My Dandelion'S

My Dandelion'S
Memecat staf.



Keesokan harinya. 


Valerie dan Gerald tengah sarapan bersama. Roti isi daging dan sayuran selalu menjadi menu favorit Valerie dikala sarapan. 


Sementara Gerald, selalu mengawali sarapan paginya dengan nasi. Ajaran sang ibu yang harus selalu mengutamakan nasi diterapkannya hingga sekarang.


Rencananya hari ini, Gerald dan Valerie akan pergi ke pabrik untuk melihat produksi kain sekalian mengambil beberapa lusin kain untuk bahan seragam pesanan Sean. 


Sarapan telah usai, Gerald menggenggam tangan istrinya dan berjalan beriringan menuju mobil. Dimana disana sudah ada Rendi yang menunggu dengan wajah datarnya. 


Semua sudah duduk di dalam mobil. Kendaraan mewah itu langsung melesat menuju pabrik, yang berjarak tiga jam dari rumah kediaman Gerald. 


                       🌸🌸🌸🌸


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, mobil akhirnya berhenti di pelataran sebuah pabrik besar yang memiliki bangunan depan cukup mewah.


Valerie dan Gerald turun dari mobil. Melihat bos besar yang datang tanpa pemberitahuan, para staff langsung terlihat panik dan menyambut kedatangan sang pemilik pabrik tersebut. 


Gerald mengenalkan istrinya pada para staff. Valerie tersenyum dengan ramah pada karyawan suaminya itu dan begitu juga sebaliknya, staff itu membungkuk dengan sopan. 


Sebelum mengecek laporan, Gerald mengajak istrinya untuk melihat proses pembuatan kain. Dari yang asalnya kapas menjadi benang, lalu penenunan benang dengan mesin canggih sehingga menjadi bentuk kain mentah. Setelah itu untuk menghasilkan kain yang bagus, kain-kain itu dibawa ke ruang pencelupan. Setelah semuanya selesai barulah dikirim ke ruang packing untuk diukur dan dikemas, kemudian siap di kirim ke seluruh wilayah baik impor maupun ekspor.  


Setelah berkeliling, dari ruangan satu ke ruangan lain. Gerald mengajak Valerie menuju ruangan packing dengan sepeda onthel yang disediakan oleh perusahaan untuk menjangkau tempat yang cukup jauh dari arah depan atau sebaliknya. Ruang packing dan ruangan pemintalan terletak di paling ujung bangunan, yang jika berjalan kaki akan memakan waktu selama 10 menit. 


Gerald sengaja menyediakan sepeda onthel untuk transportasi staff atau karyawan lainnya, selain untuk  menghemat waktu. Ia juga secara tidak langsung menyuruh karyawannya untuk bernostalgia ke masa kecil mereka yang dulu di bonceng oleh ayahnya.  


Didampingi oleh Rendi, dan beberapa staf manajer. Gerald serasa sedang jalan-jalan, menaiki sepeda sambil membonceng wanita cantik yang melingkarkan kedua tangan di pinggangnya. 


Jika orang-orang berjalan kaki, bisa sampai 10 menit. Maka Gerald yang menaiki sepeda, memakan waktu sampai setengah jam. 


Bukan ada staf yang mengajaknya mengobrol, melainkan dirinya terus bolak-balik dari ruangan satu sampai ruangan packing dan begitulah seterusnya. Gerald seolah merasa sedang berada di taman bermain.


Valerie tertawa karena Gerald terus memboncengnya tanpa henti, sampai-sampai ia merasa kasihan pada staff manager yang sejak dari tadi mengikutinya karena takut terjatuh.


"Sudah hentikan, kasihan mereka kelelahan," pinta Valerie tak tega.


"Biarkan saja." Gerald terus mengayuh sepedanya mengerjai bawahannya. 


"Shǎguā." Valerie menekan sedikit nada bicaranya. 


"Oke-oke, ratuku. Aku akan berhenti." Gerald memarkirkan sepedanya di tempat sepeda dan mulai masuk ke ruangan packing. 


Ruangan yang dipenuhi dengan berbagai mesin dan jenis kain yang sedang dalam proses pembungkusan, untuk dikirim ke berbagai daerah maupun luar negeri itu tersusun dengan rapi. 


Para karyawannya terlihat begitu khusyuk dan cekatan dalam bekerja, sepanjang ruangan ia berkeliling. Dia sampai tidak melihat ada karyawan yang mengobrol atau bercanda meskipun, mereka berdiri berhadap-hadapan seolah mulut mereka terkunci dan tak mau tegur sapa. Sesekali ia mendengar suara teriakan itupun, orang yang berkomunikasi mengenai pekerjaan selebihnya hanya suara deru mesin yang sedang menggulung dan mengukur berbagai jenis kain. 


