My Dandelion'S

My Dandelion'S
Hilang



Sembilan bulan kemudian. 


Gerald sedang mondar-mandir di depan ruangan bersalin, wajahnya terlihat begitu cemas. Mengkhawatirkan istrinya yang sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan seorang malaikat kecil yang telah lama ia nantikan. 


"Gerald, duduklah. Mama pusing liat kamu mondar mandir kayak setrikaan begitu," tegur Sarah yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Gerald khawatir, Ma." 


"Mama juga sama kayak kamu, tapi kamu harus tenang duduk dan berdoa pada Tuhan." 


Gerald pun menuruti ibu mertuanya, tapi itu tak bertahan lama. Pria itu bangkit dari duduknya dan kembali berjalan kesana kemari, sembari mengumpat kesal pada semua dokter yang ada di ruang bersalin karena begitu lama mengeluarkan bayinya. 


Melihat menantunya terus mengumpat. Sarah hanya menggelengkan kepalanya pelan dan memijit pelipis matanya, tidak heran jika Valerie tak mengizinkan Gerald  untuk menemaninya di ruang bersalin sebab jika Gerald ikut ke dalam, proses persalinan akan sulit untuk dilakukan. 


Dia pasti tidak akan membiarkan dokter melakukan ini dan itu, apalagi jika dia melihat lubang favoritnya digunting dan dijahit bisa-bisa dia berteriak dan memukul dokter-dokter itu. 


Beberapa saat kemudian. 


Suara tangisan bayi, mulai terdengar memenuhi ruangan bersalin itu. Gerald yang mendengar suara tersebut, langsung menatap Sarah dan Rendi secara bergantian seakan tak percaya jika anak pertamanya telah lahir ke dunia. 


"Selamat, Sayang. Akhirnya kamu sudah resmi menjadi ayah," ucap Sarah yang meneteskan air mata bahagianya, karena akhirnya Sarah mememiliki seorang cucu. 


"Selamat, Tuan. Calon pewaris telah lahir," timpal Rendi ikut bahagia dengan kelahiran calon penerus Uri Sunshine group. 


Gerald tersenyum, sebuah air mata pun tampak menetes dari sudut matanya. Ia begitu terharu, sembilan bulan dirinya menanti dan akhirnya ia bisa mendengar suara tangisan bayinya untuk pertama kalinya. 


"Tuan, selamat. Bayi anda la—," 


"Aku sudah tahu," sela Gerald, memotong ucapan dokter Reza. 


Dokter Reza mengerjapkan matanya sekali. "Anda, sudah bisa menjen—," lagi-lagi dokter Reza tak menyelesaikan ucapannya, sebab Gerald langsung mendorongnya dan masuk ke ruangan bersalin itu dengan tidak sabaran.


"Dokter Reza, terima kasih sudah membantu putri saya melahirkan," tutur Sarah sopan.


Dokter Reza mengangguk sambil tersenyum ramah, pada wanita yang merupakan mertua dari sahabatnya. 


"Ey, tuan mu sudah punya bayi … kau kapan akan menyusulnya?" goda Reza pada sekretaris Rendi.


"Maksudmu, kapan aku menyusulnya masuk ke dalam ruangan?" balas Rendi pura-pura tak mengerti.


"Ck, kau ini … cepatlah menikah, dan punya anak jangan hanya memikirkan tuan mu saja." 


"Hei, kau ini sedang menasehati siapa? Kau tidak lihat dirimu juga masih sendiri … daripada sibuk mengurusi hidupku sebaiknya kau urus saja dirimu sendiri," timpal Rendi meninggalkan dokter Reza yang terus bertanya kapan dirinya akan menikah. 


Dokter Reza mendelik, dan menatap punggung Rendi yang perlahan menjauh dan menghilang dari pandangannya.


"Baby, apa kau baik-baik saja?" tanya Gerald, seraya menghampiri istrinya yang masih terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit. 


Dengan kening penuh keringat, wajah pucat dan bibir kering. Valerie melontarkan senyumnya pada sang suami seakan menggambarkan jika dirinya dalam keadaan baik. 


Gerald mencium kening Valerie, ia menatap sendu sang istri dan berbisik di telinga Valerie. "Maafkan aku, karena sudah membuatmu menderita." Gerald pun menangis sesenggukan sambil memeluk istrinya, melihat penderitaan istrinya yang merasakan sakit ketika mengalami kontraksi dan proses melahirkan membuatnya merasa bersalah dan andai saja dirinya bisa bertukar posisi dengan Valerie, ia akan dengan sukarela menggantikan istrinya bertaruh nyawa demi sebuah kehidupan yang baru. 


Kini ia tahu, kenapa harus selalu mengutamakan dan menghormati seorang ibu, sebab proses menjadi ibu tidak semudah membalikan telapak tangan. 


