
Risa tercekat kaget saat mendengar suara mobil memasuki pelataran rumah, ia bangkit dari tempat tidur dan mengintip melalui jendela kamar, sosok Juan baru saja turun dengan gontai memasuki rumah sejenak Risa bersedih saat melihat suaminya datang dalam keadaan tak bersemangat, Namun di satu sisi ia marah sekaligus kesal atas apa yang telah ia lakukan. Saat Juan masuk ke rumah, ia di jagat oleh Diana yang memang sengaja menunggunya pulang, Wanita itu menatap Juan dengan tajam tercium aroma alkohol meskipun tidak begitu menyengat.
" Apa yang akan kau lakukan selanjutnya.? " Tanya Diana saat Juan merebahkan tubuhnya di atas sofa
" Bagaimana apanya ? Aku tidak akan melakukan keduanya, Aku akan tetap menjadi suami Risa sekaligus ayah dari anak-anak nya." jawabnya ringan
" Lalu Cindy.? "
" Aku tidak peduli padanya, Itu hanya sebuah kecelakaan yang aku sendiri tidak sadar dan tidak pernah merasa telah melakukannya. "
" Juan kamu jangan konyol, Apa kata orang tua Risa nanti. "
" Terus aku harus apa??? Aku harus menikah dengan Cindy kemudian membuat Risa sakit setiap hari? Pernikahan bukan jalan satu-satunya, kenapa harus memaksa untuk menikah jika hanya untuk bertanggung jawab atas bayi itu. " Ketus Juan
" Kau tahu, terkadang aku ingin percaya kalau bukan kau yang melakukannya tapi kenyataan tidak bisa terelakkan sekarang, Nasi sudah menjadi bubur, dan kau harus menikahi Cindy sebagai gantinya. "
" Kenapa kau jadi seperti Risa sekarang? Kenapa tidak ada satu orang pun yang peduli atas penderitaan ku? Kenapa. ? Akhhhhh !!!! " teriak Juan sambil menendang vas bunga yang ada di hadapannya
Risa menyaksikan percakapan Juan dan Diana dari atas lantai dua, Berat melihat Juan juga menderita tapi yang paling menderita saat ini bukan hanya dia saja, tanpa sadar air mata Risa ikut terjatuh begitu Juan menangis sejadi-jadinya di hadapan Diana.
\*
Pagi keesokan harinya, Risa terbangun saat ia merasa sesuatu melingkar di perutnya, Ia membuka mata dan menyadari kehadiran Juan di belakang nya yang memeluk dan mendekapnya dengan lembut, Terdengar suara nafas Juan yang menyapu tengkuknya.
" Aku tidak ingin menikah dengannya, kau bisa meminta apa saja padaku asal jangan permintaan konyol itu, " Ucap Juan mempertahankan posisinya.
" Jangan egois, kau harus menikah agar tidak mendapat Citra yang buruk di perusahaan mu, aku akan mencoba untuk menerima kenyataan mulai sekarang, Aku percaya kalau kamu melakukan nya secara tidak sengaja, " Balas Risa membuat Juan mengangkat wajahnya karena ia mengira Risa belum bangun saat ia mengatakan hal itu.
Risa melepas tangan Juan dan berbalik ke arahnya, saat ini kedua mata mereka saling menatap satu sama lain, Lama kelamaan Juan merasa sedih sehingga mengalihkan pandangannya agar Risa tak melihat dirinya yang terlihat lemah.
" Bertanggung jawab lah setidak sampai anak itu berusia dua tahun, Setelah itu kita akan memikirkan cara lain untuk mengakhiri hubungan mu dengan Cindy. "
" Kenapa harus menunggu dua tahun? Aku bisa saja meninggalkan Cindy ketika anak itu sudah lahir beberapa bulan. "
" Jangan. Bagaimana pun juga dia pasti ingin mengenal sosok ayahnya. "
" Kau terlalu baik, aku bersyukur memiliki istri sepertimu..., Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakan mu lagi. " Lontar Juan kembali memeluk Risa dengan penuh kasih.
