My Dandelion'S

My Dandelion'S
kilatan petir



"Lepaskan, dia!" suara bariton yang terdengar menggelegar membuat sopir taksi itu menghentikan langkah kakinya. 


"Berapa, yang harus aku bayar?" tanya Gerald pada sopir tersebut.


"700 ribu," jawab sopir.


"Ren, berikan uang itu padanya." 


Rendi mengangguk dan memberikan satu gepok uang berwarna merah pada sopir taksi tersebut.


Sopir itu melepaskan cengkramannya, dan mengambil uang tersebut. Melihat uang dalam jumlah yang banyak, pria itu tersenyum dan pergi meninggalkan lobby hotel tanpa mengatakan apapun.


Gerald menghampiri Valerie, yang tengah duduk bersimpuh dengan tubuh yang bergetar. Pergelangan tangannya terlihat merah, karena cengkraman pria tadi yang begitu erat. 


"Kau tidak apa-apa?" tanya Gerald khawatir.


"Apa kau pikir aku sedang tersenyum bahagia? Semua ini gara-gara kau, jika saja kau mau membayar ongkos taksi tadi semua ini tidak akan terjadi!" Cerocos Valerie, berbicara tanpa henti.


"Maafkan aku, aku se–," 


"Huaaa, kenapa aku selalu mengalami hal buruk dalam hidupku." Valerie menangis cukup keras. Sehingga mengalihkan perhatian para pengunjung hotel padanya.


Gerald yang merasa malu karena jadi pusat perhatian, berusaha menghentikan tangisan Valerie.


"Hei, berhenti menangis apa kau tidak malu." 


"Malu? Kenapa aku mesti malu, bukankah mereka tidak peduli padaku," teriak Valerie melanjutkan tangisannya.


"Stttt, pelankan suaramu." Gerald membungkam mulut Valerie tapi, wanita itu malah menggigit tangan Gerald.


"Argh, kau gila!" ringis Gerald kesakitan.


"Bukan aku yang gila tapi, kau." 


Gerald memijat pelipis matanya, ketika Valerie kembali menangis.


"Nona, apa kau tidak sadar dengan usiamu yang sekarang."


"Memangnya kenapa dengan usiaku? apa wanita 25 tahun tidak boleh menangis, hah." 


"Astaga, kenapa tangisannya semakin kencang?" Gerald menoleh pada Rendi yang sedang memperhatikan Valerie tanpa ekspresi. 


"Baiklah, aku minta maaf sebaiknya kau ikut denganku."


"Aku tidak mau! Kau pasti akan berbuat yang tidak-tidak padaku," tuduh Valerie, mengusap air matanya.


"Nona, apa aku seburuk itu di hadapanmu?" 


Valerie terdiam, dan menatap Gerald sendu. Gerald menarik napasnya dalam, ia heran kenapa wanita yang ia kagumi dengan sifat bijaksana dan dewasa kini malah berubah menjadi seperti gadis kecil yang sedang menangis karena tidak diajak bermain oleh teman sebayanya. 


"Apa yang membentur kepalanya, sehingga membuatnya seperti ini?" kata hati Gerald heran.


"Huaaa … kenapa semua orang begitu jahat padaku." Valerie kembali menangis dan berteriak.


Gerald yang sudah tidak tahan mendengar tangisan Valerie dan jadi bahan tontonan pengunjung, langsung mengangkat Valerie seperti karung kentang. Tubuhnya yang kecil membuat Gerald mengangkatnya tanpa beban.


"Lepaskan aku." Valerie memukul punggung Gerald berkali-kali.


"Cepat buka pintu liftnya, Ren."


"Baik, Tuan." Rendi menekan tombol untuk membuka pintu lift. Begitu Gerald sudah masuk, ia kembali menekan tombol yang mengarah ke gedung paling atas yang ada di hotel tersebut.


"Tuan, lepaskan aku … kau mau membawaku kemana?" Valerie terus berontak dan tidak mau diam.


Gerald hanya terdiam, tak menghiraukan Valerie yang sedang memukulinya. Bagi Gerald pukulan Valerie seperti orang yang sedang memijat, sehingga ia menikmatinya sampai lift terbuka di lantai atas. 


 


Ting …


Pintu lift terbuka. Rendi membuka pintu kamar hotel Gerald lalu, meninggalkan bosnya berdua di dalam kamar hotel presidential suite.


Bugh …


Gerald melemparkan tubuh Valerie ke atas kasur berukuran king size.


"Ah," ringis Valerie. Ia terkejut karena tubuhnya dilempar begitu saja oleh Gerald.


