dan Alex memboyong mereka ke mobil untuk segera diantar pulang ke rumah masing-masing.


" Biar aku dan Risa naik taksi saja, lagi pula Risa harus ke rumah sakit untuk melanjutkan perawatan nya. " Ujar Dimas seketika membuat Juan tak terima.


" Bukan kah kita bisa naik mobilku saja, dari pada harus membayar ongkos taksi lagi. " sahut Juan.


" Tidak masalah, ongkos taksi tidak seberapa kok. " Balas Dimas.


Risa mulai merasa ada yang salah dengan perdebatan keduanya dan dengan cepat memutuskan akan ke rumah sakit bersama Juan saja di mobilnya, toh tugas Dimas mengantar nya kembali pulang telah selesai dan kini ia harus kembali bekerja atau paling tidak pulang menemui istrinya.


Sebab Risa tak mau kalau sampai orang-orang mengira ada hubungan apa dirinya dengan Dimas, sampai Dimas repot-repot mengantar nya sampai ke rumah sakit. Saat itu Juan terlihat tersenyum kemenangan dan mengambil alih kursi roda Risa, setelah mengucapkan rasa terima kasihnya mereka segera meninggalkan Dimas dengan wajah yang penuh emosi.


**


Setibanya di rumah sakit, Terlihat hanya ada Juan dan Risa yang datang sebab Alex sudah pergi mengantar Maya pulang ke asrama setelah mengantar Risa dan Juan ke rumah sakit. Maya akan datang setelah ia dari asrama nanti. Begitu semua prosedur sudah di penuhi tiba giliran Risa untuk memasuki kamarnya, lagi dan lagi ia harus menerima jarum infus karena perjalanan yang cukup lama telah membuatnya kekurangan stamina meskipun ia tak melakukan banyak kegiatan.


Kabarnya orang tua Risa juga sedang dalam perjalanan menuju Jakarta, untuk melihat kondisi putrinya setelah kemarin di landa ke khawatiran mendengar kabar kecelakaan pesawat itu. Sambil menunggu kedua orang tua Risa datang, Juan terlihat sangat Setia menemaninya hingga bersedia mengupas kan buah-buahan yang sempat di beli nya sebelum tiba di rumah sakit.


Risa hanya dapat pasrah menerima perhatian baik Juan saat itu, sesekali ia melirik Juan yang sibuk mengupas kulit buah dan setelah itu memotongnya menjadi potongan kecil-kecil agar Risa dapat memakannya dengan mudah.


" Ini. " Juan menyodorkan sepiring buah yang sudah di potongnya dan di terima Risa dengan senang hati.


" Terima Kasih Capt " Balas Risa pelan.


" Oiya, aku sudah mendengar dari Maya kalau kamu mengalami trauma karena kecelakaan itu, aku tahu rasanya pasti berat dan menakutkan sampai membuatmu takut untuk kembali menaiki pesawat, tapi apa kau pernah berpikir kalau hal yang kau takuti saat ini adalah impian terbesar mu.? " Sahut Juan tiba-tiba membuat suasana menjadi sendu.


" Kalau kau mau, aku bisa membantumu menangani trauma itu.., sayang kan cita-cita mu berhenti hanya karena trauma yang dapat di sembuhkan. " Lanjut Juan setelah melihat respon Risa yang tidak bisa berkata-kata.


" Aku akan memikirkan nya lagi capt " balas Risa sudah cukup membuat Juan lega.


Pintu terkuak dan tiba-tiba membuat Juan bangkit secara spontan, dua orang wanita dan pria paruh baya menatap Risa dengan sendu dan kemudian menghampirinya dengan tangis yang tiba-tiba pecah. Mereka tak lain adalah kedua orang tua Risa yang telah sampai dari Surabaya, mereka memeluk Risa dengan penuh kasih sayang dan menanyakan keadaanya.


" Aku baik-baik saja Ma.. Pa.., " balasnya berusaha terlihat sehat di hadapan mereka.


" Saat mama mendengar kabar kecelakaan pesawatnya itu mama sampai tidak bisa tidur, terlebih lagi harus menunggu mu pulang dan mendengar kabar trauma mu membuat mama dan papa terus kepikiran sayang..., untung lah kamu baik-baik saja, mama senang melihatmu tidak kehilangan anggota tubuh sama sekali. " Ucap beliau sangat antusias.


" Kamu siapa nak.? " tanya papa Risa pada Juan yang sedari tadi hanya dapat terdiam menyaksikan mereka melepas rindu.


" Saya.. " belum sempat Juan membalasnya Risa sudah menyahut duluan.


" Dia kapten Juan yang sudah menyelamatkan semua nyawa penumpang dan kru pesawat pa. " Sahut Risa.


" Ya ampun kapten terima kasih banyak karena sudah menyelematkan semua orang termasuk Putri kami, selain tampan kamu sangat hebat.. Semoga tuhan selalu memberikan kebahagiaan untukmu.. " Seru Mama Risa dan di balas anggukan malu-malu dari Juan.


" Kamu benar-benar hebat meskipun hanya seorang co-pilot, terima kasih atas jasa-jasa mu capt. " Puji Papa Risa sukses membuat Juan semakin malu-malu dengan pujian itu.