My Dandelion'S

My Dandelion'S
singa botak



"Baca ini, ini adalah jadwal dan peraturan yang harus kau taati saat bekerja." Rendi memberikan buku tebal berisi berbagai aturan yang tidak boleh dilanggar.


Riska menatap buku tebal itu dengan mata yang membulat. "Sekretaris Rendi, apa ini tidak salah?" 


"Tidak, baca dengan benar jangan sampai ada yang terlewat satu pun. Sekarang tugasmu mengantar nyonya ke butik dan ingat nyawa nyonya lebih berharga dari pada nyawamu," tegas Rendi memberi perintah.


Begitu melihat bos dan istrinya serta dokter Reza menuruni anak tangga. Rendi dan Riska langsung berdiri dan menundukkan kepalanya sopan. 


"Dia Riska, sepupunya Rendi pemegang sabuk hitam, selain jadi sopir dia juga akan menjadi pengawal pribadimu," ujar Gerald memperkenalkan pegawai barunya.


Riska tersenyum dan memberi hormat pada calon bosnya, begitu juga dengan Valerie yang membalas senyuman Riska dengan ramah. 


"Tuan, apa anda tidak berminat memberikan aku pengawal cantik juga," celoteh dokter Reza sembari menatap Riska genit.


"Kau tidak penting, untuk apa memakai pengawal. Cepat sana pulang, aku sudah tidak membutuhkanmu," dengus Gerald mengusir sahabatnya itu.


Habis manis sepah dibuang, itulah yang dirasakan oleh dokter Reza. Tapi mau bagaimana lagi, tugasnya juga sudah selesai jadi ia pun pergi dengan perasaan sebal. 


"Shǎguā, aku pergi dulu … ingat jangan mengawasiku." Valerie memberi peringatan.


"Aku tidak bisa berjanji." 


"Huaa, kau benar-benar menyebalkan." Valerie memukul lengan suaminya. 


"Baby, tanganmu ringan sekali … kau mau aku tidak mengizinkanmu pergi?" Gerald berbalik mengancam. 


Valerie mendesis kesal, dia pun buru-buru pergi sebelum suaminya benar-benar melarangnya. 


"Baby," panggil Gerald membuat langkah istrinya terhenti.


"Apa lagi?" 


"Kau lupa menciumku," cetus Gerald.


"Astaga." Valerie pun menghampiri suaminya dan menghujani wajah Gerald dengan banyak kecupan. "Sudah puas?" Valerie sedikit menekan intonasi bicaranya.


Gerald berpikir sejenak. "Tunggu, kurang sesuatu." Gerald menarik tengkuk leher istrinya dan membuat stempel kepemilikan disana. 


"Shǎguā!" teriak Valerie saat merasakan Gerald menyedot lehernya.


Gerald terkekeh, dan menyuruh istrinya untuk cepat pergi. Sementara kedua manusia yang seolah tak dianggap kehadirannya terlihat canggung dan ingin menghilang secara bersamaan.


"Gila, apa sekretaris Rendi setiap hari menyaksikan adegan ini setiap hari? Astaga, kenapa aku yang gugup," gumam Riska yang merasa gerah sendiri. 


"Lagi-lagi aku dihadapkan dengan pemandangan seperti ini, jiwa jombloku meronta-ronta ingin juga," gerutu batin Rendi iri. 


                       🌸🌸🌸🌸


Di dalam mobil, Valerie masih mendengus kesal. Padahal hari ini ia akan bertemu client, tapi Gerald malah membuat noda di lehernya. 


"Hais, manusia itu benar-benar menyebalkan mana besar dan merah lagi," desisnya yang melihat dari pantulan cermin. 


"Maaf ya, Ris. Baru pertama kerja sudah melihat yang tidak-tidak … eh bolehkan aku memanggilmu Ris?" kata Valerie merasa tidak enak. 


"Tidak apa-apa nyonya, panggil saya sesuka nyonya saja," balas Riska yang pandangannya fokus pada jalanan. 


"Umur kamu berapa sih, Ris?" 


"21 tahun, Nyonya." 


"Oh, masih muda ya … eh kok kamu bisa jadi sepupu sekretaris Rendi sih? Dia kan sama menyebalkannya dengan Tuan Gerald," cetus Valerie mendelik.


Riska hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Valerie. Mobil pun tiba di sebuah butik Dandelion's, sebelum Riska membuka pintu mobil. Valerie sudah mendahuluinya turun dari mobil.


"Pagi, mbak," sapa Nadia full senyum. 


"Pagi juga, Nad," balas Valerie.


"Mbak, ini siapa?" Nadia penasaran. 


"Oh, ini Riska sepupunya sekretaris Rendi."


