My Handsome Pilot

My Handsome Pilot
Menyusul Doi



Setelah menemani Risa sampai kedua orang tuanya datang, Juan pun harus segera pergi karena masih banyak sesuatu yang harus di kerjaannya. Mengingat saat ini ia tidak boleh menerbangkan pesawat karena ada batas jam kerja yang di berlakukan untuk pilot dan co-pilot penerbangan internasional, sehingga Juan harus menunggu waktu yang tepat untuk kembali terbang. Begitu pamit kepada kedua orang tua Risa dan juga Risa, ia pun segera pergi dengan senyum yang merekah Indah di bibirnya.


Setelah kepergian Juan tampaknya ada satu orang yang terlihat menarik perhatian Risa, yakni mamanya yang sejak pria itu meninggalkan ruangan wajah sang mama terlihat senyum-senyum tak jelas. Bahkan saat ini ia terlihat tak peduli dengan Putri semata wayangnya yang sedang sakit.


" Dia benar-benar pria yang tampan dan sopan, Mama setuju kalau dia menjadi menantu di keluarga kita. " Serunya sukses membuat Risa terperanjat kaget.


" Mama bicara apaan sih " sahut Risa sambil menyambar lengan mamanya agar cepat tersadar.


" Kamu nggak mau punya suami yang tampan kaya dia " Lanjutnya semakin menjadi-jadi.


" Ih apaan sih itu bukan waktu yang tepat untuk membahasnya, mama nggak lihat apa aku lagi sakit begini. " keluhnya mulai bersikap manja.


" Risa benar ma, ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu " sambung papanya yang lebih pro kepada Risa sehingga membuat wajah sang istri mendadak kesal karena tidak di bela.


Risa pun tersenyum lebar melihat kedua orang tuanya yang mulai berdebat soal hubungan asmaranya, dan jika di pikir-pikir di usia seperi ini memang sudah harus mendapatkan calon. Paling tidak ada seseorang yang di perkenalkan kepada mereka, supaya mereka tidak khawatir kalau ternyata putrinya ini bisa mendapatkan tambatan hati. Namun sayang mengingat pengalaman sebelumnya bersama Dimas, entah mengapa membuat Risa malas untuk memikirkan urusan hati saat ini.


" Risa, kamu beristirahat lah dulu biarkan papa dan mama keluar mencari makan siang, sejak tiba di Jakarta kita berdua belum makan karena memikirkan kondisi mu. " sahut Papa sontak membuat Risa sakit mendengar nya, kedua orang tuanya benar-benar memikirkannya sampai tidak makan dan hal itu segera membuat Risa menyuruh mereka pergi makan.


**


Pria itu baru saja memasuki sebuah ruangan yang bertuliskan direktur utama dengan penuh percaya diri, dan setelah ia memasuki ruangan tersebut sosok yang di carinya terlihat menatapnya dengan penuh pertanyaan. Lawan mainnya yang memiliki usia lebih tua menyuruhnya untuk duduk sebelum mereka memulai percakapan, keduanya terlihat seperti ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting di mulai dengan pertanyaan kemana saja ia selama seminggu lebih ini.


" Aku sudah bilang kalau aku pergi mengurus dua pramugari kita yang mengalami kecelakaan baru-baru ini. " Balas Dimas tanpa rasa takut sedikitpun.


" Aku sudah mengirim bantuan kenapa kamu sampai bela-belain datang ke sana, apa karena mantan mu itu..., kau tahu kan kalau kau sudah menikah, kenapa masih mengejarnya yang sudah jelas tidak akan bisa kau dapatkan.? " Lontar beliau yang tak lain adalah ayah dari Dimas.


Dimas terdiam dan tak membalas ucapan ayahnya, ia merasa tidak ada yang harus di jelaskan pada ayahnya setelah ia memaksa dirinya untuk menikahi wanita yang menjadi istri nya saat ini, Dimas lebih memilih untuk tidak membantah ataupun berkomentar banyak.


