
"Shǎguā, aku tidak apa-apa sungguh," ucap Valerie meyakinkan suaminya yang tetap teguh membawanya ke rumah sakit.
"Baby, tanganmu terluka bagaimana bisa kau mengatakan baik-baik saja," ujar Gerald semakin cemas. Ia terus meniupi jari sang istri.
"Ini hanya luka kecil, dan staf itu juga tidak bersalah. Aku yang memaksa ingin mencoba mesin itu."
"Tidak peduli itu luka kecil atau besar, mau kau yang memaksa atau tidak. Aku akan membawamu ke rumah sakit, dan memecat staf itu."
Valerie menarik tangannya dari Gerald. "Baiklah, kalau kau keras kepala ... sekretaris Rendi, hentikan mobilnya," pinta Valerie kesal.
Gerald mengerutkan dahinya, dan menatap heran pada Valerie. Kenapa tiba-tiba meminta Rendi menghentikan mobil.
Rendi menuruti kemauan istri bosnya, ia menepikan mobilnya dan berhenti. Valerie hendak membuka pintu namun, Gerald langsung menahannya.
"Baby, apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku mau turun, aku tidak mau jika harus satu mobil dengan orang yang tidak pernah mendengarkan ku," ketus Valerie. Ia menepis tangan Gerald agar tidak menghalanginya.
"Oke-oke, aku mendengarkanmu. Aku tidak akan membawamu ke rumah sakit, dan tidak akan memecat staf itu asalkan dengan syarat," Gerald menatap Valerie penuh arti.
Valerie memutar manik matanya ke sembarang arah, ia sudah mengerti syarat apa yang akan diajukan oleh suaminya itu.
🌸🌸🌸🌸
Keesokan harinya.
Gerald mencium kening istrinya, sebelum berangkat ke kantor.
"Kau yakin, tidak mau bareng dengan ku?" Gerald masih menggenggam tangan istrinya, rasanya ia tidak rela untuk berpisah. Padahal sudah Semalaman dirinya terus mendekap dan merangsek sang istri tapi, ia merasa masih kurang puas.
Valerie mengangguk. "Butik dan kantor beda arah, jika kau mengantarku dulu. Kau akan terlambat."
"Memangnya kenapa kalau terlambat, tidak akan ada yang berani memarahiku."
"Iya aku tahu, udah sana pergi. Kasian tuh sekretaris Rendi udah lama nunggu."
"Kau mengusirku?" dengus Gerald tak terima karena istrinya meminta dirinya agar cepat pergi.
Valerie menghembuskan napasnya kasar.
"Kenapa mendesah? Kau tidak suka melihatku ada disini?" cecar Gerald.
"Astaga, sekretaris Rendi! Cepat bawa pergi Tuanmu!" teriak Valerie, ia sudah frustasi dibuat suaminya yang terus banyak bicara.
Gerald tersenyum kecut. "Rendi hanya mendengar perintahku, Baby."
Valerie memijat pelipis matanya.
Gerald memeluk Valerie, dan mencium bibirnya. Membuat orang-orang yang ada di depan rumah, berubah menjadi canggung dan membuang pandangannya ke arah lain.
Begitu juga dengan Rendi, yang sejak dari tadi memperhatikan kedua bosnya yang sedang berargumen. Melihat adegan kissing yang tiba-tiba, ia jadi malu sendiri. Yang melakukannya saja tidak merasa malu, kenapa Rendi yang merasa ingin menghilang dari sana.
Ternyata memang benar, jika sudah dimabuk cinta. Dunia serasa milik berdua, yang lainnya pada nyewa.
Setelah tautan berakhir, Gerald akhirnya pergi.
Sambil melambaikan tangan, Valerie menyipitkan kedua matanya. Ia menggerutu kesal, sebab suaminya begitu menyebalkan. Jika tidak mengancam, Gerald pasti memperlakukan dirinya sesuka hatinya.
🌸🌸🌸🌸
Kantor Uri Sunshine.
Seorang pria bermata sipit dan berpostur tubuh tinggi, berjalan di lorong kantor dengan raut wajah marah.
Tanpa mengetuk terlebih dahulu, pria itu langsung membuka pintu ruangan Gerald secara kasar.
"Mr, Shama … Long time no see," sapa Gerald, ia meletakan berkas yang sedang dipegangnya dan menghampiri sang tamu.
Mr, Shama yang sudah dikuasai amarah, tak dapat lagi menahan emosinya. Ia langsung melayangkan bogem mentah pada Gerald tapi, sayang. Tinjuan itu langsung ditahan oleh tangan Rendi.
Rendi memelintir tangan Shama ke belakang.
