
Semua urusan telah selesai, Gerald sudah menemukan petunjuk siapa yang telah menyuruh Hendra. Data-data perusahaan yang bocor telah di perbaiki dan diperbaharui, Gerald juga sudah memastikan jika data-data kali ini tidak mudah untuk diretas, begitu juga dengan Fero yang telah menyelesaikan tugasnya.
Fero telah mengembalikan, harta perusahaan yang telah dikorupsi oleh Hendra. Sebagai perayaan keberhasilan, Fero meminta pada Gerald untuk menghadiri acara makan malam sekaligus sebagai acara perpisahan ketiganya yang akan diadakan besok malam.
Sebelum kembali ke edelweiss, Gerald menyempatkan diri untuk menyambangi Maheswari yang masih meringkuk di sel tahanan kota Bali.
"Wah-wah, aku tidak mengira ruangan penjara di negara ini ternyata memiliki fasilitas seperti hotel bintang 7," sindir Gerald pada Maheswari.
Maheswari yang tengah membaca koran, terhenyak saat melihat kedatangan Gerald yang tiba-tiba.
Maheswari menghampiri Gerald. "T-tuan Gerald, apa yang anda lakukan disini?"
"Hanya sekedar lewat, dan aku dengar anda ditahan disini jadi aku mampir untuk melihat keadaan anda … tapi, sepertinya anda sangat menikmati hidup disini. Oh iya saya juga mau minta maaf karena tidak bisa hadir di acara pernikahan putri anda, saat kami akan berangkat tiba-tiba saja seseorang datang menyerangku."
"Benarkah? Apa anda baik-baik saja, Tuan."
"Ya, bagiku dia hanyalah lalat pengganggu … ngomong-ngomong kenapa anda bisa ditahan?"
"Ahaha, hanya kesalah pahaman biasa." Maheswari terkekeh untuk menutupi masalahnya dari Gerald.
"Benarkah?" Gerald menatap penuh selidik.
Maheswari mengangguk, perasaannya berubah menjadi canggung dan gugup. "Tuan, anda orang yang memiliki kekuasaan di Edelweiss … bisakah anda membantu saya keluar dari sini?"
Gerald menyunggingkan senyumnya. "Anda terlalu berlebihan, aku tidak punya kekuasaan apapun … bukankah anda sendiri yang memiliki kekuasaan besar."
"Tidak Tuan, aku hanyalah seorang menteri tidak punya kekuasaan apapun. Kau adalah seorang pengusaha besar, bahkan hampir setengah negara edelweiss saja adalah milik anda … saya mohon Tuan bantu saya keluar dari sini." Maheswari menyentuh tangan Gerald mengiba.
"Hanya kesalahpahaman tapi, kenapa anda sampai memelas padaku? Seharusnya anda bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Bukankah bisa ditempuh dengan jalur damai."
"A-aku tidak tahu siapa yang telah melaporkan ku."
Gerald menepis tangan Maheswari. "Baiklah, aku akan mengeluarkanmu dari sini asal dengan syarat."
"Apapun itu, aku akan melakukannya."
"Anda hanya perlu menulis surat pengakuan, kenapa anda bisa di penjara? dan tuliskan juga dosa mu di masa lalu… tulis selengkap-lengkapnya. Satu saja yang kurang aku tidak akan membantu anda."
"Tapi."
Gerald menarik napasnya dan melihat jam tangannya. "Tuan Maheswari, waktuku sudah habis. Aku sudah harus kembali ke edelweiss … semoga kau sehat selalu," pamit Gerald.
"Tunggu!"
Gerald menyeringai saat Maheswari menghentikan langkah kakinya. Ia memutar tubuhnya dan menatap Maheswari.
"Baiklah, aku akan memenuhi syarat itu," ujar Maheswari yang sudah memikirkannya secara matang.
"Oke, aku akan menunggu," pungkas Gerald yang kemudian meninggalkan kantor polisi tersebut.
"Jangan pikir aku akan melepaskanmu hidup-hidup, dengan adanya surat pengakuan itu aku bisa membunuhmu dengan cara yang sama saat kau membunuh ayahku!" Gerald mengepalkan tangannya erat.
🌼🌼🌼🌼
Tepi pantai Kuta Bali.
Dibawah payung besar yang terbuka lebar, Valerie membaringkan tubuhnya di atas kursi santai. Dibalik kacamata hitamnya, ia memejamkan kedua matanya sembari menikmati hembusan angin laut untuk terakhir kalinya.
