My Dandelion'S

My Dandelion'S
stempel kepemilikan



Gerald menatap remeh Devano yang sedang mengepalkan tangannya, "Tuan Devano, bukankah hari ini hari pernikahanmu … apa kau tidak akan malu bersanding di pelaminan dengan wajah babak belur?" sindir Gerald sembari memiringkan senyumnya.


Devano mendengus menanggapi cibiran Gerald. Ia tidak peduli jika harus babak belur di tangan Gerald, ia juga tidak peduli dengan resiko yang akan diterimanya nanti. Saat ini yang ada di pikiran Devano hanyalah membawa Valerie pergi. 


Ia pun mengangkat bogemnya ke arah Gerald akan tetapi, Gerald menahan tangan Devano dengan mudah. 


"Aku sarankan, sebaiknya kau pergi selagi aku baik padamu," ucap Gerald kembali memperingati.


"Aku tidak butuh, saran darimu!" Devano kembali melayang pukulan pada Gerald, dan lagi pukulan itu berhasil ditangkis oleh Gerald. 


Perkelahian antara Gerald dan Devano pun tak dapat dihindari, keduanya sama-sama telah dikuasai emosi.


Bugh …. Satu pukulan Gerald mengenai perut Devano. 


Devano meringis dan kembali bangkit lalu, menyerang Gerald lagi. 


Bugh…


Bugh..


Bugh …


Prang …


Tubuh Devano terlempar mengenai nakas yang ada di kamar tersebut. Pria itu menyentuh dadanya yang terasa sakit, darah segar pun tampak menetes dari sudut bibirnya. 


"Tuan, sudah cukup hentikan." Valerie menahan tangan Gerald, yang akan menghampiri Devano lagi.


Gerald melirik Valerie, yang sudah terlihat hampir menangis. Ia pun menghembuskan napasnya kasar dan membawa Valerie keluar dari kamar tersebut. 


Melihat Gerald pergi bersama Valerie, Devano ingin mengejar. Namun, sayang tubuhnya sudah tak sanggup untuk berdiri lagi, dan ia pun harus menerima kekalahan.


                     🌼🌼🌼🌼


Le Grande Hotel.


Di kamar presidential suite, Helena terus mondar mandir tidak karuan. Wajahnya terlihat gusar, karena ia baru mendapatkan kabar jika Devano telah pergi sejak tadi sore.


Tak hanya Helena, Maheswari yang sudah tampak marah menyuruh ajudannya untuk mencari keberadaan Devano dimanapun dia berada. Karena Devano yang menghilang acara pun jadi harus tertunda selama beberapa jam.


"Sudah aku katakan, pria sialan itu tak bisa dipercaya," geram Maheswari.


Disaat orang-orang tengah sibuk mencari Devano. Tak berselang lama yang dicari akhirnya muncul, dengan wajah yang lebam. 


Sambil menahan rasa nyeri di sekujur tubuh, ia berjalan gontai menuju kamar Helena. 


"Ya ampun, mas kamu kenapa?" pekik Helena saat melihat kondisi suaminya yang kusut. 


"Aku tidak apa-apa, bawakan aku air hangat," titah Vano pada Helena.


Helena mengangguk dan memberi perintah pada asistennya, untuk mengambilkan apa yang diminta oleh calon suaminya. 


"Mas, kamu dari mana? Kenapa bisa seperti ini?" Helena menangkup wajah Vano.


"Hanya luka kecil, dikompres juga akan hilang." 


"Ini lebam, mana bisa hilang dengan kompres … kamu habis berantem sama siapa sih mas? Ini acara penting kita loh, kenapa kamu malah cari masalah sih," cerocos Helena yang tanpa henti memarahi Devano.


"Helen! Kamu bisa diem nggak sih … aku tuh pusing tau nggak!" Devano membentak Helena sampai membuat wanita hamil itu terdiam.


Manik mata Helen berkaca-kaca, jantungnya berdebar karena terkejut. Untuk pertama kalinya ia mendapat bentakan dari Devano. 


Devano menarik napasnya dalam, ia menyentuh tangan Helen dan menenangkannya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu." Devano memeluk Helena.


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Hanya kesalahpahaman, saat aku membeli hadiah untukmu." 


"Hadiah?" Helen melepaskan pelukannya.


Vano mengangguk dan mengeluarkan sebuah kotak, berisi kalung berlian berbentuk hati. 


"Ini untukku?" mata Helen berbinar.


"Iya, kau suka?" 


Helen mengangguk senang.


"Berbaliklah, aku akan memasangkannya." Vano memakaikan kalung itu di leher Helena, wajahnya sedikit kecewa sebab kalung itu ia pilih khusus untuk Valerie. 


Namun, demi menghindar dari pertanyaan yang dapat membahayakan Valerie. Ia memberikan kalung itu pada Helena.


"Acara akan segera dimulai, aku akan ganti baju dulu," ucap Vano. Dia berjalan menuju ruang ganti. Sementara Helena, masih duduk di tepi ranjang sambil tersenyum karena mendapat hadiah spesial dari calon suaminya.


Di ruang ganti, Devano membuka jas serta kemejanya. Ia menatap bayangan dirinya lekat sambil bergumam. " Aku tidak akan menyerah, suatu hari nanti aku akan merebut kembali Valerie darimu Gerald Alexander Dhanuendra!" Vano mengepalkan tangannya, geram.


