
KERTAS.
GUNTING.
BATU.
"Yey, aku yang menang … mendekatlah," pinta Nadia yang sudah memegang spidol di tangannya hendak mencoret wajah Rendi yang kalah dalam permainan suit.
Untuk mengurangi rasa bosan, mereka telah memainkan permainan itu berulang kali. Dan bisa dilihat dari wajah keduanya siapa yang paling jago dalam hal permainan tersebut.
Yups, always Nadia yang menang. Sudah satu jam mereka melakukan suit dan wajah Nadia masih bersih, berbeda dengan Rendi, pria yang sedang dalam pemulihan itu kini terlihat seperti tentara yang sedang menyamar dalam perang. Wajahnya sudah hampir dipenuhi dengan coretan-coretan abstrak yang dibuat oleh Nadia.
"Sudah, aku menyerah … aku akui kau paling hebat dalam hal apapun," ujar Rendi yang bosan karena selalu kalah.
Nadia mengibaskan rambutnya dengan penuh percaya diri. "Akhirnya kau tahu," cetusnya sombong.
"Bersihkan wajahku," pinta Rendi.
"Tunggu." Nadia mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi kamera untuk memotret Rendi. "Tunjukan gigimu, sekretaris Rendi," pinta Nadia gemas.
Rendi menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Nadia.
"Ayolah, hanya sekali," rengek Nadia.
"Aku tidak mau!"
"Please." Nadia menyatukan kedua tangannya memohon.
Rendi tidak peduli dengan Nadia yang memelas.
"Baiklah, aku tidak mau membersihkan wajahmu. Aku mau pulang saja," ancam Nadia yang berpura-pura cemberut.
Rendi yang tak ingin Nadia pergi dari sampingnya, akhirnya mengalah dan tersenyum memamerkan deretan giginya yang tampak ompong karena tinta hitam spidol yang dibuat oleh Nadia.
Gadis itu tertawa saat melihat wajah datar Rendi yang sedang nyengir.
"Cepatlah, aku sudah pegal terus tersenyum begini," protes Rendi kesal.
"Sabar," ucap Nadia yang kemudian memotret Rendi. Ia kembali tertawa dan menunjukan hasil jepretannya pada Rendi.
Melihat Nadia yang tertawa, Rendi pun ikut tertawa. Hatinya merasa bahagia saat melihat Nadia bisa tertawa lepas seperti ini.
🌸🌸🌸🌸
Keesokan harinya di kediaman Gerald.
Wajah pria tampan berhidung mancung itu terlihat begitu kusut. Bibirnya manyun karena kesal, disaat samurainya sudah siap menyerang sarang burung tiba-tiba saja perutnya mendadak sakit membuatnya harus membatalkan sunah karena harus berlari ke kamar mandi.
Ia pikir sakit perut itu akan berlangsung dalam waktu sebentar, ternyata rasa sakit itu malah terasa berulang kali.
Valerie yang sudah tak mengenakan pakaian pun, melilitkan selimut pada tubuhnya dan mengetuk pintu kamar mandi karena khawatir pada keadaan suaminya yang terus mondar mandir ke toilet.
Beruntung, kepala pelayan punya resep obat rahasia pereda sakit perut. Sehingga Gerald tak perlu dilarikan ke rumah sakit. Karena tubuhnya yang lemas, Gerald membaringkan tubuhnya dan tertidur pulas.
Pagi harinya ketika Gerald bangun, ia sudah tidak mendapati istrinya berada di ranjang. Setelah menunggu beberapa menit, Valerie pun akhirnya muncul dengan pakaiannya yang rapi.
"Baby, kau mau kemana?" tanya Gerald penasaran.
"Hari ini aku ada pertemuan dengan client," jawab Valerie sembari memakai body lotion di tangannya.
Wangi harum dari lotion bermerk scorrlet itu begitu menggoda di hidung Gerald, membuatnya kembali merasakan gairah yang sempat tertunda karena sakit perut.
Gerald turun dari ranjangnya, dan memeluk Valerie yang sedang duduk di depan cermin riasnya.
"Dia laki-laki atau perempuan?"
"Jangan pergi," pinta Gerald dengan nada manja.
"Tidak bisa, aku sudah janji untuk menemuinya hari ini."
Gerald menekuk wajahnya. "Batalkan saja, pertemuannya. Kau layani aku saja hari ini."
" Maafkan aku, Shǎguā. Aku tidak bisa membatalkan pertemuan ini, soalnya client kali ini akan memberikan proyek besar."
