My Handsome Pilot

My Handsome Pilot
68



Risa telah tiba di Brazil dengan selamat setelah sebelumnya mengajukan izin kepada atasan karena meninggalkan tugasnya di hari itu, sebagai gantinya Risa akan di pindah tugaskan dalam artian mengganti jam terbang pramugari lain yang karena alasan mendadak, Lama perjalanan dari Indonesia ke Brazil tentu membuat Risa tak sabar menemui pria yang amat di cintai nya. Untuknya ia masih menghafal arah rumah nenek Juan sehingga ia tak sampai tersesat menuju rumah itu, Risa mulai mengedarkan pandangan nya ke seluruh arah, beberapa karangan bunga yang besar tampak menghiasi pekarangan walaupun suasananya cukup sepi tapi Risa masih dapat mendengar seseorang bicara dari dalam rumah hingga membawanya sampai keluar dan mempertemukannya dengan wanita yang saat ini mematung melihat kehadiran Risa.


Sambil melangkah mendekati Risa wanita itu terlihat ingin menangis, " Ya ampun Risa, kau datang sayang.." Ucapnya dengan nada yang tersendat-sendat kemudian menggapai tubuh Risa dan memeluk nya dengan erat, sejurus kemudian ia menangis di pelukan Risa begitu pun dengan Risa yang tak tahan dengan momen haru itu.


" Tante yang sabar yah, " Ucap Risa sambil mengelus pundak wanita yang lebih tua darinya itu.


" Aku senang melihatmu ada di sini. " Lanjutnya setelah melepas pelukannya


" Apa dia ada di dalam.? " Tanya Risa melirik ke arah rumah di belakang Diana


" Dia masih ada di ruangan tempat ibuku terkahir di letakkan, Sejak hari itu Juan tidak pernah meninggal ruangan. " Jelas Diana sontak membuat Risa bergegas menemui Juan


Wanita itu berlari menelusuri seisi rumah mencari ruangan yang di maksud, hingga ia melihat sosok Jane yang berdiri di ambang pintu membuat Risa langsung tahu kalau itulah ruangan yang di maksud, Jane cukup kaget saat melihat Risa ada di sana dan dengan cepat menunjukkan Juan yang saat ini masih berada dalam posisi yang sama. Air mata Risa sudah tak dapat lagi di bendung sehingga ia kembali menangis, Penampilan Juan yang tak terurus dengan janggut yang mulai tumbuh liar serta wajah yang pucat, Risa pun mulai melangkah mendekati Juan namun perlahan langkah Risa tiba-tiba terhenti ketika melihat wajah Juan dari samping dengan tatapan mata yang terlihat sangat putus asa.


Satu rangkulan hangat membuat Juan menoleh dengan refleks, wajah mereka saling bertemu pandang sejenak Juan mencoba meyakinkan dirinya apakah yang ia lihat saat ini adalah nyata atau hanya sebatas delusi, Risa mengucapkan beberapa kata yang membuat Juan tersadar hingga akhirnya meraih wanita itu ke dalam pelukannya. Ia tahu kalau saat ini dirinya bersalah karena tak memberitahu Risa soal kepergiannya secara mendadak, Begitu mendengar kabar neneknya meninggal Juan merasa dunianya kosong dan ia tak bisa berpikir apa-apa lagi selain rasa sedih yang di alaminya pasca di tinggalkan nenek tercintanya.


" Nenek ku sudah tidak ada, Kita bahkan belum memberitahunya kalau kita akan segera menikah, Aku sangat menyesal..., Aku cucu yang sangat bodoh. " Isak Juan akhirnya menangis di pelukan Risa


" Tidak apa-apa, Sekarang pun kita bisa memberitahunya dan aku yakin nenekmu pasti akan sangat senang, dan dia bisa pergi dengan tenang. " Ucap Risa sambil mengelus lembut kepala Juan


Juan semakin menangis sejadi-jadinya, isakan tangis yang sejak kemarin tak terdengar saat ini terdengar begitu jelas, ia bahkan berteriak histeris di hadapan Risa namun wanita itu tetap memberikan kekuatan pada Juan agar dapat menerima semua keadaanya saat ini, Diana dan Jane hanya dapat menangis melihat keduanya hingga akhirnya mereka pergi dan meninggalkan mereka berdua dalam ruangan itu.


\*


Sejak tiba nya Risa di Brazil, Sampai saat ini dia masih Setia menemani Juan yang sudah terlelap karena kelelahan menangis, Kesedihan yang ia simpan sejak dua hari yang lalu telah di keluarkan semua dan membuatnya sampai tertidur dengan pulas di pangkuan Risa, Wanita itu menatap wajah Juan dengan perasaan lega di mana sebelumnya ia sudah berpikir yang tidak-tidak pada pria itu mengingat hal itu Risa pun menjadi merasa bersalah terhadap Juan.


