
Keesokan harinya, Valerie sudah bersiap untuk pergi ke acara makan malam Fero. Dengan mini dress putih bermotif bunga timbul berlengan pendek dipadukan bersama Heels berwarna senada, Valerie terlihat mempesona.
Rambutnya yang terikat ke atas seolah ia sedang memamerkan leher jenjangnya. Valerie bergegas untuk pergi akan tetapi, baru membuka pintu ia sudah dikejutkan oleh Gerald yang hendak mengetuk pintu kamarnya.
Gerald memindai penampilan Valerie dari atas sampai bawah. "Baguslah, kalau kau sudah siap … ayo pergi," ucapnya seraya menarik tangan Valerie.
"Eh, Tuan kita mau kemana?" tanyanya mengerutkan dahi.
"Ke Acara makan malam temanku, bukankah Rendi sudah memberitahumu," balas Gerald yang berjalan menuju lift.
"Hah, sekertaris Rendi tidak bilang apapun padaku."
Gerald menghentikan langkahnya dan menatap Valerie. "Lalu, kau mau kemana dengan pakaian rapi seperti ini?"
Valerie tak bergeming. "Aku harus mencari alasan, jika dia tahu aku akan pergi bertemu mas Fero dia bisa-bisa mengurungku."
"Kenapa bengong?"
"T-tidak kemana-mana, tadinya aku mau mengajak Tuan pergi. Tapi, ternyata Tuan sudah punya rencana." Valerie berdalih.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan membatalkan makan malam ini dan pergi bersama mu."
"T-tidak Tuan, jangan-jangan. Kasihan teman anda dia sudah menyiapkan segalanya tapi, anda malah tidak datang dia pasti akan kecewa … lagi pula Tuan mengajakku jadi kita bisa pergi setelah makan malamnya selesai."
Gerald menganggukan kepalanya dan kembali menggenggam tangan Valerie sambil berjalan.
Di dalam mobil, Valerie terlihat gugup. Ia terus memikirkan teman barunya itu, dia pasti akan kecewa karena tidak menepati janjinya.
"Baby, kenapa kau berkeringat? Apa AC nya kurang dingin?" tanya Gerald yang sejak dari tadi memperhatikannya.
Valerie tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Gerald mengusap kepala Valerie lembut.
Deg …
Suara jantung Valerie yang tiba-tiba berdetak cukup kencang. "Apa ini? Kenapa jantungku berdebar seperti ini?" Valerie seketika jadi gelisah, ia menjauhkan kepalanya dari tangan Gerald.
Mobil telah sampai di depan restoran mewah bintang 6.
"Tuan, saya mau ke toilet dulu."
Gerald mengangguk. " Jangan lama."
"Hemm."
"Tuan, saya akan mengikuti nona Valerie," sahut Rendi yang hendak menyusul, ia takut jika kejadian tempo lalu akan terulang lagi.
"Tidak usah, kita lihat saja setelah banyak kebaikan yang aku berikan padanya … apa dia masih berani kabur atau tidak," pungkas Gerald yang melenggang ke dalam restoran.
Rendi mengangguk, dan mengikuti Gerald masuk.
Sementara di toilet, Valerie begitu resah. Sebab Gerald membawanya ke restoran yang sama seperti yang dikatakan oleh Fero.
"Bagaimana jika nanti aku bertemu dengan, mas Fero? Bisa gawat … tapi, aku juga tidak bisa bersembunyi disini bisa-bisa Tuan Gerald mendobrak toilet ini." Valerie terus mondar mandir tidak jelas dan karena Gerald yang muncul tiba-tiba ia jadi tidak sempat mengirim pesan pada Fero.
Valerie menarik napasnya dalam, dengan penuh penyesalan ia pun buru-buru mengirim pesan pada Fero dan membatalkan janjinya untuk datang ke acara makan malamnya.
🌼🌼🌼
Taman belakang restoran.
Fero terlihat kecewa, saat menerima pesan dari Valerie yang mengatakan tidak bisa datang. Tapi, sebagai teman yang baik dia harus mengerti mungkin ada urusan yang jauh lebih penting sehingga Valerie tak bisa menemuinya.
"Tuan Fero, Tuan besar sudah datang," ujar Arini — sekertaris Fero.
Fero memasukan ponselnya ke dalam saku dan menyambut tamu agungnya dengan hangat.
"Wah, Tuan aku pikir anda tidak akan datang, silahkan duduk," ujar Fero.