" Aku minta maaf, tapi ayah ada satu permintaanku yang harus kau lakukan dan setelah ini aku janji tidak akan pernah menemui Risa lagi. " Ujarnya sambil menatap mata ayahnya.


" Apa itu? " Sahutnya penasaran.


" Tolong pecat pilot yang bernama Juan Diaz. "


" Kenapa kau ingin aku memecatnya.? "


" Aku tidak menyukainya dekat dengan Risa, walaupu aku tidak bisa bersama Risa maka tidak ada pria lain pun yang boleh bersamanya. " balas Dimas kemudian.


" Apa kau bodoh, dia sudah menyelamatkan banyak nyawa dan saat ini namanya sudah banyak tersebar di mana-mana, dia sudah menjadi topik hangat media saat ini..., apa jadinya kalau aku memecatnya atas permintaan konyol mu yang tidak masuk di akal ini. " Komentar sang ayah benar-benar tak habis pikir dengan pola pikir putranya itu.


" Kalau ayah tidak mau melakukannya maka aku tidak akan berhenti mendekati Risa. " Lanjut Dimas gigih.


" Sejak kapan kau jadi bodoh karena Cinta, ayah membesarkan mu dengan baik dan memberikan pendidikan yang layak tapi kenapa hasil nya malah seperti ini, jangan bodoh Dimas!! Kau akan menjadi pengganti ayah di kursi ini.. Jangan bodoh hanya karena Cinta yang tidak bisa kau miliki itu. "


" Terserah, aku tidak mau tahu... Yang jelas pria itu segera di pecat dari perusahaan apapun yang terjadi. " Dimas berlalu meninggalkan ruangan itu membuat sang ayah terlihat sebal dengan permintaan anehnya barusan.


Setelah meninggalkan ruangan sang ayah, Dimas berlalu menuju ruangannya yang berada di lantai kedua gedung itu, setibanya di sana ia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi dengan raut wajah yang benar-benar dongkol. Layar ponselnya tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan yang masuk, namun Dimas tak perduli hingga panggilan itu berakhir dan menampilkan 20 panggilan tak terjawab dari Istrinya.


Dimas meraih remote TV dan mulai menyetel salah satu siaran berita untuk menghilangkan rasa jengkelnya, namun tiba-tiba saja perasaan jengkelnya semakin menjadi-jadi tatkala semua berita menyiarkan seputar kecelakaan pesawat itu dan membesar-besarkan nama Juan di dalamnya. Remote yang di pegang oleh Dimas langsung di buang ke arah televisi hingga membuat keretakan pada layarnya, dia bahkan berteriak sambil mengacak-acak meja kerjanya.


" Awas saja kau Juan Diaz, jangan pikir kau bisa mendapatkan Risa dari tanganku. " Ucap Dimas telah di bakar oleh api emosi.


**


Risa baru saja selesai dengan makan malamnya dan meminum obat, tiba-tiba saja suara ketukan pintu berhasil membuatnya menoleh dengan wajah penasaran. Papa nya kemudian bangkit dan membuka pintu di mana seorang wanita cantik baru saja mereka bertanya-tanya siapa wanita itu kecuali Risa yang memang sudah mengenal wanita itu.


" Tania? " gumam Risa pelan.


Wanita cantik yang bernama Tania itu adalah istri dari Dimas, yang saat ini berjalan dengan santai nya mendekati Risa lengkap dengan tatapan mata yang tajam. Dan sejurus kemudian satu tamparan keras mendarat di wajah Risa sehingga membuat kedua orang tuanya membelalak kaget melihat aksi dari Talia barusan. Tak mau tinggal diam Mama Risa pun beraksi dengan menarik lengan Talia dan menamparnya balik.


" Kamu siapa seenaknya datang dan menampar putriku, apa kau tidak tahu kalau ini rumah sakit.? " Sembur Mamanya naik pitam.


