My Dandelion'S

My Dandelion'S
datang bulan



"Tuan, anda–," Rendi menghentikan ucapannya, kini pandangannya fokus pada Gerald yang tengah mengenakan jubah tidur tipis serta ranjang yang berantakan.


"Apa yang kau pikirkan?" dengus Gerald, ia memutar tubuhnya dan duduk di atas sofa.


"Tidak ada." Rendi memamerkan giginya yang putih. "Aku pikir sesuatu terjadi pada tuan, ternyata anda malah enak-enak dengan nona Valerie," bisik batin Rendi terkekeh.


Gerald menatap Rendi yang masih tersenyum, dengan tatapan datar.


"Kau mau aku mencabut gigimu?" sergah Gerald, membuat Rendi menutup mulutnya. "Katakan apa semuanya berjalan lancar?"


"Tentu saja–," ucapan Rendi kembali terhenti karena Gerald membekap mulutnya.


"Pelankan suaramu, aku tidak mau jika Valerie mendengarnya," bisik Gerald.


Rendi mengangguk. Gerald melepaskan tangannya dan mengelapnya dengan tisu yang ada di atas meja. Melihat bosnya mengelap tangan, Rendi mendelik dan melanjutkan laporannya mengenai kejadian kemarin secara terperinci.


"Penyusup?" Gerald mengerutkan dahinya.


"Benar, Tuan. Aku tidak tahu dari mana mereka berasal tapi, dengan adanya mereka rencana kita bisa berjalan dengan sangat luar biasa … ini lihat." Rendi  memutar video kerusuhan dan memberikan ponselnya pada Gerald.


Sebuah seringai pun muncul di bibir Gerald, ia merasa senang saat melihat keributan yang terjadi di acara pernikahan Devano. Kebahagiaan Gerald pun tak cukup pada kehancuran acara resepsi saja, dia terlihat begitu senang ketika melihat ekspresi Maheswari yang mengkhawatirkan ketika diseret paksa oleh pihak kepolisian. 


Sekali mendayung dua pulau terlampaui. Niat hati menjebloskan Maheswari ke dalam penjara namun, siapa sangka ia juga turut menghancurkan acara resepsi mantan suami dari calon istrinya.


Benar-benar double kill.


"Kerja yang bagus, pergilah nikmati keberhasilanmu." Gerald menepuk bahu Rendi bangga. 


Karena Rendi telah berhasil menjalankan rencananya, ia pun memberikan cuti selama satu hari pada sekretarisnya itu. Sebenarnya, Gerald masih membutuhkan Rendi untuk pekerjaan lain tapi, ia menundanya sebab dirinya sudah mengatur strategi untuk bisa berduaan dengan Valerie di dalam kamar hotel.


Rendi pun keluar dari kamar tersebut dengan perasaan senang, sudah lama dia berada di sisi Gerald. Dan baru kali ini dirinya bisa merasakan liburan meskipun, hanya satu hari ia tetap bersyukur berkat adanya Valerie Rendi bisa menghirup udara segar dan melepaskan rasa penat karena banyaknya pekerjaan.


Di kamar mandi, Valerie terlihat gusar. Perutnya terasa nyeri dan mual, keringat dingin pun mulai membasahi dahinya. Kepalanya pusing dan tubuhnya terasa lemas.


"Baby, kenapa lama sekali? are you okay?" Gerald mengetuk pintu kamar mandi berulang kali.


Valerie membuka pintu kamar mandi sedikit, ia menyembulkan kepalanya di balik pintu.


"Tuan," lirih Valerie.


"Ada apa? Kau pucat sekali … apa kau sakit?" Gerald sedikit panik.


Valerie menggelengkan kepalanya.


"Tuan, bisakah aku minta tolong?" ucap Valerie sambil menahan nyeri di perutnya.


"Katakan, apa yang bisa aku perbuat?" 


"Bisakah, anda membelikan aku–," Valerie terlihat ragu untuk mengungkapkannya. Ia tahu Gerald pasti akan menolaknya mentah-mentah. 


"Kenapa berhenti, cepat katakan … haruskah aku membawa dokter?" Gerald mulai khawatir karena wajah Valerie semakin pucat.


"T-tidak usah, a-aku  sedang datang bulan … dan aku tidak membawa persediaan, bisakah anda membelikannya untukku?" Valerie menatap sendu Gerald.  Sebenarnya ia malu jika harus menyuruh Gerald untuk membeli pembalut tapi, terpaksa orang yang ada disana hanya Gerald jadi mau tidak mau ia harus menyuruhnya. Sebab tidak mungkin dirinya pergi ke supermarket dalam keadaan seperti itu. 


"Baiklah, dimana aku harus membelinya?" tanya Gerald. Ia tidak merasa keberatan jika harus membeli roti Jepang spesial untuk calon istrinya itu.


"Di supermarket, kau yakin mau menolongku? Apa tidak malu membeli barang untuk wanita?" tanya Valerie ragu.


