
"Baby, jika aku jadi si pengembala, apa kau juga akan melakukan hal yang sama seperti gadis bermata biru itu?" tanya gerald pada istrinya.
Valerie tampak berpikir. "Hemmm … sepertinya aku tidak akan melakukan itu, aku akan mencari raja bulan dan hidup bahagia bersamanya," celoteh Valerie blak-blakan.
Gerald mendengus dan memasang wajah masam. "Dasar istri tak setia, kau masih saja memikirkan raja bulan itu."
Valerie terkekeh. "Shǎguā, kau tidak akan menjadi pria pengembala dan aku tidak akan menjadi gadis bermata biru. Kita hanya akan menjadi sepasang suami istri yang harus menghabiskan sisa hidup bersama dan menciptakan legenda sendiri," jawab Valerie sembari melontarkan senyumannya pada Gerald.
Gerald mengerutkan dahinya dan menatap Valerie. "Akhir-akhir ini kau pandai sekali membual, Baby," protes Gerald.
Valerie mengangkat kedua alisnya keatas. "Aku tidak membual."
"Benarkah?"
"Hem." Valerie menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak percaya," ujar Gerald yang menggoda istrinya,
"Ya sudah, kalau tidak percaya. Aku tidak akan memaksamu," jawab Valerie yang meneruskan menikmati pemandangan alam sekitar.
"Dasar tidak peka," dengus Gerald pelan.
"Kau sedang mengumpatku?" tuduh Valerie.
Gerald menggelengkan kepalanya cepat.
"Bohong." Valerie membuang pandangannya dari Gerald.
"Aku tidak mengumpatku, aku berani bersumpah." Gerald mengangkat kedua jarinya ke atas untuk meyakinkan istrinya
"Aku tidak percaya," ketus Valerie dengan wajah masam.
Karena tidak ingin istrinya salah paham dan marah lebih lama, Gerald menggoda istrinya kembali. Ia mencolek-colek pinggang Valerie sampai wanita itu kembali tertawa karena geli.
keduanya pun terlihat bersenda gurau di atas sampan, sampai-sampai pemilik perahu merasa jadi obat nyamuk di antara sepasang suami istri tersebut.
🌸🌸🌸
Malam hampir tiba, keduanya pun sudah sampai di penginapan setengah jam lalu. Gerald yang baru selesai membersihkan diri, langsung menghampiri istrinya yang sedang mencuci sayuran.
"Baby, apa yang akan kau masak?" Gerald memeluk istrinya dari belakang.
"Aku ingin membuat sup, udara cukup dingin makan yang hangat sangat cocok untuk saat ini," jawab Valerie yang telah selesai mencuci semua bahan sayur.
Valerie membalikan tubuhnya pada Gerald. "Shǎguā, bisakah kita tinggal disini lebih lama lagi?"
"Kau betah tinggal disini? Haruskah aku membeli pondok dan menetap disini untuk selamanya?"
"Tidak perlu begitu, mau bagaimana pun edelweiss tetap jadi tempat ternyaman bagiku ... mungkin tambah dua atau tiga hari lagi kita berada disini, apa kau keberatan?"
"Baiklah, aku akan memberitahu Rendi. Kalau kita akan lebih lama lagi disini," timpal Gerald setuju dengan keinginan Valerie.
"Terima Kasih, Shǎguā."
"Hanya terima kasih saja? Tidak ada tindakan apapun," sindir Gerald yang mengharap imbalan dari istrinya.
Valerie tersipu malu, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Gerald dan mengecup pipi kiri suaminya.
Merasa tidak cukup dengan kecupan Valerie, ia mengasongkan sebelah pipinya lagi pada sang istri.
Valerie terkekeh, dan mengecupnya lagi, Gerald yang masih merasa tak puas langsung mel*umat bibir Valerie cukup lama. Jika saja perutnya tidak berbunyi mungkin Gerald sudah menggendong istrinya ke kamar, tapi sayang perutnya keburu berdemo sehingga mereka harus mengakhiri kegiatan panasnya.
Keduanya pun tertawa, saat mendengar suara perut Gerald yang berteriak minta diisi. Dan tanpa menunggu lama mereka pun memasak secara bersama-sama, dan tentunya banyak juga drama yang dilakukan oleh Gerald.