Gerald menjatuhkan tubuhnya diatas sofa lalu menatap Valerie  yang sedang meringis dengan tatapan datar.


"K-kenapa, kau menatap ku seperti itu?" tanya Valerie gugup.


"Istirahatlah, Rendi akan mengurus barang mu yang hilang." Gerald bangkit dari duduknya dan hendak pergi.


"Tunggu!" Valerie menghampiri Gerald, baru kali ini dirinya merasa sungkan saat menghadapi Gerald.


Biasanya ia selalu berani dan bersikap acuh tapi, kenapa kali ini ia jadi segan?.


"Kenapa?" Gerald bertanya tanpa berbalik.


Gerald menarik napasnya, dan merogoh saku jasnya mengambil benda kotak pipih berlogo melon dibelakangnya dan memberikannya pada Valerie.


Wanita itu mengambil ponsel tersebut namun, Valerie malah terlihat bingung dan meremas ponsel Gerald.


Pria berjas hitam itu membalikan tubuhnya, dan menatap Valerie yang sedang bingung.


"Ada apa?" 


"A-aku, aku tidak ingat nomor telpon asistenku." Valerie menundukan kepalanya malu.


Gerald merebut ponselnya kembali, dia pergi meninggalkan Valerie sendirian. 


"Dia kenapa sih? Apa kepalanya terbentur pintu," kata hati Valerie bingung. "Ah, ya ampun lalu bagaimana dengan ponsel dan dompetku yang hilang? Besok aku harus menemui client sementara uang saja aku tidak punya," keluh Valerie putus asa.


🌼🌼🌼🌼


Kamar hotel Gerald.


"Tuan, semuanya sudah siap dan tersimpan di flash disk ini." Rendi menyerahkan benda kotak berukuran kecil pada Gerald.


"Bagus, kita hanya tinggal menunggu waktu yang pas … pastikan semuanya berjalan dengan lancar." 


"Baik, Tuan." Rendi memutar tubuhnya untuk kembali ke kamarnya.


"Rendi." Gerald memanggil sekertarisnya kembali.


"Ya, Tuan?" 


"Awasi dia, jangan sampai dia kenapa-kenapa." 


"Baik, Tuan." Rendi pun kini keluar dari kamar bosnya dan menyuruh kedua anak buahnya berjaga di depan kamar Valerie.


.


.


 


.


.


.


Hujan deras mengguyur kota Bali, kilatan cahaya dan gemuruh dari suara guntur yang menggelegar terdengar saling bersahutan. 


Angin yang berseok kencang, menerbangkan kain tirai yang ada di setiap kamar hotel menambah suasana semakin terasa mencekam. 


Seorang penghuni yang menempati kamar presidential suite, terlihat bersembunyi dibalik selimut. Merasakan takut karena suara petir yang membuat jantungnya hampir copot. 


Kilatan cahaya Kini kembali terlihat, dan tanpa aba-aba suara petir kembali menyambar, suaranya lebih kencang dari sebelumnya membuat Valerie berteriak semakin ketakutan.


Kedua anak buah Rendi, yang berjaga di depan kamar Valerie mendengar teriakan tersebut. Mereka langsung melaporkannya pada Rendi juga Gerald. 


Gerald yang khawatir pada Valerie, langsung menerobos masuk ke dalam kamar.


"Valerie!" teriak Gerald memanggil wanita  yang tidak ada dikamarnya. Ia mencari keseluruh ruangan namun, yang di cari masih belum ditemukan.


Petir kembali menyambar dengan kencang. Gerald yang mendengar suara Isakan seorang perempuan, menghampiri sebuah lemari besar yang ada di kamar tersebut. 


Saat ia membuka lemari, ia begitu terkejut karena melihat Valerie yang sedang menangis sambil menutup telinga dengan kedua tangannya. 


Gerald langsung memeluk Valerie, ia baru teringat dulu Sarah pernah memberitahunya jika Valerie  sangat takut pada suara petir. 


"Tenanglah, aku ada di sini jangan takut lagi," ucap Gerald memeluk Valerie erat. 


Begitu juga dengan Valerie ia membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang milik Gerald sambil menangis.


.


.


.


.


Di kota yang sama tapi, berbeda tempat. Devano sedang berdiri di depan jendela kamarnya, melihat kilatan cahaya dan petir yang saling menyambar.


Ia jadi teringat pada mantan istrinya, jika mendengar suara petir Valerie pasti akan berlari ke pelukannya dan menyembunyikan wajah di dadanya.


"Aku harap, kau bisa mendapatkan pria yang bisa melindungi mu, Val," gumam batin Vano penuh harap.


.


.


Bersambung.