" Kau tanyakan sendiri saja pada putrimu yang pelakor ini," Tunjuk Tania pada Risa yang menunduk pasrah menerima hujatan dari Tania.


" Jaga bicaramu, Putriku tidak pernah merebut suami orang, dia perempuan yang baik-baik asal kau tahu itu " Lontarnya Lagi.


" Benarkah, coba kau tanyakan sendiri padanya, selama seminggu lebih belakangan ini sama siapa dan apa yang dia lakukan? " gumam Tania berusaha terlihat tetap tenang.


" Risa, katakan pada Mama apa yang di katakan wanita itu benar apa tidak? " Sahut beliau menatap Risa tajam.


" Risa memang bersama suaminya ma, tapi kami tidak melakukan apa-apa lagi pula ada Maya juga di sana. " Balas Risa.


" Kau pikir aku tidak tahu kalau selama ini Dimas selalu mencari mu dan diam-diam bertemu dengan mu di belakang ku, Aku tahu semuanya tapi aku diam dan menunggu waktu yang tepat untuk menemui mu. "


" Maafkan aku tapi kak Dimas dan aku sudah memutuskan untuk tidak bertemu lagi, tolong silahkan pergi dari sini aku mau istirahat. " Lanjut Risa ketus.


" Kau dengar apa yang di katakan putriku, keluar!!! " sahut Mamanya yang tak kalah ketus dari Risa.


Tania menatap Risa dengan penuh emosi hingga mengepal kedua tangannya kuat-kuat, ia pun mulai berbalik dan meninggalkan ruangan namun tiba-tiba saja ia kembali berhenti dan menoleh ke arah Risa.


" Aku tidak akan tinggal diam kalau aku mendapatimu bertemu dengan Dimas lagi. " Tania pun benar-benar pergi meninggalkan Mama Risa yang mulai terbakar emosi.


" Lihat wanita yang tidak berpendidikan itu, bagaimana mungkin dia bisa menyerang mu sementara ada mama dan papa, Dia benar-benar tidak sopan, kamu tidak apa-apa kan Risa.? " Ujar Mamanya sembari melihat bekas tamparan Talia di pipi Risa.


" Risa tidak apa-apa ma" balas nya pelan.


" Ini papa juga ngapain tinggal diam ngeliat anak kita di tampar wanita gila. " sindir mama Risa pada suaminya yang saat ini sedang melamun kan sesuatu.


" Risa, apa wanita itu seorang artis? " Tanya Papanya yang membuat sang istri melongo heran mendengarnya.


" Dia seorang model pa " Jawabnya lagi.


" Pantas saja wajah nya tidak asing, saat dia datang papa terus berpikir seperti pernah melihat nya di mana. "


" Papa ini gimana sih, malah mikirin yang nggak penting. " Serang istrinya sembari memukulnya kesal.


" Risa dengarkan papa nak, sekali pun kamu benar-benar mendekati suami wanita itu pesan papa kamu jangan mau untuk di tindas. kalau itu tidak benar maka melawan lah... Papa lihat kamu tidak begitu melawan padanya, hal itu tentu membuatmu terlihat lemah. Kalau kau seperti ini terus maka banyak orang yang akan memperlakukan mu sama nak, kamu harus berani bertindak oke. " Ungkap papanya yang seketika membuat Risa merasa sedikit lebih tenang.


**


Pria itu tiba di sebuah rumah sakit dengan membawa sebuket bunga Mawar yang cukup besar, sesekali ia mencium aromanya yang harum dan menyimpulkan senyuman manis. Dan begitu ia tiba di depan lift, beberapa perawat serta orang-orang yang lewat tiba-tiba kesemsem dengan wajah nya yang tampan. Bahkan beberapa dari mereka mengira kalau pria itu adalah seorang aktor laga yang sering main di film-film hollywood. Wajah Juan memang sangat khas dengan wajah aktor Amerika dan hal itu sudah tak asing lagi di telinganya.


