My Dandelion'S

My Dandelion'S
bukan hantu



"Kau hebat juga, bisa menemukan ruangan ini seorang diri," puji Fero pada rekan kerjanya.


"Jangan sebut aku Rendi, jika aku tidak bisa melakukan apapun," jawab Rendi sambil berjalan. 


"Kau sedang menyindirku," ujar Fero yang mengekor di belakang Rendi.


"Memangnya kau mendengar, aku sedang menyindirmu?" dengus Rendi, ia merapikan pakaiannya dan berjalan menuju mobil.


"Tidak tapi, aku merasa tersindir." 


"Baguslah, tingkatkan kinerjamu jika kau tidak mau berubah posisi menjadi karyawan biasa." 


"Ck, memangnya kau siapa yang bisa mengatur-atur ku seperti itu." 


"Kau tidak ingat aku sekertaris tuan Gerald meskipun, kau sudah dianggap sebagai saudaranya jika aku melaporkanmu bisa saja dia langsung menurunkan jabatanmu." 


"Hem, baiklah-baiklah si paling sekertaris," cibir Fero. "Eh, apa tadi kau lihat begitu banyak emas di dalam sana … menurutmu dari mana dia bisa mendapatkan harta sebanyak itu ya?" Fero mengerutkan dahinya.


"Kau teman baiknya, kenapa bertanya padaku," balas Rendi, ia mulai menginjak gas mobilnya dan melajukan kendaraan roda empatnya menuju hotel untuk menemui bosnya.


Sepanjang perjalanan menuju hotel, Fero terus memikirkan harta-harta yang dimiliki oleh mendiang Hendra. Ia tahu betul jika Hendra sering mengeluh padanya mengenai keadaan ekonominya yang selalu kurang akibat memiliki istri dan anak yang selalu hidup mewah dan boros. Bahkan tidak jarang juga Hendra meminjam uang padanya secara pribadi untuk memenuhi kebutuhannya.


Hendra baru satu tahun menjabat sebagai seorang manajer, dan dia bukan berasal dari keluarga kaya. Hendra hanya berasal dari keluarga sederhana, bahkan rumah mewah yang ditempatinya sekarang masih belum lunas. 


Lalu, darimana asal emas-emas itu? Dan wanita yang terkurung tadi, apa itu perbuatan Hendra juga yang sengaja mengurungnya? Jika melihat keadaan wanita itu sepertinya Hendra sengaja menjadikannya sebagai budak s*x. 


Hendra memang suka bermain dengan para kupu-kupu tapi, Fero tidak menyangka jika temannya itu bisa sekejam itu pada wanita dengan mengurungnya selama berminggu-minggu. 


"Aku harus menyelidikinya sendiri," gumam hati Fero. 


                         🌼🌼🌼🌼


Hotel Grand Paradise.


Rendi memarkirkan mobilnya di depan hotel, dan menyerahkan kunci mobil tersebut pada petugas hotel untuk diparkirkan di tempat yang seharusnya.


Fero menyebarkan pandangannya, ia jadi teringat pada wanita yang tempo lalu ia antar ke sini. Senyumnya pun merekah, dia berharap bisa bertemu lagi dengan wanita itu.


Fero menyiku perut Rendi dan melontarkan pertanyaan. "Eh, apa kau pernah melihat seorang wanita cantik berambut panjang di sekitar sini?" 


"Banyak wanita disini dan aku tidak tahu siapa yang kau maksud," jawab Rendi datar.


"His tapi, dia berbeda … dia cantik, putih badannya mungil kira-kira tingginya sedadaku, rambutnya hitam panjang dan lurus kalau tersenyum bisa meluluhkan hati." Fero menjelaskan secara terperinci ciri-ciri wanita yang disukainya.


Rendi menghentikan langkahnya, dan berbalik pada Fero. Ia merangkul bahu Fero dan berbisik. " Sepertinya aku pernah melihat wanita yang kau maksud." 


"Benarkah? Apa dia masih disini?" tanya Fero bersemangat.


"Ya aku selalu melihatnya di ujung koridor sana, dia akan keluar di kala matahari terbenam jika tidak dia akan keluar tengah malam."


"Hah, kenapa begitu?" 


"Aku tidak tahu, tapi yang pasti di kala malam dia selalu mengenakan gaun putih panjang dan terdengar menangis atau tertawa seorang diri." 


Fero mengerutkan dahinya, dan menatap Rendi.


"Apa kau ingin dengar bagaimana suara tertawanya?" 


Fero mengangguk.


"Kau gila! Aku mencari manusia bukan hantu," rutuknya kesal.


"Bukankah dia juga wanita, bahkan senyumnya tak hanya meluluhkan hati tapi bisa membuat bulu kuduk meremang, ha ha ha." 


"Cih, aku menyesal bertanya padamu." Fero berjalan mendahului Rendi yang masih asik tertawa. 


