
Rate 18+ yang belum cukup umur mohon di skip. Terimakasih.
Satu ..
Tiga …..
Dor ….
Suara tembakan berhasil membuat para pengunjung dan karyawan restoran menjerit histeris.
Helen membuka kedua matanya, dan mengecek kepala juga dadanya. Ia merasa aneh, kenapa dirinya tidak merasakan apapun? Padahal ia mendengar suara tembakan tepat di depannya.
Dan seketika mata wanita itu terbelalak, jantungnya seakan-akan lompat ke monas. Keningnya berkeringat dan seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat ketika melihat orang suruhannya tewas bersimbah darah dengan luka tembak di kepala.
Wanita berambut pendek itu menelan ludahnya kasar lalu, menoleh ke arah Gerald yang sedang menyesap kopi hitamnya dengan sangat santai seolah tak terjadi apa-apa.
"Sekali lagi kau berani menyentuh wanita ku, nasibmu akan sama halnya seperti dia!" ucap Gerald mengancam, pria itu kini telah kembali pada karakter awalnya yang dingin dan kejam.
Selepas kepergian Gerald, wanita itu berteriak penuh emosi. Ia melemparkan semua barang yang ada di hadapannya.
"Argh! Awas saja kau aku pasti akan membalas semuanya!"
.
.
.
🌼🌼🌼🌼
Restoran Krusty.
Hampir di waktu yang bersamaan dengan kejadian di restoran plankton. Sekelompok orang tak dikenal mendatangi restoran Vano, dan membuat keributan disana. Mereka tiba-tiba saja menghancurkan barang-barang yang ada di tempat itu hingga tak tersisa.
Dan ketika semuanya telah hancur mereka pergi meninggalkan tempat tersebut begitu saja sambil tertawa, dan beruntungnya saat kejadian suasana restoran sedang sepi sehingga tak ada orang yang menjadi korban para preman tadi.
Salah seorang manager langsung pergi menemui Devano yang masih ada di rumah sakit, dan memberitahukan kejadian yang menimpa restorannya.
Dia juga memberikan sebuah kertas berisi ancaman ke tangan Devano yang ditinggalkan oleh ketua premanan. Devano meremas kertas tersebut, dan melemparkannya ke sembarang arah. Tangannya mengepal dan wajahnya berubah menjadi merah padam.
"Tuan Devano, apa yang mesti kita lakukan? Saya takut jika sekelompok orang itu datang lagi dan menghancurkan restoran," ujar manager Agam, khawatir.
"Kita harus melaporkan mereka ke polisi, dan aku tahu siapa dalang dibalik semua ini," jawab Devano, ia sudah bisa menebak jika orang-orang itu adalah suruhan Gerald.
🌼🌼🌼🌼
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali Devano sudah terlihat rapi, dengan setelan jasnya yang berwarna biru Dongker. Pria yang masih memiliki luka lebam di wajahnya itu kini bersiap untuk pulang.
Sebenarnya kondisi Devano masih belum stabil tapi, karena dia terus memaksa untuk pulang dokter pun akhirnya mengijinkannya dan memberi saran pada Devano agar melakukan check up secara rutin.
Didampingi oleh manajer Agam, Devano memutuskan untuk pergi ke kantor polisi terlebih dulu untuk memberikan laporan atas perbuatan Gerald yang telah mengancam dan merusak restorannya.
Namun, amat sangat di sayangkan. Karena minimnya bukti yang dimiliki oleh Vano membuat laporannya ditolak oleh pihak yang berwajib.
Devano terus mendesak petugas keamanan tersebut, agar menerima laporannya. Akan tetapi, dirinya harus pulang dengan rasa kecewa.
"Tuan, sepertinya lawan kita bukan orang biasa," ujar Agam memecah keheningan dalam mobil.
"Maksud, kamu?"
"Ya, orang itu bukan orang sembarangan … soalnya kita sudah membawa bukti yang bisa dibilang kuat tapi, polisi menolaknya. Jika dia orang biasa dengan rekaman cctv saja pasti laporan kita akan langsung diproses."
Devano terdiam pandangannya kini mengarah ke jendela, menatap gedung-gedung yang berbaris dengan rapi sambil berpikir keras.
"Siapa sebenarnya pria itu? Dan kenapa dia sangat menginginkan Valerie? Apakah yang diucapkannya tempo lalu, jika dia adalah selingkuhannya Valerie itu benar? Tidak mungkin, istriku tidak mungkin menghianati ku … dan soal di apartemen yang Valerie menciumnya, dia pasti sengaja ingin membalas ku. Lalu, apa tujuan pria itu? apa dia mencintai Valerie?" Vano terus bergelut dengan pikirannya sendiri, sehingga tanpa sadar kini mobil telah berada di depan rumahnya.
