My Handsome Pilot

My Handsome Pilot
Juan Dan Tipu Dayanya



Risa mulai membuka kedua matanya dan tiba-tiba merasakan sakit di sekujur tubuhnya, Ia mengerjap beberapa kali setelah sadar ada di dalam sebuah ruangan yang gelap dengan berbagai macam benda-benda rongsokan yang berserakan di mana-mana.


Samar-samar, Risa mendengar percakapan seseorang yang menggunakan bahasa India dengan dialek yang sangat kental dengan orang India pada umumnya. Risa mencoba untuk tetap tenang di tempatnya dan berusaha mengingat apa yang telah terjadi kepadanya sampai ia bisa ada di tempat seperti ini.


Seingatnya ia masih berbaring di tempat tidur hingga dua orang staff hotel datang membawakan obat untuknya, salah satu dari mereka berkata bahwa obat itu datang atas permintaan seseorang untuknya. Risa yang saat itu sedang demam berat tak sanggup bergerak sehingga mereka tiba-tiba menyuntikkan sesuatu kepadanya dan setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi hingga akhirnya tersadar di ruangan itu.


Mendengar suara pintu terkuak Risa kembali berpura-pura tertidur, dan dua orang pria yang baru saja masuk kembali berbicara menggunakan bahasa India yang sulit di pahami oleh Risa. Karena orang India biasa menggabungkan dua bahasa seperti India dan Inggris samar-samar Risa mulai paham, Salah satu dari mereka menyebutkan soal penjualan manusia yang membuat Risa ketakutan saat ini. Dengan kondisi tubuh yang tidak stabil ia tak mungkin bisa melarikan diri dari mereka, mendengar suara mereka yang berat tentu visualnya sangat garang dan sulit untuk di lawan, Risa hanya dapat berdoa seseorang datang untuk menyelamatkan nya.


Kedua pria itu pun segera pergi setelah memastikan Risa masih dalam keadaan tak sadarkan diri, begitu mereka benar-benar pergi barulah Risa mencoba untuk bangkit dan melihat seisi tempat tersebut. Dari suasana nya yang sepi dan terbengkalai seperti ini Risa merasa seperti sedang ada di drama penculikan di mana biasanya adegan seperti ini berada di daerah terpencil yang jauh dari perkotaan, dan dugaan Risa benar, ketika ia mengintip melalui celah-celah jendela ia hanya dapat melihat bangunan itu di kelilingi oleh hutan yang sama sekali tidak ada penghuni nya.


Risa beralih pada pintu keluar yang di lalui oleh dua orang pria tadi namun sayangnya pintu telah terkunci dan satu-satunya jalan keluar hanya melalui pintu itu, jendela yang ada di ruangan itu sudah tidak bisa terbuka lagi dan jendelanya memakai teralis besi sehingga ia tak bisa keluar lewat situ.


Risa benar-benar frustasi sekarang, ia tak mau nasibnya berakhir di tempat penjualan manusia. Usaha Risa untuk kabur masih sangat besar, ia mencoba mencari sesuatu untuk bisa membuka gembok pintu tersebut. Dan setelah beberapa saat mencari Risa berhasil menemukan sebuah kawat di mana kawat tersebut di jadikannya seperti sebuah kunci, Risa mencoba untuk membuka gembok itu dengan kawat yang ia buat. Cukup sulit untuk membukanya sebab kedua tangan Risa harus sedikit lebih keluar agar dapat mensejajarkan tangannya dengan posisi gembok tersebut.


Berhasil, gembok tersebut berhasil terbuka dan Risa pun dengan cepat melepas gembok dan membuka pintunya dengan hati-hati. Setelah pintu berhasil terbuka, Risa mencoba keluar dengan pelan-pelan sembari memperhatikan sekitar tempat agar para penjahat itu tidak menyadari aksinya. Risa tiba di sebuah pintu besar yang menghubungkan antara bangunan itu dengan halaman yang luas, namun ketika Risa mengintip ada dua orang pria tadi yang sedang menjaga di luar. Mereka belum menyadari kalau ia telah berhasil keluar dari ruangan itu, Melihat ruangan itu yang tak ada pintu lagi Risa harus kembali memikirkan cara untuk bisa kabur.


