
Wanita itu berjalan dengan cepat menuju sebuah ruangan yang berada di lantai dua perusahaan penerbangan Indonesia, Ketika ia sudah berada di depan pintu ruangan tersebut tak menunggu waktu lama ia pun langsung mengetuk pintu sebanyak tiga kali hingga seseorang terdengar mempersilahkan nya untuk masuk. Perlahan tapi pasti kini wanita yang tak lain adalah Risa telah memasuki ruangan itu dan mendapati sosok Dimas yang duduk di kursi kerjanya.
" Apa yang membuatmu sampai datang ke sini. ?" Tanya Dimas beranjak dari tempatnya dan mulai menghampiri Risa
" Maaf kalau sebelumnya tidak memberitahu mu kalau aku akan datang, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu. " Balas Risa terdengar serius dan mulai membuat Dimas penasaran
Risa dan Dimas mulai menjatuhkan tubuh mereka di atas soga yang saling berhadapan, Dimas menatap Risa dengan wajah yang kikuk ia takut sesuatu yang tak di inginkan terjadi melihat ekspresi Risa yang saat ini seperti sedang kesal bukan main.
" Aku sudah tahu semuanya, dan aku minta kamu untuk jujur padaku tentang kepindahanku di maskapai yang sekarang ini. "
" Apa maksudmu, Aku tidak mengerti, aku sudah bilang kan kalau hal ini tidak ada urusannya denganku.? "
" Kapten Juan memberitahuku semuanya, Kau meminta kepada direktur utama untuk memisahkan aku dan kapten Juan kan, kenapa sih kamu terus melakukan hal ini.. Bukannya waktu itu kau berkata tidak akan melakukannya lagi, "
" Ya.. Aku memang melakukan nya, tapi aku tidak akan melakukan hal ini kalau kau tidak berbohong padaku waktu itu. "
" Berbohong. ?" Ucap Risa bingung
" Waktu itu kau berkata kalau kau dan Juan sedang berpacaran, tapi ternyata tidak.. Aku tahu kalau pria itu tidak pernah berhubungan dengan seorang wanita melainkan hanya untuk mempermainkan nya saja. Seharusnya kau bersyukur karena aku menjauhkan mu dari pria yang tidak baik. "
" Hentikan. !!! " Sentak Risa
" Kau tidak tahu apa-apa soal dia, jangan pernah berkata sesuatu yang buruk tentang dia lagi. " lanjut Risa menatap Dimas dengan tajam
" Kenapa kau sampai membelanya, apa dia sudah menghasut mu dengan rayuan gombal nya? " Tanya Dimas semakin membuat Risa geram.
" Asal kau tahu saja, Kapten Juan adalah pria yang baik, dia selalu mendukung impianku dan bahkan membantuku untuk mencapainya.. Sedangkan kau!!! Kau selalu saja membuat hidupku susah, kau sudah menikah dan terus menggangguku sampai istrimu pun ikut-ikutan menggangguku sekarang, aku minta padamu kak.., tolong.., tolong untuk berhenti ikut campur urusanku lagi. " Risa menekan kan setiap kalimatnya sebelum akhirnya meninggal kan Dimas
" Apa kau menyukai nya.? " Sahut Dimas tiba-tiba ketika Risa hendak membuka pintu, ia kembali menoleh ke arah Dimas.
" Ya.. Aku menyukainya, sangat menyukainya. "
Dimas merasa kalah dan tak bisa berkata-kata lagi, apa yang tak ingin di dengarnya kini telah di ucap oleh yang bersangkutan, Upaya nya selama ini telah berujung kesialan, Risa mungkin akan membencinya setelah melakukan hal yang memalukan ini. Pintu kembali terkuak dan yang muncul kali ini tak lain adalah Talia istri Dimas, wanita itu menatap suaminya dengan tatapan dingin sementara Dimas hanya dapat menunduk lemah tak berdaya.
