
"Apa! bagaimana bisa dia tidak bersalah pak!" pekik Helena, yang tidak terima dengan keputusan polisi yang mengatakan jika Valerie tidak terbukti bersalah.
Valerie yang sedang duduk hanya tersenyum tipis, pada Helena.
"Terima saja, kekalahan mu Helena. Bukti-bukti yang kau berikan itu kurang kuat untuk menjadikanku tersangka," cibir Valerie pada selingkuhan suaminya.
"Diam kau wanita menyebalkan!" dengus Helen pada Valerie yang terlihat sangat santai. Berbeda dengan dirinya wajahnya terlihat begitu panik.
"CK," decak Valerie, mengerlingkan matanya.
"Pak, bapak pasti salah. Coba cek CCTV-nya dengan baik, jelas-jelas wanita ini yang sudah membakar apartemen saya dan sudah melukai wajah saya pak," desak Helen pada petugas polisi.
"Maaf, Nona Helen ... saya sudah mengecek cctv itu berulang kali. Tapi, saya tidak melihat keberadaan Nona Valerie di apartemen anda. Tentang kebakaran itu, mungkin karena kelalaian anda sendiri yang lupa mematikan kompor," kata pak polisi menjelaskan.
"Apa! nggak mungkin pak!” sangkal Helena, sudah jelas-jelas yang melakukan itu adalah istri dari kekasihnya. Lalu, kenapa bisa polisi itu menyalahkan jika dirinya yang lalai.
"Apanya yang enggak mungkin? Buktinya sudah jelas jika tidak ada aku di cctv itu," timpal Valerie menatap remeh ke arah Helena.
"Kau! pasti kau sudah menyuruh seseorang untuk mengeditnya kan!" sergah Helen, sembari mengacungkan telunjuknya pada Valerie.
"Pokonya, aku tidak mau tau. Kau harus masuk ke dalam penjara Valerie!" sambung Helen, yang tetap ingin jika Valerie bertanggung jawab atas perbuatannya.
Valerie bangkit dari duduknya, dan menghampiri Helen yang sedang berdiri dengan wajah penuh emosi.
"Aku? masuk penjara! jangan mimpi kamu Helen, justru di sini kau yang akan di penjara. Karena sudah menuduhku tanpa bukti dan kau–," ucap Valerie, dengan penekanan.
Helen yang melihat sorot mata Valerie begitu tajam, Membuat nyalinya menciut ia pun mundur beberapa langkah ke belakang.
"Aku juga sudah melaporkanmu, tentang perselingkuhanmu dengan suamiku ... dan aku juga sudah mengirim bukti-bukti itu. Jadi kau tunggu saja waktunya!" ungkap Valerie, sembari membenarkan rambut Helena.
"Kau!" Helen mengangkat tangannya yang akan menampar Valerie tapi, tangan itu menggantung di udara karena Valerie menahannya.
"Sepertinya, kau sudah tidak sabar untuk merasakan manisnya penjara Helen!" seloroh Valerie, sambil menyeringai membuat wanita yang tadi berapi-api karena amarah menjadi tertunduk.
"Kau wanita jahat, Valerie!" seloroh Helen.
Mendengar ucapan Helena, Valerie tertawa sampai terpingkal-pingkal. "Apa aku tidak salah dengar? ha ha ha... aku wanita jahat, Memangnya apa yang sudah aku lakukan padamu? sampai kau bisa menyimpulkan jika aku jahat?"
Valerie merapikan baju Helena yang sedikit kusut. "Dengarkan aku Sayang! Bukan aku yang jahat Tapi, kau! kau yang sudah menggoda suamiku! kau yang sudah menghancurkan pernikahanku! aku hanya sedikit membalas perbuatanmu dan kau mengatakan aku jahat ... heuh kau sangat lucu Helen," dengus Valerie tersenyum kecut.
Kalah telak, dari Valerie. Helen menarik nafasnya dalam ia tak bisa lagi menimpali ucapan yang di lontarkan oleh istri dari kekasihnya itu. Dengan tangan yang mengepal ia hanya melihat Valerie pergi meninggalkan dirinya, jika saja saat ini dirinya tidak berada di kantor polisi mungkin dia sudah mencabik-cabik Valerie dengan tangannya sendiri.
Valerie merasa lega karena apa yang di takutkan oleh dirinya tidak terjadi. Ia jadi teringat jika saja malam itu dirinya tidak kembali ke apartemen bersama ahli IT mungkin, cctv itu sekarang sudah membuatnya berada di balik jeruji besi.
Berkat bantuan dari ahli IT yang sudah merekayasa rekaman cctv itu, kini Valerie bisa bernafas dengan lega.
"Mbak, mbak nggak apa-apa kan?" tanya Nadia, tampak khawatir.
"Aku, baik-baik aja. Seperti yang kau lihat," ujar Valerie, tersenyum dengan semringah.
"Syukurlah kalau begitu, aku takut kalau mbak sampai di penjara."
"Tenang aja, wanita itu nggak bisa jeblosin aku ke penjara. Bukti yang dia kasih kurang kuat."
"Kok bisa mbak?"
"Nanti aku, jelasin. Sekarang ayo kita pulang," ajak Valerie pada asistennya.
"Eh, mbak tunggu. Ganti dulu bajunya ribet." Nadia mengasongkan baju ganti pada atasannya.