"Kenapa mesti malu, cuman beli itu ajakan … aku akan berganti baju dulu, kau bisakan menungguku sebentar?" 


"Hem." 


Gerald tersenyum, kemudian pergi untuk berganti baju setelah itu berangkat ke supermarket terdekat.


Pelayan toko yang melihat Gerald kebingungan, langsung menghampiri dan menawarkan bantuan pada Gerald. Setelah Gerald memberitahukan apa yang dicari, pelayan itu membawa Gerald kesalah satu rak yang berisi berbagai macam pembalut dengan brand yang berbeda.


Gerald tidak tahu, brand apa yang selalu dipakai Valerie. Tidak mau membiarkan calon istrinya menunggu terlalu lama, ia pun meminta pada pelayan tersebut untuk membungkus semuanya. 


Lepas membayar, ia pun bergegas untuk kembali ke hotel dan memberikannya pada Valerie.


"Aku tidak tahu, merk apa yang sering kau pakai jadi aku membeli semuanya," ujar Gerald polos.


Valerie menatap kantong plastik tersebut, ia tidak mengira jika Gerald benar-benar membelikannya bahkan dalam jumlah banyak.


"Terimakasih."


"Oh iya di dalam juga ada kantong penghangat untuk mengurangi rasa nyeri, aku dengar saat datang bulan rasanya sangat sakit jadi aku membelinya," lanjut Gerald sebelum Valerie menutup pintu kamar mandi.


Valerie menatap Gerald, ternyata dibalik sifatnya yang aneh Gerald juga perhatian.


"Hem, terimakasih." Valerie menutup pintu kamar mandi untuk bersih-bersih. 


15 menit kemudian, Valerie keluar dari kamar mandi. Ia berjalan dengan perlahan karena merasakan perutnya yang kram. Sejak remaja Valerie selalu mengalami kram perut yang tidak biasa di kala haid, ia akan merasa sangat kesakitan jika telah tiba masanya untuk datang bulan. Bahkan sebelum dirinya berkonsultasi dengan dokter, Valerie akan pingsan dan tidak bisa melakukan aktivitas selama dua sampai tiga hari. 


Sebelum sampai ke ranjang, Valerie yang masih mengenakan bathrobe terdiam sejenak di tengah ruangan ia memegang erat bathrobenya. Rasa nyeri yang dirasakan oleh Valerie membuat wanita itu tak sanggup lagi untuk berjalan. 


Melihat Valerie yang mematung dengan keringat dingin, Gerald yang baru selesai menerima panggilan telepon dari luar langsung menghampirinya dan menggendong Valerie menuju ranjang.


"Apa itu sangat sakit?" Gerald menatap Valerie penuh kekhawatiran. 


Valerie menggenggam jemari Gerald erat sambil meringis, dari caranya menggenggam. Ia bisa merasakan jika Valerie mengalami sakit yang teramat sangat. 


"Aku akan menelpon dokter." 


"Tidak usah, nanti juga sembuh sendiri," lirih Valerie memegang perutnya. 


"Tunggu disini, aku akan membuatkan teh hangat." Gerald melepaskan tangannya dan bergegas membuatkan teh untuk menghangatkan perut Valerie. Secangkir teh hangat telah dibuat, ia membawanya pada Valerie.


Gerald membantu Valerie untuk bersandar, lalu memberikan teh tersebut pada Valerie. 


"Sudah enakan?" 


Valerie menggelengkan kepalanya.


"Oh, aku juga tadi membeli minuman herbal. Pelayan toko yang memberitahu, ini bisa mengurangi rasa sakit." Gerald mengambil sebotol minuman herbal tersebut.


"Itu tidak akan mempan, aku hanya perlu tidur beberapa saat untuk mengurangi rasa sakitnya," jawab Valerie lemas.


"Kalau begitu, berbaringlah. Aku akan menjagamu disini." 


Valerie mengangguk, ia mengubah posisi tidurnya menjadi miring ke kanan. 


Selagi Valerie tertidur, ia menyiapkan segala keperluan Valerie. Menyiapkan air hangat, menyediakan berbagai camilan manis dan pedas. Seperti yang diarahkan oleh pelayan supermarket tadi, yang mengatakan jika wanita yang sedang datang bulan akan mengalami perubahan sikap, dia akan lebih sensitif dari biasanya dan cenderung suka marah-marah tanpa sebab. Dan makanan yang akan membuat suasana hatinya bahagia adalah makanan manis dan pedas.


Jadi sebagai pasangan, Gerald harus mengerti hal tersebut dan menjaga mood Valerie agar tetap bahagia, memanjakannya dengan segala macam makanan juga drama-drama kesukaan Valerie. Meskipun, ia tidak begitu mengerti tapi ia tidak patah semangat. Demi memahami kondisi Valerie ia sampai memanggil salah satu pegawai hotel wanita untuk membantunya.


.


.


.


Bersambung.