
Selama Valerie menjalani masa pemulihan pasca operasi, Gerald menjadi super overprotektif. Ia tidak akan membiarkan istrinya bergerak sendiri, walaupun itu hanya mengambil gelas yang ada disampingnya.
"Shǎguā, apa kau tidak pergi ke kantor?" tanya Valerie. Sudah beberapa hari ia melihat suaminya terus bekerja di rumah.
"Aku sedang menjagamu, jika aku pergi siapa yang merawatmu?" jawab Gerald yang fokus pada layar laptopnya.
"Ada banyak pelayan disini, lagipula aku sudah merasa baik … kau bisa pergi ke kantor," ujar Valerie, rasanya ia sudah bosan terus berada di atas ranjang sepanjang hari. Jika Gerald terus mengawasinya bisa-bisa bokongnya tumbuh akar karena terus berbaring diatas kasur.
"Dokter bilang kau masih harus beristirahat, jika aku pergi kau pasti akan melakukan banyak kegiatan."
Valerie menghembuskan napasnya kasar.
"Kenapa? Kau tidak suka melihat aku menjagamu?" tuduh Gerald menatapnya tajam.
"Aku bukannya tidak suka, hanya saja kau selalu melarangku ini dan itu. Aku bosan Shǎguā terus berada kamar," protes Valerie.
"Kau mau jalan-jalan?"
Valerie mengangguk.
"Baiklah, aku akan menyiapkan kursi roda dulu," ucap Gerald yang sudah bangkit dari duduknya untuk mengambil kursi roda.
"Eh, Shǎguā tidak perlu. Aku bisa berjalan sendiri."
"No Baby, kau tidak boleh capek … kalau tidak mau pakai kursi roda aku akan menggendongmu saja ke taman belakang rumah."
Valerie kembali menghela napasnya panjang. "Shǎguā, justru aku malah lebih capek lagi karena terus berbaring, badanku jadi sakit karena terlalu banyak tidur," keluh Valerie pada Gerald.
"Badanmu sakit? Haruskah aku memanggil dokter." Gerald menghampiri istrinya dan mengecek tubuhnya.
"Sial, sepertinya aku salah bicara," desis Valerie dalam hati.
"Tunggu sebentar, aku akan menelpon dokter Reza." Gerald mulai meraih ponselnya.
Valerie yang takut merepotkan dokter Reza, buru-buru melarang suaminya untuk menelpon temannya. Ia pun akhirnya pasrah, dan setuju untuk di gendong sampai taman belakang rumah.
"Shǎguā, berhentilah bersikap berlebihan seperti ini … aku malu karena orang-orang memperhatikan kita," bisik Valerie.
"Kenapa mesti malu? Kita suami istri, jika mereka berani berbicara macam-macam aku akan langsung memecatnya," timpal Gerald. Ia mendudukkan istrinya di sebuah bangku.
Valerie memukul bahu suaminya cukup keras.
"Baby, apa salahku? Kenapa kau memukulku?"
"Aku sebal padamu, setiap diajak bicara selalu saja tidak mengerti," dengus Valerie kesal.
Gerald menatap Valerie bingung. "Coba katakan sebelah mana aku tidak mengertinya?"
Valerie menarik napasnya dalam, sepertinya ia perlu belajar sabar pada wanita-wanita yang ada di sinetron suara hati istri.
Jika ia disuruh memilih, lebih baik ia menonton live orang yang sedang menghitung beras dibanding menghadapi sikap Gerald yang membuatnya ingin menghilang saat itu juga.
"Baby, kenapa kau diam saja?" Gerald masih menunggu jawaban.
Valerie menggelengkan kepalanya, pandangannya kini terfokus pada bunga-bunga yang menghiasi taman belakang.
Meskipun, hanya di taman saja setidaknya ia bisa mengurangi rasa bosan karena terus menerus di kurung oleh suaminya di dalam kamar.
Rasa rindu akan butik dan jajanan yang sering ia makan, membuatnya tidak sabar untuk segera kembali melakukan aktivitasnya sebagai seorang desainer.
Siang menjelang, matahari kian meninggi. Rasa panas dari teriknya matahari mulai terasa menyengat kulit, Gerald yang merasa khawatir istrinya demam, mengajak Valerie untuk kembali ke kamar.
Padahal ukuran rumah Gerald luas dan megah, tapi entah kenapa Gerald selalu membawanya ke kamar. Dan tidak mengijinkan Valerie untuk bersantai di ruangan lain.