Setelah Valerie berganti baju, ia mengambil helm yang diberikan oleh asistennya sembari sedikit bercerita mengenai ahli IT tersebut. Tapi, sebelum mereka pergi sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan mereka.
Valerie mengerutkan keningnya penuh tanya, siapa pemilik dari mobil tersebut? Tapi, seketika rasa penasaran itu hilang dan wajahnya berubah menjadi masam saat tau jika pemilik mobil itu adalah pria yang selalu mengganggunya.
"Nona, kenapa anda di luar? Apa semuanya sudah selesai?" tanya Gerald pada Valerie.
"Sudah Tuan, bahkan Mbak Valerie di nyatakan tidak bersalah oleh polisi," sahut Nadia dengan ceria.
Gerald dan Rendi melirik ke arah gadis yang tiba-tiba menyahut itu, membuat Nadia tertunduk.
"Loh bagaimana bisa?" ucap Gerald heran.
"Tentu saja, bisa. Karena mbak Valerie di bantu sama ahli I-," ucapan Nadia terhenti karena Valerie membekap mulutnya.
"Maaf Tuan, saya sibuk. Dan ini ... saya berikan gaun ini untuk calon istri anda dengan percuma, jadi saya mohon jangan muncul di hadapan saya lagi! Permisi!" ujar Valerie, yang menyeret asistennya menuju motor.
Mendapat tatapan maut dari sang bos, Rendi menelan ludahnya dengan susah payah.
"A-aku akan menyelidikinya," ucap Rendi terbata, wajahnya langsung berubah menjadi gugup.
🌼🌼🌼🌼
Kediaman Maheswari.
Seorang pria tua dengan kumis tebal menghiasi wajahnya, tampak murka saat mendengar putrinya berada di dalam penjara.
"Siapa yang berani memenjarakan putriku?" bentak tuan Maheswari pada ajudan.
"Saya dengar, Nona Helen terlibat percekcokan dengan salah seorang wanita yang mengaku istri dari pacar Nona Helen, Tuan," jelas sang ajudan yang tak berani menatap wajah tuan Maheswari.
"Memalukan!" dengus tuan Maheswari, wajahnya kini memerah karena menahan emosi pada putrinya yang telah mencoreng nama baik karena memiliki hubungan dengan pria yang berstatus suami orang.
"Saya juga dengar, jika wanita itu telah membakar apartemen milik Nona Helen. Tapi, polisi membebaskannya karena tidak ada bukti yang menunjukkan jika wanita itu yang membakar apartemen Nona Helen," sambung ajudan kembali menjelaskan.
"Siapkan mobil! kita ke sana sekarang!" titah tuan Maheswari pada sang ajudan.
Ajudan pun langsung mengangguk, dan bergegas menyiapkan mobil. Tuan Maheswari dan sang ajudan langsung pergi ke kantor polisi untuk melihat putrinya.
Sesampainya mereka di kantor polisi, ia melihat jika putrinya sedang di angkat oleh salah seorang petugas menuju klinik.
"Helen," lirih tuan Maheswari, ia langsung bertanya pada petugas lain mengenai putrinya.
"Pak, apa yang terjadi pada putri saya?"
"Tuan Maheswari! sedang apa anda di sini?" polisi itu malah berbalik bertanya.
"Apa anda tidak dengar? baru saja saya menanyakan keadaan putri saya kenapa," ketus tuan Maheswari kesal.
"Maafkan saya, Tuan. Saya sedikit kurang fokus," ujar polisi tersebut sembari terkekeh tapi, wajahnya langsung berubah ketika melihat wajah tuan Maheswari yang mulai kesal.
"Mari tuan, ikuti saya. Tadi putri anda pingsan dan akan segera di tangani oleh dokter," jawab petugas tersebut.
"Pingsan!" sentak, tuan Maheswari yang terkejut jika putrinya jatuh pingsan.
Kedua pria yang di ikuti oleh ajudan itu berjalan menuju klinik. Dengan wajah di penuhi rasa khawatir pria berusia enam puluh tahunan itu terus mondar-mandir di depan pintu klinik tempat Helen mendapat perawatan.
KLEK...
Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut, dan memanggil keluarga dari Helen.
"Keluarga nyonya Helen."
"Saya ayahnya dokter," sahut tuan Maheswari menghampiri dokter tersebut.
"Selamat, ya pak. Sebentar lagi Anda akan punya cucu," ucap dokter memberikan selamat.
"Cucu? Maksud anda dokter?" tuan Maheswari mengerutkan dahinya, tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh dokter.
"Nyonya Helen pingsan bukan karena sebuah penyakit. Melainkan beliau sedang mengandung, terlalu lelah dan banyak pikiran jadi penyebab nyonya Helen pingsan," ungkap dokter, menjelaskan pada tuan Maheswari.
"Oh, boleh saya bertemu dengan putri saya dok?"
"Silahkan tuan, kebetulan nyonya Helen sudah sadar. Saya permisi dulu," pamit dokter tersebut, yang pergi meninggalkan tuan Maheswari dan sang ajudan.
Tuan Maheswari masuk kedalam ruangan, dimana putrinya sedang terduduk sembari menangis dan tangan menyentuh perutnya.
"Dasar memalukan!" pekik tuan Maheswari.
Plak...
.
.
.
Bersambung..
Jangan lupa tinggalkan jejak😘