"Kau sudah mengundangku, bagaimana mungkin aku tidak datang," jawab Gerald sembari menarik kursinya.
"Ck, kau tidak lihat ada banyak kursi yang kosong. Kau tinggal duduk saja kena repot sekali," ketus Fero.
"Kau!" Rendi mengacungkan bogemnya pada Fero.
"Apa?" tantang Fero.
"Sudahlah, aku kesini untuk makan bukan untuk melihat kalian bertengkar," rerai Gerald. "Eh Fero, bukankah kau ingin memperkenalkan seseorang padaku?" sambung Gerald.
Fero menoleh pada Rendi juga Arini. "Dia tidak jadi datang," jawabnya lesu.
Rendi terkekeh. "Berhenti membual, aku rasa kau sedang menipu Tuanku," cibir Rendi.
"Aku tidak menipu, Tuanmu. Dia bilang ada urusan penting, jadi dia tidak bisa datang."
"Oh, begitu … jadi dia menganggapmu tidak penting," sindir Rendi.
"Kenapa kau sangat menyebalkan sekali!" Fero mengeratkan giginya, ia sebal pada sikap Rendi yang terus meledeknya.
"Sudahlah, kalian berdua duduk. Jangan mengacaukan makan malam ini," imbuh Gerald.
Fero dan Rendi pun mulai hening, mereka hanya saling melempar tatapan tajam sambil merutuki satu sama lain dalam hati.
Melihat kedua pegawainya seperti kucing dan tikus, Gerald hanya menarik napasnya dan menggelengkan kepalanya perlahan. Dan tak berselang lama ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Valerie, yang menanyakan dimana keberadaan dirinya sekarang.
Panggilan terputus, ia mengutus Rendi untuk menjemput Valerie yang sedang kebingungan di dalam restoran.
"Oh ya, Tuan. Anda meminta kursi tambahan apa itu untuk kakak ipar?" goda Fero pada Gerald.
"Jangan memanggilnya kakak ipar, kau bukan adikku," jawab Gerald datar.
Fero memutar bola matanya. "Baiklah. Eh,Tuan. Bisakah kau ceritakan padaku bagaimana wanita itu? Apa dia cantik, Hem?" Fero menarik turunkan kedua alisnya sambil tersenyum.
"Ya, dia sangat cantik. Lebih cantik dari wanita manapun, dia seperti seorang Dewi yang turun dari langit."
"Wah, aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengan kakak ipar." Fero terkekeh.
Lima menit kemudian, Rendi datang bersama Valerie yang sejak dari tadi was-was karena takut berpapasan dengan Fero. Ia pikir Gerald berada diruang VVIP, rupanya dia berada di tempat yang sama dengan lokasi Fero.
Saat Fero sedang asik menggoda bosnya, ia melihat ke arah Rendi yang tengah berjalan ke arahnya sembari diikuti oleh seorang wanita yang tidak asing baginya.
"Nona Valerie!"
"Mas Vero!"
Pekik Fero dan Valerie secara bersamaan. Valerie menoleh kearah Gerald yang sedang menyimak, ia tidak menyangka jika Fero ternyata rekan bisnis Gerald.
"Nona, bukankah anda mengatakan jika tidak akan datang. Kenapa anda disini? Apa kau sedang memberiku kejutan," Fero tertawa dan bersemangat. "Tuan, ini dia wanita yang ingin aku kenalkan padamu," lanjutnya.
Gerald menoleh pada Valerie, dengan tatapan datarnya. "Jadi dia berdandan bukan ingin pergi denganku, melainkan bertemu dengan Fero," tutur Gerald dalam hati.
"Rendi, bukankah kau pergi untuk menjemput kakak ipar. Dimana dia?" tanya Fero sambil tersenyum.
Rendi berusaha memberi kode pada Fero, akan tetapi Fero terus berbicara tanpa henti sampai Gerald mengulurkan tangannya pada Valerie dan memintanya untuk duduk disampingnya.
Fero membulatkan kedua matanya, ketika melihat Valerie tertunduk dan menuruti perintah Gerald.
"Tuan?" lirih Fero penuh tanya.
Gerald menyunggingkan senyumnya. "Dia calon istriku, benarkan Baby," jawab Gerald. Ia merangkul bahu Valerie dan sedikit merem*snya.
Valerie pun mengangguk, membuat Fero terperangah dan tak bersemangat. patah hati yang saat ini dirasakan oleh Fero, sebab ia tidak mungkin jika harus bersaing dengan orang yang jauh lebih tinggi daripadanya.
.
.
.
Bersambung.