Begitu tiba di lantai empat rumah sakit, ia pun bergegas keluar dari lift dan menuju sebuah kamar yang berada di ujung koridor. Dan setibanya di sana, Juan mencoba untuk merapihkan rambutnya meskipun saat itu rambutnya sudah tertata dengan rapih. Begitu ia siap dan membuka pintu, tiba-tiba saja manik matanya membulat sempurna mendapati ruangan kosong tanpa seorang pun di dalam nya.


" Apa aku salah kamar " Gumam Juan mulai celingak-celinguk tidak jelas.


" Sus mau tanya, pasien yang di rawat di ruangan Dahlia kemana yah, kok ruangannya kosong.? " Tanya Juan penasaran.


Suster yang di tanya oleh Juan mendadak melamun dengan senyum yang tidak jelas membuat Juan langsung menyadarkannya saat itu juga.


" Mas tampan tadi tanya apa, saya kurang fokus soalnya mas tampan mirip aktor gitu, cakep banget " Puji Suster itu ternyata gagal fokus dengan ketampanan yang di miliki oleh Juan.


" Itu saya tadi tanya pasien yang ada di kamar dahlia kemana.? " Ulang Juan.


" Oh yang pramugari itu, dia sudah keluar tadi pagi " Jawab Suster tersebut sukses membuat Juan merasa sedih.


" Memangnya dia sudah sehat sus, kok di bolehin pulang sih? Baru kemarin dia masuk kenapa sudah pulang ?" Tanya Juan lagi.


" Duh kalau soal itu saya nggak tahu mas, kenapa mas nggak hubungin yang bersangkutan aja.? "


Juan ingin sekali menghubungi Risa namun sampai saat ini Risa belum memiliki ponsel atau pun nomor baru untuk bisa di hubungi, Ia melirik buket itu dan terpaksa memberikannya kepada si suster sehingga membuat wanita itu senang bukan main. Juan pun pergi dan memutuskan untuk mencari cara agar dapat menghubungi Risa.


**


Tok... Tok.. Tok...


Pintu terkuak saat setelah Juan mengetuk pintu berwarna putih itu, hingga seorang wanita dengan rambut yang di kuncir kuda keluar dengan wajah habis bangun tidur. Menyadari kehadiran Juan ia pun meminta Juan untuk tidak tertawa dengan wajah bare face nya itu.


" Kau tahu bagaimana caranya menghubungi Risa? " Tanya Juan tanpa basa-basi.


" Bukannya dia sudah kembali ke Surabaya? " Lontar Maya lagi-lagi membuat Juan terkejut.


" Surabaya, ngapain.? "


" Katanya sih mau cuti dulu sambil menghilangkan traumanya, Dia memberitahuku lewat ponsel mamanya.. Kamu ingin nomornya? " Ucap Maya dan langsung di balas anggukan mantap oleh Juan.


Setelah mendapat nomor mamanya Risa, Juan pun pamit undur diri dari asrama Maya. Sementara itu Maya hanya dapat menatap kepergian Juan dengan wajah cuek dan kembali memasuki kamarnya.


Begitu Juan kembali ke mobilnya ia pun langsung mencoba menghubungi nomor tersebut, dengan penuh harap Juan menghubungi nomor itu namun sayangnya nomor tersebut dalam keadaan tidak aktif. Padahal Juan ingin melihat Risa sebelum wanita itu pergi sebab ia tak tahu sampai kapan Risa akan mengambil cuti.


" Menyebalkan. " Gumam Juan menepuk stir mobilnya pelan.


**


Wanita itu merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang sudah lama di tinggalkan nya, aroma khas mint lemon masih tercium jelas di sana. Bahkan susunan benda-benda yang ada di dalam belum berubah sama sekali, tampaknya kedua orang tuannya sangat memperhatikan kamar itu selama dirinya pergi.


