
Wanita setengah baya itu tak henti-hentinya menangisi kepergian seseorang, yang di mana seharusnya ia menangisi kepergian putrinya sendiri yang saat ini akan kembali ke Jakarta. Mama Risa sudah setengah jam yang lalu menangis ketika Juan hendak pergi, ia bahkan menambahkan akan sangat merindukan Juan di kemudian hari yang membuat Juan sampai tersipu malu di buatnya.
Saat ini Risa menatap mamanya penuh emosi sebab ia juga ingin di rindukan seperti itu oleh nya, namun sayang berbanding terbalik. Sebaliknya Papa nya lah yang lebih memanjakan Risa, beliau bahkan menitipkan amanah kepada putrinya sekali lagi untuk tetap memilih sesuai keinginannya dan tetap tegar apapun yang akan terjadi jika sesuatu yang buruk menimpanya.
Keduanya kini sudah memasuki mobil dan segera meninggalkan pelataran, suara tangisan Mama Risa masih terdengar cukup jelas di telinga Risa yang saat ini hanya dapat menutup wajahnya lantaran malu dengan sikap mamanya tersebut. Alih-alih protes dengan sikap beliau, Juan malah semakin tertarik dan senang di perlakukan seperti seorang putra di keluarga itu.
Juan merasa nyaman dan seperti sudah lama tinggal bersama mereka. Begitu mobil Juan benar-benar meninggalkan pelataran rumah, dari kejauhan tampak gerombolan ibu-ibu kompleks yang berkumpul di dekat gerbang sambil memamerkan spanduk yang bertuliskan ' Sampai jumpa Kapten Tampan dan jangan lupa untuk main ke Surabaya lagi '. Tak hanya Mama nya yang bersikap serupa, rupanya para tetangganya pun melakukan hal yang sama. Dan entah sejak kapan di kelompok ibu-ibu itu sudah ada mamanya yang ikut bersorak ria melepaskan kepergian mereka.
" Orang-orang di sini kocak yah, mereka ramah dan lucu-lucu. " Seru Juan di balas tawa pelan dari Risa yang sebaliknya tidak menganggap mereka seperti yang di katakan oleh Juan.
" Rasanya akan jadi rindu dengan suasana kota ini, Aku boleh kan kapan-kapan main lagi ke sini. " Lanjutnya.
" Ah.. Bo.. Boleh capt, dengan senang hati. " Balas Risa cukup terkejut mendengarnya.
" Yang benar saja, baru dua hari dia di sini orang-orang kompleks sudah menggila di tambah dengan sikap Mama yang tiba-tiba berubah bagaimana kalau kamu terus main ke sini akan jadi apa kompleks ini nanti. " batin Risa hanya dapat bersabar.
**
Setelah kembali ke Jakarta dan menempati kamar kost nya lagi, Risa yang baru saja memasuki kamar itu tiba-tiba tertegun dengan dekorasi kamar yang tidak biasa. Dimana saat ini kamar tersebut di dekor dengan berbagai pernak-pernik berbau penerbangan, mulai dari banner yang bertuliskan 'Welcome back Risa' hingga balon yang berbentuk pesawat terbang. Wajah kebingungan Risa tergambar jelas saat ini hingga beberapa saat kemudian seseorang mengejutkannya dari belakang.
" Welcome back Risa " Seru seorang wanita yang tak lain adalah Maya.
" Maya, " ucap Risa senang dan berlari ke pelukan wanita itu untuk melepas rindunya.
" Kenapa kamu sampai repot-repot memberikan surprise seperti ini.? " Tanya Risa ketika ia selesai memeluk Maya.
" Kapten Juan memberitahu kami kalau kamu akan pulang, sebelumnya dia sudah menceritakan masalahmu saat mencoba hipnoterapi itu, maka dari itu kami sepakat ingin membantumu melawan trauma itu dengan hal-hal kecil dulu, contohnya seperti ini. " Jelas Maya sukses membuat Risa terharu.
" Terima kasih banyak, aku sumpah kaget waktu masuk kamar tapi kok kamu bisa dapat kunci kost aku? " Tanya Risa penasaran.