Hari yang tak di harapkan tiba, Pernikahan Juan dan Cindy di adakan secara tertutup dan di hadiri oleh keluarga Juan dan pihak wali Cindy yang mewakili kedua orang tuanya yang tidak bisa hadir karena masalah jarak, namun mereka percaya atas apa yang Cindy pilih dan tetap mendoakan putrinya dari jauh meski mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Wanita yang tangguh dan memiliki hati yang lembut seperti kapas, tiada kebencian yang ia tampakkan saat melihat suaminya menikah dengan wanita lain, hatinya memang sakit namun ia berusaha untuk tersenyum.
Diana terus berada di sebelah Risa memastikan apakah dia akan tetap baik-baik saja menghadiri pernikahan ini, sebelumnya Juan melarang untuk datang namun ia bersih keras untuk tetap datang, Sesekali ia menyunggingkan senyum palsu ke arah orang-orang yang meliriknya, Juan yang menyaksikan ekspresi wajah Risa hanya dapat menahan kesedihannya, dan hari ini juga ia telah resmi menjadi seroang suami dari mantan kekasihnya dulu yaitu Cindy.
Setelah pernikahan ini usai, Baik Risa, Juan dan Cindy akan pulang ke rumah mereka atas permintaan Risa yang ingin agar Cindy tetap tinggal di rumahnya agar Juan tidak perlu membagi dirinya dan agar memudahkan Juan untuk memantau kedua wanita hamil itu, Di saat usia kandungan Risa sudah menginjak lima bulan, Cindy terlihat akan memasuki usia dua bulan namun anehnya Risa melihat tubuh Cindy tidak menampakkan bentuk wanita hamil, dia memang berbadan tinggi dan sangat ramping sehingga tidak jelas kalau dirinya tengah hamil dua bulan, membuat Risa sedikit cemburu dengan bentuk tubuhnya itu. Setelah proses pemberkatan selesai, Risa menghampiri Cindy kemudian mengajaknya untuk bicara berdua, Keduanya menuju suatu tempat yang jauh dari keluarga, di sana Risa tidak ingin banyak basa-basi.
" Karena kau telah resmi menjadi istri Juan, Aku minta untuk tidak berlebihan terhadapnya, kau harus ingat statusmu menjadi istri untuk apa, dan jangan pernah melakukan sesuatu yang di luar dari batas wajar terhadap nya. " Ujar Risa tegas
" Kau tidak perlu khawatirkan hal itu, aku tahu batasannya, dengan restu mu saja aku sudah merasa bersyukur dengan begitu anakku nanti akan memiliki seorang ayah. "
Risa mengernyit heran saat Cindy mengatakan hal itu, Ada sesuatu yang aneh dan mencurigakan namun Risa tak bisa memasukannya dengan benar, Seseorang memanggil mereka berdua untuk segera pulang sekaligus berpisah dengan Diana dan keluarganya, Sering tertanganinya masalah ini Diana dapat kembali ke rumahnya meskipun ia masih merasa khawatir dengan Risa.
Setibanya di rumah, Risa menunjukkan kamar Cindy yang berada di lantai bawah, sebelumnya ia sudah menyuruh asisten rumah tangganya untuk merapihkan kamar tersebut agar siap huni, Dengan senang hati Cindy menerima kamar itu dan bergegas memasuki kamarnya, Risa dan Juan segera naik ke atas untuk istirahat dan tiba-tiba saja Cindy kembali keluar dan memperhatikan mereka yang tampak bahagia, Seperti tidak sedang dalam masalah seketika itu juga Cindy di buat cemburu oleh keromantisan mereka.
