My Dandelion'S

My Dandelion'S
kejar deadline



"Hem, sayang banget ya. Tuan Gerald sekarang sudah menikah … kita jadi nggak bisa melihat deretan roti sobeknya lagi." 


"Iya, padahal aku paling semangat pas bantuin Tuan berganti baju. Tubuh tuan Gerald seperti tempat healing bisa menyegarkan pikiran, he he." 


"Kamu ada-ada aja, ha ha. Eh ngomong-ngomong nyonya Valerie beruntung banget ya, bisa jadi istrinya Tuan. Tapi, sayang nyonya seperti tidak mencintai Tuan besar … kalo aku sih yang jadi istrinya bakal mengabdi sama Tuan Gerald, selain kaya tuan besar juga tampan dan baik." 


"Iya, benar … aku juga sama akan menyerahkan seluruh hidupku pada Tuan Gerald, seandainya iman Tuan bisa digoyahkan aku rela deh diperawani olehnya meskipun nggak dinikahin juga nggak apa-apa aku ikhlas yang penting bisa merasakan kehangatan Tuan besar di atas ranjang." 


"Hus, kamu kalau ngomong suka sama kayak aku ha ha ha."


 Kedua pelayan wanita itu terkekeh sembari membersihkan area ruang tamu. Valerie yang kebetulan lewat tanpa sengaja mendengar percakapan kedua wanita yang dulunya melayani Gerald dalam hal berpakaian. Hati Valerie tiba-tiba merasa kesal ketika kedua pelayan itu berkata tidak sopan mengenai suaminya.


"Ekhem." Valerie berdehem untuk menghentikan kedua pelayan yang terus menghayal kotor bersama suaminya. 


Kedua pelayan itu terhenyak, mereka langsung tertunduk dan saling menyiku. 


Valerie menatap kedua pelayan tersebut dari atas sampai bawah, setelah itu ia pergi tanpa mengatakan apapun pada kedua pelayan tersebut.


"Sepertinya mereka tidak waras," cibir Valerie dalam batin.


🌸🌸🌸


Butik Dandelion's.


Para karyawan menyambut hangat kedatangan Valerie yang hari ini baru kembali masuk ke kantor. 


"Selamat datang kembali, ibu bos," ucap para karyawan serentak.


"Wah terima kasih sambutannya tapi, bisakah kita merayakannya nanti saja. Hari ini kita harus kejar deadline," ujar Valerie dengan raut wajah sedikit kecewa.


Gara-gara Gerald yang menjebaknya di bali, ia jadi harus berjuang keras mengejar waktu untuk merancang gaun milik clientnya yang memiliki sisa waktu hanya satu minggu lagi. 


Valerie memimpin meeting, ia menjelaskan semua detail tentang gaun yang akan dibuatnya kali ini. Karena sedikit rumit ia pun menjelaskannya secara perlahan agar pegawainya dapat mengerti apa yang dimaksud olehnya, beruntung saat di Bali ia sudah berbelanja bahan dan mendesain jadi bisa sedikit menghemat waktu.


Para karyawan itu mengangguk mengerti dan memulai pekerjaan mereka. Valerie menyerahkan desain gaun pada bagian pemecah pola, sambil menunggu ia pun mengecek beberapa e-mail yang masuk ke dalam komputernya.


Senyum Valerie mengembang, saat melihat sebuah email yang meminta dibuatkan seragam sekolah sebanyak seribu pcs. Sebenarnya dia tidak membuat seragam untuk anak sekolah tapi, karena pemesanan dalam jumlah banyak ia pun menerima orderan tersebut dengan senang hati. 


Ia mengumumkan kabar itu pada para karyawannya, mereka pun terlihat senang dan menyanggupi orderan tersebut.


Dan sebelum memulai proyek besar, Valerie meminta agar mereka terfokus lebih dulu pada pembuatan gaun yang akan segera dikenakan oleh clientnya.


Tiga hari telah berlalu. 


Berkat kerja keras Valerie dan para karyawannya yang sering lembur, gaun pernikahan pun hampir selesai tinggal di beri sentuhan terakhir yaitu pemasangan batu Swarovski di bagian badan dan juga lengan. 


Karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Valerie yang sudah melihat pegawainya lelah memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya besok. 


"Mbak hari ini nggak pulang lagi?" tanya Nadia yang sudah memegang helm ditangan.


"Enggak Nad, aku mau coba selesaikan gaun ini dulu." 


"Emang Tuan Gerald nggak marah, kalau mbak nggak pulang-pulang?" 


"Kayaknya enggak deh, lagian dia juga lagi pergi ke luar kota dan nggak tau kapan pulangnya." 


"Lah, emang Tuan Gerald nggak nelpon mbak?" 


"Nelpon sih tapi, aku males angkat … udah gih pulang, udah malem." 


"Hem, iya deh hati-hati ya mbak … kayak biasa kalau ada apa-apa telpon aku." 