" Oh soal itu mudah kok, Tinggal ke rumah ibu kost minta kunci cadangan, selesai. " balasnya ringan.
" Tunggu dulu, katamu kamu menyebut kami yang artinya kamu nggak sendiri menyiapkan ini, memangnya siapa selain kamu yang menyiapkannya.? " Tanya Risa penasaran.
" Aku.. " Seru seseorang yang muncul di balik pintu di susul oleh seorang pria lain yang saat ini membuat Risa semakin melongo.
" Kapten Alex dan kapten Juan kenapa masih di sini.? " Lontar Risa yang telah mengira kalau Juan sudah pulang saat mengantarnya beberapa saat yang lalu.
" Juan belum pulang saat kamu turun, dia sengaja memarkirkan mobilnya di belakang kost biar kamu tidak curiga. " Balas Alex seakan mewakili perasaan Juan.
" Nah, karena kita sudah berkumpul kembali bagaimana kalau kita keluar makan malam. " Ajak Maya menunggu persetujuan dari Risa.
" Boleh... " Balas nya pelan sambil tersenyum senang.
**
Risa terbangun dari tidurnya begitu alarm ponsel miliknya berdering cukup nyaring, ia pun bangkit sambil menguncir rambutnya asal. Setelah itu beranjak dari tempat tidur menuju jendela untuk membuka gorden agar sinar Mentari bisa masuk ke dalam kamarnya, Ketika Risa telah membuka jendela ia langsung dapat melihat suasana kost di pagi hari yang sudah tiga hari ini tak di saksikan olehnya.
Sapaan hangat ibu kost yang ramah kepada penghuni kost terlihat sangat enak di pandang, belum lagi deretan penjual sayur yang sudah mangkal di gerbang depan menanti anak-anak kost untuk membeli dagangannya. Risa hanya bisa tersenyum senang kemudian pandangannya tertuju pada luasnya langit biru yang sangat mempesona di pagi ini.
" Sudah lama tidak terbang dan melihatmu dari dekat, Jujur aku rindu saat-saat pesawat take off di ketinggian 5000 kaki, Tapi apa aku yang sekarang masih bisa melakukan nya.? " Gumam Risa perlahan mulai terlihat murung.
Dering ponsel milik Risa baru saja berbunyi cukup nyaring membuat si pemilik ponsel segera meraihnya, di lihat nama Juan pada layar tersebut dan langsung di jawab tanpa menunggu waktu lama lagi.
" Halo capt. " Ucap Risa pelan.
" Aku sedang dalam perjalanan menuju kostan kamu, banyak hal yang ingin ku lakukan dengan mu hari ini terutama untuk membantumu melawan trauma itu, kamu sudah siap-siap kan. ?" Tanya Juan membuat Risa menatap dirinya yang bahkan baru habis bagun tidur.
" Su..sudah capt, kira-kira berapa lama lagi kamu akan sampai.? " Sahut Risa mulai panik.
" Mungkin dua puluh menit soalnya aku masih harus isi bensin dan.. " belum selesai Juan menjelaskannya Risa sudah menyuruh untuk mengakhiri panggilan tersebut dan Juan pun hanya dapat melongo heran dengan sikap aneh Risa pagi ini.
Di samping itu, Risa langsung loncat memasuki kamar mandi dengan perasaan yang tergesa-gesa, ia sebal kenapa Juan tidak memberitahunya semalam jika memang ingin berangkat pagi ini. Risa hanya bisa berharap dirinya sudah siap ketika Juan tiba nanti.
Setelah menghabiskan sekitar lima menit di kamar mandi kini Risa keluar dan menuju lemari pakaiannya, kini ia mulai memilih pakaian yang cocok untuk pergi bersama Juan hari ini, namun entah mengapa semua pakaian yang di milikinya terkesan sangar kuno, atau mungkin karena selama ini dia lebih sering mengenakan seragam pramugari di bandingkan dress atau semacam nya.
