
Angin berhembus cukup kencang, menerbangkan rambut panjang Valerie yang lurus dan hitam legam. Sudut bibir wanita itu mengembang, karena pada akhirnya ia bisa merasakan hembusan angin laut yang menerpa wajahnya.
Meskipun ia tidak bisa pergi ke pantai, setidaknya hari ini ia bisa sedikit bersantai tanpa ada gangguan dari pria sinting yang selalu memintanya ini dan itu.
"Cuaca cukup bagus, jika nanti malam melihat bulan di tepi pantai pasti akan jauh lebih indah," gumam Valerie. Yang Kembali membayangkan dirinya tengah duduk di tepi pantai menatap bulan yang membulat dengan sempurna.
Jiwa halusinasi Valerie akan adanya dewa bulan semakin menggebu, ia semakin berandai-andai ingin menjadi Dewi bulan yang akan terus diratukan oleh pria tampan juga pemberani seperti dewa bulan yang ada di drama kesukaannya.
Dirinya memang telah bersumpah untuk memilih hidup sendiri namun, jika pria yang datang melamarnya adalah dewa bulan. Ia tak akan berpikir panjang dan akan langsung melupakan sumpahnya itu.
Bagi Valerie karakter dewa bulan adalah tipe pria idamannya. Meskipun dingin dan kejam tapi, dewa bulan rela mengorbankan segalanya untuk bisa hidup bersama kekasihnya. Bahkan dewa bulan tidak pernah melirik wanita lain, di hatinya hanya ada satu nama yaitu peri anggrek.
"Tuan Gerald, memang sedikit memiliki karakter yang sama dengan dewa bulan. Tapi, sayang aku tidak mencintainya. Lagi pula aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menikah lagi … dan setelah aku kembali ke kota Edelweis aku akan mengakhiri semuanya dan membatalkan rencana pernikahan ku bersama tuan Gerald."
🌼🌼🌼🌼🌼
Le Grande Hotel.
Sebuah persiapan pesta pernikahan, yang akan diselenggarakan nanti malam di salah satu hotel bintang 8 ,sudah terlihat hampir rampung. Pesta yang bernuansa white gold itu terlihat begitu mewah, dan elegan.
Di ruang VVIP tuan Maheswari, terlihat sedang memberikan perintah pada ajudannya agar memperketat keamanan hotel. Dia tidak ingin sesuatu terjadi dan menghancurkan acara sakral putrinya yang hanya akan dilakukan sekali seumur hidup.
Sementara itu, di kamar presidential suite. Helena sedang duduk di depan cermin rias, menatap dirinya yang hari ini tampak begitu cantik dengan riasan wajah juga gaun pengantin putih bertabur batu safir dan Swarovski yang mewah.
"Putri Papa, hari ini sangat cantik." Maheswari menghampiri putrinya.
Helen tersenyum pada sang ayah. "Terima Kasih, Pa."
"Papa jadi ingat, pada mendiang ibumu … dia pasti sangat bahagia diatas sana karena melihatmu akan menikah hari ini." Maheswari mengusap sudut matanya yang berair.
Helen memeluk ayahnya erat. "Hem, Mama juga pasti bangga pada papa karena telah berhasil merawat dan membesarkanku. Meskipun, aku membuat kalian berdua kecewa."
"Sudahlah, jangan mengingat kesalahan yang telah berlalu … hari ini adalah hari bahagiamu, kau harus tetap tersenyum." Maheswari mengusap air mata putrinya. Helen tersenyum pada ayahnya, ia begitu beruntung memiliki seorang ayah yang sangat mencintainya.
"Dimana, Devano? Sejak tadi Papa tidak melihatnya," sambung Maheswari.
"Helen juga tidak tidak tahu, Pah. Aku belum melihatnya sejak tadi pagi," jawab Helen yang juga sejak dari tadi mencari keberadaan sang suami.
"Ya sudah, lanjutkan aktivitasmu. Biar Papa cari Devano."
Helen mengangguk, ia kembali duduk dan menyempurnakan riasannya. Menjadi ratu selama satu malam tentu saja dirinya ingin terlihat sempurna, sehingga ia tidak ingin ada sedikitpun kesalahan yang terlihat padanya.
Disaat semua orang sibuk dengan persiapan pernikahan, Devano yang sejak tadi menghilang. Rupanya dia ada di salah satu kamar hotel yang tak diketahui oleh siapapun.
Pria itu terlihat sibuk menelpon, wajahnya tampak gusar. Ia Tak hentinya mondar-mandir sambil mengulang panggilan dengan nomor yang sama.
"Nomornya tersambung tapi, kenapa dia tak mengangkatnya." Devano kembali menghubungi nomor tersebut, dan hasilnya tetap sama hanya ada suara operator yang memberitahukan jika panggilannya telah dialihkan.
