
Sepuluh menit dua puluh sembilan detik lagi pesawat akan landing di bandara internasional Indira Gandhi India, pengumuman kepada semua penumpang pun telah berbunyi dan membuat semua kru pesawat bersiap-siap untuk mengecek masing-masing kabin. Risa masih saja sama seperti sebelumnya di mana ia terus memperhatikan pria yang bersama anak laki-laki itu, di lihat dari gelagat nya saat ini benar-benar sangat mencurigakan ia bahkan sibuk dengan ponselnya setelah beberapa saat yang lalu tidak memainkan ponsel.
Lima... Empat.. Tiga... Dua... Menit dan hal yang tak terduga pun terjadi, Pesawat yang semestinya landing mendadak take off kembali membuat semua orang yang sadar pun mulai berkomentar. Berbagai macam keluhan pun di lontarkan oleh mereka hingga semua kru yang merasa ikut bingung melirik ke arah kabin depan, Pilot baru saja mengumumkan tanpa perantara di mana pesawat tidak bisa landing karena ada masalah saat roda pesawat hendak di keluarkan. Hal ini akan berdampak buruk jika pesawat tetap landing sehingga Kapten Zain memutuskan untuk tetap terbang menuju rute bandara udara Chhataravati Shivaji yang memakan waktu tiga puluh menit menuju ke sana.
Dari bandara itu nanti pesawat akan mengalami perbaikan lalu setelah itu kembali terbang menuju bandara Indira Gandhi, Pihak kontrol lalu lintas pun telah memberikan izin kepada Kapten Zain dan telah di terima sinyal langsung oleh bandara Chhataravati. Orang-orang yang sudah memiliki penjemput di bandara sebelumnya pun langsung protes kepada kru pesawat namun apa daya mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya dapat meminta maaf atas kesalahan yang telah terjadi.
" Ini bagaimana sih nggak becus banget, Katanya pesawat terbaik tapi kenapa ada kesalahan seperti ini. "
" Saya nggak terima yah waktu penting saya terbuang hanya karena masalah ini. "
Keluhan banyak datang dari penumpang kelas bisnis dan juga kelas satu sebab mereka merupakan penumpang yang memiliki jadwal sibuk yang harus mendarat tepat pada waktunya, Sementara di kelas ekonomi hanya ada satu penumpang yang protes dan itu adalah pria yang di curigai oleh Risa sejak tadi. Entah apa yang membuatnya ingin cepat-cepat turun dari pesawat hingga memaksa kru pesawat untuk menemui pilot dan menerbangkan balik pesawat menuju bandara sebelumnya.
" Sorry sir, You have to believe in our Captain, he can't make everyone like this if the plane is in good condition. (Anda harus percaya pada captain kami , dia tidak mungkin membuat semua orang seperti ini jika pesawat dalam keadaan baik. )" Ucap Risa tegas.
" Lower me at the airport before, now !!! ( Turunkan saya di bandara sebelumnya sekarang!!! ) " Balasnya tak kalah tegas dan menatap kedua mata Risa seakan-akan ingin menerkamnya.
Risa mundur beberapa langkah karena pria itu sudah berdiri dan mendekati Risa dengan tatapan yang tajam, kemudian Romi salah satu pramugara datang untuk menenangkan pria itu namun nihil. pria itu semakin kesal dan berusaha memberontak, ia bahkan berniat menemui pilot dengan menarik anak laki-laki yang bersama-nya, Risa mencoba menarik kembali anak laki-laki itu namun pria itu langsung menampar wajah Risa hingga membuatnya tersungkur.
Melihat keributan yang di buat oleh pria itu semua kru pun turun tangan begitu pun dengan manager penerbangan serta kepala pramugari yang saat itu bertugas di kabin depan, mereka berusaha menenangkan pria itu untuk kembali ke tempatnya dan setelah di coba oleh beberapa kru pria. Ia pun mengancam akan menyakiti anak laki-laki itu jika jalannya di halangi untuk bertemu dengan kapten pilot. Kecurigaan Risa semakin menjadi-jadi ia sangat yakin sekarang kalau pria itu bukanlah keluarga dari si anak laki-laki.
Semua tidak ada yang berani mendekat karena ancamannya, hingga ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kabin depan dan langkahnya tiba-tiba berhenti ketika melihat dua pria tampan yang mengenakan seragam pilo. Dia adalah Juan dan Alex yang keluar dari dalam kokpit ketika mendapat informasi dari Karin.
Juan pun mulai bertanya kepada pria itu tentang aksinya yang cukup brutal, Ia pun menjelaskannya dan memaksa Juan untuk memutar balik pesawat. Mendengar alasan yang konyol itu Juan pun mulai mencurigai sesuatu seperti apa yang di curigai oleh Risa.
" Tolong aku, dia orang jahat, dia mau menjual ku kepada seseorang yang menunggunya di bandara Indira gandhi." Seorang anak kecil di sebelah Risa baru saja bicara dan membuat Risa menoleh ke arahnya, seorang anak berusia seumuran anak laki-laki itu ternyata berkebangsaan Indonesia dan baru saja membaca isyarat tubuh yang di lakukan anak laki-laki itu.
" Apa kau tahu apa yang di katakan nya.? " Tanya Risa pada anak kecil itu.
" Aku tahu.., Dia sudah meminta tolong sejak pria jahat itu masuk ke kabin ini. " balasnya pelan.
" Anakku bisa membaca bahasa isyarat orang bisu, Sepertinya anak itu berusaha menyampaikan nya sejak tadi namun tidak ada yang mengerti dengan isyarat nya. "
Beruntung pria itu masuk ke area kelas satu sehingga salah satu penumpang berhasil membuka kedoknya walaupun ia belum mengaku, Risa pun mencoba untuk berjalan mendekati mereka tanpa rasa takut sekali pun.