**


Malam pun datang dengan cepat dan saat ini Risa masih berada di balik pintu besar itu, ia menunggu sampai kedua pria itu masuk dan rencana nya ketika mereka masuk Risa akan berlari keluar dengan cepat dan tentunya dengan berhati-hati. Ia tidak mau kalau penjahat itu sampai menyadari pelariannya dengan cara yang gegabah.


Setelah menunggu beberapa saat kedua pria itu membuka pintu dan berjalan menuju ke dalam, Risa berusaha agar dirinya tidak terlihat dan setelah mereka melewati satu ruangan yang mengarah ke ruangan tempat ia sebelumnya di sekap.


Risa pun mulai bangkit dan bergegas keluar dari bangunan itu. Risa berlari sekuat tenaga walaupun saat ini tubuhnya tidak sedang bersahabat, Sejauh mata memandang tempat itu hanya menyajikan hutan belantara namun Risa mencoba berlari menuju satu jalan yang terlihat sering di lewati oleh kendaraan.


Kedua pria itu berhasil keluar tepat sebelum Risa benar-benar meninggalkan mereka, Keduanya langsung mengejar Risa dan Risa pun berusaha berlari secepat mungkin memaksakan tubuhnya yang tidak memungkinkan. Rasanya Risa sudah tidak kuat untuk terus berlari lagi, ia bahkan sempat terjatuh namun berusaha untuk bangkit dan terus berlari. Hingga sorotan cahaya di depannya membuat langkah Risa berhenti dan ia mencoba untuk menutupi wajahnya karena silau cahaya tersebut sangat mengganggu.


" Risa. "


Seseorang meneriaki nama Risa saat itu dan entah mengapa ia merasa senang dengan kehadiran seorang pria yang saat ini berlari ke arahnya, Kesadaran Risa perlahan memudar hingga dirinya terjatuh tepat di hadapan Juan yang dengan cekatan menangkap tubuh Risa. Kedua pria yang sebelumnya mengejar Risa berbalik arah namun polisi baru saja melepaskan peluru pistol ke langit tanda untuk keduanya tidak boleh melangkah lebih jauh lagi, Beberapa polisi berlari mendekati kedua penjahat itu dan langsung di amankan sementara itu suara sirine Mobil ambulans terdengar semakin dekat , Juan berbalik dan menyuruh tim medis untuk cepat-cepat.


" Kau tidak perlu khawatir, Kau selamat sekarang. " Ucap Juan pada Risa walaupun saat itu ia sudah tidak merespon lagi.


**


Perlahan tapi pasti wanita itu mulai membuka kedua matanya dan mulai menerka-nerka tentang keberadaanya di dalam sebuah ruangan yang tercium aroma obat-obatan yang sangat kuat, ketika kesadarannya kembali 100% ia pun bangkit dari tempat tidurnya dengan wajah ketakutan dan mulai bertanya kemana dua pria jahat yang mengejarnya terakhir kali.


Setelah kejadian semalam Risa di larikan ke rumah sakit kota dan baru saja siuman setelah semalaman pingsan, Maya menghampirinya dengan cemas kemudian menenangkannya dengan memberikan segelas air untuk di minum dahulu. setelah Risa meneguk minuman itu ia kembali bertanya pada Maya dengan suara yang parau.


" Jangan takut kamu sudah aman sekarang, Para penjahat itu merupakan komplotan pria yang berhasil kamu jebak saat di pesawat. Entah bagaimana cara pria itu memberitahu mereka sehingga bisa menculik mu saat aku keluar. " Jelas Maya membuat Risa merasa sedikit lebih tenang.