Cindy kembali memasuki kamarnya dan di rasa kamar itu sangat dingin jauh dari kata hangat, padahal ac di kamar itu tidak menyalah dan ia merasa sangat dingin. Tidak tinggal sendirian tapi merasa sendirian, Di hadapan sebuah cermin besar Cindy menatap dirinya pada pantulan cermin itu, Perutnya memang tidak begitu membesar padahal usianya sudah memasuki tiga bulan masa kehamilan, karena ukuran perut ini juga orang-orang mengira kalau usia kandungannya masih berjalan dua bulan.
" Siapapun ayahmu kau akan tetap menjadi anakku, Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja, Aku bahkan sampai rela merebut kebahagiaan orang lain demi kamu. " Ucap Cindy sambil mengelus perut buncitnya.
Malam harinya, Risa bersama dua orang asisten rumah tangganya sedang menyiapkan makan malam, Tiba-tiba saja Cindy keluar dari kamar dan langsung menuju dapur untuk sekedar membantu mereka. Risa tidak menegurnya sama sekali dan Cindy tampak bicara dengan asisten itu, Tak sengaja Cindy melihat asisten itu hendak memasukkan jamur ke dalam sup yang ia buat, Cindy melarangnya dan membuat asisten itu tak jadi menuangnya, terjadilah saling tatap menatap antara Cindy, Risa dan kedua asisten itu.
" Kenapa saya tidak boleh memasukkan jamur.? " Tanyanya kebingungan
" Juan alergi dengan jamur, Dia bisa sesak nafas jika memakan jamur atau pun kuah dari jamur yang di masak." Jelas Cindy membuat Risa mengernyit heran, sebelumnya ia tak tahu kalau Juan punya alergi terhadap jamur
Juan muncul bertepatan setelah Cindy memberitahu mereka tentang alerginya, Risa menghampirinya dan langsung bertanya apakah benar ia memiliki alergi terhadap jamur atau tidak.
" Benar.. Aku alergi terhadap jamur, tapi bagaimana kau bisa tahu bahkan yang mengetahuinya hanya nenekku.?" Ungkap Juan menatap semua orang heran
Risa menoleh ke arah Cindy yang saat ini tersenyum kecil, Cindy pun menjelaskan alasan dirinya tahu Juan alergi terhadap jamur adalah ketika dirinya di ajak oleh Juan ke rumah neneknya tiga tahun yang lalu, saat itu Juan tidak ingat kalau saat neneknya menjelaskan dirinya allegri di situ ada Cindy juga.
" Aku bahkan tak tahu kalau kau alergi jamur. " Ucap Risa tampak kecewa pada dirinya sendiri
" Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, Aku yang salah karena tidak pernah memberitahu mu. " Ungkap Juan menepuk pelan pundak Risa.
☁️✈
Pagi ini Juan kembali harus bertugas, untungnya dia hanya mendapat 5 jam terbang hari ini sehingga ia bisa kembali pulang, Risa telah menyiapkan segala keperluan Juan dan seperti biasa akan mengantarnya sampai di depan pintu. Kecupan hangat untuk istri dan perut Risa tak pernah absen hingga saat di mana Cindy menyaksikan adegan itu tiba-tiba ia merasa cemburu dan ingin merasakan apa yang Risa.
Ketika Juan pergi, Cindy berhenti di sebelah Risa dan ikut melihat kepergian mobil Juan yang perlahan hilang di balik perumahan, Risa melirik Cindy dengan tanya saat wanita itu terlihat mencurigakan di mata Risa. Seakan tak peduli dengan Cindy, Risa pun kembali melangkah masuk ke dalam rumah.
" Apa boleh aku bersikap egois sekali saja. " benak Cindy dengan mata yang berkaca-kaca sambil memegangi perutnya
Setelah menyaksikan beberapa adegan romantis yang di mainkan antara Risa dan Juan, nampaknya berhasil membuat Cindy geram dan tak tahan dengan semua itu, memang benar bahwa tujuannya menikah hanya untuk status orang tua untuk sang bayi tapi jika di pikirkan lagi, Cindy merasa saat ini dirinya tak lain hanya seperti bayangan yang tak kasat mata saat mereka sedang bersama, hingga membuat perasaannya muak dan berusaha ingin mendapatkan kebahagiaan yang sama.
