My Dandelion'S

My Dandelion'S
Maheswari tertangkap polisi



Pesta berjalan dengan lancar, kedua pasangan pengantin tampak tersenyum memamerkan kebahagiaannya karena telah resmi menjadi sepasang suami istri.


Alunan merdu musik akustik turut mengiringi sepanjang berjalannya acara. Para tamu undangan tak hentinya terus mendoakan dan mengucapkan selamat pada pasangan pengantin juga Maheswari yang selaku orang tua dari kedua mempelai pengantin tersebut.


Para tamu undangan tak hanya fokus pada pengantin yang sedang berbahagia saja, mereka juga terlihat menikmati suguhan video yang menampilkan slide-slide foto prewedding Helena juga Devano yang bertemakan outdoor.


Tidak ada yang aneh dengan foto-foto itu, hingga pada menit berikutnya layar tiba-tiba mati dalam waktu beberapa detik dan setelah kembali menyala video itu berganti menjadi sebuah rekaman cctv lawas yang menampilkan hal tragis.


Dalam rekaman itu terlihat seorang pria berusia 30 tahunan dengan pakaian jas rapi, tengah cekcok bersama seorang wanita hamil yang usianya kira-kira 28 tahun. Jika dilihat dari kualitas rekamannya itu adalah kejadian yang telah berlangsung beberapa puluh tahun yang lalu..


Pria itu terdengar memaki dan menghardik si perempuan. Entah apa yang tengah mereka bahas, karena tidak ada suara apapun dalam rekaman itu. Setelah memaki, pria itu pergi keluar dan di menit berikutnya. Laki-laki itu kembali dengan kayu besar di tangannya. Pria itu mendorong si wanita, dan memukul perutnya hingga wanita itu terlihat menjerit kesakitan.


Tak hanya sampai disitu saja, si pria yang masih belum puas dengan perbuatannya. Mengeluarkan sebilah pisau ketika wanita itu jatuh pingsan karena mengalami pendarahan hebat, pria itu mengg*rok leher si wanita tersebut hingga nyaris putus.


Setelah merasa puas karena si wanita telah tewas, pria itu pergi meninggalkan mayat si wanita hamil begitu saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


Helena yang melihat slide fotonya berubah menjadi rekaman menyeramkan langsung jatuh pingsan, sementara Maheswari terlihat panik dan meminta ajudannya mematikan rekaman tersebut.


Para tamu undangan juga terlihat meringis ikut merasakan penderitaan si wanita yang begitu tragis, mereka terdengar merutuki si pria kejam bak iblis yang tega membunuh seorang wanita lemah.


Suasana pun berubah menjadi tidak terkendali, para penyusup yang menyamar sebagai tamu undangan terlihat membuat kerusuhan dengan menghancurkan sebagian barang-barang yang ada di tempat resepsi tersebut.


Para tamu undangan terdengar berteriak dan berbondong-bondong menyelamatkan diri dari kekacauan tersebut. Setelah beberapa saat kemudian, suara serine dari mobil petugas keamanan terdengar. Para penyusup itu langsung melarikan diri secepat mungkin, sementara Rendi yang tampak menikmati kekacauan menyunggingkan senyumnya.


Rendi tidak tahu siapa penyusup itu tapi, ia begitu berterima kasih karena sudah membuat rencananya menjadi semakin meriah.


Petugas kepolisian itu menghampiri Maheswari yang tengah terduduk dalam keadaan lemas, wajahnya semakin panik lagi ketika petugas itu menunjukkan surat perintah untuk menangkapnya.


"Cepat rekam itu, Tuan Gerald pasti akan sangat senang melihat Maheswari yang ketakutan," titah Rendi, pada anak buahnya yang sedang memegang kamera.


Maheswari berusaha mengelak tapi, polisi itu terus memaksa agar pria tua itu menjelaskannya di kantor. Petugas keamanan itu menyeret paksa Maheswari dan membawanya ke dalam mobil.


Sang ajudan yang membela bosnya tak dapat melakukan apapun lagi, ia hanya bisa mengikuti bosnya sampai ke kantor polisi.


🌼🌼🌼🌼


Kamar presidential suite.


Sembari menemani istrinya yang masih belum sadarkan diri, Devano terlihat berpikir. "Siapa yang telah memutar rekaman itu? Dan orang itu … apakah, dia tuan Maheswari ketika muda?"


Brak …


Pintu kamar terbuka cukup kencang, membuat Devano terkejut.