Tunggu dulu, Risa menghentikan aksinya saat memilih pakaian dan kenapa saat ini dia merasa sangat antusias padahal hari ini dia hanya akan jalan bersama Juan untuk membantu menghilang traumanya. Tapi kenapa rasanya membuat Risa benar-benar semangat layaknya ingin pergi berkencan, sadar telah berlebihan ia pun hanya menarik satu stel pakaian yang terkesan cukup feminim.
Setelah itu ia memakainya dengan cepat dan selepas itu menuju cermin untuk mulai berdandan. Lagi dan lagi Risa secara tak sadar mulai memakai make up yang tak biasa, bahkan make up nya kali ini tak seperti make up yang ia gunakan saat bekerja. Lipstick berwarna red nude itu di letakkan di atas meja rias sambil menatap dirinya di pantulan cermin.
" Apa yang aku lakukan Risa, kenapa kau memakai make up yang berlebihan. Seperti ini. " Gumam Risa pada dirinya sendiri.
Waktu terus berjalan dan saat ini Risa telah menghapus make up sebelumnya dan menggantinya dengan sentuhan make up tipis, toh tanpa make up sekalipun ia tetap cantik. Setelah semua beres ia kembali melirik arlojinya dan tepat dua puluh menit ia bersiap-siap menunggu kedatangan Juan, sejurus kemudian pesan masuk dari Juan kembali berbunyi membuat wanita itu tersenyum girang dan membacanya dengan cepat.
" Aku sudah di bawah " Tulis Juan pada pesan singkat barusan.
**
Risa dan Juan tiba di sebuah tempat yang sudah tak asing lagi di penglihatan Risa, ia hanya bisa diam tanpa kata ketika menginjakkan kaki di tempat itu. Kini Juan sedang memesan tiket untuk mencoba air crew sensation atau simulator menaiki pesawat untuk pemula, sebelumnya mereka sudah pernah datang ke tempat itu saat pernikahan Dimas beberapa bulan yang lalu. Dan setelah Juan memesan tiket ia kembali menghampiri Risa yang masih tertegun di tempat nya.
" Aku ingin kamu mencoba naik pesawat lagi meskipun ini hanya simulator, Kamu bisa kan.? " Tanya Juan menatap Risa dalam-dalam.
Risa mencoba untuk meyakinkan dirinya terlebih dulu, apakah yang disarankan Juan ini tidak akan membuatnya merasakan trauma itu lagi. Melihat Juan memberikan tangannya membuat Risa merasakan hal yang aneh, terlebih lagi ketika Juan dengan berani meraih tangan Risa serta menggenggamnya cukup erat. Beberapa saat kemudian sesuatu muncul dalam diri Risa di mana ia mulai merasa percaya diri dan segera melangkah mengikuti langkah Juan menuju simulator pesawat itu.
Kini Risa dan Juan sudah memasuki simulator itu tanpa mengikuti briefing, bagaimana cara menggunakan simulator tersebut sebab mereka sudah mengetahuinya lebih dari ini. Juan membimbing Risa menuju kabin yang sama persis seperti yang berada di pesawat asli, setiap Risa melihat deretan kursi penumpang dan suasana yang ada di dalam bayang-bayang kecelakaan itu terus mengganggunya.
Hingga akhirnya mereka tiba di balley atau dapur pesawat yang berada di kabin belakang tempat itu merupakan tempat di mana Risa mengalami kecelakaan yang paling fatal, Alasan mengapa dirinya sangat trauma waktu itu barang-barang yang ada di sekitar yang termakan api jatuh satu persatu sehingga membuatnya nampak seperti serangan yang brutal ke arahnya.
Risa menjatuhkan tubuhnya sambil menutup telinga tatkala ia mengingat semua kejadian itu lagi, Juan datang dan memegangi kedua tangan Risa berusaha menatapnya dengan lembut. Risa ikut menatap Juan namun dengan tatapan ketakutan bahkan ia tak bisa mengucapkan sepatah kata saat ini.
" Tak ada yang perlu di takutkan, di sini aman.. Kau hanya perlu menghilangkan ketakutanmu itu dan lihat sekitarmu yang saat ini tidak akan membuatmu terluka. " Ucap Juan pelan namun membuat Risa dapat mendengarnya dengan baik.
