My Dandelion'S

My Dandelion'S
menua bersamamu



"Shǎguā … buka pintunya, kamu harus makan." Valerie mengetuk pintu ruang kerja suaminya berkali-kali. 


Karena Gerald tak kunjung menyahut, Valerie semakin khawatir jika terjadi sesuatu pada suaminya. 


"Shǎguā!" Valerie kembali mengetuk pintu pintu. 


"Nyonya," sapa Rendi. 


"Sekretaris Rendi, syukurlah kau datang cepat dobrak pintunya. Tuan Gerald sejak tadi tidak menyahuti panggilanku, aku takut terjadi sesuatu padanya," ucap Valerie panik. 


"Nyonya tenanglah, biar saya dobrak pintunya." Rendi mulai mengambil ancang-ancang, dan dalam satu kali tendangan pintu ruang kerja itu akhirnya terbuka.


Valerie dan Rendi menghambur ke dalam ruang kerja tersebut, dan mereka terkejut saat mendapati Gerald sudah tak sadarkan diri. Rendi mengecek nadi Gerald, dan beruntungnya Gerald hanya pingsan.


Tanpa menunggu perintah, Rendi langsung menelpon dokter Reza untuk memeriksa keadaan Gerald. 


a few moments later.


Dokter Reza telah selesai memeriksa keadaan Gerald, dia juga telah meresepkan beberapa obat dan vitamin pada Rendi. Karena banyak urusan lain di rumah sakit, beliau pun berpamitan pada Valerie dan Rendi. 


"Nyonya, saya pamit antar dokter Reza ke depan," ucap Rendi.


Valerie menganggukan kepalanya. "Terimakasih, dokter." 


Dokter Reza tersenyum dan menganggukan kepalanya sopan. 


"Istrinya, Tuan Gerald cantik juga ya." Dokter Reza terkekeh.


"Apa kau tidak dengar, Minggu lalu dia sudah menembak 2 orang. Haruskah aku memasukan namamu ke dalam daftar hitam juga," sindir Rendi. 


Dokter Reza memukul bahu Rendi. "Hais, kau ini tidak bisa diajak bercanda."


Rendi tak menggubris dokter tersebut. 


"Eh, jika Tuan mu sudah kembali pulih suruh dia menemuiku. Ada hal penting yang harus dibicarakan mengenai istrinya," tutur dokter Reza.


"Katakan saja padaku, nanti aku akan menyampaikannya." 


Dokter Reza menyipitkan kedua matanya. "Aku meminta suami nyonya Valerie, bukan kacung sepertimu," cibir dokter Reza. 


Rendi menatap dokter Reza tajam.


"Hehehe, aku hanya bercanda. Sudahlah aku pulang dulu, jaga dirimu baik-baik. Sampaikan salamku pada pacarmu," ujar dokter Reza sembari masuk kedalam mobilnya. 


temporary It's in the room.


Valerie sedang menyeka wajah suaminya, yang terus mengeluarkan keringat.


"Shǎguā, apa yang sebenarnya terjadi? Tidak bisakah kau berbagi cerita denganku?" kata Valerie yang kini duduk samping suaminya. 


"Kau tahu, selama satu minggu rumah ini terasa sepi. Tidak ada yang menggodaku, tidak ada yang membuatku marah dan tidak ada yang mengomeliku," tutur Valerie yang merasa kehilangan sosok suaminya. 


Ia mengusap wajah Gerald, berharap suaminya akan segera sadar. Saat ia beranjak untuk mengganti air kompres, Gerald meraih tangan Valerie. 


Valerie menoleh, sebuah senyum bahagia pun tercipta dari sudut bibir Valerie. Ia menyimpan baskom berisi air itu ke atas nakas dan memeluk suaminya. 


"Shǎguā, aku senang akhirnya kau sudah sadar," ujar Valerie. 


"Maafkan aku, sudah membuatmu khawatir," lirih Gerald dengan suara paraunya. 


Valerie melepaskan pelukan dan mengusap air matanya. 


"Jangan menangis, aku tidak suka melihat air mata kesedihan berada di wajahmu," meskipun lemas ia mencoba mengusap air mata istrinya. 


Valerie menahan tangan Gerald, dan menggenggamnya. "Berjanjilah padaku, jangan lakukan hal bodoh itu lagi. Kau punya aku, Kau bisa menceritakannya padaku. Dan aku siap untuk mendengarkan semua keluh kesahmu." 


Gerald tersenyum. "Maafkan aku." 


"Berhenti minta maaf, sekarang kau harus makan. Setelah itu kau harus memberitahu apa yang telah terjadi." Valerie membantu suaminya untuk bersandar dan memberikan segelas air putih pada Gerald. 


