
Di sebuah rumah mewah bergaya klasik, yang terletak di Jepang. Seorang pria tengah duduk sembari menikmati teh tawar hangat di sore hari.
Keadaan yang hening dan sunyi, membuat pria itu terlihat begitu relax dan menikmati harinya. Sampai ia mendengar suara ketukan di balik pintu, wajahnya langsung berubah menjadi masam.
Orang itu bersimpuh dan memberi hormat pada atasannya. "Sumimasen deshita, Tuan. Sudah mengganggu waktu santai anda," ucap orang yang sedang bersimpuh.
Pria dengan setelan jas hitam itu mengangkat kepalanya dan memberikan selembar foto wanita pada Tuannya.
"Namanya Valerie Laruna, dia adalah istri dari Tuan Gerald. Dia memiliki sebuah butik, saya dengar juga Tuan Gerald sangat mencintai istrinya sampai dia menyimpan beberapa anak buah di sekitar istrinya tanpa sepengetahuan siapapun termasuk istrinya sendiri."
"Jadi, pria sombong itu sudah menikah rupanya?"
"Benar, Tuan. Mereka telah menikah sekitar tiga bulan yang lalu dan tidak mengadakan pesta pernikahan yang mewah," jelasnya.
"Saya juga dengar desas desus jika menteri perdagangan kota Edelweis tewas di tangan Tuan Gerald, tapi dia menyembunyikan semuanya seakan-akan menteri itu meninggal karena bunuh diri di sel," lanjutnya menjelaskan.
Sebuah seringai pun muncul di sudut bibir pria berdarah Jepang itu, ia jadi memikirkan rencana untuk membalas perbuatan Gerald yang berani menolaknya untuk bekerja sama. Ia pun memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan pesawat, karena hari ini juga ia akan terbang ke Edelweiss.
Namun, sebelum ia melakukan perjalanan jauh. Dia menelpon seseorang terlebih dahulu, dan memberitahukan semua yang belum diketahui oleh orang itu mengenai kematian orang tercintanya.
🌸🌸🌸🌸
Masih berada dalam perjalanan, Valerie yang merasa lapar begitu lahap saat memakan gorengan serta lontong yang tadi ia beli secara satu persatu.
Valerie yang memakan gorengan dengan cabe rawit, membuat Riska jadi ketar ketir.
Nyonya Valerie yang lahap makan gorengan, gue yang deg-degan.
"Kamu kenapa sih, Ris? Dari tadi kayak ketakutan gitu," tanya Valerie santai.
Astaga nyonya, anda sedang bertanya atau meledekku? Kalau Tuan tahu anda makan gorengan aku akan langsung di pecat.
"Riska," panggil Valerie, membuyarkan lamunan asisten barunya.
"I-iya nyonya, kenapa?" jawab Riska gugup.
Valerie mengerlingkan matanya, dan menatap ke arah jendela.
Mobil telah sampai di sebuah coffee shop, lagi sebelum Riska turun Valerie sudah mendahuluinya dan membuka pintu sendiri.
Ia mengekor Valerie seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya. Mereka duduk di salah satu meja yang terletak dekat jendela, sembari menunggu client datang Valerie menawarkan minuman apa yang diinginkan oleh Riska.
Wanita tomboy itu sempat menolak, ia tidak berani menerima apapun yang diberikan oleh Valerie. Karena bosnya terus memaksa ia pun akhirnya memesan cappucino, sementara Valerie memesan kopi macchiato dan cheese cake.
Setelah menunggu beberapa menit, pesanan keduanya pun datang. Sebelum memakan cakenya, Valerie akan mengambil gambar dan menguploadnya di laman medsosnya lalu menawarkan cake tersebut pada Riska.
Dari sikap Valerie yang selalu menawarkan sesuatu padanya, ia dapat menyimpulkan jika Valerie merupakan orang yang baik dan perhatian meskipun, agak sedikit keras kepala sepertinya tidak akan begitu sulit untuk mendampinginya.
Lagi pula bukankah hal wajar, jika semua orang suka gorengan atau jajan di pinggir jalan, mau itu orang biasa atau orang kaya sekalipun tergantung gaya hidup masing-masing. Mungkin hanya Tuan Gerald dan sepupunya saja yang aneh, tidak memperbolehkan Valerie makan dan melakukan ini dan itu yang dapat membahayakan kesehatan istri dari pengusaha besar tersebut.
Namun, peraturan tetap peraturan ia tidak boleh melanggarnya. Ia harus bisa melarang Valerie untuk membeli makanan di sembarang tempat lagi meskipun, dirahasiakan cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga.