" Tapi bagaimana caranya aku bisa selamat.? " Tanya Risa yang tidak mengingat kejadian saat Juan datang menolongnya.


" Kapten Juan datang bersama kepolisian ke tempat mu di culik, untungnya mereka datang tepat waktu sebelum kau di bawa oleh mereka. " Balas Maya.


Kini ketakutan Risa sudah menghilang sepenuhnya dan saat ini ia sangat ingin bertemu dengan Juan untuk mengucapkan rasa terima kasihnya, Ketika Risa bertanya soal keberadaan Juan pintu ruangan tempat Risa di rawat tiba-tiba terkuak. Sesosok wanita masuk dengan wajah dinginnya membawa sekeranjang buah-buahan dan mulai menghampiri kedua wanita yang saat ini menatapnya heran.


" Boleh aku bicara dengan Risa.? " Gumamnya terdengar serius, sejurus kemudian Maya bangkit dari kursinya dan bergegas keluar meninggalkan keduanya untuk bicara tatap mata.


Setelah Karin meletakkan keranjang buahnya di atas meja ia beralih pada sebuah kursi yang sebelumnya di duduki oleh Maya, Saat ini Risa terlihat kebingungan dengan raut wajah Karin yang sulit di artikan.


" Aku langsung to the point aja sama kamu, Tolong jangan membuat Juan tertarik untuk memperhatikan mu. " Ucap Karin dan membuat Risa terlihat menundukkan kepala.


" Sejauh ini aku sudah memperhatikan setiap orang yang dekat dengan Juan dan tidak ada satupun yang membuat Juan sampai turun tangan untuk terlibat dalam kehidupannya, Kamu orang pertama yang membuat Juan sampai berani turun tangan dalam mencari mu, dan kau tahu apa artinya Risa.? "


Karin menghentikan kalimat nya sejenak membiarkan Risa menggeleng pelan tak mengerti dengan maksud nya, Sekilas Smirk di wajah Karin membuatnya muak dengan sikap Risa saat ini.


" Juan sudah mulai tertarik denganmu, kau selalu saja membuat suasana di pesawat menjadi menyebalkan semenjak keberadaan mu. Aku sudah memperingati mu sejak awal tapi kau.. Kau selalu saja mencari perhatian Juan. " Karin terlihat sangat emosi dengan menunjuk Risa dengan tatapan tajamnya.


" Tapi aku sudah bilang kalau aku tidak menyukainya kak, Please untuk tidak di kuasai rasa egois mu itu... Kapten Juan bahkan bukan pacar atau suamimu tapi kau selalu mengancam kami untuk tidak boleh mendekatinya, Aku sudah capek kalau harus berkata padamu kalau aku tidak menyukai nya. " Lontar Risa mulai memberanikan diri.


" Oke.., aku mungkin terlalu emosian karena aku sangat mencintai Juan, aku tidak ingin satu orang pun mendapat perhatian Juan." Kata Karin sambil menyentuh kepalanya yang terasa pening setelah melontarkan kata-kata barusan.


" Kau jangan khawatir, Aku akan menepati janjiku untuk tidak menyukainya, Kau tidak perlu merasa takut akan hal itu. " Lanjut Risa berusaha menenangkan emosi Karin.


Karin mulai beranjak dari tempatnya setelah itu berbalik meninggalkan Risa, namun ketika ia hampir membuka knop pintu Karin kembali menoleh ke arah Risa.


" Jadwal bulan ini kita akan terbang ke Brazil lagi, Kau sudah tahu kan kalau Juan pasti akan membawa seorang wanita yang berbeda ke rumahnya, Aku harap jika Juan mengajakmu kau harus menolaknya bagaimana pun caranya kau tidak boleh sampai ikut dengannya. " Ancam Karin sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu.