\*
Pagi itu Risa tak langsung pulang, ia langsung menuju tempat Juan tinggal untuk menepati janji mereka kemarin untuk pergi berkencan sebagai perayaan hari pertama mereka jadian, Setibanya di sana, setibanya di sana tiba-tiba saja Risa mendapati seorang wanita yang keluar dari rumah asrama co-pilot itu, Risa merasa tak asing dengan sosoknya dan segera berlari menghampirinya namun sayang ketika ia memanggil namanya sekali wanita itu sudah memasuki mobil dan meninggalkan pelataran rumah tersebut.
Risa kemudian melirik rumah besar di hadapannya dengan perasaan aneh setelah melihat Sabrina keluar dari rumah tersebut, Tiba-tiba saja Juan keluar dan terkejut begitu melihat kehadiran Risa ia baru saja akan pergi menjemput nya dan ternyata Risa sudah ada di sini. Melihat kedatangan Risa saat ini Juan terlihat celingak-celinguk mencari sesuatu yang membuat Risa penasaran lantas bertanya tentang sikap Juan barusan.
" Tidak apa-apa, ayo kita pergi. " Ajak Juan segera meraih tangan Risa dan menuju mobil nya yang terparkir di samping asrama
Hari ini Risa dan Juan hanya ingin menghabiskan waktu mereka berdua saja sebelum akhirnya besok mereka harus kembali bertugas, Keduanya bisa bertemu lagi setelah satu bulan bertugas itu pun jika setelahnya mereka tidak mendapat jam terbang tambahan, biasanya pesawat komersial seperti yang di tumpangi oleh Juan akan mendapat jam terbang tambahan dari perusahaan, namun keduanya tak ingin menjadikan hal itu masalah untuk mereka dapat terus berhubungan.
\*
Pagi itu Risa terbangun dengan perasaan yang menyenangkan, entah mengapa setelah memutuskan berpacaran dengan Juan ia merasa hidupnya tidak kosong lagi, dan pagi ini keduanya akan kembali bertugas di mana Risa akan bertugas ke berbagai tempat di Indonesia sementara Juan yang kabarnya akan mengunjungi dubai, sayang sekali Risa tidak di sana padahal sejak dulu ia begitu ingin mengunjungi tempat yang terkenal dengan menara tingginya yaitu burj khalifa.
Setelah selesai bersiap-siap kini Risa segera menuju bandara di mana sebelumnya ia telah memesan taksi online yang sudah berada di luar, begitu masuk dan duduk di kursi mobil ia pun mulai mengecek isi ponsel nya di mana pandangannya langsung tertuju pada satu pesan yang datang dari Juan. Satu pesan itu berhasil membuat Risa senyum-senyum sendiri dan mulai membalas nya dengan penuh semangat. Kemudian Risa memalingkan wajahnya menatap keluar jendela mobil dan menatap langit biru yang secerah, benar-benar menggambarkan perasaannya saat ini. Terbesit di pikiran Risa tentang bagaimana ia bisa menyukai Juan, jika di pikir-pikir mungkin sudah lama ia merasakan hal seperti ini namun karena perasaannya terhadap Dimas waktu itu masih ada dan ia tak sadar kalau saat itu Juan sudah berhasil masuk di hatinya.
Setibanya di bandara, Risa menarik kopernya menuju area boarding pass dan tidak sengaja bertemu dengan Maya di mana wanita itu langsung mengucapkan selamat atas hubungan nya dengan Juan, Risa hanya dapat tersenyum malu dan ia pikir Maya akan marah seperti sebelumnya, dan ternyata tidak, ia bahkan meminta Risa untuk tidak terlalu menonjolkannya agar Karin tidak mengetahui hal ini. Saat kedua wanita itu asik jalan bersama tak sengaja pandangan Risa menangkap sosok pria yang tak asing di penglihatannya sedang memeluk seorang wanita berambut blonde brown dan tampak memeluknya sangat mesra.
