My Dandelion'S

My Dandelion'S
Rencana Shama



Keesokan harinya, pukul 12 siang di kediaman Maheswari. 


Devano tertunduk lesu di hadapan Gerald, karena semua usahanya bangkrut secara tiba-tiba. Sementara Helena, diam memaku setelah melihat rekaman cctv yang menunjukkan jika ayahnya memang benar-benar meninggal bunuh diri. 


"Pergilah dari negara ini, aku akan membiayai semuanya dari mulai rumah dan tempat usaha yang baru," ucap Gerald yang sedang berdiri sembari membelakangi kedua orang yang tengah duduk di sofa tanpa mengatakan apapun. 


"Kenapa kami yang harus pergi dari negara ini? Kau saja yang pergi, tidak usah mengusir kami seenaknya," timpal Helena.


Gerald membalikan tubuhnya, akan tetapi pandangannya masih tak tertuju pada Helena. Jika melihat Helena, rasa sakit hati akan kematian ibunya membuat Gerald semakin membenci Helena dan ayahnya. Tapi mau bagaimana lagi, Helena adalah adiknya. Sebenci apapun dirinya pada Helena ia tidak mungkin mencelakainya. 


"Kau lupa, siapa aku disini? Aku adalah penguasa sebagian Edelweis, sementara kalian hanya sampah yang mengganggu ketenangan orang lain … jadi kalian harus pergi dari sini," hardik Gerald pada Helena dan juga Devano.


Helena menatap tajam Gerald. 


"Nona Helena. Sebaiknya anda mengikuti kata-kata Tuan Gerald. Usaha suami anda sudah bangkrut, dan sebentar lagi semua aset kekayaan Tuan Maheswari akan segera disita oleh negara karena kasus korupsinya. Jangan menyia-nyiakan kebaikan Tuan Gerald yang tidak akan datang dua kali, Nona," timpal Rendi meyakinkan.


Helena menarik napasnya dalam, dadanya terasa sesak ketika mendengar pernyataan Rendi. 


"Helen, ada baiknya apa yang dikatakan oleh sekretaris Rendi. Sebaiknya kita pergi ke luar negeri dan membuka usaha baru, kita tidak bisa hidup miskin di negeri ini," ujar Devano pada istrinya. 


Helena berpikir untuk beberapa saat, dirinya terlahir dari keluarga kaya raya tidak mungkin juga jika dirinya harus hidup melarat disini, jika teman-teman sosialitanya sampai tahu dirinya jatuh miskin, bisa-bisa dia dikeluarkan dari geng skuadnya. 


"Baiklah, aku setuju asal dengan syarat." 


Gerald tak bergeming. 


"Kau harus memberikan, mas Vano salah satu dari perusahaan mu agar kami tidak perlu capek-capek lagi membangun usaha dari nol," cetus Helena tersenyum kecut. 


"Baiklah, aku akan menuruti syarat dari mu … sekarang juga kemasi barang-barang kalian dan segeralah pergi dari sini," seru Gerald yang menyetujui permintaan Helena tanpa berpikir panjang.


Mendengar Gerald yang langsung setuju dengan syarat yang dilayangkan olehnya, Helena terhenyak. Dia pikir Gerald akan menolak dan marah, tapi ternyata dia terlihat begitu tenang dan entengnya langsung berkata setuju. 


Berbeda dengan Helena, Devano malah menyimpan curiga pada Gerald. Tidak biasanya dia baik seperti ini, sepertinya Gerald menyembunyikan sesuatu dan sebagai gantinya Gerald menyetujui permintaan Helena, begitulah yang tergambar dari raut wajah Devano saat ini. 


Setelah melihat Helena dan orang-orangnya berkemas dan meninggalkan kediaman mewah milik Maheswari, Gerald pun segera kembali menuju kantornya. 


"Tuan, apa anda yakin dengan keputusan ini?" 


"Aku yakin, lagi pula itu hanya perusahaan kecil yang terpenting aku dan Valerie bisa hidup tenang tanpa gangguan dari mereka berdua." 


"Apa anda akan merahasiakan hubungan anda dengan nona Helena pada nyonya juga, Tuan." 


"Tidak hanya Valerie, aku tidak mau semua orang mengetahui jika Helena adalah adikku … kau harus menyimpan rahasia ini sampai mati." 


"Baik, Tuan." 


Rendi melajukan mobilnya, dengan kecepatan sedang. 


