
"Udah, Ma. Aku kenyang," ujar Valerie yang sudah merasakan perutnya penuh dengan makanan.
" Ya udah aja sih, Vel. Makanannya juga udah Habis," ujar Sarah meletakkan kembali kotak makanan yang sudah kosong di atas nakas.
Valerie tersenyum, memamerkan deretan giginya pada sang ibu.
"Ada cabe tuh nyangkut di gigi kamu, Vel," ucap Sarah sambil tertawa.
"Masa? Pinjem kaca dong, Ma." Valerie terlihat begitu panik.
"Haha, nggak sayang Mama cuman bercanda kok," kekeh Sarah menertawakan putrinya.
"Ih, Mama nggak lucu tahu."
"Lagian kamu nyengir Mulu … oh iya Mama mau tanya bagaimana dengan keadaan rumah tangga kamu sama Vano," ujar Sarah, kini obrolannya mulai beralih ke arah yang serius.
Senyuman Valerie langsung menghilang ketika ibunya bertanya mengenai pernikahannya, sorot matanya kini kembali jadi sendu.
"K-kami baik-baik saja, Ma," jawab Valerie. Wanita itu tak berani menatap wajah ibunya ketika sedang berbohong.
"Katakan yang sejujurnya, Veli. Mama tahu, rumah tangga kamu sedang tidak baik-baik saja," ujar Sarah. Yang sudah punya firasat jika pernikahan putrinya bermasalah.
Valerie menatap wajah sang ibu, sebenarnya ia ingin bercerita hanya saja ia takut jika penyakit jantung ibunya akan kembali kambuh apabila mengetahui penyebab rusaknya pernikahan dikarenakan orang ketiga.
Melihat putrinya terdiam dengan manik mata yang berkaca-kaca, Sarah menyentuh tangan Valerie dan mengusapnya dengan lembut.
"Keputusanmu, sudah tepat."
"Maksud, Mama?" Valerie menatap ibunya penuh tanya.
"Sebenarnya, Mama sudah tahu semuanya … hanya saja Mama sedang menunggu kamu untuk bercerita tapi, sepertinya putri Mama terlalu kuat untuk memendam masalahnya sendiri sehingga tidak mau berbagi cerita pada ibunya sendiri," ujar Sarah.
"Maafkan Veli, Ma. Veli cuman nggak mau Mama jatuh sakit hanya karena masalah Veli."
Sarah bangkit dari duduknya, dan memeluk sang putri dengan erat. Beliau sangat tahu jika saat ini putrinya sedang butuh dukungan,
dan tangis Valerie pun pecah ketika sang ibu memeluknya.
"Kamu masih punya Mama, yang akan selalu mendukung dan merangkul kamu … dan keputusan kamu yang ingin pisah dari Vano itu adalah keputusan yang tepat." Sarah mengusap punggung Valerie lembut.
Kedua wanita itu berpelukan cukup lama, dengan penuh kesabaran Sarah pun memberikan wejangan pada putrinya agar bisa lebih sabar dan menjadikan kegagalan ini sebagai pelajaran supaya putrinya bisa lebih berhati-hati lagi dalam memilih pasangan di masa depan.
Karena pada dasarnya, kehidupan setelah menikah itu tidak seindah apa yang kita bayangkan sebelumnya. Semakin tinggi pohon, maka semakin kencang juga angin yang menerjang. Begitu juga dengan kehidupan rumah tangga, semakin lama usia pernikahan maka semakin banyak pula cobaan yang datang dari masalah kecil sampai masalah terbesar sekalipun.
Ujian pernikahan tidak hanya dari kesetiaan pasangan saja, bisa dari segi ekonomi yang kurang bahkan ipar dan mertua yang tidak sejalan dengan kita yang bisa membuat pernikahan hancur.
Dan semua itu tergantung pada kita, bagaimana caranya untuk menyikapi ujian pernikahan tersebut. Memilih bertahan atau malah sebaliknya.
"Kapan kalian melakukan persidangan?" tanya Sarah, sambil melepas pelukannya.
"Veli, tidak tahu, Ma. Mas Vano menolak untuk menandatangani surat perpisahan itu," ujar Valerie terisak.
"Kamu yang sabar ya, biar nanti Mama yang urus semuanya."
"Makasih Ma, maaf Veli selalu membuat Mama susah … Veli belum bisa membuat Mama bahagia." Valerie kembali memeluk sang ibu.
"Tidak, apa-apa. Mungkin kebahagiaan kamu bukan terletak pada Devano, melainkan pada Gerald," celoteh Sarah membuat Valerie langsung melepas pelukannya.
"Kok Gerald sih, Ma," protes Valerie tidak suka.
"Gerald kelihatannya baik kok, Sayang. Bertanggung jawab lagi," puji Sarah pada pria yang baru ia temui beberapa jam yang lalu.
"Anaknya lagi sedih ngadepin perceraian Mama malah sibuk buat jodohin lagi … lagian Mama tahu dari mana kalau dia baik?"