                          🌼🌼🌼🌼


Tepi pantai Kuta. Valerie tengah mengompres pipi Gerald yang lebam, lukanya memang tak separah Devano. Tapi, demi mendapatkan perhatian dari Valerie ia sampai berpura-pura meringis seperti tempo lalu saat mereka bertemu di club malam.


Gerald terus menatap Valerie yang yang ada dihadapannya, wajah Valerie yang terlihat serius membuat Gerald tersenyum.


"Kenapa senyum?" ketus Valerie


"Kau menggemaskan sekali." Gerald mengusap pipi Valerie mesra.


"Sudah." Valerie menjauh dari Gerald, kini pandangannya beralih pada lautan yang terbentang luas.


"Kau tidak mencintaiku, kenapa kau selalu membelaku?" tanya Gerald penasaran.


"Aku tidak membelamu," jawab Valerie singkat.


"Lalu, apa alasanmu? Apa kau memanfaatkanku, untuk menghindar darinya?" 


Valerie melirik Gerald sekilas, dan kembali memalingkan pandangannya pada bulan.


"Sepertinya aku sudah tahu jawabannya, aku tidak keberatan jika kau memanfaatkan ku … hanya saja kau harus membayar semuanya." 


"Tenang saja, setelah aku kembali ke edelweiss aku akan membayar semuanya, tulis saja berapa kerugianmu." 


"Kau yakin bisa membayarnya?" 


"Ya, aku akan berusaha untuk melunasi semua hutang-hutangku." 


"Tapi, aku tidak mau uangmu."


"Lalu, kau mau apa?" 


"Aku, mau hidupmu." 


"Maksudnya?" 


"Aku tahu, saat kau menerima lamaran ku .. kau tidak bersungguh-sungguh. Kau hanya terjepit karena tidak ingin mati dimakan hiu," ungkap Gerald. Membuat Valerie tertegun.


Valerie menatap Gerald, sendu.


"Tidak usah menatapku seperti itu. Aku tidak sebodoh yang kau kira, aku bahkan tahu jika kita kembali ke edelweiss kau akan membatalkan pernikahan kita," cetus Gerald, tersenyum kecut.


"B-bagaimana kau bisa tahu." Valerie merasa sangat terpojok dengan penuturan Gerald yang seolah tahu dengan isi kepalanya.


Gerald melepaskan jasnya, dan memakaikannya pada Valerie. "Setiap aku menatap matamu, aku bisa tahu apa yang sedang kau pikirkan." 


"Hah." Valerie langsung menunduk dan tak berani menatap Gerald lagi. 


Pria itu terkekeh, saat melihat Valerie yang langsung memalingkan wajahnya dari Gerald. 


"Menikahlah denganku, kali ini aku bersungguh-sungguh ingin mengajakmu menikah," tutur Gerald, yang menatap Valerie lekat.


"Kenapa kau selalu mengajakku menikah? Kita bahkan belum mengenal lama, aku juga tidak tahu kamu siapa dan kamu juga tidak tahu aku siapa." 


"Ya, kita memang belum kenal lama. dan apakah mencintai seseorang harus dengan syarat berapa lama kita mengenal? Jika itu memang benar maka apa artinya dengan cinta pada pandangan pertama? kau bilang aku tidak mengenalmu dan begitu juga sebaliknya. Kau salah, bukankah selama ini kamu selalu disampingku sudah menunjukkan jika kau mengenalku, bahkan aku tahu namamu dan kau juga tahu namaku. Aku juga tahu masa kecilmu … lalu apa lagi yang kau pertanyakan?" ujar Gerald membuat Valerie tak dapat berkata-kata lagi.


Valerie tersenyum getir. "Tuan, statusku adalah seorang janda. Sedangkan anda adalah pengusaha besar yang berstatus bujang, tidak ada kecocokan diantara kita. Yang ada orang-orang akan menggunjing dan mengira jika aku hanya ingin mengincar hartamu." 


"Aku tidak peduli, kau mau berstatus janda atau gadis aku tetap mencintaimu. Bahkan jika kau masih berstatus istri orang lain aku akan merebutmu dari pria itu, dan masalah orang-orang yang menggosipkan mu kau jangan khawatir aku bisa membungkam mereka." 


"T-tapi–." 


"Apa? Kau akan mengatakan jika kau tidak mencintaiku? Aku tidak peduli, kau mau mencintai ku atau tidak. Yang terpenting aku mencintaimu dan aku ingin kamu jadi milikku, tidak ada kata penolakan lagi … jangan harap kau bisa lari dariku kau paham!" dengus Gerald, ia sedikit kesal karena Valerie selalu saja memberi alasan untuk menolaknya.


Valerie menatap sebal pada Gerald, ia pikir setelah Gerald mengetahui kenyataan jika dirinya hanya memanfaatkannya. Gerald akan marah dan melepaskannya, ternyata dia salah yang ada Gerald malah semakin mengikatnya kencang. 


Gerald menarik tengkuk leher Valerie kedekatnya, ia menyibakkan rambut Valerie dan menatap stempel kepemilikan yang dibuatnya tadi. 


"Kau tahu, stempel merah ini adalah tanda bahwa sekarang kau sudah resmi menjadi milikku," bisik Gerald sembari menunjuk leher Valerie yang merah. 


.


.


.


Bersambung….