☁️✈
Terdengar suara bel yang cukup nyaring di mana Risa yang saat itu sedang tertidur langsung terbangun mendengar nya, ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul empat sore, Sambil mengerjapkan matanya ia pun bangkit dari tempat tidur dan suara bel lagi-lagi mengusiknya, kemana asisten rumah tangga yang tidak membuka pintu dan kemana Cindy yang berada di lantai bawah, Hal itu membuat Risa kesal dan segera turun untuk melihat siapa yang datang.
" Mama sama papa kok ada di sini? Kenapa tidak menghubungi ku sebelum nya?? " Tanya Risa basa basi
" Wanita ini apa benar dia temanmu.? " Tanya Mama Risa mengalihkan pembicaraan
" I.. Iya, dia temanku yang kebetulan tinggal di sini " sejenak Risa merasa lega karena Cindy tidak memberitahu kedua orang tuanya tentang identitas aslinya.
" Ikut mama.. " Ajak Wanita itu menarik tangan Risa menaiki anak tangga, ia bahkan langsung menanyakan di mana kamar nya dan Juan, Risa pun menunjuk pintu kamarnya yang berada di sebelah kiri setelah anak tangga.
Adapun papa Risa segera menyusul mereka karena tak paham dengan maksud istrinya yang tiba-tiba mengajak Risa untuk bicara di tempat lain, bukannya saling melepas rindu mereka terlihat seperti orang tua yang baru saja mendapati anaknya melakukan kesalahan dan ingin segera di marahi.
Di dalam kamar, Mama dan Papa Risa saat ini duduk berhadapan di mana Risa terlihat kebingungan dengan sikap mamanya yang baru saja datang namun bersikap aneh seperti ini.
" Apa yang di lakukan wanita itu di sini? Dia tidak tinggal denganmu dan Juan kan? " Tanya Mamanya sekali lagi seakan tak cukup dengan menjawab bahwa Cindy hanyalah seorang teman.
" Sebenarnya dia tinggal di sini untuk sementara, "
" Tidak boleh, wanita secantik dia tidak boleh ada di antara kamu dan Juan, dia bisa saja menjadi ular putih yang akan memberikan bisa yang mematikan di hubungan kalian."
Risa merasa kesulitan untuk sekedar menelan air liurnya, Untuk saat ini mungkin aman jika di rahasiakan dari mereka, rasa takut mama Risa seakan dapat mendeteksi ada aura perusak hubungan di antara dia dan Juan, Entah seperti apa reaksi Mama dan Papanya jika tahu kalau Juan menghamili wanita lain.
" Mah..,jangan terlalu di dramatis deh, Tujuan kita datang bukan untuk menakuti Risa tapi untuk melihat keadaanya dan calon cucu kita kan. " Sahut Papa seakan mengerti keinginan hati Risa untuk berhenti membahasnya.
" Apa salahnya untuk memperingati, toh jaman sekarang banyak wanita jahat yang mencoba merusak hubungan orang lain. "
" Jangan terlalu dengarkan apa yang mama ucapkan, Juan tidak mungkin melirik wanita lain dia sudah berjanji sama papa dan janji seorang pria tidak boleh di ingkari. " Sahut papa yang membuat Risa merasa sedih mendengar nya
" Ngomong-ngomong di mana Juan. ? " Tanya Mama kembali antusias
" Dia sedang bertugas, malam ini akan pulang kok. " Jawab Risa ringan
" Syukurlah kalau begitu, Mama akan memasak untuk kita makan bersama nanti malam. "
✈☁️
Pria itu menatap rumah besar di hadapannya dengan nafas yang berat, di tangannya terdapat ponsel yang berisi pesan dari Risa yang mengatakan bahwa saat ini kedua orang tuanya tiba-tiba datang, Tentu hal ini belum siap untuk Juan hadapi, bagaimana jika mereka sampai tahu soal Cindy, Juan benar-benar dilema untuk masuk ke dalam saat ini. Ingin tidak pulang pun hanya akan menambah kecurigaan pada orang tua Risa karena sebelumnya Risa sudah bilang kalau malam ini Juan akan pulang.