Risa mulai menutup kedua matanya dan mencoba melawan ketakutannya itu meskipun ia berusaha sekuat tenaga, Perlahan tapi pasti ia mulai membuka kembali matanya dan mulai bangkit dengan penuh percaya diri.
" Kamu pasti bisa. " Dukungan Juan serta dorongan untuk membuatnya kembali ke dunia penerbangan telah berhasil membuat Risa melawan traumanya meskipun ia masih sedikit ketakutan.
" Capt, aku ingin mencoba memasuki kokpit lagi.. Bantu aku untuk mengatasi trauma ini dengan melihat apa yang di lakukan pilot saat kecelakaan terjadi. " Sahut Risa kemudian membuat Juan tersenyum senang sebab akhirnya Risa mampu untuk melawan trauma itu.
" Kau sudah pandai menerbangkan pesawat simulator hingga pesawat asli, kenapa tidak menjadi kapten saja. "
" Aku ingin menjadi seorang kapten kalau sudah menikah nanti. " Jawab Juan membuat Risa menoleh kaget.
" Kenapa tunggu menikah kalau bisa sekarang. ?"
" Karena aku ingin mengajak istriku nanti berkeliling dunia bersama dengan aku sebagai kapten nya. "
" Bicaramu seperti kau akan menikah dengan seorang pramugari saja capt. "
" Memang benar, aku akan menikah dengan seorang pramugari. "
Risa hanya dapat manggut-manggut mengerti lalu setelah itu tak ingin membahas nya lagi karena Risa merasa hal itu bukanlah urusannya lagi, namun Juan terlihat sedang menunggu Risa untuk lanjut bertanya tetapi hal itu tidak di lakukannya. Karena jawaban yang cukup canggung barusan Risa sampai lupa kalau saat ini simulator sudah berada di ketinggian 3000 kaki, Risa baru sadar ketika ia melihat layar yang menampilkan langit biru yang di sukainya.
" Terima kasih capt, berkatmu aku bisa melawan trauma ini. " Ucap Risa menyunggingkan senyum manis.
" Sama-sama, aku senang mendengarnya. " Sambung Juan ikut lega.
" Apa alasan kamu sampai nekat membantu ku menghilangkan trauma ini capt.? " Tanya Risa meliriknya penuh harap.
Juan terdiam dan nampak fokus melihat layar yang menampilkan langit biru, Sejurus kemudian Juan mulai berdeham pelan setelah memikirkan kata-kata yang tepat atas pertanyaan Risa barusan.
" Karena aku merasa harus bertanggung jawab sebagai pilot yang mengemudikan pesawat waktu itu, Aku tidak mau merasa menyesal karena telah membuat salah satu kru kami sampai mengalami trauma seperti mu. " Jelas Juan seketika membuat Risa merasa sedikit kecewa, ia pikir alasan Juan akan membuatnya tersentuh dan ternyata tidak seperti pemikirannya.
" Benar juga, kamu adalah seorang pilot, bodohnya aku. " Ucap Risa pelan dan membuat Juan sempat bertanya namun di balas hal lain oleh Risa.
Masih ada satu minggu lagi untuk tim maskapai Garuda Indonesia boeing 747-800NG untuk kembali bertugas, kabarnya akan ada pesawat baru yang akan di pakai oleh mereka sebagai ganti rugi dari pesawat sebelumnya yang sudah rusak cukup parah.
Perusahaan akan memberikan pesawat yang jauh lebih bagus lagi, bahkan kabarnya pesawat Boeing 777-300ER adalah sebuah pesawat penumpang sipil berbadan lebar bermesin ganda berjarak jauh dibuat oleh Boeing Commercial Airplanes. Dapat mengangkut antara 314 - 451 penumpang dan memiliki jangkauan dari 9'695 sampai 17'372 km (5'235 sampai 9'380 mil nautikal).
