
Rate 18+
Bijaklah dalam membaca🙏
Setelah semalaman begadang, karena menyirami persawahan yang tandus sampai beberapa kali. Valerie dan Gerald masih menikmati tidurnya. Tanpa mengenakan sehelai benang di tubuh, keduanya saling berpelukan mengarungi dunia mimpi yang begitu indah.
Matahari telah meninggi, nyanyian burung yang biasa bertengger di dahan pohon rumah Gerald pun sudah tak terdengar lagi, karena mereka harus pergi mencari nafkah untuk anaknya yang baru saja menetas.
Harusnya hari ini, mereka melakukan kunjungan industri. Karena keduanya yang masih berada dalam buaian kasur panas, jadi mereka memutuskan untuk pergi besok.
Valerie menggeliatkan tubuhnya, jika saja kantung kemihnya tidak penuh ia sangat malas sekali untuk bangun. Tubuhnya terasa sakit, akibat semalam Gerald menindihnya dengan sangat brutal namun juga terasa nikmat.
Baru kali ini ia bisa merasakan miliknya sampai lumer, ternyata selain gagah di tubuh. Gerald juga begitu gagah diatas ranjang apalagi samurainya yang perkasa membuat Valerie tak hentinya terus mendesah dan nyaris kewalahan dibuatnya.
"Baby, kau mau kemana?" tanya Gerald yang merasakan istrinya turun dari ranjang.
"Ke kamar mandi."
"Jangan lama."
"Iya," jawab Valerie yang melangkahkan kakinya menuju bathroom.
Beberapa saat kemudian, Valerie kembali naik ke ranjangnya. Baru akan merebahkan tubuh, sang suami yang sudah merasakan antena nya kembali aktif langsung menindihnya lagi.
"Satu kali lagi, Baby," lirih Gerald. Kemudian bibirnya mulai menyusuri setiap inci tubuh mulus istrinya.
Valerie kembali mendesah, merasakan sensasi geli ketika Indra pengecap sang suami mengobok-obok area sensitifnya.
Wanita itu tak dapat menolak meskipun, tubuhnya terasa ringsek. Tapi, sentuhan Gerald mampu membawanya melayang menembus lapisan awan, dan terbang ke atas bulan memeluk bintang-bintang.
Melihat sang istri yang sudah melayang, Gerald langsung menghantamnya dengan rudal kenikmatan. Menaik turunkan bokongnya, sesuai ritme.
Gerald yang memiliki keperkasaan dengan durasi cukup lama, mencoba gaya-gaya baru yang telah diajarkan oleh Valerie semalam. Dan gaya yang disukai oleh Gerald adalah gaya guguk.
Sebelum dirinya mencapai puncak, Gerald terus membolak-balikan istrinya seperti gorengan dalam wajan. Sementara Valerie yang berada dalam Kungkungan suaminya, terus mendesah menikmati irama yang dibuat oleh Gerald dan sesekali ikut andil dalam pergerakan.
Gerald begitu menyukai istrinya yang cukup lihai dalam melayaninya, sehingga ia terus ketagihan dengan tarian sang istri yang hot dan menjepit.
Meskipun Valerie adalah seorang janda, tapi, rasanya tak kalah seperti seorang gadis legit dan mengigit seperti kue lapis. Setelah cukup lama beradu peluh, Valerie dan Gerald melenguh secara bersamaan, ketika sawah yang dihantam oleh rudal sama-sama mengeluarkan air kehidupan yang begitu deras.
Gerald menjatuhkan dirinya di samping Valerie, dadanya terlihat naik turun merasakan lelah karena lari maraton. begitu juga dengan sang istri yang merasakan hal sama dengan Gerald.
Dia membalikkan tubuhnya dan menatap sang istri penuh cinta, tangannya merangkul pinggang Valerie yang basah dengan keringat. Gerald merapikan rambut istrinya yang menghalangi wajah, dan dia mengecup jidat istrinya mesra.
"Terimakasih, Baby. Kau sudah membuatku sangat puas, aku tidak mengira dibalik keanggunanmu kau begitu hot," ucap Gerald menatap dalam manik mata Valerie.
Karena malu terus ditatap, Valerie hanya menyelesupkan kepalanya di dada bidang Gerald dan memeluk suaminya erat.
Dua jam telah berlalu.
Cacing dalam perut Valerie mulai terdengar demo minta diisi, Gerald yang mendengar suara perut istrinya hanya terkekeh.
Karena melihat sang istri yang tak dapat berjalan akibat ulahnya, Gerald meminta pada kepala pelayan untuk membawakan sarapan sekaligus makan siangnya ke kamar.
Sebelum makanan datang, Gerald mengajak Valerie untuk mandi bersama. Karena Valerie tahu akal bulus suaminya, ia pun menolak. Rasanya ia sudah tak sanggup jika harus melayani suaminya lagi, semalam saja sampai tak terhitung ditambah pagi ini juga cukup menguras tenaga. Ia sudah menyerah jika harus melanjutkannya lagi di kamar mandi.
