
Sepulang dari acara pernikahannya yang sederhana, Gerald membawa sang istri ke kediamannya. Kepulangan mereka disambut hangat oleh para pelayan rumah yang telah menanti kepulangan sang majikan.
Gerald mengenalkan istri barunya pada para pelayan, begitu juga sebaliknya dia mengenalkan pegawainya beserta tugas mereka masing-masing pada Valerie.
Sebelumnya Gerald memiliki dua pelayan untuk membantunya dalam hal berpakaian, karena sekarang dirinya sudah mempunyai istri. Kedua pelayan itu dipindah tugaskan ke bagian dapur.
Setelah salam perkenalan, Gerald membawa istrinya menuju kamar utama. Ia juga meminta pada koki rumah untuk menyiapkan makan malam yang spesial.
Saat memasuki kamar, Valerie mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar mewah tersebut. Ruangan megah bernuansa klasik, dengan cat dinding berwarna putih dipadukan bersama warna kuning keemasan membuat dirinya sedikit kagum dengan selera suami barunya itu yang terkesan elegan.
"Aku mau mandi, kau beristirahatlah lebih dulu," titah Gerald pada istrinya.
Valerie tak bergeming, ia hanya mematung menatap ranjang berukuran king size yang dilapisi sprei berwarna putih polos."cukup di Bali aku berbagi ranjang denganmu, kali ini aku tidak ingin tidur bersama pria gila sepertimu," rutuknya dalam hati.
Setengah jam kemudian, Gerald telah selesai membersihkan diri. Ia keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang hanya terlilit di pinggangnya, melihat kegagahan suaminya. Valerie tak terkejut sama sekali, dia terlalu sering melihat Gerald berpenampilan seperti itu ketika di Bali membuatnya terbiasa dan tak merasakan reaksi apapun.
Gerald menghampiri Valerie yang sedang duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun pengantin wanita itu terlihat murung sembari memainkan jari-jarinya.
"Bersihkan dirimu, setelah itu kita turun untuk makan malam," ucapnya lembut.
Gerald melangkahkan kakinya menuju ruang wardrobe. Ia mengambil sebuah kemeja hitam polos, serta celana kain hitam untuk digunakannya sekarang.
Selesai mengenakan pakaian, Gerald kembali ke kamarnya ia menoleh ke arah tempat tidur. Dia melihat sebuah pemandangan yang sama ketika dirinya masuk ke ruangan ganti.
Ya, istrinya masih duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Manik matanya terlihat berkaca-kaca, rasa traumanya akan pernikahan masih belum hilang tapi, kini dirinya sudah menjadi seorang istri lagi dengan pria yang berbeda.
Gerald kembali menghampiri istrinya, dia berjongkok di hadapan Valerie. Aroma wangi dari parfum mahal yang dikenakan oleh Gerald begitu menyegarkan dan menusuk kedalam hidung Valerie, membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.
Tanpa mengatakan apapun, Valerie mendelik dan memalingkan wajahnya dari Gerald.
Melihat reaksi istrinya yang terus menolak, Gerald bangkit dan menarik napasnya dalam. Ia mendekati Valerie secara paksa.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Valerie mengingsudkan tubuhnya.
"Aku hanya ingin membantu," jawab Gerald santai, tangannya mulai menurunkan resleting bagian belakang gaun yang dikenakan oleh Valerie.
Valerie menepis tangan Gerald. "Aku bisa sendiri." ia memegang gaunnya yang hampir melorot.
Gerald mundur beberapa langkah dan mengangkat kedua tangannya. "Baiklah, aku tidak akan membantu. Cepatlah mandi aku sudah lapar, jangan sampai aku memakan mu karena harus menunggu lama."
Mendengar pernyataan suaminya, Valerie langsung merinding. Ia pun bergegas menuju bathroom dan membersihkan tubuhnya yang sudah lengket oleh keringat.
"Dosa apa yang telah aku perbuat ya Tuhan? Kenapa kau menghukum ku dengan mengirimkan pria seperti Tuan Gerald kedalam kehidupanku," lirihnya dalam hati, ia menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam bathtub untuk beberapa saat.
🌸🌸🌸
Ruang makan.
Semua hidangan telah tersusun rapi di atas meja, sesuai request dari tuan besar. Makanan itu di masak dengan spesial oleh koki juga para asistennya.
Gerald terus memperhatikan istrinya yang sejak tadi hanya terdiam. "Sampai kapan kau akan mematung seperti itu?" suara Gerald memecah keheningan.
Valerie tersenyum kecut.
"Aku lapar," ucap Gerald yang memberi kode jika dirinya ingin dilayani oleh Valerie akan tetapi, Valerie tak peka ia hanya menatap remeh makanan yang ada di hadapannya.