Dengan berakhir nya hari ini, Risa dan Juan berpisah setelah Juan mengantar Risa pulang ke kost'annya. Dan setelah itu Juan harus kembali di sibukkan dengan persiapan terbang yang harus di persiapkan jauh lebih baik lagi, Setelah Juan pergi dan hanya menyisakan aroma parfumnya. Sejenak Risa mulai tersadar dari lamunannya yang ia sendiri tidak tahu pasti alasannya melamun. Risa segera masuk ke dalam kost nya sambil menepuk-nepuk wajah nya pelan.
**
Malam kembali hadir di tengah-tengah Risa yang saat ini tengah asyik menatap langit malam yang di taburi oleh ribuan kemintang yang bersinar terang, Kedua mata nya berbinar-binar menyaksikan benda yang terlihat kecil namun sangat besar itu. Sejurus kemudian dering ponselnya membuat wanita berusia 25 tahun itu segera meraih ponselnya, dan menatap sebuah nama yang seketika membuat Risa tersenyum lebar.
" Ngapain. ?" Tulis pesan singkat yang datang dari Juan barusan.
Risa mulai membalasnya dengan penuh semangat. " Menatap langit malam, kamu ?" Tak lama setelah itu balasan pun masuk dan membuat Risa cepat-cepat membukanya lagi.
" Sama dong kalau gitu. "
" Apaan sih, pasti kamu lagi sibuk kan sama pilot-pilot yang lain. "
" Siapa bilang, coba tengok ke bawah. "
Risa mengerjapkan mata tak percaya, ia tak mau berharap kalau Juan benar-benar ada di bawah saat ini. Namun rasa penasaran nya memaksa Risa untuk mengintip ke bawah, dan benar saja sosok pria yang saat ini di ajak nya ngobrol via WhatsApp sudah berdiri di dekat pintu gerbang dengan senyum yang penuh warna. Risa ikut membalasnya dengan senyuman dan setelah itu menyuruh Juan untuk menunggu di bawah selagi ia menghampirinya.
" Kamu ngapain datang lagi capt, bukannya hari ini sibuk yah.? " Ucap Risa begitu ia sudah berada di hadapan Juan.
" Aku cuma kebetulan lewat dan ingin memberikan ini. " Juan menyerahkan goody bag kepada Risa yang membuat wanita itu meliriknya dengan penasaran.
" Apa ini. ?" Tanya Risa penasaran.
" Kau boleh membukanya nanti kalau aku sudah pergi. "
" Tapi kenapa kamu sampai repot-repot memberikannya padaku.? "
" Ini hadiah untukmu, Kau sudah berjuang melawan trauma mu,Jadi aku memberikan sebuah hadiah untukmu. "
" Terima kasih capt, Aku jadi merasa tidak enak. "
" Aku harus segera pulang untuk mempersiapkan barang-barang untuk besok, kamu masuk gih. " Sahut Juan dan di balas anggukan mantap dari Risa.
Mereka secara bersamaan meninggalkan pelataran kost'an dengan Juan yang sudah menghilang bersama mobilnya di balik kegelapan dan Risa yang sudah memasuki kamarnya, Risa membuang tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai membuka hadiah pemberian dari Juan dengan wajah berseri-seri. Perlahan tapi pasti wanita itu dapat melihat sebuah kotak yang berisikan heels berwarna hitam senada dengan heels persatuan yang di gunakan oleh pramugari lain, Selain itu terdapat sepucuk surat di dalam kotak yang membuat Risa langsung membacanya.
" Selamat bergabung kembali untuk calon Maitre d' cabin kami yang baru, semoga kamu bisa menjadi pramugari panutan untuk para junior dan penumpang pesawat, tetap menjadi Risa yang ceria dan pantang menyerah dalam bertugas, Aku tidak tahu apakah kau menyukai hadiahnya atau tidak tapi Maya memberitahuku kalau kamu sedang membutuhkan heels baru, makanya aku memberikan hadiah ini sebelum kamu membelinya, Sekali lagi congratulation."