"Makanannya tidak enak, pahit," keluh Gerald. 


"Bukan makanannya yang pahit, tapi lidahmu … paksakan saja agar kamu cepat sembuh lagi." Valerie menyodorkan satu sendok nasi di depan mulut suaminya.


"Aku tidak mau." Gerald memalingkan wajahnya.


"Shǎguā, kau harus makan. Bukankah kau berjanji akan membawaku ke Swiss." 


"Tapi itu pahit." 


Valerie menarik napasnya dalam. Ia mulai berpikir bagaimana caranya agar Gerald mau menghabiskan makanan ini tanpa terasa pahit. 


"Begini saja, bagaimana kalau setiap satu suapan aku akan memberikan satu ciuman," usul Valerie.


Gerald mulai berpikir. "Setuju," jawabnya tiba-tiba bersemangat. 


Valerie kembali tersenyum, dan sesuai janjinya. Setiap Valerie menyuapi Gerald, ia akan mencium pipi suaminya satu kali. Kegiatan itu terus berulang sampai akhirnya Gerald menghabiskan makan siangnya tanpa merasakan pahit sama sekali. 


Piring telah kosong, begitu juga dengan gelas. Valerie beranjak dari duduknya untuk menyimpan piring dan juga gelas ke dapur.


"Mau kemana?" 


"Menyimpan piring ke dapur." 


"Letakan saja disitu, kemarilah aku ingin memelukmu," titah Gerald yang sudah satu Minggu tidak menyentuh istrinya, karena mengasingkan diri di ruang kerja.


Tanpa protes, Valerie mengikuti titahnya dan mulai naik ke atas ranjang. Gerald memeluk istrinya erat, ia menyelusupkan kepalanya di dada sang istri sebagai ganti pelepas rindu terhadap mendiang ibunya. 


"Shǎguā, kau menangis?" tanya Valerie yang mendengar suaminya sesenggukan.


Gerald menggelengkan kepalanya. 


"Shǎguā, jangan memendam luka sendirian … kau harus berbagi suka dan duka bersamaku. Aku memang tidak banyak mengerti dengan permasalahan mu, tapi dengan kau bercerita mungkin akan mengurangi sedikit beban yang ada di hati," tutur Valerie sembari mengusap kepala suaminya.


Gerald mengangkat kepalanya, wajahnya terlihat basah karena air mata. Ia menatap sendu wajah sang istri, yang dulu ia nikahi dengan secara paksa. 


"Baby, apa kau bahagia menikah denganku?" tanya Gerald tiba-tiba. 


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Valerie mengerutkan dahinya heran.


"Kamu bilang, kamu tidak mencintaiku. Kenapa kau tidak lari dariku?" 


Valerie menghela napasnya dalam. "Mana mungkin aku bisa lari, bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau akan selalu menemukanku meskipun aku pergi ke mars sekalipun." 


Gerald menyunggingkan sedikit bibirnya. "Jika aku tidak mengatakan itu, apa kau akan pergi dariku juga?" 


Valerie menatap suaminya dalam ia tidak mengerti, kenapa suaminya terus mengatakan hal seperti itu. Biasanya Gerald selalu percaya diri jika Valerie tidak akan pernah meninggalkannya. 


"Kenapa kau diam? Jika aku tidak memaksa dan tidak mengancammu apa kau akan pergi meninggalkanku seperti kedua orang tuaku?" lanjut Gerald menunggu jawaban. 


Valerie meraih tangan Gerald. "Shǎguā, apa kau tidak ingat kau pernah mengatakan padaku. Jika aku adalah milikmu, dan akan selalu menjadi milikmu … kenapa sekarang kau menanyakan hal seperti itu?" 


"Aku hanya takut kehilanganmu, Baby." lirih Gerald tersedu.


"Shǎguā, dengarkan aku … aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Meskipun, kau mengancamku atau tidak, aku akan selalu berada disampingmu selamanya." 


"Tapi kau tidak mencintaiku lalu, apa gunanya kau berada di sisiku?" 


Valerie mengembangkan senyumnya. "Dulu aku pernah mengatakannya dan kau menjawab tidak peduli. Dan apakah selama ini dengan aku bertahan disisimu memberikan semuanya padamu masih belum cukup untuk menggambarkan jika aku sudah mulai mencintaimu," ungkap Valerie pada Gerald. 


"Shǎguā, aku pernah mengalami kegagalan sebelumnya dan aku tidak ingin merasakan kegagalan itu untuk kedua kalinya. Jadi bisakah kau tidak mengungkit hal ini lagi? Aku sudah meyakinkan hatiku jika aku ingin hidup bahagia dan menua bersamamu," sambung Valerie yang mengungkapkan semua isi hatinya pada Gerald. 


.


.


Bersambung.