Dengan berat hati Juan pun segera memasuki rumah nya, bahkan saat mendengar pintu terbuka Mama Risa langsung loncat dan menyambut menantunya itu dengan suka cita, Bahkan sambutan itu lebih heboh dari saat ia bertemu dengan Risa. Mama menggandeng tangan Juan menuju ruang makan dan Juan pun menyapa papa Risa, sesekali pandangan Juan mencoba mencari sosok Cindy yang ternyata tidak bergabung dengan mereka.
" Kalian kapan datangnya.?" Tanya Juan sekedar basa basi
" Sekitar pukul empat sore, kami sengaja tidak mengabari kalian supaya dapat memberikan kejutan. " jawab Mama Risa
" Tapi bagaimana kalian bisa tahu alamat kami.?" Tanya Juan lagi
" Soal itu tentu dengan arahan maps dan juga telepon langsung dari Diana, Setelah tiba di Bandara kami menelpon Diana dan dia mengarahkan supir taksinya menuju rumah ini. "
Juan pun hanya dapat manggut-manggut mengerti dan Sebelum memulai makan malam, Juan ingin bersih-bersih dulu dan ia pun segera menuju kamar di susul oleh Risa yang beralasan ingin menyiapkan baju untuk Juan, Selagi mereka siap-siap, Mama dan papa Risa sibuk menyiapkan makan malam bersama, karena Juan dan Risa jarang menikmati makanan khas Indonesia maka hari ini wanita itu akan membuat makanan khas Indonesia yang banyak untuk memuaskan menantu dan calon cucunya.
✈☁️
" Di mana Cindy? Dia tidak memberitahu apapun ke orang tua mu kan.? " Tanya Juan saat mereka sudah ada di dalam kamar
" Cindy ada di kamarnya sejak tadi sore, dia tidak memberitahu apapun ke mereka, tapi Mama ku sudah mengira kalau keberadaan Cindy akan membuat hubungan kita rusak, aku takut jika mereka sampai tahu, apa yang akan terjadi pada kita.? " Tanya Risa yang mulai menampakkan kecemasan nya
" Kau jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan mereka mengetahuinya, Soal Cindy aku akan menyuruhnya untuk menginap di hotel beberapa hari ini, sampai kapan orang tuamu akan tinggal.? "
" Mereka bilang sekitar dua minggu, Apa kau yakin Cindy mau jika di biarkan tinggal di hotel selama itu.? "
" Aku akan mencoba menelponnya, kau turunlah dan ajak orang tuamu mengobrol sesuatu yang membuat mereka lupa kalau Cindy tidak ada di sini. "
" Baiklah, kalau kau sudah bersih-bersih jangan lupa untuk turun juga oke. " Lontar Risa dan di balas anggukan setuju oleh Juan
✈☁️
Semua menu masakan buatan Mama Risa telah di sajikan di atas meja makan, Risa ikut membantu mamanya sedikit-sedikit namun papanya sangat memperhatikan Risa dengan baik sehingga menyuruhnya untuk tidak terlalu banyak bekerja di saat hamil besar seperti itu, Begitu semua telah tersedia Juan pun turun dengan pakaian kasualnya, Ia mengambil kursi di sebelah Risa berhadapan dengan kedua mertuanya.