"Apa! Sepupu sekretaris Rendi? Astaga aku harus terlihat seramah mungkin padanya," bisik Nadia dalam hati. Ia mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri pada Riska.


"Hai, aku Nadia asistennya mbak Valerie senang bertemu denganmu," ujar Nadia semangat.


Riska mengulurkan tangannya pada Nadia, ia hanya tersenyum tipis sembari menyebutkan namanya singkat. 


Riska merupakan tipikal orang yang cuek, sehingga ia tidak begitu peduli dengan orang-orang disekitarnya. Tapi, karena ia sudah bekerja ia pun hanya fokus pada Valerie saja.


"Heuh, tidak sekretaris Rendi tidak tuan Gerald sekarang dia sama-sama pelit bicara dan senyum," gerutu Nadia pelan. 


Karena tidak punya pekerjaan lain, Riska pun duduk di sofa sambil membaca buku peraturan yang tadi Rendi berikan padanya. 


"Ya ampun, peraturan macam apa ini? Tidak boleh membeli makanan sembarangan, tidak boleh dekat dengan laki-laki, tidak boleh terluka, tidak boleh capek … astaga kerjaan ini ternyata lebih berat daripada menjaga bayi," keluh Riska. Ia kembali membulatkan matanya ketika melihat salah satu poin yang mengatakan 'Seujung kuku saja Valerie terluka, akan langsung dipecat tanpa pesangon dan tanpa toleransi apapun'.


Menyesal yang saat ini dirasakan oleh Riska, ingin mengundurkan diri tapi ia sangat membutuhkan pekerjaan. Seharusnya ia bisa menebak kenapa Rendi menawarkan pekerjaan menjadi sopir dengan gaji yang besar. Gara-gara sangat membutuhkan pekerjaan agar adiknya bisa bersekolah, ia sampai tidak berpikir panjang dan menerima pekerjaan ini begitu saja. 


Namun, semua sudah terjadi demi sang adik yang bisa bersekolah ke luar negeri ia harus bekerja semaksimal mungkin dan jangan sampai dirinya membuat kesalahan yang dapat menghancurkan harapan sang adik. 


"Ayo, Ris. Antar aku ke coffee shop," seru Valerie. 


"Oh, baik Nyonya." Riska langsung berdiri dan mengekor di belakang Valerie.


"Nad, aku pergi dulu ya." 


"Iya, mbak hati-hati," ujar Nadia, ia mengantarkan bosnya itu sampai depan mobil. 


Riska membuka pintu mobil bagian belakang, tapi Valerie malah masuk dan duduk di depan. Wanita berambut pendek ala idol K-Pop, itu terlihat bingung. Setelah Valerie memanggil dan mengajaknya untuk segera pergi. Riska pun langsung bergegas duduk dibalik kemudi dan melajukan mobilnya, menuju tempat yang disebutkan oleh istri bosnya tadi. 


Baru dua meter mobil berjalan, tapi Valerie sudah meminta Riska untuk menghentikan mobilnya. 


"Berhenti sebentar, Ris." 


"Kenapa, Nyonya?" 


"Ada sesuatu yang mau aku beli." 


Riska pun menghentikan mobilnya. "Nyonya, mau beli apa? Biar saya saja yang belikan." Riska yang terus dibayang-bayangi oleh peraturan itu mulai melakukan tugasnya. 


"Tidak usah, biar aku saja," tolak Valerie. 


"Tapi Nyonya." Riska langsung ikut turun mendampingi bosnya, ia takut jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada Valerie. Meskipun, kecil kemungkinan untuk terjadi apapun. Namun, demi keamanan ia harus tetap menjaganya. 


"Nyonya ngapain, mampir ke tukang gorengan seperti ini? Masa iya orang kaya suka jajan di tempat seperti ini," gumam Riska heran. 


"Ris, kamu mau?" tawar Valerie.


Riska menggelengkan kepalanya cepat. "Nyonya, tadi tuan berpesan untuk tidak membeli makanan sembarangan. Sebaiknya nyonya mencari makanan lain saja," bisik Riska pada Valerie.


Valerie tak mendengar ucapan Riska, ia malah sibuk menunjuk berbagai macam gorengan plus lontong berisi sayur. 


"Nyonya, jika Tuan tahu beliau akan marah besar padaku," desak Riska memohon.


Valerie menarik napasnya dalam. " Dia tidak akan tahu, kalau kamu tidak memberitahunya. Jadi rahasiakan ini darinya oke." 


Riska hanya bisa pasrah, entah apa yang akan dia katakan pada Rendi jika nanti pulang. Ia pasti akan kena semprot singa botak itu. 


.


.


Bersambung.