
Pada tahun 1985.
Saya dipertemukan dengan Dhanuendra, disalah satu universitas kota Edelweis. Kami juga berada di kelas yang sama, yaitu kelas ekonomi.
Saya adalah tipe orang yang tidak mudah akrab dengan orang lain, tapi saat pertama kali melihat dia menyapa saya dengan begitu ramah. Saya merasakan seperti sudah akrab dengannya, padahal ini adalah pertama kalinya kami bertemu.
Sifat saya yang tempramental dan egois, membuat orang-orang tidak mau berteman dengan saya. Namun, berbeda dengan Dhanuendra. Dengan penuh kesabaran dan hati yang ikhlas, dia selalu menemani saya dalam suka dan duka.
Entah sudah berapa kali dirinya menjadi sasaran amarah saya, dikala saya merasa kecewa dengan kegagalan. Dan dengan sabar pula, dia selalu mengajarkan saya dalam pelajaran yang sulit dipahami.
Dhanuendra berasal dari keluarga yang sederhana, akan tetapi wawasannya begitu luas. Perilakunya juga sangat baik, dia selalu menghargai pendapat orang lain. Di saat ada masalahpun dia selalu menghadapinya dengan lapang dada.
Berbeda dengan saya, saya terlahir dari keluarga yang berada. Tapi saya tidak seperti Dhanuendra yang bisa dikatakan saya ini bodoh, attitude saya juga sangat buruk. Tidak mau mendengar masukan dari orang lain dan cenderung menggunakan otot dibanding otak.
Jika saya terkenal sebagai brandal kampus, lain dengan Dhanuendra yang selalu menjadi bintangnya kampus. Karena selain pintar dalam segala hal, dia juga tampan. Banyak para mahasiswi yang mengaguminya dan menginginkan jadi kekasihnya, tapi dengan sopannya Dhanuendra menolak mereka dengan sangat halus sehingga para mahasiswi itu bukannya menyerah melainkan tambah mengejar Dhanuendra.
Jika dibilang iri dengan prestasi Dhanuendra yang segudang, jujur saja saya tidak merasa iri sama sekali. Karena saya selalu memandang Dhanuendra tidak ada apa-apanya dibanding saya yang terlahir di keluarga kaya.
Karena saya selalu berpikir, jika segala prestasi dan kesuksesan bisa saya beli dengan uang. Dan saya juga tidak merasa iri ketika melihat Dhanuendra menerima banyak surat cinta dan hadiah dari teman-teman wanita di kampus sebab, saya tidak tertarik sama sekali dengan gadis-gadis di tempat kuliah saya yang memiliki kecantikan di bawah standar.
Selama berkuliah, kami menjadi teman baik. Kami menyewa kamar kos yang berukuran sedang, kemana-mana kami selalu bersama. Kecuali ke kamar mandi kami melakukannya masing-masing.
Hingga suatu hari, di saat pertengahan semester. Kelas kami kedatangan seorang mahasiswi baru, bernama Rania putri. Gadis cantik, berambut panjang hitam legam. Hidung mancung, bermata coklat dan kulit sawo matang kira-kira dia memiliki tinggi badan sekitar 165 cm.
Rania memiliki senyuman yang begitu manis, berbeda dengan para mahasiswi lainnya. Selain cantik dia juga pintar dan rendah hati, dan untuk pertama kalinya juga saya merasakan ada sesuatu yang beda saat melihat Rania.
Jantung saya selalu berdebar, saat Rania menghampiri saya. Setelah berjalan beberapa bulan. Saya, Dhanuendra dan Rania sudah mulai akrab. Karena selain satu kelas kami juga berada di kelompok yang sama saat menjalankan tugas KKN ke sebuah desa terpencil.
Sebenarnya kelompok kami ada enam orang, hanya saja saya tidak menganggap ketiga orang lagi sebagai kelompok saya. Selama berada di desa terpencil itu, kami melakukan banyak kegiatan seperti membantu para warga memajukan desanya dengan membuat kerajinan yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Selain itu juga kami membantu membangunkan jembatan untuk dilalui warga ketika ingin menyebrangi sungai yang memiliki arus cukup deras.