"Sebelah sini, nyonya," ajak salah satu staff bagian gudang yang menunjukan rak berisi gulungan-gulungan kain berukuran sedang. 


"Kau pilih saja, mau yang mana?" titah Gerald pada Valerie. 


Valerie meminta pada staff itu untuk mengambilkan contoh Kain katun linen. Kain oxford. Kain drill. Kain Tetoron Cotton, TC dan Tartan juga jenis macam kain lainnya.


Staff itu mengangguk, dan mulai mengambil gulungan kecil untuk diberikan kepada Valerie. 


Wanita itu meraba satu persatu kain tersebut, merasakan kualitas kain mana yang cocok untuk seragamnya. Dan pilihan pun jatuh pada kain drill untuk atasan dan kain tartan untuk bawahannya yang memiliki motif kotak-kotak berwarna navy.  


 


Gerald pun menyuruh salah satu staf ruangan wanita, untuk menemani istrinya melihat-lihat cara mengemas kain yang akan dikirim. 


Valerie menghampiri salah satu bagian pengukur kain, cara pengukuran kain yang masih terkesan tradisional membuat Valerie tertarik untuk melihatnya. 


Sebuah kayu yang memiliki tinggi kurang lebih sekitar 160 cm, di pinggirnya memiliki bagian besi serta jarum-jarum yang menggantung di kedua sisinya sebanyak 50 buah untuk mengaitkan kain yang akan diukur, jadi total jarum keseluruhan jadi 100 buah, dan memiliki jarak panjang 1 yard. 


Melihat seorang karyawan wanita yang sedang melakukan itu dengan lihai, Valerie jadi tertarik ingin mencobanya. Staf ruangan melarang Valerie untuk mencobanya, sebab melakukan pengukuran tradisional perlu skill dan konsentrasi, jika tidak hati-hati bisa saja jari terkena tusukan jarum hingga berdarah. 


Valerie bersikukuh ingin mencoba, staf pun tak dapat menghalanginya lagi karena istri bos besar itu terus memaksa. 


Saat melihat Valerie mulai belajar mengaitkan kain pada pengukur, hati staf wanita ruangan itu getar getir takut jika tangan mulus Valerie terluka. Jika itu sampai terjadi, bos besarnya pasti akan memarahinya habis-habisan. 


Di gedung utama bagian depan. 


Gerald sedang memeriksa laporan keuangan, serta grafik perusahaan yang saat ini sedang melonjak. Gerald merasa puas sebab penjualan kain yang diproduksinya di beberapa perusahaan tidak pernah anjlok, bahkan di cabang-cabang lain. Meskipun, tidak melonjak tapi, grafik mereka masih berada di batas aman. 


Gerald pun memerintahkan pada manager yang memimpin pabrik pusat itu untuk memberikan bonus pada seluruh karyawannya, karena berkat mereka juga perusahaannya jadi semakin maju. 


Semua urusan telah usai, kain juga sudah ada di dalam mobil. Valerie pun telah kembali dari ruang packing, kini saatnya mereka untuk pulang. Manager dan jajaran staf mengantarkan bosnya sampai ke mobil, begitu mobil bos besar melaju. Semuanya bisa bernapas dengan lega. 


"Kau senang, Baby?" 


"Hem." Valerie mengangguk. "Karyawannya ramah-ramah, dan rajin aku jadi betah," sambungnya.


"Syukurlah." Gerald menggenggam tangan istrinya, dan merasakan sesuatu yang kasar melingkar dijari sang istri. 


Ia mengacungkan tangan Valerie dan bertanya dengan wajah yang khawatir. 


"Baby, tanganmu kenapa?" 


Valerie melepaskan tangannya dari Gerald. "Tidak apa-apa, tadi aku mencoba mengukur kain tanganku tergores jarum sedikit," ujar Valerie tersenyum. 


"Ya ampun, Baby. Seharusnya kau berhati-hati … Rendi kita ke rumah sakit sekarang," titahnya pada sang sekretaris.


"Rumah sakit? Untuk apa?" 


"Mengobati tanganmu." 


"T-tidak usah, ini hanya luka kecil saja. Aku sudah sering mendapatkan luka seperti ini," ucap Valerie. Ia merasa suaminya terlalu berlebihan.


"Diam, dan duduklah. Aku tahu itu rasanya pasti sakit sekali … aku harus memecat staf ruangan itu. Aku sudah mengatakan untuk menjagamu, dia malah membuatmu terluka," dengus Gerald marah.


.


.


.


.


Bersambung.