My Dandelion'S

My Dandelion'S
perlengkapan bayi.



"Rend, aku dengar dari Valerie kau memberikan motor itu atas namaku." Gerald berbicara tanpa menoleh.


Rendi mengangguk.


"Kenapa? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mengatakan jika motor itu darimu." 


"Saya tidak mau mengawali sebuah hubungan dengan kebohongan, Tuan," celoteh Rendi terus terang.


Mendengar kata-kata Rendi. Gerald yang sedang menulis langsung menghentikan kegiatannya.


Sadar ada yang salah dalam ucapannya, Rendi langsung meminta maaf pada Gerald atas ucapan bodohnya. 


Gerald yang merasa tersindir dengan perkataan sang sekertaris, langsung mengusir Rendi dari ruangannya. 


Rendi pun mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan bosnya, dengan perasaan bersalah. 


Di dalam ruangan. Gerald menggenggam erat-erat pulpen yang sedang dipegangnya. Ia tampak berpikir lalu, membuka laci meja dimana disana terdapat sebuah ponsel dan dompet wanita. 


Ya, ponsel dan dompet itu adalah milik Valerie yang bulan lalu hilang saat di bandara Bali. Gerald menatap kedua benda itu lekat-lekat. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Gerald, sebab author juga belum menemukan ide.


Gerald menyimpan kembali kedua benda itu, dan memanggil sekretarisnya untuk menanyakan permasalahan yang masih belum usai. 


"Bagaimana dengan artikel itu?" 


"Semuanya sudah diatasi Tuan, wanita itu hanya sedang sepi job sehingga dia sengaja menyeret nama tuan agar kembali meraih pamornya tapi, saya sudah mengurus semuanya dan admin akun yang mengangkat artikel itu juga meminta maaf karena telah lancang memberitakan pemberitaan yang tidak benar," jelas Rendi pada Gerald.


Gerald menganggukkan kepalanya pelan, sebenarnya ia tidak begitu peduli dengan artikel tersebut. Hanya saja ia tidak ingin sampai istrinya tahu dan khawatir pada karirnya. 


"Tuan, lalu bagaimana dengan Maheswari dan ajudannya?" sambung Rendi, yang bertanya langkah apa yang harus ia ambil untuk menangani kedua Manusia yang kini masih berada di tempat rahasia.


"Apa dia sudah membuat sebuah pengakuan yang aku minta bulan lalu?" 


"Belum, Tuan. Maheswari dan ajudannya terus menolak, mereka lebih suka di sana ketimbang memberikan pengakuan." 


Gerald bangkit dari duduknya dan berjalan menuju spot favoritnya yaitu di sudut ruangan depan kaca yang menampilkan pemandangan gedung-gedung tinggi. 


"Paksa dia untuk mengaku, dan jangan menyentuhnya tanpa seizin ku." 


"Kenapa, Tuan? Bukankah dengan menyiksa mereka akan memudahkan kita untuk mendapatkan informasi." 


"Aku ingin mereka mati seperti yang dialami oleh kedua orang tuaku … jika mereka mati karena dihajar itu terlalu indah untuk mereka," jawab Gerald yang kembali merasakan betapa sakit hatinya  ketika tahu kedua orang tuanya tewas dalam waktu yang berdekatan. 


Rendi hanya bisa diam, tak berani protes atau memberikan usulan. Dia hanya akan bergerak jika sudah bosnya yang memberi perintah. 


"Satu hal lagi, awasi gerak-gerik Mr, Shama. Aku melihatnya dia tidak mudah menyerah, aku punya firasat jika dia akan kembali menyerang kita." 


"Baik, Tuan." Rendi pun pergi meninggalkan ruangan Gerald untuk menyelesaikan pekerjaannya yang lain.


                      🌸🌸🌸🌸


Sore hari di butik Dandelion's. 