Ya, Gerald sudah memberitahunya jika dua hari lagi mereka akan kembali ke edelweiss. Valerie menghembuskan napasnya kasar, senyuman bahagia terlukis di wajahnya.
"Akhirnya, aku bisa kembali bebas tanpa harus melayani tuan Gerald lagi," gumam Valerie senang.
"Tapi, apa aku tidak terkesan jahat ya … jika membatalkan pernikahan itu?" Valerie tampak berpikir. "Aku rasa tidak, tuan Gerald saja yang membunuh orang dia terlihat tidak bersalah sama sekali … lagipula aku tidak yakin jika dia benar-benar mencintaiku. Memang sih tuan Gerald baik, dia mau menampung dan merawatku saat sakit. Tapi, aku rasa itu setimpal dengan apa yang dia dapat dariku … sudahlah jangan memikirkan itu lagi, aku rasa tabunganku juga cukup untuk memindahkan butik ke tempat yang lain sehingga aku tidak bergantung lagi pada pria itu." Valerie menganggukan kepalanya, tekadnya sudah bulat untuk membatalkan rencana pernikahannya dengan Gerald.
Saat Valerie mulai menikmati me timenya kembali, seorang pria tampak menatapnya dari atas membuat Valerie terperanjat dari tidurnya.
"Nona Valerie, apa kau lupa? Aku Fero yang dulu membantumu," ucap Fero tersenyum.
"Oh, maafkan saya … karena tidak mengenali anda," ujar Valerie gugup.
Fero terkekeh dan duduk di kursi samping Valerie. "Tidak apa-apa, maaf karena sudah mengejutkanmu."
Valerie menganggukan kepalanya pelan. "Anda sedang apa disini?"
"Hanya kebetulan lewat, sambil mencarimu aku pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi. Ternyata kita jodoh." Fero terkekeh.
"Hah?"
Fero menghentikan kekehannya. "Maksudku … ah aku pikir kau sudah kembali ke negara asalmu." Fero yang gugup langsung mengalihkan pembicaraannya.
"Aku disini dua hari lagi, setelah itu aku akan kembali pulang."
"Wah, sayang sekali ya … oh ya Nona sebagai salam perpisahan mau kah kau datang ke acara makan malamku besok?"
Valerie tampak berpikir.
"Please, mau ya?"
Sambil tersenyum, Valerie mengindahkan ajakan Fero.
Fero tersenyum senang, karena Valerie mengiyakan ajakannya. Keduanya pun mulai mengakrabkan diri, dengan menghabiskan waktu bersama sepanjang hari.
Sifat Fero yang friendly dan tidak kaku, membuat Valerie dengan mudah berbaur dengan Fero tanpa ada rasa canggung. Padahal baru dua kali dirinya bertemu dengan Fero akan tetapi, keduanya sudah merasa akrab satu sama lain.
Matahari mulai terbenam, Valerie dan Fero terlihat menikmati pemandangan indah tersebut. Tak hanya Valerie dan Fero saja, semua turis yang ada di pantai juga tampak menikmati keindahan yang diciptakan oleh sang maha pencipta bersama pasangannya masing-masing.
Saat sedang asik menatap sunset. Ponsel Valerie berdering, ia sedikit menjauh dari Fero untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Hallo,”
“Baby, kau dimana? Kenapa jam segini masih belum kembali?” dengus si penelepon.
“Aku masih dipantai, sebentar lagi aku akan pulang.”
“Aku tunggu 10 menit, jika melewati waktu aku akan menghukummu.”
Tut ….
Panggilan terputus.
"His, selalu saja mengganggu waktu luang ku," gerutu Valerie sebal.
"Mas Fero, sepertinya aku harus kembali ke hotel. Mas Fero nggak apa-apakan ditinggal sendiri?"
Fero tersenyum. "Tidak apa-apa, aku akan mengantarmu," tawar Fero.
"Eh, tidak usah aku bisa sendiri," tolak Valerie. Ia takut jika Gerald tahu dirinya diantar laki-laki pasti pria singa itu akan memukuli teman barunya.
"Kenapa?" Fero mengerutkan dahinya heran.
"Tidak apa-apa, sampai ketemu besok malam." Valerie melambaikan tangannya sambil berlari.
Fero kembali tersenyum sembari menatap Valerie yang sedang berlari. Ada perasaan dalam dada Fero yang sulit untuk diungkapkan ketika melihat Valerie pergi dari hadapannya.
.
.
Bersambung.