" Di mana teman mu itu? Panggil dia untuk ikut makan. " Ucap Papa Risa seketika membuat Juan dan Risa tercekat
" Dia.., tidak enak badan jadi tidak ikut makan malam. " Balas Risa
" Kalau begitu bawakan makanan untuknya nanti. "
" Baik pah. "
Mereka memulai makan malam dengan damai, dan secara tiba-tiba pintu kamar Cindy terkuak ia berjalan menuju ruang makan dan memanggil Juan dengan suaranya yang parau, Semua mata ter tujuan pada Cindy yang nampak pucat dan cara berdirinya pun terlihat aneh, Saat keseimbangan Cindy hampir menghilang Juan dengan cepat menangkapnya dengan posisi yang sangat hati-hati mengingat kondisi kehamilan Cindy saat itu.
Risa dan kedua orang tuanya pun ikut panik dan menghampirinya dengan rasa penasaran, Cindy mulai mengeluh tidak enak badan dan perutnya terasa sangat sakit, Juan pun mencoba menggendong Cindy dan memindahkannya ke tempat yang nyaman, Semua turut mengikuti Juan dan Risa yang dengan cepat mengambilkan air untuk Cindy.
" Kau minum dulu, tenangkan dirimu. " Ucap Risa setelah menyodorkan segelas air minum untuk Cindy
" Apa sebaiknya kita memanggil dokter.? " Usul Papa Risa
Risa melirik Juan dengan cemas, Ia takut jika dokter datang itu akan membuat mereka tahu apa yang terjadi dengan Cindy, Namun Juan sadar kalau kedua orang tua Risa tidak akan mengerti bahasa Portugis sehingga dengan datangnya dokter mereka tidak akan paham dengan penjelasan nya nanti. Setelah merundingkannya dengan Risa, Juan pun segera memanggil dokter pribadi Cindy yang selalu menanganinya setiap check up, Begitu sang dokter berhasil di hubungi Juan kembali menggendong Cindy untuk memindahkannya ke kamar.
Mama Risa menahan langkah putrinya saat Risa juga ingin mengikuti Juan, Ia bertanya soal Cindy yang terlihat sangat mencurigakan, Mama Risa tetap merasakan adanya sesuatu yang aneh dengan kehadiran Risa namun bagaimana pun juga Risa sudah tahu semuanya dan ia tidak bisa tinggal diam saja melihat Cindy kesakitan, Sebagai sesama wanita hamil tentu itu sangat menyakitkan, Risa pun pernah mengalami hal itu saat menginjak usia kandungan tiga bulan kemarin, Dan rasanya sangat sakit.
Selang beberapa saat kemudian dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Cindy, Selagi dokter itu menangani Cindy semua orang menunggu di luar dengan harap cemas, Melihat ekspresi Juan dan Risa yang saat ini terlihat ada yang di sembunyikan membuat Mama Risa terus menerus bertanya-tanya dalam benak, Insting nya begitu kuat dan akan semakin kuat jika tak ada dari mereka yang menjelaskan kebenaran agar pikirannya menjadi sedikit lebih tenang.
Pintu terkuak dan sang dokter memanggil Juan untuk masuk ke dalam, Semakin timbul rasa curiga yang besar begitu Juan masuk dan meminta izin pada Risa, Anehnya Risa mengizinkan suaminya untuk masuk tanpa ada rasa cemburu dan sebagai nya.
" Kenapa kau membiarkan Juan masuk? Apa hubungannya Juan dengan wanita di dalam.? " Tanya Mama Risa yang sudah tak tahan dengan semua kecurigaan nya.
" Itu karena Juan.., Juan adalah kaptennya. " Terang Risa sambil mengutuk dirinya sendiri dalam hati
Risa pun menjelaskan kepada kedua orang tuanya bahwa Cindy sebenarnya adalah kru yang bekerja di maskapai yang sama dengan Juan, karena suatu alasan ia harus tinggal di rumah nya untuk sekedar membantu Risa dalam proses melamar kerja ketika ia sudah melahirkan nanti. Untungnya mereka langsung percaya dan tak bertanya-tanya lagi, Berkat kebohongan itu Risa jadi terselamatkan.