Seorang pelayan wanita yang berdiri disamping Gerald hendak melayani tapi, Gerald mengangkat tangannya sebagai tanda dia tidak mau dilayani oleh pelayan tersebut.
"Aku lapar." Gerald mengulangi ucapannya dengan sedikit penekanan. Dan lagi Valerie tak menggubrisnya.
Kesal karena terus diacuhkan, Gerald tersenyum kecewa dia mendengus dan menggebrak meja sampai Valerie beserta pelayan yang ada di ruang makan tersentak kaget.
Valerie bangkit dari duduknya. "Kalau lapar ya makan, kenapa mesti marah-marah pelayanmu disini banyak kenapa tidak meminta mereka saja yang melayani!" timpal Valerie tak kalah berteriak.
"Kau!" wajah Gerald kini berubah menjadi merah padam karena emosi.
"Ya aku, aku kenapa? Kau menyesal karena sudah menikahi ku … kalau begitu ceraikan saja aku sekarang juga!" cerocos Valerie membuat Gerald naik vitam.
"Valerie!" sentak Gerald suara baritone nya menggema memenuhi seisi rumah.
Valerie kembali tersenyum kecut, terlihat dari wajahnya ia sedang menahan tangis. Karena sudah tidak tahan membendung air mata, Valerie pun pergi meninggalkan ruang makan yang tiba-tiba terasa panas.
Melihat kejadian barusan, para pelayan menundukkan kepalanya dan berpura-pura seakan-akan tidak melihat atau mendengar apapun.
Rendi menggerakkan kepalanya ke kanan, sebagai perintah agar para pelayan itu meninggalkan bosnya sendiri.
Gerald menghela napasnya dalam, ia mencoba meredakan diri yang sebelumnya tersulut oleh emosi. "Wanita itu benar-benar keras kepala," gumamnya kesal. Karena ulah Valerie yang membuatnya marah ia jadi kehilangan selera makan.
Gerald pergi menuju ruang kerjanya, di ikuti oleh Rendi dari belakang.
"Tuan, apa kita hari ini akan pergi?" tanya Rendi, yang melihat kondisi bosnya kurang baik.
"Ya, aku harus menyelesaikan urusan ini sekarang juga… aku tidak mau jika harus merugi banyak."
"Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan mobil."
"Tunggu! katakan pada kepala pelayan, jika malam ini aku harus pergi ke luar kota ... dia harus menjaga Valerie dengan baik."
"Apa anda akan mengurungnya, Tuan?"
"Tidak, dia punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Kirim satu orang untuk mengawasinya dari kejauhan, aku tidak mau jika pria bajingan itu menemui istriku," titah Gerald pada rendi. Wajahnya terlihat begitu kecewa, seharusnya ini menjadi malam pertama baginya sebagai seorang pengantin.
Namun, sayang sebuah masalah terjadi pada perusahaannya yang ada di luar kota sehingga mau tidak mau ia harus menangani permasalahan perusahaannya tersebut. Selain karena masalah pekerjaan, keadaan Valerie juga tidak mendukung jadi percuma jika dirinya tidak pergi ia juga tidak bisa mendekap Valerie yang baru beberapa jam menjadi istrinya.
🌸🌸🌸
Keesokan paginya.
Valerie menggeliatkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, tidurnya terasa begitu nyenyak dan nikmat tanpa ada gangguan.
"Pantas saja, tidurku nyenyak ternyata dia tidak tidur disini, baguslah," ujarnya yang kemudian melangkahkan kakinya menuju bathroom.
Dua puluh menit kemudian, Valerie sudah terlihat rapi dan bersiap untuk pergi ke butik.
"Selamat pagi nyonya," sapa kepala pelayan yang sudah berdiri di depan kamar.
Valerie tersenyum sopan pada kepala pelayan tersebut.
"Sarapan sudah siap, nyonya."
"Saya mau sarapan di butik saja, pak," jawab Valerie sembari berjalan
"Tapi, nyonya Tuan besar mengatakan jika anda harus membiasakan sarapan di rumah."
Valerie menghentikan langkahnya dan kembali tersenyum. "Pak, katakan padanya kalau saya tidak mau satu meja bersamanya."
"Anda tidak perlu khawatir, Nyonya. Hari ini anda sarapan hanya sendiri, Semalam Tuan pergi ke luar kota. Beliau juga menitipkan kunci mobil ini pada saya." Kepala pelayan itu menyerahkan kunci mobil tersebut pada Valerie.
"Ke luar kota?" Valerie mengerutkan dahinya. "Kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku?" gumamnya dalam hati. "Baguslah, jika dia pergi setidaknya aku bisa merasakan kebebasan untuk beberapa hari kedepan," kekehnya dalam batin.
Bersambung.