My Dandelion'S

My Dandelion'S
Bonus kerja



Setelah dihubungi oleh Riska berkali-kali, nomor ponsel Rendi akhirnya bisa dihubungi. Dan tanpa berbasa-basi Riska memberitahukan pada Rendi, jika Valerie sedang sakit. 


Rendi mengiyakan Riska, dan ia pun menghampiri Gerald yang saat ini tengah memancing bersama rekan kerjanya di sebuah danau di hutan. 


"Tuan." Rendi berdiri di samping Gerald.


"Ada apa?" jawab Gerald. 


Rendi berbisik di telinga Gerald, dan mengatakan apa yang dikatakan oleh Riska mengenai Valerie. 


Gerald terhenyak, dan menjatuhkan alat pancingnya ke danau.


"Tuan Gerald, apa yang terjadi?" tanya Arnold— calon mitra kerja Gerald.


Gerald menoleh pada Arnold. " Tuan Arnold, maafkan saya … saya tidak bisa menemani anda memancing lagi, saya baru saja dapat kabar jika istri saya sedang sakit … saya harus segera kembali ke Edelweiss," tutur Gerald. 


"Oh, tidak apa-apa. Lagi pula di sini danaunya kosong, jadi kita tidak akan mendapatkan ikan anda bisa pulang, Tuan," celoteh Arnold sambil tersenyum. 


Mendengar pernyataan Arnold, yang mengatakan jika danaunya kosong. Gerald menahan amarahnya, jika saja dia tidak sedang menjalankan strategi agar Arnold mau menanamkan investasi di sahamnya, ia tidak akan menemaninya memancing di hutan sampai berhari-hari seperti ini. 


"Oh, Tuan Gerald. Nanti sekretaris saya Daffa akan menghubungi anda soal keputusan saya yang akan beralih ke perusahaan anda atau tidak." 


Gerald mengangguk, dan menjabat tangan Arnold kemudian mereka pergi meninggalkan danau hutan tersebut. 


"Hais, orang itu benar-benar menyebalkan … sudah berhari-hari kita ada di hutan ini menunggu ikan memakan umpan, eh tau-taunya danau itu kosong dasar brengsek," umpat Gerald kesal, baru kali ini ada orang yang berani mengerjainya tanpa rasa takut sama sekali. 


"Tuan, saya merasa aneh dengan Tuan Arnold. Dia mengajak anda memancing ke hutan, tapi apa anda lihat pakaian yang dia kenakan sudah seperti astronot, bahkan di sekeliling tempat duduknya dia menyemprotkan anti serangga … bukankah dia takut dengan hewan kecil lalu, kenapa dia mengajak anda kesini?" ujar Rendi.


"Kau benar, sepertinya dia sengaja menguji kita. Tapi aku tidak peduli, karena sudah 90 persen investor Mr. Shama telah berada di pihak kita. Aku jadi tidak sabar untuk melihatnya hancur," tutur Gerald menyeringai. 


Usai perjalanan bisnis dalam waktu cukup lama dan melakukan penebangan berjam-jam lamanya. Gerald akhirnya tiba di depan rumah mertuanya, ada rasa bersalah terhadap istrinya karena ia sudah berjanji untuk selalu mengabari sang istri tapi sinyal tidak mendukung Gerald sehingga dirinya tak bisa menelpon atau menerima panggilan sama sekali. 


Ia sampai berpikir apa jangan-jangan istrinya sakit, karena khawatir pada keadaannya. Tak ingin berlama-lama berada di depan rumah, Gerald langsung masuk ke dalam dan menemui istrinya yang sedang beristirahat, sebab ibu mertuanya mengatakan jika sejak pagi Valerie terus mengalami mual dan muntah. 


Gerald bertanya sakit apa yang diderita Valerie, tapi ibu mertuanya tak menjawab beliau hanya menyuruh Gerald untuk bertanya langsung pada Valerie. 


Gerald pun masuk ke kamar Valerie, ia duduk di tepi ranjang dan menatap wajah istrinya yang sedang tertidur. Sesekali dia mengusap wajah istrinya yang pucat pasi. 


Melihat istrinya terbaring lemas seperti ini, membuat Gerald semakin merasa bersalah. Jika saja dirinya tidak pergi, mungkin istrinya akan baik-baik saja. 


"Maafkan aku, Baby. Gara-gara aku kau jadi sakit seperti ini," lirih Gerald. Ia jadi teringat pada Riska, bukankah dirinya sudah mengskorsnya kenapa gadis itu bisa ada disini?.


