
Satu Minggu berada di Swiss, Gerald dan Valerie sudah banyak mengunjungi destinasi wisata yang ada disana. Tak hanya berwisata saja mereka juga banyak mengabadikan momen kebersamaan mereka dengan berswafoto.
Seharusnya mereka kembali ke Edelweiss lusa, tapi karena ada pekerjaan yang tidak bisa dihandle oleh Rendi, terpaksa mereka harus membatalkan rencananya untuk tinggal lebih lama lagi di negara yang mirip dengan negeri dongeng tersebut.
Hari ini adalah hari terakhir di Swiss, dan sebelum mereka kembali pulang. Keduanya menyempatkan mampir ke tempat wisata Air Terjun Staubbach.
Sebuah destinasi wisata, yang tak kalah indahnya dari tempat-tempat wisata yang pernah mereka datangi.
Di lembah jatuhnya air terjun, juga terdapat banyak rumah warga yang membuat pemandangan semakin indah, bahkan saking indahnya membuat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Entah kalimat apalagi yang harus diucapkan untuk memuji keindahan negara tersebut. Valerie hanya bisa berkata woah dan terus terkagum-kagum dengan pemandangan negara tersebut.
"Sayang sekali, ya. Kita harus kembali besok," keluh Valerie yang sedang menikmati hamparan rumput hijau yang terbentang luas di hadapannya.
"Maafkan aku, jika aku ada waktu luang kita bisa kesini lagi," ujar Gerald.
"Benarkah?" Valerie menggemgam tangan suaminya dengan manik mata yang berbinar.
Gerald menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Karena tidak tahan dengan keindahan lembah yang hijau, Valerie menarik tangan Gerald ke tengah-tengah Padang rumput dan mengajaknya untuk berlarian seperti anak kecil yang sedang bermain dengan temannya.
Gerald dan Valerie saling mengejar satu sama lain, persis seperti adegan yang ada dalam film Bollywood bedanya mereka berlari tapi tidak sambil menyanyi. Sebuah tawa yang terdengar dari keduanya begitu lepas dan tanpa ada beban. Mereka seolah telah lupa dengan semua masalah-masalah yang pernah menghampiri hidup keduanya.
Lelah berlarian, Valerie dan Gerald membaringkan tubuhnya di atas rumput dan sama-sama menatap langit yang cerah.
Melihat awan berterbangan di langit, Valerie menantang Gerald untuk beradu imajinasi. Seakan tak mau kalah, Gerald pun menerima tantangan istrinya.
Valerie menunjuk pada salah satu awan, dan melontarkan pertanyaan pada Gerald. "Shǎguā, coba tebak awan itu mirip apa?"
"Mirip kepulan asap berwarna putih," celoteh Gerald.
"His, bukanlah itu mirip kelinci," timpal Valerie yang melihat awan tersebut seperti hewan penyuka wortel.
"Mananya yang mirip kelinci? Jelas-jelas itu seperti asap."
"Shǎguā, sepertinya aku tidak sia-sia memberikan julukan ini padamu," ucap Valerie sebal.
"Julukan apa?" tanya Gerald penasaran.
Valerie memutar manik matanya kesembarang arah. "Lupakan saja, kita akhiri permainan ini … imajinasi mu jelek sekali," cibir Valerie malas untuk melanjutkan permainan.
Melihat istrinya mulai merajuk, Gerald membujuk Valerie untuk mengulangi permainan satu kali lagi. "Baiklah-baiklah, ayo ulang lagi aku yakin kali ini aku bisa menebak."
"Baiklah, kalau kau kalah kau harus menggendongku sampai ke pondok." Valerie melayangkan taruhan.
Gerald menyunggingkan bibirnya ke bawah. "Oke, tapi kalau aku menang … kau harus menuruti semua perintahku."
"Bukannya setiap hari aku selalu menuruti perintahmu," gumamnya pelan. Kini ia mulai mencari awan lagi yang berbentuk unik dan lagi Gerald tak bisa menjawab.
"Kau sudah kalah 5-0 dariku, baiklah ini kesempatan terakhir mu … lihat di sana apa bentuk awan itu?"
"Baby, aku heran padamu sejak tadi kau mengatakan bentuk hewan, bunga dan manusia … tapi kenapa aku hanya melihat awan itu seperti gumpalan bulu domba saja," protes Gerald yang tak dapat melihat apapun selain gumpalan awan putih berbentuk abstrak.