Seulas senyuman terlihat jelas di wajah Risa menandakan ia benar-benar senang mendapatkan hadiah tersebut, Setelah membaca surat dari Juan ia pun mencoba memakai heels itu dan ternyata pas di kakinya. Padahal Risa belum pernah memberitahu siapa-siapa soal ukuran kakinya, dan Juan dengan hebatnya memberikan hadiah heels yang sangat cocok di kaki Risa.
" Kenapa akhir-akhir ini dia jadi menggemaskan sih
" Ucap Risa sambil meletakkan surat tersebut ke dalam sebuah kotak yang di mana di dalam kotak itu terdapat sebuah kalung yang menjadi pemberian nenek Juan dulu, Risa sengaja tidak memakainya karena takut kalung itu akan hilang sehingga ia hanya dapat menyimpannya seperti itu.
" Aku akan memakai heels ini di hari pertama bekerja nanti. " Ucapnya dengan bangga.
**
Hari ini bertepatan hari ulang tahun Risa yang di mana pesawat baru Garuda Indonesia sudah tiba di Indonesia dan akan di buka secara resmi dengan launching perdananya di bandara soekarno-hatta, tak hanya para pekerja yang bekerja di bandara saja yang boleh menyaksikannya, melainkan orang-orang luar yang telah b memesan tiket pun bisa ikut menyaksikan kemewahan pesawat baru yang siap untuk terbang lima hari lagi. Risa dan Maya yang kebetulan janjian datang menyaksikan pesawat baru mereka tak mau ketinggalan sampai membawa kamera untuk mereka dapat berfoto-foto di dalam.
Setelah beberapa kata penyambutan yang di ucapkan oleh direktur utama kini pesawat tersebut secara resmi dapat di lihat dari dekat, bahkan boleh di masuki oleh beberapa orang untuk melihat setiap detail dalam pesawat baru itu.
Risa dan Maya juga telah memasuki kabin pesawat di mulai dari kabin belakang sebelumnya, Maya bertanya apakah Risa sudah benar-benar bisa naik pesawat atau belum dan Risa menjawab nya dengan lantang bahwa dirinya sudah siap bahkan lebih dari kata siap lagi. Maya senang mendengarnya sehingga membuatnya tidak akan kehilangan rekan kerja yang sudah seperti saudara baginya.
Pesawat Garuda Indonesia tipe Boeing 777-300ER ini lebih bagus dan lebih besar dari pesawat sebelumnya, di pesawat sebelumnya jika di kabin kelas Ekonomi kursinya tidak senyaman dan sebesar sekarang di mana para penumpang pasti akan semakin nyaman jika melangsungkan perjalanan jauh. Risa yang telah mendapat kabar kalau dirinya akan menjadi Maitre D' cabin baru di pesawat itu segera melihat suasana Kelas bisnis hingga kelas pertama yang semakin mewah saja, Senyuman manis terpancar di wajah Risa seakan ia sudah tak sabar ingin segera bekerja.
Sayangnya hari ini Juan tidak bisa hadir karena sedang berada di luar kota bersama pilot yang lain, jika saja saat ini ada Juan mungkin dirinya bisa melihat-lihat isi kokpit pesawat sayangnya tidak semua orang yang boleh melihat ke dalam sehingga para tamu yang lain hanya boleh melihat sampai batas kelas pertama saja. Saat sedang asik-asik melihat-lihat tiba-tiba saja Seorang pria muncul bersama seorang wanita yang saling bergandengan tangan tepat di pintu keluar kelas pertama, Risa dan pria itu sempat saling melempar pandang hingga akhirnya di alihkan ke tempat lain.
" Ayo kita pergi ke tempat lain. " Ucap Risa dengan cepat menarik lengan Maya untuk segera meninggalkan tempat itu.
" Tunggu.. " Sahut seseorang berhasil membuat keduanya berhenti dan perlahan menoleh ke arah yang memanggilnya barusan.
" Apa begitu cara kalian menyapa atasan kalian, tidak sopan sekali. " Ucap Talia yang tak lain adalah istri dari Dimas.
" Maafkan kami pak.., Kami permisi dulu. " Lontar Risa menunduk bersalah dan kembali melangkahkan kakinya dengan menarik lengan Maya
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