"Ya itu, dia ngasih bunga kesukaan kamu barusan."
"Baru ngasih bunga doang, Mama udah menyimpulkan dia baik … dia itu jahat tau, Ma," dengus Valerie sebal.
"Firasat Mama itu nggak pernah salah loh, Vel. Contohnya, dulu Mama nggak setuju kalau kamu nikah sama Vano buktinya sekarang … kamu bisa rasain sendiri kan," ungkap Sarah yang tidak pernah menyukai Devano.
"Jadi sekarang Mama seneng, liat aku pisah sama mas Devano? Mama jahat," ketusnya.
"Ih, Mama tauk ah. Veli sebel." Valerie berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Iya deh, Mama minta maaf … udah ah jangan marah Mulu entar cepet tua loh," goda Sarah pada sang putri.
🌼🌼🌼🌼
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Nadia sudah datang menengok bosnya. Sama halnya seperti Sarah yang ketika datang membawa buket bunga Krisan berwarna putih, begitu juga dengan Nadia dia terlihat membawa tiga buket bunga berukuran besar di tangannya.
"Pagi, Bu … pagi, Mbak," sapa Nadia, yang tampak kerepotan dengan buket-buket bunga tersebut.
"Pagi, Nadia … tumben pagi sekali." Sarah membantu Nadia untuk meletakan barang bawaannya.
"Iya, Bu. Semalaman saya di teror terus sama pengagum rahasia mbak Valerie," ujar Nadia sambil menoleh ke arah Valerie yang sedang berkutat dengan buku dan pensilnya.
Valerie melirik asistennya tajam.
"Pengagum rahasia?"
"Iya, dan ini titipannya … hanya karena harus mengirim bunga. Saya yang baru bangun tidur sampai pontang-panting untuk segera datang kesini." Nadia menjelaskan sambil mengasongkan bunga-bunga itu pada Sarah.
"Buang aja, Ma. Veli nggak suka bunga Krisan," sela Valerie melanjutkan kembali kegiatannya.
"Kok, dibuang kalau di kasih itu harusnya diterima dong, Sayang."
"Pokoknya buang, Veli nggak suka. Memangnya aku kuburan apa tiap hari dikirimi bunga!" dengus Valerie sebal.
Sarah menuruti kemauan putrinya, ia membuang bunga-bunga itu ke tempat sampah. Entah bunga yang keberapa yang sudah ia buang, yang jelas selama di rumah sakit Gerald sangat rajin mengirim bunga-bunga itu pada Valerie.
"Mbak, jangan terlalu benci sama Tuan Gerald. Katanya kan kalo benci lama-lama jadi cinta," sahut Nadia terkekeh.
"Apa sih, cinta-cinta … aku nggak percaya cinta lagi! Oh iya, kalau kamu udah nggak ada urusan lagi mending kamu buruan ke butik kasian tuh yang lain nunggu butiknya buka." Valerie mengusir asistennya yang selalu ceplas ceplos.
"Ya ampun, mbak. Tidak bisakah aku bersantai sejenak, baru juga nyampe udah di usir lagi," protes Nadia menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.
"Udah, jangan dengerin dia. Kamu duduk aja disini dulu, itung-itung istirahat," ujar Sarah seraya tersenyum ramah pada Nadia.
"Ibu memang yang terbaik." Nadia mengacungkan kedua jempolnya ke arah Sarah, kemudian menjulurkan lidahnya pada Valerie pertanda meledek.
"Heuh, dasar anak buahnya es batu," sindir Valerie.
"Bu!" rengek Nadia pada Sarah. Sarah sudah menganggap Nadia seperti putri bungsunya sendiri, sehingga Nadia merasa tidak sungkan lagi pada ibu dari bosnya itu.
"Veli." Sarah menegur putrinya yang terus mengejek Nadia.
"Tukang ngadu!"
"Bu, mbak Valerienya tuh." Nadia kembali merengek dan mengadu.
"Veli, udah dong Mama pusing dengernya," protes Sarah yang memijat pelipis mata karena kedua putrinya terus beradu mulut.
"Nadia Mulu yang di belain, yang anak Mama itu Veli atau Nadia sih, Ma?" Valerie ikut protes pada sang ibu yang terus membela asistennya.
"Kalian berdua anak Mama, udah ya jangan berantem lagi. Sebaiknya kamu istirahat biar cepet sehat," ujar Sarah mengambil buku dan pensil yang sedang dipegang Valerie.
"Iya, bener tuh mbak biar mbak cepet sembuh dan bisa kembali ke butik lagi kita udah pada kangen loh sama mbak Valerie," timpal Nadia seraya tersenyum pada Valerie.
"Yakin, kalian kangen?"
Nadia menarik napasnya dalam saat menghadapi sifat Valerie yang hari ini terasa menyebalkan. "Tau ah, aku mau pergi dulu … Bu aku kerja dulu ya." Nadia mengambil tasnya dan mencium kedua pipi Sarah. Gadis itu pun pamit pada Valerie untuk segera pergi ke butik.
.
.
.
Bersambung.