
"M-mas Vano, bilang k-kalau hari ini dia melepaskan mbak Valerie untuk selamanya," tutur Nadia, ucapannya terbata dan pandangannya tertunduk karena tak kuasa jika harus melihat bosnya kembali sedih.
"Tinggalkan aku sendirian, Nad," pinta Valerie pada sang asisten.
"Mbak–,"
"Aku bilang pergi, Nad. Aku ingin sendiri." Valerie mengulangi ucapannya dengan lembut.
Nadia menatap Valerie beberapa saat lalu, meninggalkan bosnya sendirian. Saat tahu jika Nadia akan keluar dari ruangan Valerie, Sarah dan Gerald juga Rendi yang sedang menguping langsung buru-buru pergi dan melakukan hal konyol agar tidak dicurigai Nadia.
"Nak Gerald, coba yang ini. Ini pasti cocok untuk mu." Sarah memberikan sebuah gaun hitam pada Gerald, sementara matanya terus tertuju pada Nadia yang terlihat kusut. Sedangkan Rendi hanya menyimak drama calon ibu mertua dan menantu yang tengah berlangsung.
Nadia menoleh ke arah Sarah dan Gerald, ia mengerutkan dahinya saat melihat Sarah sedang mengukur gaun yang di pegangnya ke tubuh Gerald.
Karena masih memikirkan keadaan Valerie, Nadia mengabaikan perilaku random ibu dan penggemar berat Valerie.
Setelah melihat Nadia pergi, Sarah dan Gerald saling menatap satu sama lain. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi pada Nadia? Sebab ketika menguping mereka tak dapat mendengar apapun.
"Nadia," panggil Sarah.
"Iya, Bu."
"Apa yang kamu bicarakan dengan Veli?"
Nadia melirik Gerald dan Rendi yang tengah menatapnya dingin. Gadis itu menelan ludahnya kasar, mendapat tatapan seperti itu membuat Nadia jadi merinding.
"Nadia." Sarah mengguncangkan lengan Nadia agar mau memberitahunya.
"I-itu, a-anu."
"Itu apa?"
Nadia berbisik ke telinga sarah, dan memberitahukan semuanya pada wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
"Apa itu benar?" Sarah bertanya untuk meyakinkan.
"Benar, Bu. Untuk apa saya berbohong."
"Bagus," celetuk Sarah sambil tersenyum.
"Apanya yang bagus, Bu?"
"Ah, t-tidak. Baiklah kamu boleh kembali bekerja," ujar Sarah. Sedikit mendorong tubuh Nadia.
Gadis itu kembali mengerutkan dahi sambil memiringkan sedikit kepalanya ke kiri, mencoba mengartikan apa yang dimaksud Sarah.
"Nak Gerald, besok datang ke rumah ibu ya … ibu mau adain acara selamatan," ucap Sarah. Bibir yang dihiasi keriput itu tak hentinya mengumbar senyuman.
"Acara apa, Tante?"
"Besok juga kamu tahu, ya sudah sebaiknya kamu pulang dulu biarkan Valerie istirahat. Terimakasih karena sudah mau mengantar ibu dan Veli pulang."
"Iya, Tan. Saya pamit dulu, sampaikan salam saya pada Valerie," pamit Gerald pada Sarah.
.
.
.
🌼🌼🌼🌼
Selepas pulang dari butik Valerie, Gerald kembali ke kantornya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda. Karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Valerie, Gerald meminta Rendi untuk menghubungi Nadia.
Rendi menghubungi Nadia berkali-kali tapi, gadis itu tak kunjung mengangkat panggilan teleponnya. Masih penasaran kenapa Nadia tak menjawab panggilan, Rendi mengirimkan spam chat bernada ancaman pada gadis berambut coklat tersebut.
"Hei, bodoh! jawab telponku. Jika tidak aku akan menyebarkan data hutangmu ke sosial media!"
"Aku tidak taku!" balas Nadia.
"Kau yakin, tidak akan menyesal?"
"Baiklah, aku akan membongkar semuanya termasuk data saat kau menyewa sebuah hotel bersama seorang pria!"
Nadia tiba-tiba saja menghilang, tak membalas chat Rendi. Ia bisa menebak jika saat ini gadis itu sedang panik, karena takut jika rahasianya terbongkar.
Ting.