Dari mulai atraksi melempar tomat seperti pertama kali mereka datang, bernyanyi random, memeluk dan mencium sang istri hingga mendadak jadi seorang penari. Bahkan ia mengajak istrinya untuk berdansa sembari menunggu sup nya matang.
Begitu juga dengan Valerie, kini ia lebih terlihat santai dan jauh lebih bahagia dari sebelumnya.
Bersenang-senang telah dilakukan, mengisi perut juga sudah. Mereka pun kini berakhir diatas ranjang, dan sebelum mereka tidur. Gerald menyempatkan diri untuk membaca buku, Valerie masuk ke dalam dekapan suaminya dan ikut membaca buku bersama.
Saat jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, Gerald menutup buku itu dan bersiap untuk tidur.
Gerald membaringkan tubuhnya disamping Valerie, dan menatap istrinya penuh cinta.
"Berhenti menatapku," ucap Valerie yang merasa malu terus ditatap oleh suaminya.
"Kenapa malu? Ini bukan hal pertama yang kita lakukan." Gerald merapatkan tubuhnya pada Valerie.
Gerald memang benar, ini bukanlah kali pertama dia memandang Valerie. Tapi entah kenapa kali ini perasaan Valerie terasa begitu berbeda saat gerald menatap dan menyentuhnya, kini jantungnya lebih sering terasa berdegup kencang saat berada disamping Gerald.
Mungkinkah dirinya telah jatuh cinta pada pria yang ada di hadapannya? Dan apa mungkin juga perkataan Valerie tempo hari yang menyatakan cintanya pada Gerald benar-benar nyata? Dan bukan hanya sekedar menghibur suaminya saja ... lalu, bagaimana dengan rencananya yang ingin bercerai dengan Gerald? Akankah ia melakukannya atau mengubur niat itu dalam-dalam? Entahlah, hanya Valerie yang tahu jawabannya, tapi yang pasti sekarang
ia tidak akan merusak bulan madunya yang indah ini.
"Baby," lirih Gerald.
"Hem," jawab Valerie malu.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Valerie mengerutkan dahinya, tumben sekali dia meminta ijin biasanya dia selalu melakukan apapun tanpa bertanya lebih dulu.
"Apa?"
Gerald mengelus kepala istrinya. "Dokter Reza bilang, kau menunda untuk melakukan operasi … kenapa?"
Valerie bergeming.
"Kau takut?" lanjut Gerald.
Valerie menganggukkan kepalanya pelan, dan membuang pandangannya dari Gerald.
"Jangan takut, Baby ... aku akan menemanimu saat operasi nanti," Gerald menatap istrinya sendu.
Valerie menarik napasnya panjang. Ia membalikan tubuhnya dan menatap langit-langit pondok yang terbuat dari bahan kayu.
"Aku takut bukan karena peralatan rumah sakit, tapi aku takut mengecewakanmu," jawab Valerie lirih.
Gerald meraih bahu Valerie dan membalikan tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya. "Mengecewakanku?"
Valerie mengangguk, manik matanya mulai berkaca-kaca. "Dokter reza bilang meskipun, aku sudah operasi tapi kemungkinan aku bisa hamil sangat kecil. Bagaimana jika aku tidak bisa memberimu keturunan?" ujar Valerie terisak.
Melihat istrinya menangis, Gerald langsung mendekapnya. " Baby, aku menyuruhmu operasi bukan untuk memintamu hamil ... Aku ingin kau sehat, lagi pula kita menikah untuk mencari kebahagiaan dan hidup bersama kalau masalah anak, kita serahkan saja pada Tuhan. Aku tidak akan menuntut apapun padamu, aku mencintaimu apa adanya meskipun kau tidak bisa memberiku anak. Cintaku tak akan pernah berubah sampai kapanpun," tutur Gerald tulus.
"Tapi, Shǎguā ... aku sebagai seorang istri merasa tidak berguna untuk suami sepertimu. A–," ucapan Valerie terhenti karena Gerald membungkamnya dengan ciuman.
Gerald melepaskan ciuman singkat itu. "Jangan pernah bicara seperti itu lagi, kau sangat berarti bagiku. Bahkan kau lebih berharga dari apapun," sela Gerald memotong ucapan Valerie.
Mendengar penuturan Gerald yang menyentuh hatinya, Valerie tak kuasa membendung air matanya. Ia memeluk suaminya dan menangis dalam dekapan Gerald.
.
.
.
Bersambung.