
Sembari menahan nyeri di sekujur tubuhnya, Devano terus berjalan menuju jalan raya untuk mencegat taksi.
Meskipun, dirinya dalam kondisi yang tidak baik. Dia tetap berusaha untuk bangkit dan menemui istrinya yang saat ini entah dimana keberadaannya.
Vano menaiki sebuah taksi, dan meminta pada sopir agar mengantarnya menuju butik milik sang istri. Meskipun kecil harapan, untuk bisa menemukan Valerie di sana.
Namun Devano sangat yakin jika saat ini, istrinya sedang berada di butiknya. Wajah Devano terlihat pucat pasi, sisa-sisa noda lebam juga masih terlihat dengan jelas dan darah segar pun tampak menetes dari pergelangan tangan Devano.
Sesekali Devano terdengar meringis kesakitan, membuat sopir taksi itu ikut khawatir akan kondisi penumpangnya yang terlihat begitu mengkhawatirkan.
Setengah jam telah berlalu, Devano telah sampai di butik milik istrinya. Dengan sempoyongan pria itu masuk kedalam butik tersebut.
"Val," lirih Devano, dengan suaranya yang lemah.
Valerie yang kala itu tengah membantu Nadia merapikan pakaian, begitu terkejut saat melihat kedatangan suaminya dalam keadaan terluka.
"Mas Vano, a-apa yang terjadi?" tanya Valerie, manik matanya tampak berkaca-kaca ketika melihat kondisi Vano.
Vano menatap nanar pada sang istri. Belum sempat ia berbicara, pria itu langsung tumbang dalam pelukan Valerie.
"Eh, ya ampun, mas kamu kenapa?" Valerie tampak panik sambil menahan tubuh suaminya agar tidak terjatuh.
Para karyawan yang melihat suami bosnya pingsan, langsung berbondong-bondong membantu Vano dan membawanya ke dalam mobil milik Valerie.
"Nad, tolong tutup butiknya ya … aku harus ke rumah sakit, dan kalau sudah selesai kamu susul aku kesana," ucap Valerie terburu-buru.
"Baik, mbak," jawab Nadia yang tak kalah khawatir.
Valerie melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota Edelweis yang cukup padat.
Karena panik ingin cepat sampai rumah sakit, Valerie terus menekan klakson meminta pada mobil lain untuk memberinya jalan. Bahkan ia sampai berteriak pada pengendara yang menghalanginya.
15 menit dari kepergian Valerie, Rendi yang diutus Gerald untuk menjemput Valerie untuk makan malam terlihat memarkirkan mobilnya di depan butik.
"Selamat malam, saya mau menjemput Nona Valerie," ujar Rendi, dengan wajah yang datar dan cool.
"Mbak Valerie baru aja pergi mengantar suaminya ke rumah sakit," jawab Nadia yang sudah bersiap untuk pulang.
"Ke Rumah sakit?"
"Iya ta–," Nadia belum menyelesaikan ucapannya tapi, Rendi sudah pergi meninggalkan gadis tersebut.
"His, dasar menyebalkan! Belum juga selesai ngomong udah pergi gitu aja," gerutu Nadia, yang kemudian mematikan lampu dan mengunci pintu butik.
Saat Nadia telah selesai mengunci pintu, ia pun membalikkan tubuhnya dan betapa kagetnya ia ketika melihat Rendi sedang berdiri tegak tepat di depannya.
"Kamjagiya!" Nadia reflek mundur beberapa langkah dari Rendi.
Melihat Nadia yang terkejut, Rendi hanya menatapnya sinis.
"Kya! Kau mau membuatku jantungan!" omel Nadia menyentuh dadanya yang berdebar.
"Ikut aku!" Rendi menarik tangan Nadia dan memasukkannya ke dalam mobil secara paksa.
"Diam dan jangan banyak bicara, jika tidak aku akan melemparmu keluar!" ancam Rendi, sembari menginjak gas mobilnya.
"Tuan dan sekretaris sama saja, sama-sama suka mengancam," gerutu Nadia dalam batinnya.
🌼🌼🌼🌼
Bougenville Hospital.
Di depan ruangan gawat darurat, Valerie sedang duduk termenung menunggu seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.
Bulir beningnya tak dapat ia bendung lagi, rasa takut akan terjadi sesuatu pada sang suami terus menghantui diri Valerie.
"Semoga kamu baik-baik aja, mas," lirih Valerie sambil mengusap air matanya yang jatuh.
Setelah beberapa lama menunggu, dokter yang menangani Vano akhirnya keluar dari ruangan UGD dan menghampiri Valerie.
"Setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat, anda bisa mengunjungi nya … kalau begitu saya permisi dulu, nyonya," pamit dokter meninggalkan Valerie.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Mas?" Valerie menutup kedua matanya dan kembali duduk, sambil mengusap wajahnya yang basah karena air mata.
"Mbak Valerie," panggil Nadia, gadis itu menghampiri dan memeluk Valerie. "Apa yang terjadi pada Mas Vano, mbak?"
"Entahlah, Nad. Dokter bilang mas Vano terluka karena dianiaya," ucap Valerie melepaskan pelukannya.
"Dianiaya? Sama siapa, mbak?"
Valerie menggelengkan kepalanya."Aku juga tidak tau, Nad."
Mendengar pembicaraan Valerie dan Nadia, yang mengatakan jika Devano dianiaya. Gerald dan Rendi langsung memalingkan wajahnya, melihat langit-langit rumah sakit sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Kalian … kalian ngapain disini?" tanya Valerie pada kedua pria yang sedang berjongkok memainkan tanaman yang ada di depan UGD.
Rendi menoleh, sambil mencolek bosnya agar dia berdiri dan menjawab pertanyaan Valerie. "Tuan, Tuan," bisik Rendi.
Gerald menoleh, ia tersenyum dan kembali berdiri. "Hai, baby," sapa Gerald, senyumannya yang begitu mempesona membuat para suster yang melihatnya nyaris jatuh pingsan.
"Nadia, kamu ngapain ngajak mereka kesini?" bisik Valerie, ke telinga asistennya.
"Mereka yang maksa, mbak. Sekretaris Rendi bilang ini rumah sakit milik tuan Gerald."
"Ck, shhh astaga! Tanah butik milik dia, rumah sakit ini pun miliknya … lalu, apa yang tidak bersangkutan dengannya."
"Aku tidak tahu, karena yang aku tahu sebagian kota Edelweis itu adalah milik Tuan Gerald."
"Apa?" Valerie mengerutkan keningnya, ia tidak percaya dengan kekayaan milik Gerald sebanyak yang disebutkan oleh Nadia.
"Nad, aku tidak perduli dengan kekayaan pria itu, yang terpenting sekarang bantu aku mencari rumah sakit yang tidak ada hubungannya dengan dia," pinta Valerie, yang tidak ingin terus diikuti oleh Gerald.
"Ada sih, mbak. Tapi, jaraknya jauh di luar kota … lagian mbak yakin, mau pindahin mas Vano ke rumah sakit lain? Inget loh mbak, suami mbak udah khianatin mbak," tutur Nadia, menyadarkan Valerie pada kesalahan suaminya.
Valerie diam tertegun, sebenarnya ia masih ingat tentang perselingkuhan sang suami dengan wanita lain. Bahkan bayangan ketika Vano sedang bergulat di atas ranjang masih tergambar jelas dalam benak Valerie.
Namun, untuk saat ini ia mencoba untuk mengesampingkan masalah tersebut. Sebab bagaimanapun juga Vano masih berstatus suaminya, dan kini Vano sedang dalam keadaan sakit. Dan sudah kewajibannya sebagai seorang istri untuk merawat suaminya dengan baik.
"Nyonya Valerie, Tuan Devano sudah siuman. Pasien ingin bertemu dengan anda," ujar salah seorang perawat.
"Oh, baik … terima kasih suster," ucap Valerie.
Wanita berambut panjang itu pun, bergegas untuk menemui suaminya.
Di dalam ruangan, Devano yang sedang terbaring di atas brankar menatap sendu ke arah Valerie yang tengah berjalan menghampirinya.
Valerie menarik napasnya dalam, ketika ia berhadapan dengan Devano. Rasa sakit karena luka yang diberikan oleh suaminya kini kembali terasa begitu perih.
"Val, maafkan aku," lirih Devano, ia berusaha meraih tangan sang istri.
Valerie hanya terdiam, tak mengeluarkan sepatah kata pun pada Devano.
"Aku salah, karena sudah menyakiti mu … dan mungkin ini adalah balasan atas semua yang aku lakukan padamu," tutur Vano penuh penyesalan.
"Sayang, Mas mohon kamu tarik kembali gugatan pisah kita … aku berjanji akan meninggalkan Helen dan tidak akan mengulangi kesalahan ku lagi."
"Apa, mas! Kamu mau ninggalin aku!" timpal Helen, yang tiba-tiba sudah berada di ambang pintu.
.
.
.
Bersambung.