Riska terus larut dalam pikirannya sendiri, memikirkan pekerjaannya yang terhitung gampang-gampang susah.
"Riska, kamu kenapa sih? Dari tadi ngelamun terus, ada masalah?" Valerie kembali membuyarkan lamunan Riska.
"Ah, em … t-tidak nyonya," jawab Riska gelagapan.
"Kamu nggak betah ya, kerja sama saya?" celoteh Valerie menerka.
Riska menggelengkan kepalanya cepat. "B-bukan begitu, nyonya. S-saya hanya teringat pada adik saya yang ada di kampung." Riska berdalih.
"Kampung? Memangnya kamu tinggal di kampung mana? Berarti sekretaris Rendi juga dari kampung dong, terus adik kamu usianya berapa tahun? Sekolah dimana?" Valerie mencecar Riska dengan banyak pertanyaan.
Sebenarnya itu tidak penting tapi, Riska bisa melihat kalau bosnya itu hanya sedang basa basi agar dirinya tidak banyak bengong.
"Di i–," terpotong oleh dering ponsel miliknya. "Maaf, nyonya saya angkat telpon dulu." Riska menjauh dari Valerie beberapa langkah, dan menerima panggilan telepon dari sekretaris Rendi.
"Hallo."
"Nyonya dimana? Apa dia baik-baik saja?"
"Sedang apa disana?"
"Nyonya bilang sedang menunggu client."
"Apa saja yang dimakan olehnya hari ini?"
"Mampus gue, apa gue harus bilang kalau nyonya tadi jajan gorengan? Kalau gue berbohong ketahuan nggak ya?" Riska dilanda rasa bimbang saat Rendi menanyai soal Valerie.
"Hallo, kenapa diam? Apa terjadi sesuatu?"
"T-tidak ada, sekretaris Rendi. Maaf disini sinyalnya jelek jadi aku tidak bisa mendengarmu. Hari ini nyonya baru memesan cheese cake dan kopi macchiato saja."
"Kau tidak sedang berbohongkan?"
Suara Rendi tiba-tiba berubah, menjadi suara Gerald. Mendengar suara Tuan besar membuat bulu hidung Riska kembali merasakan merinding.
"Saya tidak berani Tuan."
"Jaga istriku dengan baik, satu helai saja rambutnya terluka aku akan menjadikanmu umpan di laut!"
Tut …..
Telepon terputus, dan keringat dingin mulai membasahi dahi Riska setelah mendengar ancaman dari tuan besar.
"Memangnya, rambut bisa terluka?"
Riska kembali menghampiri Valerie dan duduk disampingnya. Meminum kopi yang tadi di pesan.
"Kok dia belum dateng-dateng ya?" Valerie melihat jam yang melingkar di tangannya. Ia menyuapkan satu sendok cheese cake ke dalam mulutnya lagi, merasa enak dengan dessert yang sedang ia makan, Valerie pun memesan nya lagi untuk dibawa ke butik.
"Val," sapa seorang pria.
Sebuah suara yang terdengar tidak asing ditelinga Valerie, wanita itu mendongak perlahan dan langsung berdiri ketika mengetahui jika orang itu adalah Devano.
"Mas Vano."
Riska ikut berdiri ketika melihat istri bosnya bangkit dari duduknya.
"Lama tidak bertemu, Val." Vano tersenyum pada Valerie.
"K-kamu ngapain disini?" Valerie melirik kesana kemari takut jika tiba-tiba suaminya datang, seperti yang sudah-sudah.
Devano duduk dengan santai di meja yang sedang ditempati Valerie dan Riska.
"Bertemu denganmu."
"Maaf, mas. Aku sedang menunggu client, silahkan kamu cari tempat yang lain," ucap Valerie memalingkan wajahnya dari Devano.
Vano kembali tersenyum. "Kau tidak perlu menunggu lagi, karena aku sudah disini," cetus Vano.
Valerie mengerutkan dahinya. "Apa? Jadi kau yang mengirim e-mail padaku kemarin?"
Devano mengangguk.
"Kamu keterlaluan," umpat Valerie. Ia mengajak Riska untuk pergi dari sana, tapi Devano menahan tangannya.
Melihat Valerie di sentuh oleh pria lain, Riska langsung sigap meminta pria itu untuk melepaskan tangan Valerie.
"Maaf, Tuan. Tolong lepaskan tangan nyonya Valerie."
Vano melirik Riska sesaat. "Siapa kamu? Tidak usah ikut campur dengan urusanku."
Riska tersenyum kecut. "Tapi, anda melibatkan nyonya saya. Apapun yang berhubungan dengannya maka akan menjadi urusan saya."
.
.
Bersambung.