Namun, bukan Gerald namanya jika dia tidak memaksa. Pria bertubuh kekar itu menggendong istrinya ke kamar mandi dan menurunkannya ke dalam bathtub.
Dan terjadi lagi, melihat tubuh polos istrinya. Nafsu Gerald kembali bergejolak, sehingga pertikaian yang melibatkan sawah dan rudal pun kembali terulang.
Satu jam kemudian.
Setelah pergulatan di kamar mandi, kini Gerald sedang membantu istrinya merias wajah.
Valerie terlihat ragu dengan hasil riasan suaminya akan tetapi, Gerald begitu percaya diri dengan bakat terpendam yang dimiliki olehnya.
"Shǎguā, biar aku saja yang melakukannya."
"Diamlah, Baby. Jangan mengganggu konsentrasiku," ujar Gerald yang sedang mengukir alis istrinya.
"Awas saja jika aku terlihat seperti badut, aku tidak akan memaafkanmu."
"Tenang saja, dulu aku pernah melakukan hal ini juga," cetus Gerald membuat Valerie mengerutkan dahinya.
"Benarkah? Pada siapa?" Valerie tiba-tiba saja merasa kesal dan berpikir jika Gerald melakukan itu pada wanita lain.
"Aku ingin lihat." Valerie hendak melihatnya di cermin tapi, Gerald menahannya.
"Tunggu, aku belum memoles bibirmu." Gerald meraih gincu berwarna merah, dan sebelum memoles bibir Valerie ia mel*mat bibir ranum itu terlebih dahulu.
"Shǎguā," rengek Valerie yang sudah tidak tahan ingin makan.
Gerald tertawa dan mengoleskan gincu tersebut pada bibir istrinya secara perlahan.
"Shǎguā, bolehkah aku bertanya?" Valerie menatap wajah suaminya yang saat ini terlihat bahagia.
"Nanti saja, setelah aku selesai memoles bibirmu," ujar Gerald. "Nah selesai, kau boleh melihatnya di cermin." Gerald memutarkan kursi yang sedang diduduki Valerie ke arah cermin.
Valerie mengecek alisnya, ia sedikit puas dengan hasil karya suaminya. Ia tidak mengira jika suaminya juga berbakat dalam hal merias.
"Kau suka?" Gerald menyandarkan kepalanya di bahu Valerie.
"Lumayan, kau cukup berbakat juga Shǎguā … haruskah aku mendaftarkan mu ke sanggar rias." Valerie terkekeh.
"Aku hanya akan merias mu saja, tidak dengan wanita lain," jawab Gerald mendelik.
"Baiklah. Ayo makan aku sudah lapar."
Gerald mengangguk dan menggandeng tangan istrinya menuju sofa dimana disana sudah tersaji banyak makanan.
Gerald menyendok nasi dan beberapa lauk dan sayur kaya serat dan vitamin lalu, meletakkannya di atas piring. Sebagai tanda terima kasihnya pada Valerie, ia menyuapi istrinya penuh kasih sayang.
"Makan yang banyak, biar tenagamu pulih," ucap Gerald yang kemudian mengelus kepala istrinya sambil tersenyum.
"Kau juga harus makan, agar tetap sehat." Valerie balas menyuapi Gerald.
Senyum bahagia menghiasi wajah keduanya, setelah pergulatan di atas ranjang yang begitu sengit. Membuat Valerie seakan melupakan semua rasa bencinya terhadap pria yang terkadang selalu membuatnya kesal.
"Baby, tadi kau mau bertanya apa?"
"Tidak jadi, aku lupa," ucap Valerie tersenyum. Ia tidak mau merusak kebahagiaan suaminya, jika harus bertanya tentang mendiang ibunya sekarang.
"Oh, iya aku punya sesuatu untukmu."
"Apa itu?"
"Tunggu, tutup dulu matamu."
"Baiklah." Valerie menutup kedua matanya.
Gerald beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju ruang wardrobe untuk mengambil sesuatu.
"Shǎguā, kenapa lama sekali," teriak Valerie.
"Tunggu!" setelah mengambil kotak kecil, Gerald bergegas menghampiri istrinya. "Sudah, sekarang buka matamu."
Valerie membuka matanya perlahan, ia begitu terharu dengan kejutan yang diberikan oleh Gerald. Sebuah cincin bulan sabit, yang ia inginkan ketika di Bali.
"Shǎguā?"
"Iya, ini untukmu. Kau suka?"
Valerie mengangguk, manik matanya berkaca-kaca. Sebab Gerald tak hanya membeli cincin bulan sabit saja, ia juga membelikan cincin itu sepasang dengan cincin bunga anggrek.
Valerie memeluk suaminya, dan mengucapkan terimakasih karena sudah memberikannya barang yang selalu didambakan olehnya.
.
.
.
.
Bersambung.