Selain bertaruh nyawa saat melahirkan, tugasnya dalam mendidik anak-anak juga tidak mudah dan dibutuhkan kesabaran ekstrak serta dukungan dari keluarga agar seorang ibu tetap memiliki kewarasan dalam mendidik dan mengurus anak-anaknya dengan baik.


"Shǎguā, kau menangis?" lirih Valerie dengan suara paraunya.


"Bagaimana, aku tidak menangis. Kau sedang menaruhkan nyawa disini, dan kau tidak mengijinkan aku menemanimu," gerutu Gerald. 


Valerie sedikit menyunggingkan senyumnya, melihat Gerald yang menangis karena ingin sekali  berada disisinya saat proses melahirkan. Valerie bukannya tidak ingin ditemani oleh Gerald disaat dirinya butuh pegangan, tapi semua demi kebaikan dan kelancaran persalinannya jadi ia melarang suaminya untuk ikut ke ruang bersalin. 


"Ekhem," suara deheman dari seorang suster yang membawa bayi kecil dalam gendongannya membuat Gerald dan Valerie terperanjat malu dan menghentikan kegiatannya. 


"Maaf mengganggu, ini bayi kalian." 


"Berikan padaku," pinta Gerald yang tak sabar ingin menggendong bayinya. 


"Maaf, Tuan. Sedikit mengingatkan anda harus bersabar, jahitan nyonya masih belum kering. Kalau begitu saya permisi." Suster itu mengulum senyumnya dan menghilang di balik pintu. 


Gerald hanya mendelik, dan memalingkan pandangannya pada sosok malaikat kecil yang sedang terpejam dalam balutan kain biru bercorak beruang kecil lucu. 


Sebuah senyum pun muncul di raut wajah Gerald saat melihat bayi itu menggerakan kepala serta mulutnya yang mencari susu. 


"Baby, lihat. Dia tampan sekali sepertiku," celotehnya senang. 


"Mata dan bibirnya mirip denganku, hidungnya juga mancung seperti aku," lanjut Gerald yang seolah tak hentinya kagum pada sosok kecil yang masih ada dalam gendongannya. 


"Orang bilang, kalau paras anaknya sangat mirip dengan ayahnya semasa hamil si ibu sangat membenci ayahnya," celetuk Sarah yang baru saja masuk setelah berbincang dengan dokter mengenai keadaan putrinya. 


"Benarkah begitu, Baby?" 


Valerie hanya tersenyum. 


Gerald mengerutkan dahinya, tapi kerutan itu perlahan hilang saat bayi mungil itu menggeliatkan tubuhnya. "Wow, wow. Lihat dia menggeliat, dia lucu sekali," ujar Gerald antusias.


"Berikan pada Mama. Mama juga ingin menggendongnya," pinta Sarah yang sudah mengulurkan kedua tangannya ke arah Gerald.


"Aku tidak peduli kalau dia mirip denganku karena kau membenciku, yang penting dia adalah anakku. Bukankah itu hal bagus jika dia persis denganku, itu akan memudahkannya untuk dikenal sebagai putra dari Gerald Alexander Dhanuendra calon penerus Uri Sunshine group," kata Gerald dengan nada angkuh. 


Valerie menghela napasnya, sementara Sarah hanya menggelengkan kepalanya melihat suami dan menantunya yang banyak bicara. 


"Sudahlah, berhenti bicara. Dan beri putramu nama," tegur Sarah.


"Aku sudah menyiapkannya, namanya Clayton Alexander Dhanuendra. Nama yang bagus bukan," seru Gerald menatap istrinya penuh cinta.


Valerie dan Sarah mengangguk setuju, dengan nama yang diberikan oleh Gerald pada putra pertamanya.


"Tuan, ayo ambil gambar untuk momen ini," ujar Rendi yang sudah memegang kamera di tangannya.


Gerald, dan Sarah pun merapatkan barisannya pada Valerie dan memasang wajah penuh kebahagiaan di hadapan kamera. 


Seakan tak mau ketinggalan momen langka, Rendi pun ikut berswafoto bersama orang-orang yang selalu dia dampingi. 


Dan di detik berikutnya, suasana ruang bersalin pun menjadi ramai dengan kehadiran Nadia, Riska dan juga Anna yang berebut ingin melihat keponakan baru mereka. 


Namun, sayang. Kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa hari saja, sebuah insiden yang tak diinginkan menimpa keluarga Gerald. 


Ketika mereka berkemas untuk pulang dari rumah sakit, Gerald sempat berpamitan pada Valerie untuk membeli sesuatu yang dibutuhkan oleh istrinya.


Dan begitu Gerald kembali ke ruangan Valerie, ia mendapati bayinya sedang menangis seorang diri. 


Gerald menggendong bayinya, dan mencari Valerie disekitar kamar. Akan tetapi, setelah mencari ke seluruh rumah sakit, dengan bantuan semua anak buah dan pihak rumah sakit. Sang istri tak kunjung ditemukan hingga akhirnya Valerie dinyatakan HILANG. 


.


.


TAMAT….


Terimakasih, buat semuanya💜💜