My Dandelion'S

My Dandelion'S
Asinan



"Baby, apa kau merindukan Mama?" tanya Gerald tiba-tiba.


"Tentu saja, aku sudah lama tidak menjenguk Mama." 


"Kalau begitu, tinggalah beberapa hari disana," ujar Gerald mengusap kepala istrinya. 


"Kenapa tiba-tiba sekali?" Valerie menatap suaminya heran.


"Aku ada urusan ke beberapa negara, dari pada kau kesepian lebih baik tinggal bersama Mama." 


Valerie mengerutkan dahinya, semakin heran. "Kau tidak berbohongkan?" 


Gerald meraih tangan istrinya. "Tidak, aku benar-benar ada urusan penting mengenai pekerjaan. Kau jangan khawatir aku tidak akan tergoda wanita lain, di hatiku cuman ada kamu." 


"Hem, bukan itu." 


"Lalu, apa?" 


"Kau tidak akan melakukan kejahatan dengan menghilangkan nyawa orang lain lagi kan?" cetus Valerie, curiga.


"Kau tenang saja, aku tidak akan mengotori tanganku lagi … kau boleh menghukumku jika aku berbohong padamu," tutur Gerald.


"Benarkah? Jika kau berbohong lagi, aku akan pergi selamanya dari sisimu," ancam Valerie.


Gerald mengangguk. "Aku janji, kalau sampai itu terjadi kau bisa pergi untuk selamanya." 


"Baiklah, aku percaya padamu. Ingat untuk menjaga kesehatan dan selalu kabari aku ketika disana." Valerie mendekap suaminya. 


"Hem, aku akan selalu menelponmu … oh iya, selama aku pergi kau harus menutup butik."


Valerie melepaskan pelukannya. "Kenapa?" 


"Aku akan melakukan renovasi, karyawan liburkan saja biar aku yang membayar mereka selama libur."


"Tap—," 


"Menurutlah, semua demi kebaikan kita semua." Gerald menyela ucapan istrinya.


Valerie pun mengangguk, kemudian mulai berkemas dan pergi ke rumah ibunya. 


"Gerald titip Valerie ya,Ma," tutur Gerald pada sang mertua.


"Iya, Mama akan jaga istri kamu dengan baik," jawab Sarah tersenyum. 


Gerald mengangguk, dia mengusap pipi istrinya sambil tersenyum. "Tunggu aku, jangan pergi tanpa seijinku." 


"Hem." 


"Aku pergi dulu, jaga diri baik-baik." Gerald mengecup kening istrinya dan pergi meninggalkan rumah ibu mertuanya. 


Valerie menatap nanar kepergian sang suami, ada rasa curiga dalam dirinya mengenai kepergian Gerald. Dia hanya melakukan perjalanan bisnis ke beberapa negara, tapi dari kata-katanya seakan Gerald akan pergi berperang. 


"Veli, ayo masuk," ajak Sarah. Beliau memanggil Sumi untuk membawa koper putrinya ke dalam. 


Namun, saat kakinya hendak melangkah ke dalam. Tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing, Sarah sampai memapah sang putri ke kamar dan membiarkannya berisitirahat. 


                     


Beberapa hari kemudian.


Masih belum ada kabar apapun dari Gerald dan Rendi, Valerie sudah menelponnya berulangkali. Akan tetapi, ponsel keduanya tidak aktif.


"Ya ampun, Shǎguā. Kalian kemana?" gumam Valerie, ia terus mondar mandir dalam kamarnya berharap sang suami mengangkat teleponnya. 


Tok …tok …tok…


Suara ketukan dibalik pintu. 


"Non, Nyonya sudah menunggu untuk sarapan," seru Sumi.


"Iya, bi sebentar," teriak Valerie yang seketika merasakan mual di perutnya. 


Ia berlari menuju toilet, dan memuntahkan isi perutnya. "Ah, kenapa perutku mual sekali? Kepalaku juga terasa pusing," gumam Valerie menyentuh perutnya. 


"Non, non Valerie sakit?" Sumi kembali memanggil.


Valerie mencuci wajahnya, dan menghampiri Sumi.


"Non Valerie sakit? Mukanya pucat sekali," ucap Sumi yang melihat wajah putri majikannya tidak segar seperti biasanya. 


"Enggak, kok bi. Tolong buatin teh hangat ya." Valerie berjalan menuju ruang makan, menyapa sang ibu dan duduk di samping ibunya. 


Sarah menatap putrinya aneh, tidak biasanya Valerie mengabaikan makanan kesukaannya. Biasanya kalau melihat menu favorit, Valerie akan makan dengan lahap kenapa tiba-tiba dia jadi tidak berselera? Pikir Sarah. 


