My Dandelion'S

My Dandelion'S
Gerald gusar



Gerald menarik tengkuk leher Valerie kedekatnya, menyibakan rambut dan melihat ke leher jenjangnya dimana terdapat noda merah kecil disana. "Kau tahu, stempel merah ini adalah tanda bahwa sekarang kau sudah resmi menjadi milikku," bisik Gerald sembari menunjuk leher Valerie yang merah. 


Valerie terhenyak dan hendak menjauh tapi, Gerald terus menahannya. Pria itu kembali mendekatkan wajahnya dan menatap bibir ranum Valerie dengan tatapan ingin dan di detik berikutnya keduanya terperanjat karena suara Rendi yang tiba-tiba datang.


"Tuan!" teriak Rendi, dengan napas tersenggal dia menghampiri bosnya.


Valerie merapikan rambut juga jas yang diberikan oleh Gerald padanya. Melihat keduanya seperti maling yang tertangkap basah, Rendi jadi canggung karena telah mengganggu momen bosnya bersama Valerie.


"M-maaf, Tuan." ucap Rendi, setelah mendapat tatapan tajam Gerald.


"Ada apa?" tanyanya dengan wajah kesal.


Rendi melihat ke arah Valerie yang sedang menatapnya kepo, Gerald menoleh dan menjauh dari Valerie beberapa langkah.


"Cepat katakan." 


"Tuan, bagaimana dengan rencana kita?" 


"Lanjutkan saja, aku akan memantau dari jauh … bekerjalah dengan rapi jangan sampai ketahuan." 


"Baik, Tuan." 


"Kenapa kau masih disini?" tanyanya saat melihat Rendi masih mematung di sampingnya. 


"Tuan, sepertinya kemajuan anda begitu pesat," kekeh Rendi menggoda bosnya.


"Cepat pergi, atau aku potong gajimu."


"Iya, iya … sedikit-sedikit potong gaji. Padahal aku hanya bercanda," omel Rendi sambil meninggalkan Gerald dan juga Valerie. 


Gerald kembali menghampiri Valerie, dan mengajaknya untuk kembali ke hotel karena angin berhembus cukup kencang. 


"Ayo kembali ke hotel. Anginnya kencang aku tidak mau kalau kau sakit."


"Anda pergi saja lebih dulu, aku masih ingin disini," jawab Valerie yang tak mengalihkan pandangannya dari bulan yang tampak indah. 


"Baiklah, aku akan menemanimu disini." Gerald kembali duduk di sebuah bangku yang ada di tepi pantai. Ia ikut menatap bulan yang menurutnya biasa saja, dia heran kenapa Valerie bisa menatapnya kagum sambil tersenyum. Padahal Gerald hanya melihat bulatan kecil yang bercahaya tidak ada yang istimewa sama sekali dari bulan tersebut. 


"Apa yang istimewa dari bulan itu? Lebih baik kau menikmati pemandangan wajahku yang tampan dari pada bulan," seru Gerald.


Valerie tersenyum kecut. "Iya, manusia si paling tampan," cibirnya sambil mendelik.


"Oh, ya dari mana kau tahu jika hari ini mantan suamimu menikah? Kau kan tidak di undang." 


"Aku melihat undangan yang tergeletak di atas meja kamar anda." 


Gerald menganggukan kepalanya pelan. 


"Tuan, kapan kita akan kembali edelweiss?" 


"Setelah urusanku selesai." 


"Kapan?" 


"Entahlah, aku harus mencari seseorang yang telah membocorkan data perusahaanku." Gerald membaringkan tubuhnya dan menjadikan tangannya sebagai bantal.


"Apakah itu lama?" 


"Tergantung kinerja anak buahku, memangnya kenapa?" ia memejamkan kedua matanya.


"Aku harus mengerjakan, pesanan milik clienku. Dan aku cuman punya waktu satu bulan, jadi aku harus segera pulang." 


"Kenapa kau tidak mengerjakannya disini saja," jawab Gerald santai.


Valerie menghampiri Gerald. "Mana bisa, disini tidak ada perlengkapan yang aku butuhkan … dan aku juga butuh asisten, aku heran kenapa Nadia dan Anna tidak menyusulku? Aku jadi semakin khawatir," ujar Valerie yang kembali teringat pada kedua asistennya.


"Apa yang kau butuhkan? Apa perlu aku membuatkan mu butik disini?" kata Gerald enteng. 


"Tidak usah, aku hanya ingin pulang." Valerie duduk di samping Gerald.