Melihat Risa yang menghentikan langkahnya, Maya segera menarik lengan Risa menghampiri pria itu dan langsung menyapanya sehingga membuat si wanita dengan cepat melepas pelukannya, Wanita itu dan Risa saling tatap mata dan saat itu juga Risa merasa terganggu dengan sikap frontal wanita itu terhadap Juan. Sebaliknya Juan terlihat biasa saja setelah apa yang di lakukan nya barusan hingga akhirnya wanita itu mulai memperkenalkan dirinya sebagai sepupu Juan.
" Namaku Jane, Aku trainee pramugari dan sebentar lagi akan lulus, salam kenal." Ucapnya penuh ceria, seketika Risa kembali merasa tenang mendengarnya
Juan melirik Risa dengan senyuman kecil dan di balas oleh wanita itu juga, Setelah mereka saling berkenalan satu sama lain, Juan tak lupa memperkenalkan Risa sebagai kekasihnya kepada Jane dan alhasil ekspresi tak terduga dari Jane membuat Risa cukup terkejut, dimana wanita itu langsung meminta foto dengan Risa dan meminta nomornya, ia berkata ingin memberitahu hal ini kepada ibunya yang ada di Brazil bahwa saat ini sepupunya Juan sudah memiliki pasangan.
Setelah mereka saling mengucapkan salam perpisahan, Juan dan Risa tidak bisa terang-terangan di muka umum meskipun mereka ingin sehingga sebagai gantinya mereka hanya dapat saling berjabat tangan. Waktu Risa untuk terbang segera tiba dan ia pun segera berpisah dengan juan, Maya dan Jane. Begitu langkah Risa sudah cukup jauh dan sebentar lagi akan segera tiba di pintu keberangkatan tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya menuju suatu tempat, Melihat punggung wanita itu Risa langsung dapat tahu bahwa dia adalah Karin.
Karin melepas tangannya dan mulai berkacak pinggang sembari menoleh ke arah Risa dengan tatapan siap menerkam, Tapi kali ini Risa tak takut untuk menghadapinya sehingga ia memasang ekspresi yang sama seperti Karin. Sejenak sebelum akhirnya melontarkan kalimat-kalimat nya Risa dan Karin saling menatap satu sama lain seperti dua orang yang sedang ikut perlombaan dan akan mempertaruhkan kemenangan.
" Kau ingin berakhir seperti pramugari sebelumnya. ?" Ucap Karin sinis
" Apa maksudmu mu. " Sahut Risa pura-pura tidak mengerti sebenarnya ia sudah tahu maksud Karin menariknya tak lain adalah tentang Juan
" Aku sudah mendengar kalau kau dan Juan sedang berpacaran, apa kau tidak takut aku akan membuatmu jera dan menyerah dengan Juan.? "
" Aku tidak takut.!! " Balas Risa lantang membuat Karin terbelalak mendengar nya
" Berani sekali kau..!! " baru saja Karin ingin menampar Risa, dengan cepat kilat wanita itu sudah menahannya dan membuat Risa terkejut bukan main melihat seseorang yang baru saja datang dan menolongnya itu
" Sabrina. " Ucap Karin kaget begitu pun dengan Risa
" Sampai kapan kau akan mengganggu setiap wanita yang dekat dengan Kapten Juan, apa kau tidak merasa malu dengan kelakukan bodoh mu itu.? " Serang Sabrina sambil melepaskan tangan Karin dengan kasar
" Apa yang kau lakukan di sini, dan kenapa kau harus ikut campur dengan urusanku dan dia.!! " Lontar Karin kesal
" Itu karena Risa adalah asisten FA 1 di maskapai tempat kami bekerja, dan asal kau tahu kalau saat ini aku sudah menjadi seorang FA 1 purser juga. " balas Sabrina mantap
Karin seakan tak berkutik lagi ia tak mungkin bisa menghadapi dua wanita sekaligus seorang diri sehingga ia pun dengan cepat meninggalkan tempat itu, Risa menatap punggung Sabrina dengan tatapan heran kemudian ia teringat dengan cerita Maya soal temannya yang bernama Sabrina yang dulunya pernah dekat dengan Juan. Saat Sabrina menoleh ke arah Risa, ia hanya dapat menunduk malu .