" Protektif sekali, padahal tidak punya hubungan apa-apa. " Ucap Risa memegang kepalanya yang terasa mulai pusing sekarang.


**


Sore ini pesawat akan terbang menuju China dan saat ini Risa di nyatakan boleh keluar rumah sakit dengan catatan ia harus tetap beristirahat selama penerbangan berlangsung, Kapten Zain memberikan kebijakan untuk Risa tidak bertugas di penerbangan kali ini dengan begitu ia bisa berada di banker untuk beristirahat. Walaupun kondisinya masih lemah Risa tetap menyempatkan diri untuk tetap ikut briefing bersama kru yang lain dan setelah semua selesai ia dapat kembali ke banker.


Untungnya perjalanan menuju China hanya memakan waktu tiga jam empat puluh menit untuk sampai di bandar udara internasional Beijing capital, sehingga Risa tidak perlu lama-lama berada di dalam Banker yang membosankan itu. Selama penerbangan berlangsung Risa benar-benar memanfaatkan waktu dengan beristirahat yang cukup agar kondisi tubuhnya cepat pulih, bagaimana pun juga ini kali pertama dirinya jatuh sakit padahal sebelumnya ia tak pernah mengalami hal ini.


Pesawat sudah berada di ketinggian 3000 kaki di atas permukaan tanah, Seorang pilot muda di temani co-pilot tampan tengah fokus menerbangkan pesawat. kini giliran Alex dan Juan yang bertugas menjadi pilot sementara Kapten Zain dan Marco beristirahat di banker khusus pilot, keduanya terlihat tenang tanpa bersuara namun diam-diam Alex melirik Juan yang saat itu sibuk membaca buku. Biasanya pilot akan memberikan kendali otomatis jika sudah berada di ketinggian 3000 kaki dan tugas mereka selanjutnya hanya akan memantau apakah pesawat tetap berada di jalurnya atau tidak, Saat ini Alex tengah memerhatikan Juan dengan wajah yang sulit di artikan membuat Juan yang menyadarinya menoleh heran.


" Apa yang kau lihat.? " Tanya Juan sinis.


" Kau tertarik dengan Risa kan? " lontarnya dengan senyum aneh.


" Omong kosong apa yang kau katakan, Siapa yang tertarik dengannya.? " Balas Juan kembali sibuk membaca buku.


" Aku tahu kau pasti akan berkata seperti itu, tapi lihat saja saat kita tiba di Brazil nanti kau pasti akan memilih Risa untuk menemuinya kan." Sambung Alex hanya mendapat lirikan sinis dari pria itu.


**


" Terima kasih. " Lontar Risa begitu mengetahui bahwa yang datang adalah Juan.


" Apa aku membangunkan mu.? " Juan mulai berbalik sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


" Tidak juga, Bukannya kau sedang bertugas kenapa ada di sini sampai repot-repot membawakan buah.? "


" Aku tidak sengaja dari toilet dan kebetulan Karin menyuruhku untuk membawakan ini untukmu. " Jawab Juan terasa sangat aneh di telinga Risa.


Tiba-tiba saja pertanyaan mulai muncul di kepalanya, bagaimana bisa seorang Karin yang di ketahui nya sangat protektif bisa menyuruh Juan untuk membawakannya buah dan minuman hangat.


" Aku akan kembali ke kokpit kau bisa kembali beristirahat. " Lanjut Juan namun Risa tiba-tiba menahannya untuk pergi.


" Aku ucapkan terima kasih lagi capt, Terima kasih karena telah menyelamatkan ku. " Sambung Risa tersenyum simpul.


Juan meliriknya sekilas dan ikut menyunggingkan senyum sembari memberikan jempol kepasa Risa, sejurus kemudian Juan pun berlalu meninggalkan Risa yang langsung menyeruput minuman tersebut sebelum dingin.