" Risa, apa dia sudah bangun. ?" Sahut Diana yang tiba-tiba muncul di ambang pintu


" Belum, memangnya ada apa Tante.? " Tanya Risa cukup pelan agar tak membangunkan Juan


Setelah Diana pergi, Risa kembali mengamati Juan dan setelah itu membelai lembut rambut Juan dengan sangat hati-hati, Rasanya tidak tega membangunkan pria itu untuk makan setelah ia juga tahu kalau sudah dua hari ini Juan tidak tidur, mungkin ada baiknya jika ia membiarkan Juan tidur beberapa saat.


" Maafkan aku, Aku sudah membuatmu khawatir dan mungkin kau mengira kalau aku sengaja menghilang secara tiba-tiba." Ucap Seseorang berhasil membuat Risa tercekat, ia tak menyadari kalau Juan baru saja terbangun namun tidak merubah posisinya sama sekali.


Risa menggeleng sambil tersenyum simpul, " kau tidak perlu minta maaf, Kalau aku tahu yang sebenarnya aku tidak akan salah paham. " Sambungnya pelan


Juan mencoba menggenggam tangan Risa dan melirik cincin yang masih tersemat di jari manis itu, mereka hanyut dalam diam dengan pikiran masing-masing sementara itu Juan mulai bangun dari pangkuan Risa kemudian melirik foto besar yang terpajang di hadapannya, Tangan Juan kembali menggapai tangan Risa seakan mengajaknya untuk berada di sampingnya.


" Vovó, ela é minha mulher escolhida, você já a conheceu antes, estou feliz porque você também gosta dela como neto de uma nora e desculpe por não ter tido a chance de lhe dar verdadeira felicidade antes de sair. Peço sua benção casar-se com ele ( Nenek, dia adalah istri pilihan saya, Anda pernah bertemu dengannya sebelumnya, saya senang karena Anda juga menyukainya sebagai cucu menantu perempuan dan saya menyesal tidak punya kesempatan untuk memberi Anda kebahagiaan nyata sebelum anda pergi. Saya meminta doa restu Anda untuk menikah dengannya . )" Ucap Juan dengan bahasa portugis nya dan hanya dapat membuat Risa menatapnya dengan wajah penasaran.


Karena kehadiran Risa saat ini Juan terlihat lebih membaik dari sebelumnya, ia mau untuk bicara bahkan tersenyum meskipun tidak lebar dan saat ini ia juga mau di ajak makan malam oleh Risa, sehingga keduanya bergegas menuju ruang makan di mana sudah ada berbagai macam menu makanan yang telah di sediakan oleh tantenya sebelum pulang. Malam itu keduanya menikmati makan malam berdua dengan tenang, Risa melayani Juan layaknya seorang istri kepada suami, Ini malam ketiga setelah nenek Juan meninggal dan rasanya kebahagiaan yang sempat hilang kini datang kembali dan dua kali lipat dari sebelumnya.


\*


Pagi keesokan harinya Risa terbangun di atas sebuah tempat tidur, Ia melirik seisi kamar yang berdominan peach pink dan langsung tersadar kalau dirinya sedang berada di Brazil, Sambil menguncir rambutnya secara asal ia pun bergegas menuju kamar mandi, Setelah menghabiskan waktu kurang lebih lima menit ia pun keluar dan membereskan tempat tidurnya. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi dan di luar sinar matahari mulai menyinari pepohonan yang rindang ada pun suara nyanyian alam oleh hewan-hewan pagi menambah keindahan pagi itu. Setelah merapihkan kamar, Risa segera keluar mencari sosok Juan dan ternyata pria itu sudah bangun terlebih dulu dan saat ini sedang menyiapkan sarapan untuknya dan Risa.


" Kau sudah bangun.? " Ucap Risa ketika ia tiba di dapur


" Hmm.. Selamat pagi. " Lontar Juan meliriknya sebentar kemudian kembali fokus menyiapkan roti untuk di panggang di mesin pemanggang


Risa tak mau membuat Juan kerepotan dan ikut membantunya dalam membuat sarapan, Dengan keahliannya dalam memasak, Risa pun mencoba untuk membuat pasta dengan beberapa bahan makanan yang tersedia, Di Brazil orang-orang tidak memakan makanan yang lebih karbohidrat seperti nasi, mereka biasanya mengganti bahan makanan mereka dengan pasta atau sesuatu yang terbuat dari kentang. Keduanya memulai membuat sarapan dengan penuh keceriaan, Risa sengaja mengundang tawa agar Juan tidak kepikiran akan neneknya terus menerus dan hal itu tentu saja berhasil.


Saking senangnya mereka tak sadar kalau Diana dan Jane baru saja datang, keduanya melirik Juan dan Risa yang masih asik tertawa namun Diana tak ingin membuat momen itu hilang begitu saja hingga sebelum keduanya sadar Diana hanya meletakkan makanan yang sengaja ia bawa untuk mereka di atas meja kemudian menarik tangan Jane putrinya meninggalkan rumah itu, Diana hanya akan mengirimkan pesan pada Risa bahwa ia meninggalkan makanan itu di atas meja karena tak ingin mengganggu kebahagiaan mereka berdua.


\*


Jangan lupa like nya yah, selalu tinggalkan jejak sebagai bentuk dukungan untuk author. 😍