My Dandelion'S

My Dandelion'S
pinjam kakak ipar



"Kakak ipar, akhirnya kalian pulang juga," seru Fero. Ia memeluk Gerald erat sementara pandangannya fokus pada Valerie yang sedang tersenyum saat melihat kedatangannya.


Gerald mendorong Fero agar menjauh darinya, tapi pria itu terus memeluknya meskipun sudah didorong beberapa kali. 


"Sedang apa kau disini?" tanya Gerald sinis. 


"Apa aku tidak boleh mengunjungi kakakku sendiri? Aku merindukan kalian," tutur Fero yang terlihat menyembunyikan sesuatu dari Gerald. 


Gerald melirik pada Rendi, sesaat. 


Rendi hanya menunduk dan sulit untuk menjelaskannya pada sang bos. 


Suasana tiba-tiba berubah menjadi sedikit menegang, Valerie yang sadar jika suaminya kurang menyukai Fero berusaha untuk mencairkan suasana.


"Sudah-sudah, ayo kita bicara di dalam sambil minum teh," ajak Valerie namun, dicegah oleh Gerald. 


"Tidak bisa, kami capek dan ingin beristirahat … jadi hari ini kami tidak menerima tamu," ucap Gerald datar. 


"Tuan Fero, mari ikut saya." Rendi mengajak Fero untuk pulang.


Fero mendengus kesal pada Gerald yang mengusirnya, tapi mau bagaimana lagi memang salahnya juga bertamu disaat yang tidak tepat.


"Baiklah, besok aku akan kembali untuk menemui kalian. Selamat beristirahat." Fero tersenyum lebar hingga memamerkan deretan giginya. 


"Mengganggu saja," gerutu Gerald yang melangkahkan kakinya menuju kamar, merasa lelah setelah perjalanan jauh rasanya ia sudah ingin merebahkan tubuhnya diatas ranjang. 


"Maaf, Tuan Nyonya. Saya ingin bertanya menu makan malam apa yang harus saya masak?" tanya kepala pelayan. 


"Saya tidak lapar, ingin segera tidur … Baby apa kau ingin makan sesuatu?" Gerald menoleh pada istrinya.


"Tidak, aku juga lelah … aku hanya ingin buah-buahan segar saja," jawab Valerie sambil tersenyum.


"Kalau begitu, siapkan saja potongan buah segar dan bawa ke kamar," titah Gerald.


Kepala pelayan itu mengangguk dan segera pergi ke dapur, untuk menyiapkan pesanan istri majikannya. 


Kepala pelayan itu mulai membuka kulkas, dan mengambil apel, mangga, anggur serta buah kiwi kemudian ia mengupas dan memotongnya menjadi potongan kecil sekali suap. 


"Pak Andi … lagi apa?" tanya salah satu asisten rumah tangga wanita.


"Memotong buah-buahan," jawab Andi apa adanya.


"Buat nyonya?" 


Andi menganggukan kepalanya, sambil fokus pada pisau yang sedang memotong satu persatu buah-buahan tersebut.


Melihat potongan buah-buahan segar itu, sang art jadi mengira-ngira kalau istri majikannya itu sedang mengidam. Karena penasaran ia pun bertanya pada Andi. 


"Pak, apa nyonya sedang ngidam?" tanyanya kepo.


"Saya tidak tahu, mereka baru kembali dari Swiss dan belum memberikan kabar apapun." 


"Wah semoga saja dugaan saya benar ya, pak. Biar rumah ini nggak sepi," ucap sang art penuh harap.


"Aamiin, kita doakan saja. Semoga Tuan dan Nyonya segera diberi keturunan … saya mau mengantar ini dulu ke kamar Tuan," pamit Andi yang sudah selesai memotong buah dan segera mengantarnya ke kamar Gerald. 


Andi mengetuk pintu, dan meletakan sepiring buah-buahan segar itu di meja. Lalu, pergi meninggalkan kamar mewah tersebut. 


Valerie yang sudah mengenakan pakaian tidurnya, kini duduk di depan meja dan menikmati buah yang ia pesan tadi  sembari memainkan ponselnya. 


"Baby, besok aku akan mengantarmu untuk check up," seru Gerald. Ia duduk di dekat istrinya yang sedang memakan buah dengan lahap.


Valerie mengangguk dan mengasongkan potongan kiwi ke mulut suaminya. 


"Emm, Baby. Ini asam," Gerald melepeh buah kiwi tersebut sembari bergidik keasaman. 


"Masa sih, tadi aku makan manis kok." Valerie menyuapkan potongan kiwi itu ke mulutnya. "Hmm, ini manis tidak asam sama sekali," ujar Valerie yang terlihat biasa saja saat memakan buah kiwi yang menurut Gerald asam. 


Melihat istrinya yang makan dengan lahap, Gerald merasa asam sendiri. Ia menarik piringnya dan meminta Valerie untuk berhenti makan. 


"Shǎguā, kembalikan aku belum selesai," rengek Valerie yang berusaha mengambil kembali piring tersebut.


"Jangan dimakan lagi, aku akan meminta kepala pelayan untuk mengganti buah-buahan ini dengan yang manis." 