Rendi dan Fero sudah berada di kamar Gerald. Rendi menyerahkan ponsel Hendra pada bosnya. 


"Tuan, sepertinya orang itu memiliki dendam pribadi pada anda dan orang itu juga sepertinya bukan orang luar … dia mengetahui jika perusahaan anda yang ada disini memiliki kelemahan sehingga dia menyuruh Hendra yang memiliki dendam pada Fero untuk menuduhnya." Rendi menjelaskan pada Gerald.


"Kenapa Hendra dendam padaku?" tanya Fero tak mengerti.


Gerald bangkit dari duduknya. "Hendra iri padamu, dia ingin menyingkirkanmu dan menggantikan posisimu sebagai direktur utama di perusahaan. Sehingga ia sengaja menjadikan mu kambing hitam dibalik bocornya data perusahaan … bayaran yang ditawarkan orang itu pada Hendra cukup besar sehingga ia menyanggupinya. Selain mendapatkan uang jika rencananya berhasil, dia juga akan mendapatkan posisi yang saat ini kau duduki … dan kali ini kau beruntung aku dan Rendi bisa mengetahui jika data perusahaan bocor jadi posisimu aman," ungkap Gerald menjelaskan.


"Aku tidak menyangka jika Hendra selicik itu, padahal dia selalu mensupport ku selama ini," lirih Fero dengan wajah sedih.


Gerald menghampiri Fero. "Dunia bisnis itu kejam, tidak semua orang yang bersikap baik di hadapanmu itu benar-benar baik. Bisa saja dia sedang berpura-pura untuk menjatuhkanmu … maka dari itu jangan terlalu percaya pada orang yang ada di sekitarmu." 


"Satu hal lagi, jadilah pemimpin perusahaan yang bertanggung jawab dan tegas … aku tidak mau kejadian ini terulang lagi, jika bukan karena jasa orang tuamu yang menolongku dulu. Aku sudah menendang mu dari perusahaan," lanjut Gerald yang kembali memeriksa ponsel Hendra. 


Fero terdiam, ia terlihat begitu menyesal karena sudah lalai dalam pekerjaannya.  


Gerald menarik napasnya dalam. " Selain membocorkan data, Hendra juga melakukan korupsi di perusahaan, aku serahkan tugas ini padamu meskipun dia sudah mati aku harap kau bisa menyelesaikan dan mengembalikan kerugian perusahaan yang dilakukan olehnya." 


"Baik, Tuan. Terimakasih karena sudah berbaik hati padaku."  


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, karena orang tuamu aku masih bisa hidup sampai sekarang." Gerald menepuk bahu Fero sambil tersenyum.


                   🌼🌼🌼🌼


Kantor polisi. 


Maheswari yang masih berstatus sebagai tersangka, kini mulai dipindahkan ke kantor polisi pusat. Setelah beberapa hari meringkuk dibalik jeruji besi yang sempit dan kumuh, kini dirinya bisa merasakan sedikit kebebasan dengan memiliki sel sendiri dengan fasilitas mewah.


Ya, sang ajudan yang meminta pada pihak berwajib untuk memberikan fasilitas nyaman kepada Maheswari tanpa sepengetahuan siapapun. Entah apa yang dijanjikan oleh sang ajudan pada pihak berwajib, sampai mereka menyetujui permintaannya itu.


"Maafkan saya, Tuan. Untuk sementara saya hanya bisa membuat anda merasa nyaman disini," ucap ajudan pada bosnya.


"Ck, semewah apapun fasilitas yang kau beri. Jika masih terkurung tetap saja aku tidak akan merasa nyaman," decak Maheswari, ia sudah merasa bosan berada dalam kurungan jeruji besi seperti ini. Dia sudah sangat merindukan kebebasan seperti dulu.


"Lawan kita kali ini sangat pintar, Tuan. Tim kita saja sampai tidak bisa menemukan petunjuk apapun mengenai si pemutar video itu. Bahkan pihak kepolisian pun terus bungkam mengenai siapa yang telah melaporkan anda." 


Maheswari menarik kerah baju ajudan. "Aku tidak mau tahu, dalam jangka tiga hari kau harus sudah menemukan orang itu baik dalam keadaan hidup atau mati." Pria tua itu mendorong ajudannya kebelakang.


"B-baik Tuan." pungkas sang ajudan yang kemudian hendak pergi.


"Tunggu!" seru Maheswari menghentikan langkah ajudannya. "Kemari." 


Sang ajudan mendekati Maheswari, pria itu tampak berbisik cukup lama. Tidak ada yang tahu apa yang dia katakan, tapi yang pasti ajudan itu langsung membulatkan mata ketika mendengar bisikan bosnya. Ajudan itu mengangguk, lalu pergi untuk mengerjakan tugasnya.


.


.


.


Bersambung