" Aku baru tahu kalau Risa yang di maksud Maya adalah kamu, padahal kita sudah kerja selama sebulan tapi aku baru tahu soal itu, Namaku pasti tidak asing kan di pendengaran mu.? " lontar Sabrina lirih
" Aku juga batu tahu soal itu, Maya sering menceritakan kamu saat aku masih satu maskapai dengannya. " balas Risa pelan
Mengingat waktu penerbangan sebentar lagi akan tiba, Risa dan Sabrina terpaksa menunda obrolan mereka dan segera menuju venue untuk briefing, saat ini Risa menyimpan begitu banyak pertanyaan yang ingin di lontarkan kepada Sabrina, sayangnya waktu nya tidak tepat dan ia akan menanyakannya nanti saja.
\*
Risa baru saja selesai mengumumkan kepada para penumpang sebelum pesawat hendak take off, ia memandang setiap penumpang yang duduk di kursi mereka dengan mata berbinar dan senyuman yang manis di wajahnya, Saat meletakkan mic interkom tak sengaja pandangan Risa menangkap seorang pria yang baru saja melakukan kontak mata dengannya. Ada yang aneh dari tatapan pria itu dan Risa merasa tidak asing dengannya, suara Sabrina yang tiba-tiba memanggilnya berhasil membuat Risa tersadar dan segera kembali ke jumpseat nya karena pesawat akan segera take off.
Sambil memasang sabuk pengamannya Risa masih kepikiran dengan penumpang pria tadi, entah apa yang mengusik pikirannya sampai seperti ini hingga Sabrina mulai menegurnya dan berhasil membuat Risa menoleh dengan wajah cengok, Sabrina tahu kalau saat ini Risa merasa canggung padanya sebab sebelumnya ia pernah dekat dengan Juan juga, sambil menarik nafas panjang Sabrina kembali memasang wajah ceria agar Risa tak merasa canggung lagi.
" Aku dan Kapten Juan tidak pernah berhubungan, kau jangan khawatir. " Ucap Sabrina kemudian
" Ah..itu, aku tidak masalah jika kalian berdua pernah dekat lagi pula aku tidak berhak marah pada masa lalu seseorang. "
" Aku tahu kok kalau saat ini kamu memikirkannya, Mungkin kau juga pernah mendengar rumor Juan selalu mengajak wanita ke rumahnya yang ada di Brazil, dan itu benar aku pernah di ajak ke sana tapi hanya sebagai teman untuk neneknya waktu itu, Aku tidak tahu pasti apa alasannya mengajakku ke sana dan aku menerimanya karena ku pikir dia hanya ingin menjamu ku sebagai pramugari baru waktu itu setelah itu kami kembali ke hotel dan Karin mulai menyerang ku meskipun hanya dengan kata-kata. Waktu itu aku ingat sekali dia sengaja menjebak ku saat aku sedang melayani penumpang, dia dengan sengaja memasukkan ponsel penumpang itu ke dalam tas ku dan aku di tuduh mencurinya untungnya saat itu atasan masih memberikan kesempatan untukku tetap bekerja tapi karin lagi-lagi menggagalkan nya dan aku terpaksa di keluarkan dari maskapai itu, mungkin aku baru bekerja selama tiga bulan dan harus keluar terus berusaha bekerja lagi hingga akhirnya mendapatkan gelar FA 1 ini. " Jelas Sabrina benar-benar membuat Risa yang mendengar nya ikut tersentuh
" Aku tahu perasaan Maya waktu itu melarang mu mendekati Juan adalah karena dia tidak ingin melihat Sabrina kedua di sana, Mendengar mu berpacaran dengan Kapten Juan membuatku salut , kau bahkan tidak takut saat Karin mengancam mu, Jika Juan sudah memilihmu itu artinya kau tidak boleh melepaskannya begitu saja hanya karena seseorang mengancam mu, Lakukan apa yang ingin kau lakukan jangan dengar orang lain, oke. " Ujar Sabrina yang ternyata memiliki hati yang hangat untuk mendukung hubungannya dengan Juan, Risa pun merasa lega mendengarnya dan perasaan canggung sebelumnya kini terbalas kan sudah.