Ting …
Sebuah pesan, masuk ke ponsel Devano.
"Dia ada di hotel Grand Paradise, Bali." isi pesan dari salah satu staff restorannya.
"Dia ada di sini? Sejak kapan dia ada disini? Aku harus kesana sekarang … jarak hotel itu juga tidak terlalu jauh dari sini, aku masih bisa mengejar waktu." Devano bergegas untuk pergi mendatangi hotel yang disebutkannoleh staffnya tadi.
🌼🌼🌼🌼
Hotel Grand Paradise.
Tok .. tok .. tok..
Rendi mengetuk pintu kamar Valerie.
"Tuan, meminta anda untuk menemaninya ke sebuah acara," jawab Rendi. Pria itu mengasongkan kotak berisi pakaian juga sepatu pada Valerie.
"Acara apa?" Valerie mengerutkan dahinya, sembari melihat dua kotak berukuran besar yang ada di tangannya.
"Acara penting, Tuan juga memberi anda waktu setengah jam untuk merias diri. Setelah anda selesai segeralah menemui tuan," ujar rendi yang kemudian kembali ke kamar bosnya.
"Eh–." Valerie masih ingin bertanya tapi, Rendi sudah pergi begitu saja.
Ia menatap kotak yang diberikan oleh Rendi, karena tidak ingin membuat Gerald marah. Ia pun menuruti perintahnya itung-itung balas Budi karena sudah memberikannya uang untuk membeli bahan.
Setengah jam kemudian. Valerie sudah terlihat anggun Dengan balutan dress kemben hitam, yang menampilkan bahu putihnya nan mulus serta rambut yang terurai membuat Valerie tampak seperti seorang Dewi.
Valerie memasuki kamar Gerald. Pria yang sedang duduk diatas sofa sambil memainkan ponselnya itu, melihat ke arah Valerie dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia sampai tak berkedip karena melihat pesona Valerie yang begitu luar biasa pada malam ini.
Matanya yang sipit, alis yang terukir dengan indah, hidungnya kecil dan mancung. Bibir ranum yang begitu manis serta dagu sedikit lancip nan minimalis. Membuat Gerald begitu gemas ingin segera memperistri wanita yang kini ada di depannya.
"Malam ini, dia benar-benar cantik sekali … rasanya aku tidak rela jika dia harus jadi tontonan orang lain," gumam Gerald yang menelan ludahnya kasar.
"Tuan, air liurmu hampir menetes," ejek Rendi sambil berbisik.
Gerald menutup mulutnya dan kembali tersadar.
"Kau, kenapa kau memakai baju seseksi ini?" tegur Gerald yang merasa gugup.
"Bukankah Tuan, yang memberikan gaun ini padaku," jawab Valerie heran.
"Oh, kau benar … tapi kenapa saat kau memakainya jadi terlihat seksi sekali, perasaan tadi tidak sebagus ini saat berada di toko," ujar Gerald. Aneh.
Valerie mengangkat kedua bahunya.
"Sudahlah lupakan, kemarilah," pinta Gerald.
Saat hendak menghampiri Gerald, Valerie terlihat ragu untuk melangkahkan kakinya.
"Kenapa? Kau takut padaku, karena merasa bersalah?" Gerald memancing Valerie tentang mimpinya tadi siang yang akan mengirimnya ke mars.
"Hah? Maksud anda, Tuan?" Valerie manatap Gerald tidak mengerti. "Apa dia mengungkit, masalah kemarin ya? Soal aku kabur dari toko perhiasan," gumam Valerie berpikir.
Gerald menatap Valerie, menunggunya mengatakan sesuatu.
"Ah, i-itu. Maafkan aku, Tuan. Kemarin aku pergi karena aku kesal anda tidak mendengarkanku, anda malah sibuk berdebat dengan pelayan toko itu," ungkap Valerie memberikan alasan kenapa dirinya kemarin kabur.
"Aku tidak bertanya tentang hal itu."
"Lalu, anda sedang membahas apa? Aku rasa aku tidak punya salah lagi selain hal itu," jawab Valerie semakin bingung.
Gerald menghampiri Valerie, memutarinya sambil berjalan. "Apa kau tidak ingat tentang, mars, raja bulan, menguliti dan mematahkan tulang … oh ya, satu lagi dan pria kaku." Gerald mendekatkan wajahnya pada Valerie.
Valerie tampak berpikir, ia semakin tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Gerald. Sejak tadi Gerald terus berbicara hal aneh, yang membuatnya bingung.
Ketika Gerald masih menunggu jawaban dari Valerie, Rendi yang baru saja mendapatkan bisikan dari earphonenya. Langsung memberitahukan pada Gerald jika di luar ada seseorang yang ingin menemui Valerie.
.
.
.
Bersambung….