Sambil menikmati potongan buah kiwi, Valerie jadi teringat pada Riska. Semenjak kejadian di coffee shop, ia belum tahu kabar Riska bagaimana. Valerie meraih ponselnya dan mencari kontak asisten barunya tersebut. 


"Halo," sapa Riska dibalik telepon.


"Halo, Ris. Maaf saya baru sempat menelponmu, saya mau tanya apa keadaanmu baik-baik saja?" 


"Saya baik-baik saja nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" 


"Hem, saya mau nanya. Apa sekretaris Rendi memberimu kabar?" 


"Tidak ada, nyonya. Nomornya tidak aktif, mungkin urusan Tuan dan sekretaris Rendi masih belum selesai." 


"Hem, sepertinya begitu … aku khawatir sekali pada mereka." 


"Jangan khawatir, nyonya. Saya yakin Tuan dan sekretaris Rendi pasti akan baik-baik saja." 


"Ya, saya harap semuanya akan kembali dengan keadaan baik-baik saja … oh iya, Ris. Kamu bisa kesini nggak? Beliin saya sesuatu yang segar kayak asinan gitu." 


"Asinan? Nyonya ini masih pagi, sepertinya belum ada yang jualan bagaimana kalau nanti siang saja?" 


"Saya pengennya sekarang, tolong carikan ya Ris." 


"Ah, baiklah nyonya. Saya akan carikan." 


"Makasih ya, Ris. Maaf merepotkan." 


Panggilan telepon pun terputus. 


***


Rumah kontrakan Riska.


Setelah mendapatkan telepon dari bosnya, Riska yang semula sedang menikmati masa skors akibat kejadian coffee shop langsung buru-buru bangkit dan pontang panting memakai jaket serta helm untuk mencari pedagang asinan. 


Ia menghidupkan mesin motornya, dan pergi tak tentu arah. Ia terlihat bingung, kemana dirinya bisa menemukan tukang asinan di jam sarapan seperti ini?.


"Hah, nyonya kenapa sih pagi-pagi begini bukannya minta bubur atau nasi kuning malah minta asinan. Kemana lagi aku harus nyari tuh tukang asinan," desah Riska yang sudah berjalan jauh mengitari seperempat kota Edelweis. 


Ia melajukan kembali motornya, dan melanjutkan berburu asinan di pagi hari. 


Pukul. 12 siang. 


Riska yang sudah berputar kesana kemari, pada akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan oleh istri bosnya. Dengan senyum yang sumringah ia pun bergegas menuju rumah kediaman ibunya Valerie. 


Gadis itu mengetuk pintu, sambutan hangat dari sang asisten rumah tangga di terima oleh Riska. Ia masuk dan menghampiri Valerie yang sedang bersantai di depan tv sambil menonton drama China kolosal kesukaannya. 


"Non, ada tamu," ujar Sumi. 


Valerie menoleh dan mengubah posisi duduknya. "Eh, Ris. Sini duduk … bi tolong buatin minum buat Riska ya," pinta Valerie pada Sumi.


"Nyonya, tidak usah repot-repot. Saya cuman sebentar kok, cuman mau nganterin asinan pesanan nyonya saja." Riska menunjukan kantong plastik berwarna hitam pada Valerie.


"Buat kamu aja deh, Ris. Saya sudah nggak pengen lagi," ucap Valerie tersenyum tanpa dosa. 


"Hah?" Riska langsung lemas, sudah setengah hari dirinya mencari-cari tukang asinan, bahkan dirinya tak sempat mandi karena buru-buru sekarang Valerie dengan santainya mengatakan sudah tidak ingin dan memberikan asinan itu padanya. 


"Maaf ya, Ris." Valerie sedikit menyunggingkan senyumnya karena merasa tidak enak pada asisten barunya. 


Riska mengangguk lesu, dan tersenyum pada Valerie. Ia pun hendak pamit, tapi Valerie melarangnya sebab ada hal yang ingin ditanyakan. 


Namun, sebelum Valerie memulai bertanya ia dengan cepat berlari ke toilet dan mengeluarkan semua isi perutnya lagi. 


Cukup lama Valerie berada di kamar mandi, Riska yang merasa khawatir langsung menyusul Valerie. Gadis itu memanggil ibu dan juga asisten rumah tangga Valerie ketika melihat istri bosnya tengah terduduk dalam keadaan lemas di kamar mandi. 


Di bantu oleh keamanan yang sengaja disimpan di rumah Sarah oleh Gerald untuk menjaga istrinya, Valerie dipindahkan ke kamarnya. 


Dan tanpa menunggu perintah, Riska menghubungi dokter Reza untuk memeriksa keadaan Valerie. 


.


.


.


Bersambung.


maaf karena banyak bagian yang Ter skip🙏.