
Butik Dandelion's.
Nadia sedang memperhatikan Valerie, yang sejak dari tadi pagi terus melamun. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh bosnya itu, wajahnya terlihat begitu gusar.
"Nad. Aku mau pamitan sama mbak Valerie tapi, kayaknya mbak Valerie lagi banyak pikiran deh. Aku jadi nggak berani ganggu," ucap Desi yang hari ini akan berpamitan untuk cuti hamil.
"Tunggu sebentar, biar aku yang kasih tahu mbak Valerie." Nadia menghampiri Valerie, yang sedang duduk di depan meja dekat jendela.
Ia melambaikan tangannya di depan wajah Valerie yang masih dalam keadaan bengong.
"Mbak … mbak Valerie." Nadia menggoyangkan bahu Valerie pelan, sehingga wanita itu kembali meraih kesadarannya.
"Eh, kenapa Nad?"
"Itu mbak, Mbak Desi mau pamitan sama mbak," ujar Nadia sembari menatap Valerie penuh tanya.
Valerie menoleh pada Desi, yang sedang menatapnya dengan senyuman. Wanita hamil itu menghampiri Valerie setelah, Nadia menganggukan kepalanya.
"Mbak saya pamit ya, terimakasih karena selama ini mbak sudah memberikan pekerjaan untuk saya." kata Desi sedih.
"Iya mbak, saya juga terimakasih karena mbak sudah membuat butik saya jadi maju. Saya doakan persalinannya lancar, ibu dan bayinya sehat."
"Aamiin, makasih mbak. Saya juga doakan semoga kehamilan saya menular juga pada mbak Valerie." Desi mengusap perut Valerie dan berdoa semoga bosnya bisa segera diberikan momongan.
Valerie tersenyum tipis, dan mengaminkan doa ibu hamil yang ada di hadapannya.
"Oh iya. Mbak Desi, ini ada sedikit hadiah buat calon bayinya." Valerie memberikan banyak paperbag berisi perlengkapan bayi pada desi.
Melihat banyaknya paperbag yang dikeluarkan oleh Valerie. Desi membulatkan kedua matanya, ia begitu terharu dengan kebaikan sang bos yang begitu peduli padanya.
"Mbak apa ini nggak kebanyakan?"
"Enggak kok, semoga mbak Desi suka ya." Valerie mengelus pundak Desi sambil tersenyum.
"Sekali lagi, terimakasih banyak ya mbak." Desi memeluk bosnya cukup lama.
Setelah berpamitan pada semua orang Desi pun pergi dengan kedua tangan yang dipenuhi paperbag. Tak hanya tangan Desi saja, tangan suaminya pun sama penuhnya dengan Desi. Mereka terlihat begitu bahagia, karena mendapatkan barang-barang yang belum sempat mereka beli untuk calon buah hatinya.
Usai mengantarkan Desi ke depan pintu, Valerie masuk ke ruangannya dan kembali termenung. Nadia yang khawatir terjadi sesuatu, mengikuti Valerie sampai ke ruangannya.
"Mbak, lagi ada masalah?"
"Kamu nanya? Aku lagi ada masalah apa? Kamu bertanya-tanya. Kamu tercandu-candu dengan suara aku. Jangan lupa join live ya tap tap layar," jawab Valerie yang menirukan nada bicara Ikbal cepmek yang saat ini sedang viral di sosial media.
"Ih, mbak di tanya serius juga malah kayak begitu. Eh btw hari ini aku muak banget deh hampir satu butik tiap aku tanya mereka pada jawab begitu. Rasanya aku pengen nampol deh," omel Nadia kesal, gara-gara trend 'kamu nanya' ala salah satu konten kreator. Hampir semua orang yang dia temui selalu menjawab seperti itu.
"Dulu sikok bagi duo, sekarang kamu nenye. Nanti apalagi," gerutunya frustasi.
Melihat Nadia yang sedang mengomel, Valerie hanya terkekeh. Entah kenapa, di kala melihat Nadia yang sedang marah ia malah merasa ingin tertawa. Bibir dan tangan Nadia yang sama-sama bergerak saat sedang marah mengingatkannya pada emak-emak yang sedang memarahi anaknya karena tidak mau mandi.
"Nadia, kamu udah cocok tahu punya anak," cetus Valerie tertawa.
"Ih, emangnya muka aku kelihatan tua apa mbak," Nadia mengerlingkan matanya.
Valerie kembali terkekeh sembari meraih tasnya. "Nad aku titip butik bentar ya, aku harus pergi," ucap Valerie yang buru-buru pergi tanpa memberitahu asistennya kemana dia akan pergi.
🌸🌸🌸🌸
Kantor Uri Sunshine.
Gerald sedang memimpin rapat, di saat semua orang sedang memperhatikan dan hening. Tiba-tiba suara ponsel Rendi yang lupa ia silent berdering.