"Shǎguā," lirih Valerie.


"Baby, apa aku mengganggumu?" Gerald mengusap pucuk rambut istrinya.


Valerie tersenyum, ia merasa sangat bahagia karena akhirnya sang suami telah kembali dalam keadaan selamat.


"Tidak, aku sudah terlalu lama tidur. Maaf tidak menyambutmu pulang." 


"Tidak apa-apa, katakan apa yang terjadi kenapa kau bisa sakit?" Gerald menggenggam tangan istrinya dan menatapnya khawatir.


"Aku tidak sakit." 


"Baby, Mama bilang sudah beberapa hari ini kau sering muntah … apa penyakitmu kambuh lagi?" 


Valerie menggelengkan kepalanya. "Dokter Reza bilang, penyakit ku sudah sembuh dan tidak akan kambuh lagi." 


"Benarkah? Lalu, apa asam lambungmu naik?" Gerald terus menerka pada keadaan Valerie. 


Valerie menarik napasnya dalam, karena Gerald terus menebak jika sakitnya disebabkan oleh penyakit. 


"Hem, Pede sekali," cibir Valerie menarik kedua sudutnya ke bawah.


Gerald terkekeh, dan membantu istrinya untuk bersandar. "Kalau begitu, katakan. Kenapa kau bisa sakit? Kau tidak makan yang aneh-aneh kan di luaran sanakan?" 


Valerie kembali menggelengkan kepalanya. "Aku punya kejutan untukmu." 


Gerald mengerutkan dahinya. "Kejutan? Apa itu?" 


"Jawabannya ada di laci, kau bisa melihatnya secara langsung." 


Gerald menatap istrinya penasaran. 


"Ayo lihat kejutanmu, aku jamin kau pasti akan senang," ujar Valerie yang seakan kembali mendapatkan semangatnya. 


Pria yang masih mengenakan mantel itu, mulai menarik laci yang ada di samping ranjang. Dia menemukan sebuah amplop berwarna putih bertuliskan rumah sakit miliknya. 


"Baby, apa ini?" 


"Buka saja." 


Gerald menuruti kemauan istrinya, ia membuka amplop tersebut dan membaca tulisan yang ada dalam surat tersebut. 


Tangan Gerald langsung gemetar, manik matanya berkaca-kaca. Dia menatap surat itu tak percaya, lalu mengarahkan tatapannya pada Valerie sebagai tanda ia menanti jawaban dari istrinya. 


Valerie mengangguk, dan ikut terharu dengan respon suaminya. 


Gerald langsung memeluk istrinya, ia sampai tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya karena sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah. 


"Baby, aku tidak sedang bermimpi kan?" Gerald melepaskan pelukannya, dan kembali mendekap sang istri begitu melihat istrinya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban jika ini memang benar-benar nyata. 


"Baby, aku sangat bahagia sekali. Terimakasih, terimakasih banyak kau sudah memberikan kejutan sebesar ini padaku." Gerald tak hentinya terus menghujani wajah sang istri dengan banyak kejutan. 


Dan saking senangnya Gerald, ia sampai berlari ke ruang tamu dan berteriak jika dirinya akan menjadi seorang ayah pada orang-orang yang ada disana.


Semua orang ikut bahagia dengan kabar baik ini, mereka mengucapkan selamat pada Gerald dan mendoakan semuanya sehat sampai waktunya melahirkan. 


"Oh ya, kau. Besok sudah bisa mulai bekerja lagi, ambil uang bonusmu pada Rendi. Kau harus  menjaga istri dan calon anakku dengan baik, dan kali ini jangan membuat kesalahan," titahnya pada Riska. 


"Tidak hanya Riska, semua pelayan yang ada disini dan di rumahku juga akan mendapatkan bonus kerja," sambung Gerald bersemangat. 


"Ekhem, Tuan. Apa aku juga akan mendapatkan bonus," celoteh Rendi. 


Gerald menoleh pada Rendi sekilas. "Tidak, uangmu sudah banyak untuk apa kau menginginkan bonus," dengus Gerald yang kembali tersenyum karena akan memiliki anak.


Rendi pun langsung menekuk wajahnya, disaat semua orang tengah bergembira karena mendapatkan bonus, hanya dirinya saja yang tidak mendapatkan apapun. Padahal selama ini Rendi sudah sangat begitu setia pada bosnya. 


Namun, ternyata ia malah kalah dengan para pekerja baru Gerald. 


.


..


.


.


Bersambung.