" Kemarin aku melihat mu keluar dari rumah asrama co-pilot, kalau boleh aku tahu apa yang membuatmu datang ke sana.? " Tanya Risa sontak membuat Sabrina tertawa kecil
" Kau tenang saja, aku ke sana bukan karena ingin bertemu Juan, aku ke sana untuk bertemu Co-pilot kita, Kapten Arian " Jawab Sabrina lagi-lagi membuat wajah Risa merona karena malu
" Kau tenang saja aku tidak memiliki perasaan pada kapten Juan. " sambung Sabrina lagi
\*
Pesawat yang di tumpangi Risa baru saja melakukan transit di bandara kertajati dan hal tak terduga terjadi sehingga pesawat akan mengalami delay beberapa jam untuk memperbaiki kerusakan yang tak di inginkan jika terbang kembali, Semua penumpang terpaksa di alihkan ke lounge sampai perbaikan selesai di lakukan begitu pun dengan para staff dan awak kabin.
Langit tiba-tiba terlihat mendung menandakan akan segera turun hujan, bagi para staff yang bertugas di penerbangan tentu hal ini paling di benci karena landasan pacu akan menjadi licin dan ketika take off nanti pesawat dapat mengalami masalah belum lagi cuaca yang mungkin cukup ekstrem di atas ketinggian pada umumnya. Risa menjatuhkan tubuhnya di atas kursi lounge bersama dengan pramugari lainnya tugas mereka saat ini harus menangkan para penumpang yang mungkin kesal karena waktu mereka terbuang dengan adanya delay ini.
" Kalau begini aku tidak akan naik pesawat bodoh ini, waktuku terbuang hanya gara-gara kesalahan bodoh mereka.!!!"
" Benar, aku sudah membayar mahal-mahal untuk kelas bisnis dan ini yang aku dapatkan, benar-benar tidak becus. "
Berbagai komentar negatif kini di lontarkan oleh penumpang kelas bisnis yang merasa di rugikan dengan delay yang terjadi, tak tinggal diam Risa dan Sabrina langsung menghampiri mereka dan berusaha menenangkan mereka dengan ucapan yang sopan dan santun tentunya.
" Maaf ibu... Bapak.., kami meminta maaf yang sebesar-besarnya atas terjadinya delay, pihak kami sedang membetulkan kerusakan yang terjadi dan akan segera kembali beroperasi jika sudah selesai, kami minta untuk ibu dan bapak sabar yah. " Ucap Sabrina dengan lembut
Mereka sama sekali tidak peduli dengan ucapan Sabrina dan terus protes hingga membuat Sabrina dan Risa hanya dapat menunduk bersalah, kemudian kapten Ridwan datang dan meluruskan masalah tersebut.
" Di mohon sekiranya untuk para penumpang sabar dan tetap tenang menunggu perbaikan, Kami tidak ingin pesawat mengalami hal yang tak di inginkan jika kita terbang tanpa memperbaiki nya dulu, Tolong untuk tidak menyalahkan kru kami karena ini bukan kesalahan dari kami. " Ujarnya bijak dan dapat di terima oleh mereka yang sebelumny menolak saran dari Sabrina
Begitu mereka kembali tenang, Sabrina dan Risa segera kembali ke tempat duduk mereka, namun tiba-tiba saja Risa melewati seorang pria yang menatapnya dengan aneh, ia mengerjapkan maya heran melihat tingkahnya yang benar-benar aneh sejak penerbangan pertama di mulai, Dalam benak Risa hanya dapat bisa menahan semua pikiran buruknya meskipun itu benar-benar mengganggunya saat ini.