**


Negara demi negara telah di kunjungi oleh kru Garuda Indonesia Boeing 747-800NG setelah satu bulan penuh bertugas, dan saat ini tujuan terkahir sebelum kembali ke tanah air adalah Amerika Selatan lebih tepatnya Sao Paulo Brazil tempat Juan Diaz di lahir kan dan tempat dimana Juan selalu mengajak satu wanita ke rumahnya dengan maksud dan tujuan yang masih ambigu. Sampai saat ini belum ada yang tahu apa sebab dan tujuan Juan mengajak seorang wanita ke sana bahkan Karin sendiri mengaku bahwa ketika Juan mengajaknya ke sana tidak ada sesuatu yang spesial namun apa yang membuat Juan selalu mengajak seorang wanita ke sana.?


Pesawat telah mendarat sepenuhnya di Bandar udara internasional Sao Paulo dan saat ini para penumpang tengah meninggalkan kabin dengan bantuan para kru pesawat, Seperti biasa jika semua sudah beres maka semua kru di perbolehkan untuk ke beristirahat di hotel yang telah di sediakan. Karena Risa belum lama ini menginjakkan kaki di Brazil ia pun jadi tahu banyak jalan menuju ke beberapa tempat yang ada di kota itu, sehingga ketika semua kru bergegas untuk ke hotel Risa memilih untuk mengunjungi salah satu swalayan yang ada di kota itu untuk membeli sebuah barang keperluannya yang kebetulan sudah habis.


Saat Risa berada di pelataran bandara ia pun mencoba untuk memberhentikan taksi dan kebetulan saat itu sebuah mobil berwarna hitam baru saja menepih di hadapannya namun yang membuat Risa heran ialah mobil tersebut tampak bukan seperti mobil taksi pada umumnya. Kaca mobil itu baru saja terbuka sehingga membuat Risa dapat melihat siapa yang berada di dalam mobil tersebut.


" Kapten..? " Ucap Risa melongo kaget.


" Kau mau kemana.?" Tanya Juan tiba-tiba.


" Aku mau ke swalayan capt. " Jawab Risa sigap


" Naiklah, biar aku mengantarmu. " Lanjut Juan sukses membuat Risa kebingungan.


" Tidak perlu capt, aku bisa naik taksi kok. " Tolak Risa kemudian.


Juan terlihat berdecak pelan kemudian keluar dari dalam mobilnya, Selain di Indonesia Juan juga memiliki mobil sendiri yang ia titip pada salah satu kenalannya. Juan merebut koper Risa kemudian menuntutnya masuk ke mobil, namun tiba-tiba saja Risa menahan langkahnya ketika ia ingat dengan semua rumor yang telah beredar tentang Juan dan juga ancaman Karin yang dimana ia sudah berjanji untuk tidak melanggarnya.


" Maaf capt aku benar-benar tidak perlu ikut denganmu. " Risa mencoba melepas tangan Juan dan kembali merebut kopernya.


" Aku permisi. " lanjutnya bergegas meninggalkan Juan.


" Kau takut dengan Karin kan.? " Sahut Juan mendadak membuat langkah Risa terhenti.


" Aku dan Karin tidak ada hubungan apa-apa, Kau tidak perlu merasa takut dengan hal itu. " Lontar Juan lagi.


Risa membalikkan badan dan berusaha menyembunyikan kebingungannya, Saat ini ia berada di ambang dilema yang membuatnya sulit untuk memilih yang mana.


" Kau benar-benar akan mengantarku sampai ke swalayan kan.? " Gumam Risa kemudian di balas anggukan cepat dari Juan.


Kali ini Risa terpaksa harus menerima tawaran baik dari Juan, Ia yakin kalau Juan tidak akan menjadikannya target untuk di bawa ke rumahnya bagaimana pun juga Juan adalah seorang pria walaupun selama ini dia sudah memperlihatkan sisi baiknya. Setelah Juan menyimpan koper Risa ke bagasi, ia pun kembali mempersilakan Risa untuk duduk di kursi depan namun Risa menolak dan memilih untuk duduk di belakang saja, Juan hanya dapat mengangkat bahu pasrah kemudian melajukan mobilnya menuju swalayan terdekat.