"Sebesar apa sih, sampai kau lebih memilih client itu dari pada suamimu."
"Kau tahu, dia memesan seribu pcs seragam sekolah. Ini adalah pertama kalinya aku mendapat orderan sebanyak itu," ungkap Valerie senang.
"CK, hanya seribu … aku bisa membayarmu dua kali lipat dari proyek itu. Berhentilah bekerja, uangku sudah banyak dan tidak akan habis sampai 7 turunan. Kau hanya perlu di rumah melayaniku di ranjang, lalu ongkang-ongkang kaki dan apapun yang kau minta aku akan menurutinya," pinta Gerald yang memamerkan kekayaannya.
Valerie melepaskan lengan Gerald yang melingkar di pundaknya dan menatap sang suami sambil tersenyum, ia juga memberikan pengertian jika ia bekerja bukan karena mencari uang saja. Melainkan karena hobinya dalam merancang busana, ditambah lagi ia sedang membantu karyawannya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin mahal.
"Baiklah, aku akan mengantarmu kalau begitu," usul Gerald.
"Shǎguā, kau kan sedang sakit sebaiknya beristirahat di rumah saja."
Gerald terus memaksa ingin menemani istrinya bertemu client. Tapi, karena Valerie khawatir sakit perutnya kambuh ia menolak secara halus tawaran suaminya itu.
"Baiklah, kalau kau mau pergi sendiri." Gerald meraih tissue basah yang ada di atas meja rias lalu, menghapus gincu yang menghiasi bibir istrinya itu.
Seusai menghapus lipstik, Gerald mel*umat bibir Valerie yang bagai candu itu cukup lama dan saat Valerie lengah ia sengaja membuat stempel kepemilikan cukup besar di leher istrinya yang bisa dilihat secara jelas oleh siapapun.
"Shǎguā! Apa yang kau lakukan?" pekik Valerie yang melihat tanda merah itu lewat cermin.
Gerald menyeringai. " Kau akan bertemu client pria hari ini, aku takut dia menggodamu … jadi aku sengaja membuat itu sebagai tanda kau sudah punya aku."
"Hais, shi-ball!" umpatnya dalam bahasa Korea, jika begini ia bisa malu saat bertemu dengan orang-orang nanti.
Velerie beranjak menuju lemari dan mencari scarf untuk menutupi lehernya.
"Kau mencari apa? Jangan bilang kau mau menutupi stempel itu? Jika kau berani menutupinya aku tidak akan mengijinkan kamu pergi."
"Mulai deh, sifat menyebalkannya benar-benar menjengkelkan … tidak pergi proyek besar akan hilang, jika menyerahkannya pada Nadia. Tidak mungkin, dia sedang merawat sekertaris Rendi di rumah sakit, sebaiknya aku masukan dulu scraf ini ke dalam tas dan memakainya nanti," monolognya dalam batin.
"Oke-oke, aku tidak akan menutupinya. Ayo sekarang kita turun untuk sarapan aku sudah telat," ajak Valerie.
Gerald terlihat kecewa, ia pikir dengan ancamannya Valerie tidak akan pergi tapi, ternyata sia-sia saja. Istrinya tetap bersikeras untuk pergi menemui client.
Demi kedamaian rumah, hari ini Valerie melayani suaminya dengan baik. Ia menyendokan satu centong nasi putih ke atas piring serta sayur sop untuk Gerald.
Gerald menatap heran istrinya yang mendadak baik dan lembut padanya, tidak ingin merusak suasana. Gerald pun hanya menikmati momen langka seperti ini.
"Mau pakai lauk apa lagi?" tanya Valerie yang menawarkan berbagai lauk yang tersaji di atas meja.
"Itu saja cukup, perutku masih sakit."
Valerie mengangguk dan menyerahkan piring itu pada suaminya. Keduanya pun menikmati sarapan pagi yang terasa nikmat itu bersama-sama.
Sarapan telah selesai, Gerald mengantarkan istrinya sampai mobil. Dia menawarkan seorang sopir untuk mengantarkannya kemana-mana dan seperti biasa Valerie menolaknya.
Valerie mengecup pipi Gerald sebelum pergi, membuat pria itu mematung dengan serangan Valerie yang tiba-tiba. Valerie berpamitan, dan melambaikan tangannya pada Gerald yang masih menyentuh pipinya.
.
.
.
Bersambung.