My Dandelion'S

My Dandelion'S
pancingan



"Baby, kau tidak apa-apa?" tanya Gerald yang langsung menghambur ke pelukan Valerie yang tengah duduk didepan meja riasnya. 


"Aku tidak apa-apa, kenapa kau terlihat begitu khawatir," ujar Valerie yang menatap suaminya aneh. 


"Kepala pelayan bilang, kau terlihat tidak sehat," seru Gerald. Ia menjongkokan tubuhnya dan memeriksa seluruh tubuh dan wajah Valerie untuk memastikan jika istrinya baik-baik saja. 


Valerie meraih tangan Gerald agar berhenti memeriksa dirinya. "Hentikan, aku tidak apa-apa. Cepat mandi, aku sudah lapar sejak tadi menunggumu pulang." 


Gerald menyentuh pipi Valerie. "Kenapa tidak makan lebih dulu?" 


"Aku ingin makan malam bersamamu." Valerie tersenyum dengan sangat manis, membuat Gerald langsung merasa diabetes karena senyuman sang istri yang begitu manis seperti madu.


"Baby, kau tidak sedang menggodaku kan," ucap Gerald curiga.


Valerie kembali tersenyum sebagai jawaban jika dugaan Gerald memang benar. 


"Katakan, apa yang kau inginkan dariku? Hem." Gerald menatap istrinya penuh cinta. 


"Apa kau akan mengabulkannya, jika aku mengatakan permintaanku?" Valerie sengaja mengusap bibir Gerald sebagai siasat pertama. 


Gerald tersenyum ia merubah posisi duduknya, kini ia duduk di kursi rias sementara Valerie duduk di pangkuannya. 


Wanita itu melingkarkan sebelah tangannya di leher sang suami, sambil menggigit bawah bibirnya. Ia sudah bertanya secara baik-baik tapi, Gerald mengancamnya dan terpaksa ia harus menggunakan siasat wanita bordir untuk mengorek informasi dari Gerald. 


"Baby, tidak biasanya kau seperti ini? Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Gerald merasa terheran-heran dengan sikap istrinya yang kali ini terlihat begitu menggoda. 


Sebelum Valerie mengajukan pertanyaan, ia mencium bibir suaminya terlebih dahulu. Karena Gerald juga sudah ingin, pria itu menyambut dengan hangat benda lunak sang istri yang meronta dalam mulutnya. 


Saat sedang saling menaut, Gerald melepaskan bibir istrinya. Dan mulai berpikir jika sang istri pasti akan bertanya lagi mengenai Maheswari. 


Melihat Gerald menghentikan ciumannya, Valerie mengerutkan dahinya. Tidak biasanya suaminya melepaskan lebih dulu, biasanya dia paling semangat. Kenapa kali ini hanya sebentar? Pikir Valerie. 


"Baby, apa kau masih ingat dengan tragedi Bali. Saat aku menembak seorang pria?" cetus Gerald sembari menyelipkan rambut istrinya ke telinga. 


Valerie mengangguk, perasaannya tiba-tiba saja jadi tidak karuan. 


"Kau tidak maukan, jika aku melakukan hal yang sama padamu?" Gerald menatap manik mata istrinya tajam.


Valerie menelan ludahnya kasar, tangannya yang awal melingkar di leher Gerald kini turun dan bergetar. wajahnya yang penuh senyuman kini mulai memudar. 


"Aku sudah memperingatkanmu tadi pagi untuk tidak boleh ikut campur pada masalah orang lain, kenapa tidak mendengar? Hem." 


"A-aku–" 


"Baby, aku tahu kau melakukan ini untuk menanyakan keberadaan Maheswari kan." Gerald memotong ucapan Valerie.


Takut akan tatapan Gerald, Valerie dengan cepat menggelengkan kepalanya dan menyangkal. "A-aku tidak akan menanyakan hal itu. A-aku hanya merindukanmu kenapa kau menuduhku?" 


Merasakan sakit disebelah dadanya, jantung Valerie berdebar hebat karena takut dengan ekspresi wajah Gerald yang kini berubah seperti seorang psikopat. 


"Oh ya, aku dengar kau bertanya mengenai kedua orang tuaku pada Rendi. Apa kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada orang tuaku?" Imbuh Gerald yang memindahkan tangannya ke paha istrinya. 


Gerald berbisik di telinga Valerie, membuat wanita itu begitu terkejut dengan ucapan Gerald. Manik mata wanita itu terlihat bergetar dan berkaca-kaca. 


"Jadi berhentilah untuk bertanya keberadaan Maheswari, biar aku menyelesaikan tugasku sendiri." Gerald tersenyum pada Valerie dan mencium bibirnya singkat. "Aku mau mandi, tunggulah sebentar setelah itu kita makan." Gerald menurunkan istrinya dari pangkuan dan berjalan menuju kamar mandi.


Ketika Gerald sudah masuk kedalam bathroom, tubuh Valerie seakan tak memiliki tenaga. Tubuhnya ambruk ke lantai, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Jika kedua mertuanya tewas dibunuh oleh seseorang. 


Beberapa hari telah berlalu. Setelah mengetahui jawaban mengenai orang tua Gerald, Valerie tak berani lagi bertanya mengenai keluarga suaminya maupun keberadaan ayahnya Helena. 


Kini ia lebih fokus pada kesehatan, pekerjaan juga suaminya sesuai dengan apa yang diminta oleh Gerald padanya.


Hari ini Gerald mengantarkan Valerie ke butiknya, saat akan berpamitan kebetulan sekali Helena datang mengunjungi butik Valerie. 


Gerald menyuruh Valerie untuk masuk kedalam, sementara dirinya yang akan menemui Helena. 


"Tuan Gerald, kebetulan sekali kita bertemu disini," seru Helena yang akhirnya bisa bertemu dengan orang yang ingin dia tanyai.


Gerald menatap Helena datar. 


"Tuan, apakah anda–"


"Saya tidak tahu apapun, begitu juga dengan istri saya jadi saya harap anda tidak menemui istri saya lagi," sambar Gerald memotong perkataan Helena.


Helena langsung terperangah dengan respon Gerald yang to the point padanya. 


"Asal Anda tahu, saya berkata seperti ini bukan saya menyembunyikan sesuatu. Tapi, karena saya tidak mau terlibat apapun dengan Tuan Maheswari. Dan satu hal lagi, saya memang akan membantu ayah anda untuk keluar dari penjara tapi, polisi bilang kejahatan Tuan Maheswari terlalu fatal sehingga saya tidak bisa membantunya dan terlepas dari itu saya tidak tahu lagi kemana polisi itu membawa tuan Maheswari," ujar Gerald menjelaskan pada Helena. "Saya sudah menjawab pertanyaan anda jadi, saya harap anda tidak mengganggu keluarga saya lagi," imbuh Gerald tegas.


Mendapatkan jawaban dari Gerald secara langsung, Helena semakin merasa kecewa. Padahal ia sangat berharap sekali, untuk bisa mendapatkan petunjuk dari orang yang pernah melihat ayahnya. 


Karena merasa cukup dengan jawaban Gerald, ia pun berpamitan dan pergi meninggalkan butik milik Valerie. 


Setelah melihat Helena menjauh dari tempat itu, Rendi mengusulkan pada Gerald. Untuk menggunakan Helena, sebagai pancingan agar Maheswari mau mengakui perbuatannya. 


Gerald setuju dengan ide sekretarisnya, mereka berdua pun dengan cepat bergegas menuju suatu tempat. 


.


.


.


Bersambung.