Dari sana, kedekatan saya dengan Rania sudah mulai sedikit ada kemajuan. Sikap Rania yang ceria dan selalu mencairkan suasana perlahan-lahan membuat perasaan saya berubah menjadi cinta.
Saat itu saya tidak berani mengungkapkan perasaan saya secara langsung, saya hanya selalu memberikan perhatian saya lewat barang-barang mahal yang saya berikan pada Rania dan berharap gadis cantik itu akan mengerti akan perasaan saya meskipun, terkadang saya harus sedikit memaksanya untuk mau menerima pemberian saya.
Namun, sayang Rania tak banyak merespon dia hanya tersenyum tipis pada saya. Sementara tatapannya pada Dhanuendra terasa begitu berbeda.
Manik matanya selalu berbinar di kala menatap Dhanuendra meskipun, Dhanuendra selalu acuh padanya. Tapi, Rania selalu bersikap baik dan selalu ada saja topik yang dibahas dengannya. Tidak saat bersama saya, dia cenderung pendiam dan saat ditanya dia hanya menjawab singkat.
Hingga tiba waktunya wisuda, saya berniat untuk mengungkapkan perasaan saya pada Rania. Saya sudah menyiapkan cincin, dan bunga untuk diberikan pada wanita yang telah merobohkan benteng hati saya.
Setelah acara wisuda usai, saya mencari-cari keberadaan Rania bermaksud ingin mengenalkannya pada kedua orang tua saya.
Lama mencari-mencari, akhirnya saya melihat Rania ada di belakang kampus. Saya sudah merasa senang karena akhirnya bisa menemukannya. Akan tetapi, saat saya hendak menghampiri saya mendengar Rania sedang berbicara bersama seseorang.
Saya mendengar Rania sedang mengungkapkan perasaannya, awalnya saya tidak tahu pada siapa dia mengungkapkan cintanya. Setelah mendengar suara jika pria itu adalah Dhanuendra, hati saya terasa sakit dan kecewa.
Saya tidak menyangka, selama ini saya selalu memegang teguh perkataan Dhanuendra yang mengatakan jika dirinya tidak tertarik pada Rania. Tapi, pada kenyataannya dia juga menyimpan rasa pada wanita yang selalu saya sanjung dihadapannya.
Pada keesokan harinya, saya dan Dhanuendra membereskan tempat kos. Karena kami memutuskan untuk kembali ke rumah kami masing-masing, untuk beristirahat sejenak sebelum mencari pekerjaan yang tepat.
Sepanjang mengemas barang-barang, saya tidak mengucapkan sepatah kata pun padanya. Walaupun dia beberapa kali melontarkan candaan pada saya. Saya tetap bergeming dan tak meresponnya, rasa kecewa saya terlalu besar padanya sehingga saya enggan untuk bertegur sapa padanya.
Dhanuendra tipe orang yang peka, sehingga dia dapat merasakan jika keadaan saya sedang tidak baik-baik saja.
Dia berulang kali mengajukan pertanyaan, kenapa tiba-tiba saya jadi pendiam? Tapi saya tetap tak menjawab pertanyaannya.
Suasana kamar pun menjadi hening, saya menyindir Dhanuendra mengenai Rania yang mengungkapkan perasaan padanya. Tapi dia menyangkal jika dirinya menerima perasaan cinta Rania.
Saya tidak percaya dengan pengakuan Dhanuendra yang mengatakan kalau dirinya tidak menerima Rania, karena hati saya yang terlanjur sakit saya tidak mendengarkan penjelasannya dan cenderung memotong setiap kalimat yang dia ucapkan.
Setelah selesai berkemas saya pun hendak pergi, tapi Dhanuendra menahan saya. Dan mencoba menjelaskannya lagi, karena saya sudah muak dengan sikap Dhanuendra yang sok polos dan sok baik. Saya pun menghajarnya sampai babak belur dan yang membuat saya tak habis pikir dia masih saja tidak melawan.
Setelah puas menghajar Dhanuendra, saya pun pergi ke luar kota dan tidak pernah bertemu lagi dengan Dhanuendra maupun Rania selama beberapa tahun lamanya.
.
Bersambung.