"Aku akan membawamu pulang, setelah urusanku selesai. Mengenai pekerjaan aku akan menyuruh Rendi untuk menyiapkan segalanya, dan soal asistenmu kau jangan khawatir mereka sedang berlibur ke Korea." 


"Apa! Berlibur ke Korea?" pekik Valerie membuat Gerald terkejut.


"Kau yang menyuruhnya? Astaga seharusnya aku sudah tahu dari awal, jika kau sengaja mengikutiku. Apa jangan-jangan, dompet dan ponselku juga–." Valerie menghentikan ucapannya dan menatap Gerald curiga.


Mendapat tatapan curiga, Gerald tiba-tiba jadi gugup. Dan memalingkan wajahnya dari Valerie.


"Aku akan mencarinya di kamarmu." Ia berlari menuju hotel untuk mencari ponsel juga dompetnya di kamar Gerald. Valerie sangat yakin jika benda miliknya disembunyikan oleh Gerald. 


"Baby, tunggu!" Gerald mengejar Valerie untuk menghentikannya.


Sesampainya ia di kamar Gerald, Valerie langsung mencarinya kesetiap sudut kamar. Membuka laci-laci nakas, membuka lemari. Mengacak-acak kasur dan tak lupa juga ia mencari ke kolong kursi juga kasur. Dia sudah mencari kemana-mana tapi, ia masih tidak menemukannya. 


"Dimana dia menyembunyikannya?" Gumam Valerie, ia menyimpan sebelah tangannya di pinggang sambil berpikir.


"Astaga baby, apa yang kau lakukan dengan kamarku?" Gerald meletakkan kedua tangannya dikepala saat melihat kondisi kamarnya seperti kapal pecah.


"Dimana kau menyimpan ponsel dan dompetku?" 


"Baby, apa wajahku terlihat seperti seorang pencuri? Aku tidak mengambil ponsel dan dompet milikmu," elak Gerald.


"Bohong!" 


"Aku tidak bohong." 


"Aku tidak percaya!" 


"Ya sudah jika tidak percaya, cepat bereskan semuanya." Gerald berjalan ke arah sofa dan membuka laptopnya.


"Aku tidak mau!" Valerie melipat tangannya di dada. 


"Baby, sebagai istri yang ba–," ucapan Gerald terhenti ketika layar laptopnya mulai memutar sebuah siaran langsung dari acara pernikahan Helena dan juga Devano.


"Tuan Gerald, aku bertanya satu kali lagi dimana ponsel dan dompetku?" 


"Baby, bisakah kau keluar sebentar … aku ada urusan penting," pinta Gerald.


"Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang aku cari," jawab Valerie.


"Baby, please tinggalkan kamar ini sekarang juga. Kita bisa membahas Maslah dompetmu besok," ucap Gerald dengan wajah serius.


Valerie menatap Gerald penuh tanya.


"Baby," lirih Gerald memohon.


Meskipun, penasaran dengan perubahan ekspresi Gerald. Valerie akhirnya keluar dan meninggalkan kamar Gerald tanpa banyak bertanya, ia sangat menghargai privasi orang disekitarnya jadi dia merasa segan jika harus bertanya tentang urusan orang lain.


Selepas Valerie pergi, Gerald kembali duduk di sofa menatap layar laptop dan memasang earphone ke telinga. 


"Tuan, anda disana?" suara Rendi dibalik earphone.


"Ya, aku disini." 


"Anda yakin, ingin melihat rekaman itu?" 


"Ya, aku yakin," ucap Gerald dengan bibir bergetar.


"Baiklah, aku akan segera memutarnya dalam waktu lima menit." 


Gerald menarik napasnya panjang, menyiapkan mental untuk melihat kembali rekaman cctv yang akan membuat Gerald mengingat akan masa lalunya yang pahit. 


Rekaman telah di putar, kedua mata Gerald bergetar, jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin mengucur dari dahi Gerald, bahkan telapak tangan dan kakinya terasa begitu dingin saat melihat rekaman cctv yang di putar oleh Rendi. 


Pria itu terlihat gusar, dan beberapa kali juga ia tampak mengusap wajah dan meniup tangannya. Gerald berusaha menahan dirinya, agar traumanya tidak kambuh kembali. Karena saat ini yang sedang ia tunggu adalah reaksi dari Maheswari, jika sampai dirinya kehilangan kesadaran ia bisa kehilangan momen penting dimana Maheswari akan di seret ke penjara oleh pihak kepolisian.


"Tuan, anda masih disana? Tuan!" teriak Rendi memanggil bosnya yang tiba-tiba menghilang.


.


.


.


Bersambung.