Ketika Valerie dan yang lainnya mulai bersiap untuk menutup toko. Seorang wanita dengan perut yang sedikit membuncit, datang ke tokonya dan mengajak Valerie untuk minum kopi bersama di salah satu cafetaria yang ada di salah satu mall kota Edelweis. 


at the coffee shop.


Valerie menatap Helena yang hari ini terlihat kurang sehat. Tanpa riasan wajah dan rambut yang sengaja ia Cepol ke atas, Helena tampak jauh berbeda dengan saat pertama kali Valerie lihat. 


Keduanya saling terdiam, Helena yang merasa malu dan bersalah karena telah menghancurkan rumah tangga Valerie terus menundukkan kepalanya.


Sementara Valerie menatap heran Helena. Pikirannya terus bertanya-tanya, apa yang terjadi pada wanita yang telah merebut suaminya itu?.


"Valerie," ucap Helena yang memulai pembicaraan lebih dulu. "Aku tahu, aku salah karena sudah menghancurkan rumah tanggamu … dan aku mau minta maaf atas kesalahan yang telah aku perbuat dulu," kata Helena penuh rasa sesal. 


Valerie menyentuh tangan Helena, ia merasa wanita yang saat ini ada dihadapannya sedang membutuhkan dukungan moril. "Sebelum kamu minta maaf, aku sudah memaafkan kamu … dan masalah itu, itu hanya masa lalu, kita tidak perlu membahasnya lagi." 


Helena tersenyum getir, ia benar-benar malu. Karena telah menyakiti seorang wanita yang berhati lembut seperti Valerie. 


"Apa yang terjadi? Mas Vano tidak melakukan apapun padamu kan?" tanya Valerie khawatir. 


Tujuannya menemui Valerie adalah untuk minta tolong, bukan untuk curhat mengenai masalah rumah tangganya. 


"Valerie, aku dengar kamu sudah menikah dengan Tuan Gerald," cetus Helena sedikit tersenyum. 


Valerie mengangguk pelan.


"Selamat ya, semoga pernikahan kalian bahagia selamanya," ucap Helena tulus. 


Ada ketulusan yang terpancar dari manik mata Helen, saat mendoakan Valerie bahagia dengan pernikahannya.


"Oh iya, aku mengajakmu kesini karena ada suatu hal … aku ingin meminta tolong padamu untuk menanyakan keberadaan ayahku dan ajudannya pada tuan Gerald." 


Valerie mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"Saat resepsi pernikahanku dengan mas Vano di Bali, seseorang sengaja memutar sebuah video mengerikan dan di saat yang bersamaan pula sekelompok orang tak dikenal datang dan menghancurkan pestaku. Dan disaat itu juga ayahku ditangkap oleh polisi, tanpa alasan yang jelas." Helena menjelaskan kronologi penangkapan ayahnya pada Valerie dengan wajah sedih.


"Resepsi mu hancur?" ujar Valerie kaget. 


Tiba-tiba saja Valerie jadi teringat, pada saat dirinya dan Gerald tengah duduk berdua di tepi pantai. Saat itu Rendi datang dan ingin berbicara tapi, Gerald langsung menghentikan Rendi lalu mereka menjauh darinya dan membahas sesuatu. "Apa jangan-jangan … Tuan Gerald yang sudah mengacaukan acara Helena karena dia marah pada Mas Vano yang sudah memukulnya?" gumam Valerie dalam hati. 


"Val, kamu bisakan bantuin aku?" suara Helena membuyarkan lamunan Valerie. 


"Memangnya, apa hubungan ayahmu dengan Tuan Gerald? Jika ayahmu ditangkap polisi, berarti ayahmu ada di penjara kenapa ingin bertanya pada suamiku?" Valerie terlihat begitu penasaran.