"Kau!"


"Maafkan saya, Tuan." pelayan wanita itu tertunduk dengan napas tersenggal.


"Ada apa?"


"T-tuan besar, Tuan besar dibawa petugas keamanan," ujar pelayan tersebut.


"Apa? Apa yang sebenarnya terjadi … kenapa semuanya kacau dan kenapa tuan Maheswari bisa dibawa oleh polisi?" teriak Devano.


"O-orang bilang jika pembunuh yang ada direkam cctv itu adalah Tuan besar."


"Sudah aku duga, aku harus mencari tahu siapa yang memutar rekaman video lawas itu," gumam Devano. "Kau, jaga istriku dengan baik jangan biarkan dia tahu jika ayahnya dibawa oleh petugas keamanan," titahnya pada pelayan tadi.


"Baik, Tuan."


🌼🌼🌼🌼


Kantor polisi. Bali.


Di sebuah ruangan interogasi, salah seorang petugas kepolisian tengah mengintrogasi Maheswari. Pria dengan jaket kulit dan celana jins itu melontarkan beberapa pertanyaan mengenai rekaman cctv lawas yang telah lama menghilang.


Maheswari menjawab pertanyaan itu dengan santai dan tak jarang juga pria paruh baya itu menampik jika pria yang ada di cctv itu bukanlah dirinya.


Pemeriksaan telah berlangsung selama lima jam, karena pihak kepolisian yang tidak puas dengan jawaban Maheswari yang terkesan berbelit. Mereka Pun memutuskan untuk menahan Maheswari Selama beberapa hari dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi.


Devano dan ajudan yang sejak tadi menunggu di luar, akhirnya sudah dapat menemui Maheswari yang kini kedua tangannya sudah terborgol.


"Pah."


"Tuan, anda baik-baik saja?"


Maheswari mengangguk, ia menatap Devano dan memintanya untuk mendekat.


"Bagaimana keadaan Helena?" tanyanya khawatir.


"Sudah di tangani dokter, Pah."


"Jaga dia baik-baik, jangan katakan padanya jika aku dipenjara," imbuh Maheswari. Ia takut putrinya akan syok jika mengetahui dirinya telah ditahan karena kasus kejahatan yang akan mempengaruhi kehamilannya.


"Baik, Pa … lalu, apa yang mesti aku lakukan?" tanya Vano.


"Kau tak perlu melakukan apapun, cukup jaga Helen dan calon cucuku dengan baik. Sekarang pulanglah, bawa dia kembali ke edelweiss … jika dia bertanya keberadaanku katakan saja jika aku ada urusan mendadak ke luar kota ."


"Baik, Pa." Vano mengangguk dan bergegas kembali hotel.


Maheswari meminta ajudannya untuk mendekat, ia memerintahkan ajudannya untuk mencari orang yang telah memutar rekaman cctv tersebut. Pria tua itu heran, setelah puluhan tahun rekaman itu menghilang kenapa tiba-tiba muncul kembali.


🌼🌼🌼🌼


Grand paradise hotel.


Gerald yang sedang merasakan tidak nyaman, akibat traumanya yang kambuh. Berusaha untuk bangkit meskipun, sempoyongan ia berjalan menuju kamar Valerie. Hanya dia satu-satunya yang saat ini dapat menolongnya untuk kembali tenang dan meraih kesadaran lagi.


Pria berhidung mancung itu mengetuk pintu kamar Valerie, dan tak butuh waktu lama si pemilik kamar membuka pintu tersebut.


Di ambang pintu, Gerald menatap Valerie sendu. Matanya tampak sembab dan tubuhnya masih bergetar.


"Tuan, apa yang terjadi?" tanya Valerie menatap Gerald penuh tanya.


Bukannya mendapat jawaban, Gerald malah langsung memeluknya erat. Valerie hendak berontak tapi, Gerald meminta agar Valerie tetap diam dan mengijinkannya menangis dalam dekapan Valerie.


Valerie pun terdiam dan membiarkan Gerald memeluknya, ia merasa sangat bingung. Apa yang sebenarnya terjadi pada Gerald, sampai-sampai pria angkuh seperti Gerald menangis.


Awalnya Valerie merasa ragu untuk mengusap punggung Gerald akan tetapi, tangisan Gerald terdengar menyakitkan sehingga ia pun membalas pelukan Gerald dan mengusap punggungnya lembut tanpa mengatakan apapun.


.


.


.


Bersambung.