"Baiklah-baiklah, aku akan memberitahumu … asal dengan syarat jangan beritahu siapapun tentang hotel itu, PAHAM!"
"Y," balas Rendi.
Nadia menarik sebelah bibirnya ke atas saat melihat pesan Rendi hanya satu kata saja.
"Mas Vano, menggugat cerai mbak Valerie."
Melihat pesannya hanya dibaca, Nadia mendengus kesal. "Udah dikasih informasi, bukannya bilang makasih cuman di read doang, dasar botak" gerutu Nadia sambil merapikan baju-baju yang akan dipajang. Dan tak berselang lama ponsel Nadia kembali bergetar.
"Terimakasih informasinya," sebuah pesan yang diakhiri dengan emoji hati berwarna merah. Kedua sudut bibir gadis itu mengangkat, membuat simpul bulan sabit. Hatinya terasa bahagia saat melihat emoji tersebut, ia jadi merasa bersalah karena sudah mengatainya.
Drtt …
ponsel Nadia kembali bergetar. Sebuah pesan masuk membuat simpul bulan sabit di bibir Nadia langsung menghilang ketika membaca pesan yang dikirim oleh Rendi barusan.
"Jangan salah sangka, aku tidak sengaja menekan emoji hati." tulis Rendi dengan emoji datar.
Nadia tak membalas pesan tersebut, ia sangat sebal pada Rendi. Baru saja hatinya terbang ke langit, dan dalam hitungan detik Rendi sudah menjatuhkannya lagi ke bumi.
Saat butik sedang dirundung sedih, berbeda dengan ruangan kantor milik CEO sunshine group. Di ruangan mewah yang bernuansa serba hitam itu Gerald dan Rendi sedang menikmati sebotol wine pilihan yang berasal dari Paris sebagai perayaan terpisahnya Valerie dan Devano.
Kebahagiaan begitu tampak jelas dari raut wajah Gerald, karena impiannya untuk menikahi Valerie akan segera terwujud. Hanya tinggal satu langkah lagi untuknya agar bisa benar-benar mewujudkan pernikahan tersebut.
Yaitu meluluhkan hati wanita yang sebentar lagi akan menyandang status janda kembang. Ia tahu jika Valerie tidak mudah ditaklukkan, sehingga ia sudah menyusun rencana agar cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Gerald memiringkan senyumnya, ketika membayangkan ide gilanya itu. "I'm sorry, Baby. Aku harus melakukannya," gumam batin Gerald, yang kembali meneguk wine yang ada di tangannya.
.
.
.
🌼🌼🌼🌼
Butik Dandelion's.
Valerie masih berada di ruangannya, sambil memegang surat perpisahan yang sudah ditandatangani oleh Devano, ia masih terisak menangisi keputusan Devano yang akhirnya mentalak dirinya.
Ia tidak menyangka, jika Devano akan benar-benar menceraikannya dan lebih memilih wanita itu dibanding dirinya.
Perceraian ini memanglah keinginan Valerie tapi, entah kenapa hatinya terasa begitu sakit dan juga sedih ketika Devano mengabulkan keinginannya.
Di Bawah meja kerjanya, kini ia sedang menumpahkan semua air matanya. Rasa kecewa, marah, sedih dan sakit hati kini melebur menjadi satu.
Hingga rasa trauma akan pernikahan kini muncul dari dalam diri Valerie, bahkan dengan tekad yang kuat ia bersumpah tidak akan pernah menikah lagi untuk selamanya.
Dan ia juga berjanji, tidak akan pernah mengeluarkan air matanya lagi hanya karena pria atau bahkan cinta. Bisa dibilang juga mulai detik ini Valerie bermusuhan dengan yang namanya cinta.
Di saat sang putri tengah berada dalam kesedihan, Sarah yang justru bahagia dengan perpisahan putrinya membawa para karyawan Valerie ke sebuah restoran yang menyajikan menu serba Jepang.
Wanita paruh baya itu terlihat begitu bersemangat, saat mentraktir semua pegawai putrinya. Bahkan beliau membebaskan para karyawan untuk memilih menu yang mereka inginkan tanpa melihat harga.
Para karyawan itu terlihat senang, karena disaat tanggal tua dan dompet sudah tidak berisi lagi ibu dari bosnya mau mentraktir mereka makanan enak. Sehingga mereka bisa menyimpan uangnya untuk nanti.
.
.
.
Bersambung.