"Tuan Gerald adalah orang terakhir yang menemui ayahku di penjara. Ayahku juga meminta tolong pada Tuan Gerald untuk mengeluarkannya dari sana. Lalu, keesokan harinya aku mendengar jika ayahku akan kembali kesini. Tapi, kenyataannya ayahku dan ajudannya malah menghilang hingga saat ini." Helena kembali menjelaskan.


Helena menggenggam tangan Valerie, sambil memohon. Agar Valerie mau membantunya, ia tidak bisa hidup dengan baik jika belum tahu bagaimana keadaan ayahnya sekarang. 


Karena tidak tega dengan keadaan Helena, Valerie pun mengangguk. Dan akan membantunya untuk menanyakan perihal ayah Helena pada suaminya. 


"Terima kasih banyak, kau memang wanita berhati malaikat … padahal aku sudah menyakitimu tapi, kamu masih mau menolongku," ujar Helena terisak. 


"Helena, kamu tidak usah menangis. Sudah seharusnya sebagai manusia kita saling menolong, aku sudah memaafkanmu jadi kau jangan mengungkit masa lalu lagi. Sebaiknya kita membuka lembaran baru," tutur Valerie. Ia menggeser posisi duduknya dan mengusap punggung Helena yang terasa kurus. 


Untuk mencairkan suasana, Valerie mulai bertanya mengenai usia kandungan Helena. Ada rasa iri dalam hati Valerie, karena Helena bisa langsung mengandung tanpa harus menunggu waktu lama. 


Sementara dirinya, sudah satu tahun menikah dengan Devano tapi Tuhan masih belum memberikan kepercayaan padanya. Awalnya Valerie masih bisa berpikir positif mungkin belum waktunya untuk memiliki momongan.


Namun, setelah Gerald membawanya ke rumah sakit dan dokter mengatakan jika dirinya akan sulit hamil. Dunia Valerie terasa runtuh, dan sebagai seorang wanita ia merasa tidak berguna. 


Bahkan sekarang saja ia masih dibayang-bayangi rasa takut. Dia takut jika suatu hari Gerald berubah pikiran dan menuntutnya untuk memiliki anak. 


Setelah lama berbincang, Helena pamit lebih dulu pada Valerie. Sementara Valerie yang tak ingin pulang cepat-cepat karena bosan di rumah, memilih untuk berkeliling lebih dulu di mall. 


Ia memasuki salah satu toko pernak pernik yang menjual aksesoris wanita. Ia memilah dan memilih lalu, membeli beberapa ikat rambut, bando dan gantungan kunci berbentuk boneka pria yang sedang mengenakan pakaian tradisional China kesukaannya. 


Usai dari toko pernak pernik, Valerie kembali berkeliling dan masuk ke butik yang menyediakan pakaian pria.


Valerie tidak berniat membelikan Gerald baju, karena pakaian Gerald sudah sangat banyak. Tapi, entah kenapa seolah tertarik oleh magnet kakinya langsung melangkah kesana dan memilih beberapa kaos santai dan juga kemeja polos. 


Tangan Valerie sudah penuh dengan belanjaan. Senja pun sudah berubah menjadi gelap, sebelum Gerald sampai di rumah dia memutuskan untuk pulang. 


Dan sebelum keluar dari mall, langkah kakinya terhenti di depan sebuah toko yang memajang perlengkapan bayi. Ia menatap pajangan baju-baju yang lucu nan mungil dari luar, karena penasaran ia pun mampir sebentar. 


Niatnya hanya mampir, Valerie malah menjadi kalap mata. Setelah melihat lebih dalam lagi, begitu banyak barang-barang lucu yang ingin dibelinya. 


Valerie jadi teringat pada salah satu karyawannya yang sedang hamil, jadi ia membeli banyak peralatan bayi untuk diberikan pada karyawan itu. 


Kedua tangan Valerie telah penuh dengan belanjaan, untuk membawa belanjaan yang lain ia sampai meminta bantuan pelayan toko untuk membawa sebagian belanjaannya ke mobil. 


.


.


.


Bersambung.