"Shǎguā," lirihnya menatap sendu Gerald.
"Kenapa? Kau merasa tidak enak badan? Kalau begitu ayo kembali ke kamar, kau harus istirahat," cerocos Gerald.
"Lalu, kenapa?"
"Shǎguā, apa kau percaya padaku?" Valerie menatap suaminya lekat.
Gerald tampak berpikir sejenak. "Tentu saja."
"Kalau kau percaya padaku, berhenti untuk bersikap berlebihan seperti ini," protes Valerie sikap Gerald yang terlalu overprotektif membuatnya merasa hampir gila.
"Berlebihan? Aku tidak berlebihan, aku hanya menjagamu sewajarnya saja," ucap Gerald membela diri.
"Sewajarnya saja?" Valerie tersenyum kecut mendengar pembelaan suaminya. "Shǎguā, kau selalu melarangku ini dan itu. Tidak boleh melakukan ini tidak boleh itu, bahkan aku mau mengambil air yang dekat saja kau melarangku … Shǎguā aku sehat dan tidak lumpuh, aku masih bisa melakukan semuanya sendiri," ujar Valerie mengungkapkan unek-uneknya pada Gerald.
"Baby, aku melakukan itu karena aku takut kau kenapa-kenapa."
"Aku tahu, kau melakukan itu karena kau khawatir dan sayang padaku. Tapi Shǎguā aku merasa terkekang dengan sikap berlebihan mu itu, aku malah bisa stress karena terus berada di kamar." Valerie meraih tangan suaminya.
"Percayalah padaku, aku bisa menjaga diriku dengan baik."
Gerald menatap nanar istrinya, ia terlihat sedih karena ternyata selama ini istrinya tidak bahagia dengan sikapnya. Padahal ia hanya ingin memastikan istrinya tetap bahagia dan baik-baik saja, tapi ternyata Valerie malah merasa stress.
"Shǎguā," lirih Valerie yang melihat suaminya melamun.
"Baiklah, aku tidak akan seperti itu lagi. Tapi kau harus berjanji, kamu harus menjaga diri baik-baik sedikit saja ada yang terluka aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."
Valerie mengangguk dan mengacungkan jari kelingkingnya sebagai tanda persetujuan, Gerald mengaitkan kelingkingnya pada jari Valerie kemudian mereka saling melontarkan senyuman satu sama lain.
🌸🌸🌸🌸
Kantor Uri Sunshine.
Gerald terus mondar mandir di ruangannya, ia terlihat gelisah sambil terus mengomel pada Rendi.
Ia terus bertanya, apa salahnya jika dirinya ingin melindungi sang istri? Ia banyak melarang pun juga demi kebaikan istrinya.
Gerald tak hentinya menggerutu dan bertanya, tapi setiap kali Rendi akan berbicara ia selalu memotong dan tak memberinya kesempatan untuk berbicara.
Melihat bosnya yang seperti itu, Rendi hanya bisa sabar dan menjadi pendengar yang baik.
"Oh iya. Istriku menyuruhku untuk bertanya padamu apa arti dari ' Shǎguā'?"
Rendi mengerutkan dahinya.
"Saya juga tidak tahu Tuan."
Gerald memijat pelipis matanya. "Coba kau cari di internet, aku penasaran sekali … setiap dia memanggilku dengan sebutan itu rasanya aku selalu dikata-katai olehnya."
"Bodoh," sahut Rendi.
Gerald langsung menatap tajam sekretarisnya itu.
"M-maksud saya, Shǎguā itu artinya bodoh tetapi kata ini tidak jarang juga digunakan untuk orang-orang yang sedang pacaran. Biasanya, yang gunakan panggilan ini adalah laki-laki untuk pacar perempuannya yang terlihat polos dan agak bawel. Mungkin Nyonya memanggil anda seperti itu karena anda cerewet Tuan," cetus Rendi membuat Gerald melemparnya dengan bola kertas.
"Pantas saja, dia selalu semangat saat memanggilku seperti itu. Rupanya dia sedang mengataiku bodoh, lihat saja nanti aku akan membalasnya," gumam Gerald. "Rendi, tempatkan anak buahmu untuk mengawasi istriku lagi … aku takut kalau terjadi sesuatu padanya," lanjut Gerald memberi perintah.
Rendi pun mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan bosnya sambil menahan senyum, karena baru kali ini ada yang berani menyebut Gerald bodoh.
.
.
Bersambung…
Minta tekan favoritnya ya, yorobun💜 makasih