"Ow, Mr, Shama. Anda baik-baik saja?" ejek Gerald menyeringai.
Gerald yang masih dalam keadaan santai memberikan isyarat pada Rendi untuk melepaskannya.
Shama mendengus, dan merapikan jasnya. Ia menyesal tak membawa bodyguard bersamanya, gara-gara emosi dia jadi tidak bisa berpikir jernih.
"Simpan basa-basi busuk mu itu, Tuan Gerald!" dengus Shama.
Gerald merapikan dasinya, sambil tersenyum. "Mr, Shama. Apakah ini adab bertamu anda, ketika datang ke rumah orang lain? Kemarilah, duduk dulu kita bicarakan secara baik-baik." Gerald merangkul bahu Shama dan membawanya ke sofa. "Jangan terlalu grasak- grusuk, jika anda salah langkah bisa saja aku langsung menyeretmu ke penjara," sambungnya yang berbicara dengan penekanan.
Shama menatap tajam Gerald, yang masih cengengesan sambil duduk di sofa.
"Katakan, apa tujuan anda datang kemari?" tanya Gerald, basa basi.
Shama memutar bola matanya kesembarang arah, rasa kesal tak dapat ia sembunyikan. Ingin rasanya Shama menghajar Gerald tapi, jika dirinya gegabah bukan Gerald yang babak belur. Melainkan dirinya yang akan habis di hajar oleh singa yang sejak dari tadi terus menatapnya dengan tatapan lapar.
"Apa maksud anda, meretas semua data perusahaanku?"
Gerald mulai berlagak akting. Ia mengerutkan dahinya. "Maksud anda?"
"Tidak usah berlagak tidak tahu apa-apa, aku tahu kau yang meretas semua data-data perusahaanku sehingga perusahaan ku mengalami kerugian besar!"
"Apakah ada buktinya, jika aku yang melakukan itu?"
Mr, Shama tertegun. Ia memang tidak memiliki bukti apapun, jika itu perbuatan Gerald. Namun, Shama sangat yakin jika pelaku peretasan itu adalah perbuatan Gerald yang ingin balas dendam padanya.
Gerald bangkit dari duduknya dan menghampiri Shama. "Mr, Shama … apa kau tahu? sebuah tuduhan tanpa bukti itu termasuk kejahatan dan pencemaran nama baik yang bisa di jerat pasal hukum. Anda adalah orang berpendidikan, aku rasa anda tahu hal itu."
Shama menelan ludahnya kasar. "Aku memang tidak punya bukti tapi, aku tahu itu pasti kau. Kau ingin balas dendam kan padaku?"
Gerald menyeringai. "Balas dendam? Memangnya kita punya masalah apa? Kenapa aku harus balas dendam padamu?"
"Karena aku yang sudah meretas data perusahaan mu yang ada di Bali, jadi kau melakukan hal yang sama padaku," cetus Shama mengakui perbuatannya.
Gerald pura-pura terkejut. "Benarkah? Jadi anda yang melakukannya." Gerald menggelengkan kepalanya perlahan. "Ck, ck. Sungguh, prilaku yang tidak terpuji sekali," cibir Gerald sedikit meledek.
"Pria ini kenapa tidak marah? Dia malah terlihat santai sekali?" gumam Shama heran. Ia banyak mendengar dari orang-orang, jika Gerald sangat tempramental dan kejam. But, kenapa saat dia menghadapinya. Gerald sangat jauh berbeda sekali dengan apa yang rumor katakan. "Apa aku salah menuduh? Mana tadi aku sempat mengaku lagi, jika aku yang meretas perusahaannya," imbuh Shama menyesal.
Gerald mengangkat kedua tangannya ke arah Shama.
Shama yang yang mengira Gerald akan memukulnya sudah bersiap siaga. Dan di detik berikutnya, Gerald meraih jas yang sedang dikenakan Shama dan merapikannya. Lalu, ia meraih bahu Shama dan memeluknya.
"Dengar! ini baru permulaan. Sekali lagi kau menyentuh seluruh perusahaanku aku tidak segan membuatmu hancur sampai berkeping-keping," bisik Gerald yang kemudian mendorong Shama perlahan.
Pria bermata sipit itu, mengepalkan kedua tangannya. Kata-kata Gerald mampu membuatnya tak berkutik lagi, saat ini saja Gerald sudah membuat perusahaannya mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Ia khawatir, jika suatu saat Gerald benar-benar menghancurkannya sampai ke akar.
Tidak mau ambil resiko, Shama memilih mengalah dan pergi meninggalkan kantor Gerald dengan perasaan marah.
.
.
.
Bersambung.