Semua orang menatap ke arahnya, termasuk Gerald yang menghentikan rapatnya sejenak.
"Maaf, Tuan. Ini nyonya."
"Angkat saja."
Rendi mengangguk dan pergi dari ruangan meeting untuk mengangkat panggilan telepon.
"Pergilah tapi, kau harus ingat jangan mengatakan hal yang tidak penting padanya. Ingatkan dia juga untuk menemui dokter Reza hari ini," titah Gerald pada Rendi. Ia jadi penasaran untuk apa Valerie mengajak Rendi bertemu?.
Coffee shop.
Valerie melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah 20 menit dirinya menunggu kedatangan sekretaris dari suaminya itu, bahkan kopi yang ia pesan pun hampir dingin karena Rendi yang tak kunjung datang.
Untuk memastikan, ia pun mengeluarkan ponselnya dan hendak menelpon Rendi. Valerie baru akan menekan tombol hijau, Rendi sudah berdiri dihadapannya.
"Maaf, nyonya saya terlambat," ucap Rendi sedikit membungkuk.
"Tidak apa-apa, silahkan duduk." Valerie memanggil salah seorang pelayan dan memesankan Rendi coffe americano.
"Ada apa nyonya memanggil saya kemari?" tanya Rendi tanpa basa-basi.
Valerie sedikit tersenyum. "Sekretaris Rendi, bisakah anda menjawab pertanyaanku dengan jujur?"
Rendi tak bergeming.
"Apa anda tahu, apa hubungan Tuan Gerald dengan hilangnya Tuan Maheswari? Dan apakah hancurnya acara resepsi Helena dan mas Vano juga itu ada kaitannya dengan kalian? Aku harap anda bisa memberitahu ku yang sebenarnya," pinta Valerie dengan raut wajah yang sangat penasaran.
"Saya tidak tahu, Nyonya," jawab Rendi singkat.
"Anda pasti menyembunyikan sesuatu kan dariku? Cepat katakan, aku tidak akan mengatakan apapun pada tuan Gerald jika anda memberitahuku apa yang terjadi," desak Valerie.
"Maaf, Nyonya. Saya benar-benar tidak tahu."
Valerie menatap Rendi penuh selidik.
"Nyonya, maaf sebelumnya. Saya sarankan lebih baik anda tidak banyak tahu, anda hanya perlu membahagiakan Tuan sebagaimana Tuan membahagiakan anda," cetus Rendi membuat Valerie tertegun.
"Baiklah, jika anda tidak mau menjawab hal itu. Tapi, bisakah anda memberitahu ku apa yang terjadi pada kedua orang tuan Tuan Geral?" Valerie kembali melontarkan pertanyaan.
Rendi menyunggingkan senyumnya. "Silahkan nyonya tanyakan sendiri saja pada Tuan."
Valerie menarik napasnya kesal, sejak tadi Rendi hanya menjawab tidak tahu dan malah menyuruhnya untuk bertanya pada Gerald. Jika saja dirinya punya keberanian, ia tidak akan repot-repot meminta Rendi untuk menemuinya.
"Oh ya, Nyonya. Tuan mengatakan jika hari ini anda harus menemui dokter Reza di rumah sakit. terima kasih atas kopinya saya permisi," pamit Rendi yang bahkan tidak menyentuh kopi tersebut sedikitpun.
"Eh, sekretaris Rendi tunggu … ck padahal aku belum selesai bertanya, dia malah pergi begitu saja. Tidak bos tidak sekertaris sama-sama menyebalkan." Valerie menggerutu sebal.
Selesai menemui istri bosnya, Rendi kembali ke kantor dan menghadap pada Gerald. Ia melaporkan apa saja yang ditanyakan oleh Valerie kepadanya.
Gerald tampak berpikir, bagaimana caranya agar Valerie melupakan permasalahan ini. Ia takut jika Valerie mengetahui, kalau dirinyalah yang sudah menyembunyikan Maheswari dari keluarganya. Ia juga takut, jika Valerie mengetahui rencananya dan menggagalkan rencana yang sudah ia atur selama bertahun-tahun lamanya.
Dan satu-satunya cara agar Valerie melupakan permasalahan ini yaitu dengan menjauhkannya dari Helena. Sebab wanita itulah, yang sudah membuat istrinya jadi curiga terhadapnya.
"Selain menanyakan keterkaitan anda dengan Maheswari, nyonya juga menanyakan apa yang terjadi pada kedua orang tua anda, Tuan."
"Kau memberitahunya?"
"Tidak berani, Tuan."
Gerald menarik napasnya dalam. "Kapan aku bisa berlibur?"
"Pekan depan, Tuan."
"Carikan aku tiket ke tempat yang bagus, aku akan membawa Valerie bulan madu. Aku harap dengan membawanya berlibur dia akan melupakan masalah ini."
.
.
.
Bersambung.