Di atas sebuah meja terdapat sebuah bingkai foto yang di mana memperlihatkan Risa dan kedua orang tuanya saat ia pertama kali lulus sekolah penerbangan, Tak hanya itu ia juga menyimpan banyak foto-foto kenangan lagi yang di tempelnya pada papan styrofoam.


Mulai dari foto masa SMP hingga sekolah penerbangan terpajang jelas di sana, bahkan ada satu foto yang memperlihatkan dirinya ketika pertama kali naik pesawat asli. Tiba-tiba saja Risa merasa sedih mengingat semua perjuangannya yang kalah dengan trauma kecelakaan itu, dan alasannya mengambil cuti kerja selain untuk masa penyembuhan ia juga ingin mengembalikan keinginannya untuk tetap terbang bagaimana pun resikonya.


Baru saja Risa menutup kedua matanya hendak beristirahat, tiba-tiba saja ia di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang membuka pintu kamarnya dengan keras sehingga membuatnya terperonjak kaget. Mamanya terlihat memasang wajah yang sulit di artikan membuat Risa ikut-ikutan heran kemudian menanyakan kedatangannya yang secara tiba-tiba itu.


" Mama apa-apa an sih, Bikin kaget tahu.., baru aja Risa mau istirahat. " Ujarnya dengan nada monoton.


" Di luar.. Di ruang tamu sama papa.. " Ucapnya sulit di pahami.


" Bicara yang jelas ma, aku nggak ngerti "


" Kapten tampan itu, dia ada di luar sama papa. " Sambungnya sukses membuat Risa semakin terkejut.


Ia bangkit dari tempat tidur menuju keluar, sebelum tiba di ruang tamu ia mau memastikan apakah yang di maksud oleh mama nya betul apa tidak. Risa mencoba mengintip lewat cela-cela dinding berusaha mencari sosok Juan dan benar saja pria itu terlihat sedang mengobrol dengan Papanya, Risa kembali bersembunyi. Dia heran sekaligus bingung bagaimana Juan bisa datang ke rumahnya, dan pertanyaan-pertanyaan itu kini semakin membendung pikirannya membuatnya benar-benar sangat penasaran.


Sejak tadi Mama nya fokus memperhatikan sikap aneh Risa hingga akhirnya ia dengan cepat menyuruh putrinya itu untuk bersiap-siap bertemu dengan Juan, Baru saja Risa mencoba memberanikan diri keluar wanita setengah baya itu kembali menariknya kembali ke tempat.


" Kamu mau menemui kapten tampan itu dengan dandanan seperti itu? Sana ganti baju dulu. "


" Ngapain ganti baju ma, aku kan baru ganti baju waktu kita sampai tadi "


" Mama bilang ganti ya ganti, cepat sana.. Mama mau bikinin teh dulu buat si kapten tampan. " Ucapnya segera berlalu ke arah dapur.


Risa yang telah selesai mengganti baju kembali menuju ruang tamu, Setibanya di sana ia menyapa Juan dengan ramah dan bertanya soal maksud dan tujuannya datang jauh-jauh dari Jakarta. Melihat putrinya yang membutuhkan waktu untuk bicara berduaan segera membuat Papa Risa menyingkir dengan alasan ingin memberi makan burung pipit peliharaannya.


" Aku sengaja datang karena mau ngasih ini ke kamu. " Ucap Juan sembari menyerahkan selembar amplop kepada Risa.


Risa menerima amplop itu dan segera membukanya, dalam amplop tersebut terdapat sepucuk surat yang menjelaskan tentang kenaikan pangkat Risa dari seorang junior menjadi Maitre D' cabin atau lebih di kenal sebagai asisten pusher. Membaca isi surat tersebut membuatnya seakan tak percaya hingga hampir meneteskan air mata haru.


" Ini benar capt, suratnya di tujukan buat aku.? " Tanya Risa berusaha meyakinkan dirinya.