"Tidak usah, ini sangat segar. Aku menyukainya … kembalikan." Valerie merebut piring tersebut dan melanjutkan makannya hingga potongan buah itu ludes tak bersisa. 


 


                     🌸🌸🌸🌸


Keesokan harinya. 


"Pak, lain kali kalau beli buah-buahan yang manis jangan yang asam seperti ini," tegur Gerald pada kepala pelayan. 


"Baik, Tuan," balas Andi.


Valerie hanya menoleh pada Gerald sekilas, dan kembali menyuapkan buah tersebut ke dalam mulutnya sambil menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan kekanan.


Suasana ruang makan yang awalnya tenang dan hening, mendadak menjadi ramai ketika Fero datang dan merecoki sepasang suami istri yang sedang menikmati sarapan paginya itu. 


"Good morning all," seru Fero bersemangat. "Wah kebetulan sekali, kalian sedang sarapan. Bolehkah aku bergabung dengan kalian? Baiklah terimakasih." Fero langsung duduk, padahal Gerald belum mengiyakannya.


Sementara dibelakang ada Rendi yang sedang berlari untuk mengejar Fero, yang sudah lebih dulu menghadap Gerald.


Gerald, Valerie serta pelayan yang ada di ruang makan menoleh pada Rendi yang terlihat ngos-ngosan sehabis berlari.


"Maaf, Tuan." Rendi mengatur napasnya agar kembali normal. 


"Sekretaris Rendi, ayo duduk kita sarapan bersama," ujar Valerie. Ia meminta pada kepala pelayan agar menyiapkan peralatan makan untuk Rendi. 


Rendi mendelik pada Fero yang sedang tersenyum kecut, kemudian ia duduk bersebelahan dengannya. 


"Eh, Tuan Gerald … kenapa kalian menikah tidak mengundangku?" tanya Fero sembari meraih sepotong roti tawar.


"Untuk apa mengundangmu, kau tidak penting," ketus Gerald.


Fero mendelik saat mendengar alasan Gerald. "Aku pikir, anda takut jika aku datang dan membawa kakak ipar kabur," celoteh Fero terus terang. 


Gerald tak merespon Fero, ia hanya memasang wajahnya yang datar.


"Oh, ya kakak ipar apa hari ini kau punya waktu luang?" 


Valerie menoleh pada suaminya, melihat Gerald yang seperti itu membuat Valerie segan untuk menjawab pertanyaan Fero.


"Istriku tidak punya waktu luang, dia sibuk," sahut Gerald mendelik.


"Ey, aku bertanya pada kakak ipar … bukan pada anda Tuan," sindir Fero. Ia menatap dan tersenyum pada Valerie yang kini sedang tertunduk untuk mencari aman. 


"Kakak iparmu adalah istriku, jika aku menolak dia juga pasti akan menolak," sahut Gerald lagi.


Fero mengerlingkan manik matanya, malas. "Ya, ya aku paham." 


"Apa tujuanmu kemari? Apa ada pekerjaan yang tidak bisa kau atasi?" 


Fero menggelengkan kepalanya. 


"Kalau begitu kembali lah ke kota asalmu, jangan kemari jika tidak ada keperluan," usir Gerald pada Fero. 


Fero menghela napasnya dalam. "Tuan Gerald, aku datang kemari karena ada sesuatu yang ingin aku katakan pada kakak ipar. Jadi pinjamkan dia padaku sebentar, oke." Fero Menaik turunkan kedua alisnya. 


"Tidak bisa! Istriku bukan barang yang bisa dipinjam begitu saja," tolak Gerald tegas.


"Ayolah, Tuan. Hanya satu hari, aku berjanji tidak akan macam-macam pada kakak ipar ya, please." Fero memohon pada sang pawang bidadarinya. 


Valerie menatap suaminya, sambil mengangguk. 


Melihat istrinya tidak keberatan, Gerald menghela napas dan membersihkan mulutnya dengan tisu. "Baiklah, hanya satu hari. Jika terjadi sesuatu pada istriku kau akan menanggung akibatnya." Gerald memberi peringatan pada Fero. 


Mendapat persetujuan dari sang pawang, Fero tersenyum sumringah dan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Tapi besok saja, hari ini kami akan ke rumah sakit," sambung Gerald membuat senyuman Fero memudar.


Fero membulatkan matanya kaget, saat mendengar Gerald dan Valerie akan pergi ke rumah sakit. "Siapa yang sakit? Kakak ipar, apa kau sakit? Katakan padaku mana yang sakit," cerocos Fero tanpa henti. 


"Tidak ada yang sakit, kami hanya ada keperluan saja sebentar," balas Valerie.


Fero melontarkan senyumnya, matanya terlihat berbinar saat menatap Valerie. "Oh, aku pikir kakak ipar sakit." 


Valerie tersenyum gugup, pada Fero. 


Tidak tahan dengan tingkah Fero yang berlebihan pada istrinya, Gerald buru-buru membawa istrinya pergi untuk menemui dokter Reza. Karena kepergian mereka begitu terburu-buru, Valerie sampai melupakan kotak bekalnya yang berisi potongan buah-buahan. 


.


.


.


Bersambung.