Valerie memiringkan senyumnya. "Sudah aku bilang kau ini benar-benar Shǎguā, imajinasimu tidak bergerak sama sekali … lihat, perhatikan salah satu awan yang aku tunjuk … pikirkan secara benar apa yang ada dalam imajinasimu," ujar Valerie memberitahu cara-cara agar Gerald dapat melihat apa yang dilihat olehnya.
Gerald melipat kedua tangannya di dada, dan mulai menggerakan imajinasi liarnya. "Imajinasiku mengatakan jika awan itu seperti dirimu yang sedang tidak memakai pakaian," cetus Gerald dengan wajah datar.
Valerie langsung menoleh pada Gerald dan mencubit lengannya. "Shǎguā," dengusnya kesal.
"Oh iya, Baby. Aku penasaran, apa arti sebenarnya dari sebutan Shǎguā?" tanya Gerald yang merasa ada hal aneh dengan sebutan sayang yang diberikan oleh Valerie padanya.
Valerie terlihat gugup dan memalingkan wajahnya dari Gerald. "Aku sudah mengatakan, jika itu adalah panggilan sayangku padamu," dalih Valerie tak mau berterus terang.
"Ya, aku tahu tapi artinya apa?"
"Kau tanya saja pada sekertaris Rendi, dia pasti tahu." Valerie mengubah posisinya menjadi duduk.
"Apa hubungannya dengan Rendi?"
"Tidak ada, tapi tanyakan saja pada dia … ayo membungkuk kau harus menggendongku sampai penginapan," titah Valerie yang sudah siap untuk menaiki punggung lebar milik Gerald.
Gerald menghela napasnya, dan membungkuk di depan Valerie. Melihat Gerald menuruti perintahnya Valerie mengulum senyumnya dan mulai naik ke punggung sang suami.
"Baby, kenapa kau ringan sekali?" ucap Gerald yang seperti sedang menggendong bantal di punggungnya.
"Benarkah, tapi aku merasa aku mulai gemuk."
"Apanya yang gemuk, kau malah terlihat kurus … mulai hari ini kau harus makan yang banyak."
"Aku tidak mau, nanti aku gemuk dan terlihat jelek."
"Gemuk atau kurus itu sama saja, kau akan selalu terlihat cantik dimataku."
"Dasar gombal," Valerie menepuk bahu Gerald sambil tersipu malu.
Sepanjang perjalanan menuju penginapan, Gerald tak hentinya terus menggoda Valerie yang ada di atas punggungnya. Dia berlari, berputar dan berpura-pura ingin menjatuhkan Valerie, sampai istrinya terdengar berteriak karena kaget dan kemudian mereka tertawa bersama.
Saat di tengah perjalanan, Gerald menurunkan Valerie di depan sebuah restoran. Semenjak mereka datang ke Swiss, keduanya belum pernah makan diluar karena mereka selalu memasak di rumah.
Dan sebagai penutup bulan madunya, Gerald telah menyiapkan makan malam romantis di sebuah restoran. Diiringi alunan musik dari seorang pianis, yang cukup terkenal di negaranya. Gerald membawa Valerie ke salah satu meja yang sudah dihias khusus untuk mereka berdua.
Gerald menarik kursi untuk Valerie, kemudian ia memberikan seikat bunga Krisan putih dan juga kalung berlian yang sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari.
Manik mata Valerie berkaca-kaca, ia begitu terharu dengan tindakan Gerald malam ini. Ia bangkit dari duduknya dan memeluk sang suami.
"Terimakasih, kau sudah menyiapkan semua ini untukku," ucap Valerie terharu.
"Selama itu membuatmu bahagia, aku akan melakukan apapun untuk mu," jawab Gerald. Ia menempelkan keningnya dengan Valerie.
Di bawah lampu yang hanya menyorot pada mereka berdua, dan dengan alunan musik piano yang syahdu keduanya pun berdansa seperti seorang pangeran dan putri dari negeri dongeng.
🌸🌸🌸🌸
Masa liburan telah berakhir, hari-hari selama mereka di Swiss begitu berkesan bagi keduanya. Kini mereka pun bersiap untuk kembali ke negara Edelweis, dan menjalankan rutinitas sehari-hari.
"Selamat datang kembali di rumah, Tuan dan Nyonya," sapa Rendi menyambut kepulangan kedua bosnya.
Gerald yang terlihat lebih cerah dari sebelumnya, hanya menganggukkan kepalanya dan meraih pinggang istrinya untuk masuk dan beristirahat.
Ketika Gerald dan Valerie, hendak melangkah ke dalam rumah. Seorang pria tiba-tiba saja, menghambur ke pelukan Gerald dengan wajah sumringahnya.
.
.
Bersambung.