Setelah melewati masa penantian yang cukup lama kini pesawat sudah dapat kembali di gunakan, Sebelum para penumpang di izinkan kembali masuk, seluruh staff dan kru mulai bersiap-siap di dalam memastikan apakah ada kendala lain dan setelah di pastikan tidak ada barulah para penumpang itu kembali naik dan duduk di tempat mereka sebelumnya. Risa bertugas di depan pintu kabin kelas bisnis dan menyambut mereka lagi dengan senyum yang merekah di bibirnya hingga senyuman itu tiba-tiba pudar saat seorang pria masuk dan menatap Risa dengan tatapan aneh, bahkan ketika ia melawati Risa ia berusaha untuk mencolek Risa dan untungnya dia cepat-cepat mundur sehingga aksi pria itu gagal.
Di samping itu perasaan aneh yang sejak tadi di bendung nya terbaca sudah, pria yang menatap Risa sejak tadi merupakan salah satu penumpang yang paling rajin mengikuti jam terbangnya entah karena ia benar-benar sibuk atau karena sengaja untuk membuntuti Risa saja, Pertama kali mereka bertemu saat pria itu mengalami alergi terhadap makanan laut dan Risa membantunya saat itu, dan jika di pikir-pikir lagi sudah banyak kejadian yang terjadi mulai dari permintaan nya yang tiada henti hingga saat ini ia berpura-pura berpenampilan lain dari bulan lalu agar Risa tak menyadarinya, namun sayangnya Risa sudah tahu dan langsung melaporkan hal ini pada Sabrina.
Setelah Risa memberitahu Sabrina soal penumpang itu, Ia mencoba mengintip lewat tirai pembatas untuk melihat pria yang di maksud oleh Risa dan Sabrina cukup kaget ketika melihatnya. Ia pun menarik lengan Risa sedikit menjauh dari tempat mereka berdiri barusan. Sabrina bahkan terlihat celingak-celinguk memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka.
" Dia itu putra bungsu pemilik perusahaan, kau tahu Pak Dimas kan ? Mereka itu adek kakak kalau tidak salah yang bungsu ini anak traveller jadi suka kemana-mana. " Jelas Sabrina sukses membuat Risa terkejut bukan main, ia heran kenapa hidupnya tidak pernah terlepas dari pria yang seperti Dimas, jika seperti ini bagaimana caranya agar melaporkan pelecehan yang sempat di lakukan nya tadi.
" Ku sarankan untuk tidak mengganggunya, mungkin kau tidak akan bekerja di sini lagi jika kau sampai berbuat macam-macam padanya. " Ucap Sabrina memperingati
" Tapi bagaimana denganku,? Aku tidak bisa di perlakuan seperti ini terus.. Dia terus menggangguku meskipun itu hanya meminta ini itu, dan pelecahan yang dia lakukan nya padaku juga. " Ucap Risa tertunduk sedih
" Aku tahu perasaanmu, sebagai gantinya aku akan menempatkan orang lain untuk melayaninya kau bisa pindah ke bagian kelas ekonomi, oke. " Ujar Sabrina benar-benar membuat Risa merasa tertolong dengan bantuannya itu
Halo para pembaca yang baik dan Budiman, gimana nih ceritanya seru nggak ? Aku harap kalian suka yah, semoga sampai sini kalian bisa suka sama ceritanya, jangan lupa berikan like dan vote yah, dan satu lagi tolong sekiranya jangan memberikan komentar buruk atas karya ini, jika tidak suka cukup tidak usah baca jangan memberikan komentar yang bisa buat author sedih yah. Orang baik selalu memberikan komentar positif dan akan dapat pahala yang banyak Amiiiin 😇😇
.
.
.
Stay safe and healthy, semoga corona cepat hilang dan kita bisa beraktivitas normal kembali..
Love Author,