Valerie mengangguk dan melambaikan tangannya pada sang asisten. " Hati-hati, Nad." 


Selepas kepergian Nadia, ia menutup pintu butik rapat. Ia melihat pada pekerjaannya yang baru selesai 90 persen. 


Ia menarik napasnya panjang, dan mulai mengerjakan kembali memasang batu-batu cantik pada gaunnya itu. 


Valerie terlihat menguap beberapa kali, matanya sudah mulai mengantuk karena jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. 


Pekerjaannya sedikit lagi hampir selesai, ia terus menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa kantuknya yang terus menyerang sampai-sampai tangannya tanpa sengaja tertusuk oleh jarum. 


Ia terkejut dan meringis, ketika benda tajam nan kecil itu menusuk kulitnya hingga mengeluarkan darah. Dia pun beranjak mengambil kotak p3k di bungkusnya jari telunjuk itu menggunakan plester dan ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.


Ketika sedang serius menjahit bagian-bagian kecil gaun, secangkir kopi panas tiba-tiba melayang di hadapannya membuat Valerie menoleh dan kembali terkejut.


"Kau, membuat kaget saja," gerutunya sambil memegang dada yang berdebar.


"Maaf, ini sudah malam kau harus istirahat," ucap Gerald yang entah sejak kapan dirinya berada di butik.


Valerie menatap Gerald. "Aku sudah mengunci pintu, kenapa kau bisa masuk?" 


"Kau tidak mengunci pintunya, makannya aku bisa masuk … aku sudah memanggilmu berulang kali tapi, kau terlalu fokus pada pekerjaan. Untung saja tidak ada penjahat  yang masuk," ujar Gerald menjelaskan.


"Kau pikir, kau bukan orang jahat," cibirnya sambil memutar kedua bola mata ke sembarang arah.


"Aku suamimu, sudahlah jangan berdebat … ini aku buatkan kopi minumlah." Gerald memberikan secangkir kopi itu pada Valerie.


Valerie mengambil kopi tersebut. "Terimakasih," ucapnya.


Gerald mengangguk. "Kenapa kau tak mengangkat telponku? Kepala pelayan bilang kau tak pulang selama tiga hari." 


"Aku sibuk harus menyelesaikan pekerjaanku, waktuku hanya tersisa dua hari jadi aku memutuskan untuk tidak pulang. Aku tidak mengangkat teleponmu, karena aku tidak mau diganggu," jawab Valerie berterus-terang.


"Aku ini suamimu sekarang, lain kali jika aku menelpon kau harus mengangkatnya paham!" 


"Hem." Valerie meminum kopi tersebut. 


"Sudah pukul tiga, ayo tidur," ajak Gerald pada istrinya.


"Kau pulang saja lebih dulu, aku masih harus mengerjakan ini. Tanggung sedikit lagi." 


"Jangan memaksakan diri, kau harus beristirahat aku tidak mau jika kau sampai sakit." 


"Waktuku sudah hampir habis, aku tidak mau mengecewakan client." 


"Lalu, bagaimana denganku? Apa kau akan mengecewakan aku malam ini? Kau mau dilaknat oleh malaikat karena menolak suami?" kata Gerald yang membuat Valerie tertegun.


"Apa maksudnya berbicara seperti itu? Apa dia meminta haknya padaku? Ah rasanya aku belum siap untuk melayaninya," keluh Valerie dalam hati.


"Baiklah, aku akan menggendongmu ke tempat tidur." Gerald bangkit dari duduknya dan mulai menggendong sang istri.


Valerie membulatkan matanya dan menolak. "A-aku bisa jalan sendiri, turunkan aku." 


Gerald hanya tersenyum dan membawanya menuju kamar Valerie yang ada di butik. Dia menjatuhkan tubuh Valerie diatas ranjang, lalu membuka jas dan melemparnya ke sembarang tempat.


Sementara itu Valerie mengisudkan tubuhnya dan mulai ketakutan, ini memang bukan pengalaman pertama baginya akan tetapi, jika melakukan hubungan intim bersama pria lain ia masih belum siap untuk melakukannya. 


Gerald membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan menatap Valerie yang sedang gugup, dia menyunggingkan sedikit senyumnya.


"Kemarilah, aku tidak akan meminta hakku malam ini … aku lelah dan ingin segera tidur. Biarkan aku memelukmu," pinta Gerald.


Valerie menggelengkan kepalanya. "Aku akan tidur di sofa." Valerie hendak merangkak tapi, Gerald menarik lengannya sampai Valerie terjerembab ke dada Gerald yang terasa nyaman. 


"Kenapa kau senang sekali tidur di sofa? Sudah tidur disini aku tidak akan melepaskanmu." Gerald mengunci tubuh Valerie dengan tangan dan kakinya sehingga Valerie tak dapat bergerak.


Sebuah kecupan singkat pun, mendarat di dahi Valerie. Membuatnya terdiam dan terus menatap wajah sang suami yang mulai menutup kedua matanya.


.


.


Bersambung…