**


Sebuah sentuhan lembut baru saja mengenai pundak Risa yang saat itu sedang tertidur dengan pulas, Semenit kemudian ia tersadar dan langsung melirik sekitarnya dan baru saja menyadari bahwa saat ini ia tengah bersama Juan di dalam mobilnya. Di luar mobil Risa melihat langit yang sudah berubah gelap sementara dirinya ingat betul bahwa sepulang dari swalayan saat itu masih siang dan bagaimana mungkin sekarang sudah malam.


" Kita di mana, bukannya jarak hotel dan hotel tidak memakan waktu selama ini, atau aku tertidur lama sekali.? " Tanya Risa yang membuat Juan terlihat melongo.


" Mobilku membutuhkan beberapa suku cadang jadi aku memutuskan untuk pulang dulu, Ayo masuk dulu. " ajak Juan bergegas turun dari mobilnya di susul oleh wajah kebingungan Risa yang mulai menjadi-jadi.


" Dia tidak sedang menjebak ku kan.? " Batin Risa mulai ketakutan.


Risa berusaha tetap berpikiran positif saat Juan menyuruhnya masuk, Sejenak Risa memperhatikan suasana rumah Juan yang terlihat berbeda mungkin dari segi rumah desain nya sangat mewah dan artistik begitupun dengan dekorasi taman mini yang di buat di halaman rumah. Di sekeliling rumah hanya ada pepohonan lengkap dengan suara hewan-hewan nokturnal yang mulai melangsungkan kehidupan mereka.


" Ayo masuk. " ajak Juan melirik Risa yang bengong di halaman rumahnya.


" Kalau hanya untuk mengambil suku cadang aku bisa menunggu di luar. " Jawabnya cepat.


" Kau yakin ingin menunggu di luar? Biasanya jam segini banyak serigala yang berkeliaran di " Belum sempat Juan melanjutkan ucapannya Risa sudah berjalan menghampirinya lengkap dengan wajah ketakutan.


Kini keduanya sudah memasuki ruang tamu yang tak kalah menarik dari halaman rumah, Semua warna ruangan terkesan sangat bohemian mengandung sesuatu yang sangat nyaman jika berlama-lama berada di ruangan itu. Selanjutnya mereka tiba di ruang keluarga yang cukup besar di sana ada seorang wanita tua yang di sambut Juan dengan penuh kehangatan, Risa tak tahu kalau di rumah ini ada orang lain yang menempatinya.


" Kenalkan, ini nenekku. " Ucap Juan yang memperkenalkan Risa kepada Wanita tua itu.


" Saya Arisa Naomi salam kenal. " Lontar Risa membuat wanita itu hanya menatapnya datar tanpa berkomentar apapun.


Nenek Juan kemudian melontarkan kalimat yang tidak di pahami oleh Risa, benar, keduanya saat ini sedang bercakap menggunakan bahasa Portugis dan Risa hanya dapat melongo melihat mereka berdua.


" Bukannya kau hanya ingin mengambil suku cadang, cepatlah kita harus segera kembali ke hotel. " Lontar Risa masih berdiri di hadapan mereka.


" Nenekku bilang sangat berbahaya jika kita kembali malam ini, Ada baiknya jika kita menginap untuk malam ini. " Sambung Juan membuat Risa tercekat, Risa tidak tahu harus berkata apa namun saat ini ia berpikir bahwa cara Juan saat ini tak lain dan tak bukan menjadikannya sebagai target berikut wanita yang selalu ia ajak ke rumahnya.


Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan mengetahui tentang ancaman yang di dapat jika meninggalkan rumah itu terpaksa membuat Risa akhirnya tetap tinggal meski perasaannya saat ini sedang tidak enak.