"Tuan, kita sudah sampai," suara Agam memecah lamunan Devano.
"Oh, kau mau masuk dulu?"
"Baiklah, maafkan aku. Karena belum bisa membantu."
"Tidak masalah, bos. Aku mengerti kau butuh istirahat, kembali ke restoran ketika kau sudah merasa benar-benar baik." Agam menepuk bahu bosnya.
"Baiklah, terimakasih aku titip restoran hubungi aku jika terjadi sesuatu."
"Siap, bos," pungkas Agam.
Devano menatap mobil yang di kendarai oleh manajernya, pria itu baru akan masuk ke dalam rumah ketika mobil itu telah hilang dari pandangan.
"Sayang! Mas pulang," teriak Devano memanggil istrinya. Pria itu melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
Tidak ada siapapun di rumah, semuanya terasa begitu sepi dan sunyi. Devano kembali memanggil nama istrinya dan lagi-lagi tidak ada siapapun yang menyahut.
"Apa Valerie tidak pulang ke rumah ya?" gumam Devano yang kemudian memegang hidungnya di kala mencium aroma tidak sedap. "Bau apa ini?"
Pria itu mencoba mengikuti sumber aroma tidak sedap tersebut, dan rupanya bau itu berasal dari makanan basi yang berada di atas meja.
Makanan yang sengaja disiapkan oleh Valerie tempo lalu ketika hari jadi pernikahan mereka. Dan dari situ Vano tahu, jika sudah satu pekan istrinya tak kunjung pulang ke rumah.
Selain aroma tidak sedap, makanan itu juga sudah buluk dan sebagian sudah termakan oleh tikus dan belatung, karena mengganggu kenyamanan Indra penciuman. Ia pun membereskan semuanya hingga bersih.
Selepas membereskan rumahnya, Devano duduk di ruang televisi dimana tempat itu adalah tempat favorit dia dan istrinya menghabiskan waktu luang di kala senggang.
"Sayang, tadi di restoran mas liat anak kecil perempuan cantik banget," ucap Vano sembari berbaring di atas p*aha sang istri.
"Terus?"
"Mas jadi pengen deh, punya anak perempuan kayak gitu." Vano menatap istrinya penuh harap.
"Haruskah kita melakukan program kehamilan sekarang, mas?" Valerie memainkan rambut suaminya yang sedikit ikal.
"Jika kau sudah siap ayo temui dokter tapi, jika kamu masih ingin fokus pada karir juga tidak apa-apa … Mas, akan menunggu sampai kamu siap."
"Hmm, sepertinya aku bisa menjalankan karirku sambil punya anak … lagian aku juga suka ngerasa bosen kalau mas pergi ke luar kota aku jadi sendiri di rumah. Kalau kita punya anakkan aku jadi nggak kesepian lagi."
"Baiklah, kalau begitu. Besok Mas temenin kamu ketemu dokter, ya." Vano mengelus pipi istrinya.
"Sayang, sebelum ketemu dokter … bagaimana kalau sekarang kita membuatnya dulu," ucap Vano menggoda Valerie.
"Ih, Mas. Inikan masih siang," ujar Valerie dengan wajah yang memerah.
"Ya, nggak apa-apa. Nanti malam kita terusin lagi." Devano terkekeh.
"Hmm itu sih maunya kamu," cibir Valerie sambil memainkan p*Ting milik Devano sampai membuat sesuatu yang di bawah bangun.
"Tapi, kamu juga maukan?" Devano mencolek dagu sang istri.
"Apa sih, mas. Udah ah aku lapar," ujar Valerie menahan senyum di bibirnya. Ia pun pergi menuju dapur untuk membuat mie instan kesukaannya.
"Sayang, kamu mau kemana?"
"Mau masak mie, kamu mau?"
"Kok masak mie sih, terus ini gimana? Adik kecilku bangun karena kamu loh," rengek Devano.
Valerie kembali terkekeh saat melihat wajah suaminya, yang sudah ingin melakukan pelepasan. Karena merasa di ejek sang istri, Devano menyusul Valerie menuju dapur.
Pria itu memeluk istrinya dari belakang, mencium rambutnya yang beraroma harum dan perlahan ci*uman itu turun ke leher membuat wanita itu bergidik geli. Setelah melewati leher, bibir Vano kini semakin turun dan turun sehingga Valerie dengan terpaksa mematikan kompornya lalu di menit berikutnya…
.
.
🌼🌼🌼🌼🌼
Bersambung.
Follow Ig aku ya : Jung Zia Lin …. Terimakasih 😘