                        🌸🌸🌸🌸


Butik Dandelion's. 


Seorang pria dan wanita muda, datang ke butik Valerie untuk mencari gaun pengantin yang akan mereka kenakan di hari pernikahan. 


Mereka menghampiri Nadia yang sedang mengurus laporan keuangan butik milik istri dari pengusaha besar tersebut.


"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" sapa Nadia ramah. 


"Mbak, bisa tunjukan beberapa gaun pengantin untuk calon istri saya?" pinta si pria.


Nadia mengangguk. "Bisa, mari ikut saya." 


Nadia memimpin jalan, dan menunjukkan beberapa koleksi gaun pengantin terbaru pada pelanggannya itu. 


"Sayang, sepertinya aku tidak suka dengan semua desain ini," ucap wanita dengan nada manja. 


"Mbak, apa ada desain yang lain?" 


"Tidak ada, Tuan. Ini adalah koleksi terbaru kami yang dibuat satu Minggu yang lalu," jelas Nadia. 


"Sayang, aku sudah bilang kan untuk mencari butik yang lain. kenapa kau terus memaksa untuk ke butik ini," rengek si wanita. 


Nadia hanya menatap kedua pasangan itu, sambil mengerutkan dahinya.


"Sayang, begini saja. Pernikahan kita kan masih lama, sebaiknya kamu membuat desain gaun yang kamu inginkan saja." 


Wanita itu memutar bola matanya ke sembarang arah. "Baiklah … panggilkan aku pemilik butik ini," titahnya pada Nadia.


"Maaf, Tuan dan Nona. Pemilik butiknya sedang tidak masuk, bagaimana jika kalian kembali lagi kesini besok," usul Nadia.


Wanita itu menarik napasnya dalam, merasa jengah karena apa yang dia inginkan selalu saja tidak ada.


"Baiklah, ini kartu nama saya … hubungi saya ke nomor itu jika pemilik butik ini ada di kantor." Pria itu memberikan kartu namanya pada Nadia.


"Baik, Tuan. Sekali lagi maaf karena sudah mengecewakan kalian." Nadia membungkukkan setengah badannya.


"Tidak masalah, kami pamit dulu. Ayo sayang," ajak pria itu pada kekasihnya. 


Dan sebelum mereka benar-benar pergi, wanita itu mendelikan matanya pada Nadia. Sembari berjalan, sang wanita itu sengaja menjatuhkan manekin yang ada di butik tersebut.


"Hah, dasar wanita yang aneh," gerutu Nadia membenarkan manekin yang tadi terjatuh. 


                            🌸🌸🌸🌸


Kantor Uri Sunshine. 


Rendi yang baru kembali dari luar, setengah berlari menuju ruangan bosnya.


"Tuan, ada informasi penting mengenai Mr Shama," seru Rendi. 


"Katakan." Gerald fokus menatap ponselnya. 


"Mata-mata yang kita simpan di sisi Mr Shama mengatakan, jika dia akan menyerang kita melalui nyonya Valerie," cetus Rendi. Membuat Gerald langsung menggebrak meja dan berdiri dengan rahang yang mengeras. 


"Apa! Berani sekali dia melibatkan istriku," ucap Gerald marah. 


"Tak hanya itu saja, Tuan. Mr Shama juga yang memberitahukan pada nona Helena jika Tuan Maheswari meninggal karena anda," jelas Rendi.


Informasi pun tak sampai disitu saja, Rendi membeberkan semuanya termasuk rencana Mr Shama yang akan membakar perusahaan pusat milik Gerald. 


Kapan itu akan terjadi, Rendi tidak mengetahuinya sebab saat mata-mata itu sedang menelpon Rendi. Tiba-tiba saja panggilan itu terputus dan sampai sekarang masih belum ada kabar lagi mengenai pria pemberi informasi itu. 


"Suruh orang lain untuk mencari tahu kabar dia. Kita harus melindunginya." 


"Baik, Tuan." 


"Satu lagi, siapkan tim keamanan di setiap penjuru kantor pusat, mereka harus melakukan pemeriksaan yang ketat pada setiap karyawan." 


"Baik, Tuan. Saya akan melakukannya," ujar Rendi langsung bergegas mengerjakan tugasnya. 


Sementara Gerald, dia buru-buru untuk pulang dan menemui istrinya. Ia takut jika sesuatu terjadi pada Valerie. 


.


.


Bersambung.