" Tentu saja, surat ini ku dapat langsung dari Kapten Zain setelah beliau bertemu dengan pimpinan. " Jelas Juan.


" Ya ampun aku nggak bisa berkata-kata lagi capt, aku senang banget mendapatkan surat ini. " Seru Risa ikut membuat Juan ikut senang mendengarnya.


Namun kesenangan yang terjadi beberapa menit yang lalu mendadak berubah ketika Risa menyadari sesuatu yang membuatnya syok dan kesulitan bernafas, Juan dengan cepat memberikan segelas air untuk Risa di mana minuman itu telah di buat khusus untuknya. Setelah melihat Risa sedikit lebih tenang ia pun mulai menanyakan reaksi Risa barusan.


" Aku tidak bisa capt, trauma ini membuat ku tiba-tiba takut dan aku tidak bisa melawannya. " Risa kembali menyodorkan surat itu kepada Juan namun di tolaknya dan di letakkan di atas meja.


" Risa, tujuanku datang bukan hanya untuk menyerahkan surat ini, tapi kedatanganku kemari untuk membantu mu melawan trauma itu dan aku janji akan membuatmu kembali mencintai penerbangan. " Juan mengatakannya tepat di depan Risa yang saat ini merasa ucapan Juan dapat di pegang nya.


" Kalau begitu untuk hari ini dan beberapa hari ke depannya bagaimana kalau kapten tampan menginap di rumah kami saja. " Suara mama Risa yang muncul dari balik tirai tiba-tiba mengejutkan Juan dan Risa.


" Mama sejak kapan ada di sana? " tanya Risa sebal.


" Sejak kapten tampan ini bilang kalau dia bakal bantu kamu mengatasi trauma. Oiya kapten biarkan saya menunjukkan kamar untukmu menginap, ayo ikut Mama... " Wanita itu kembali menarik lengan Juan dengan paksa menuju kamar yang akan di tempati oleh Juan.


" Mama? " Gumam Risa tak habis pikir dengan mama nya yang benar-benar aneh jika bertemu dengan teman pria putrinya itu.


**


Jauh di samping itu sebelum Juan tiba di Surabaya, ia memang sengaja mendatangi perusahaan untuk menanyakan alamat Risa dan secara tidak sengaja bertemu dengan Kapten Zain. Sejak saat itu alasan yang kuat untuk datang ke rumah Risa semakin kuat dengan adanya surat itu.


Namun si Samping itu juga, Juan sudah menyiapkan banyak pakaian di dalam mobilnya jika sewaktu-waktu ia di perbolehkan untuk menginap. Awalnya ia ingin berpura-pura terlalu larut hingga tidak bisa pulang, tapi Mama Risa seakan dapat membaca isi pikirannya sehingga ia tak perlu repot-repot melakukan hal itu .


Juan yang baru saja selesai mandi menatap wajahnya yang tampan pada pantulan cermin, Senyum kemenangan terlihat jelas di wajahnya saat itu sembari melirik isi kamar tamu rumah Risa yang masuk dalam kategori rapih dan bersih. Aroma khas lemon mengingatkan Juan dengan parfum yang sering di gunakan Risa sehingga membuatnya merasa nyaman berada di dalam lama-lama.


Suara ketukan pintu berhasil membuat Juan menoleh, ia pun berjalan menuju pintu dan membukanya secara perlahan hingga dirinya langsung dapat melihat Risa yang saat ini melongo melihat Juan dalam keadaan rambut basah dan stelan kaos oblong seperti pria biasa pada umumnya. Cukup lama Risa melongo dengan penampilan Juan hingga pria itu menyadarkannya dan bertanya soal kedatangan nya ke kamar.


" Sudah waktunya makan malam, turunlah. " Ucap Risa kini tak berani menatap mata Juan.


" Baiklah, aku akan segera turun. " jawabnya dan bergegas mengeringkan rambut sebelum akhirnya turun bergabung untuk makan malam pertama di kota Surabaya.