My Dandelion'S

My Dandelion'S
Ruang bawah tanah.



Setelah satu jam berkutat dengan komputer, Rendi dan Fero terlihat kecewa sebab mereka tidak bisa menemukan apapun.


"Ren, apa sewaktu kalian membunuh Hendra apa kalian tidak menemukan ponselnya?" tanya Fero penasaran.


"Aku sudah menggeledah, dan mendatangi keluarga Hendra dan menanyakan keberadaan ponselnya tapi mereka tidak mengetahuinya." 


"Hais, kenapa waktu itu kalian langsung membunuhnya tanpa bertanya." Fero frustasi.


"Tuan Gerald sudah bertanya beberapa kali dia hanya menjawab jika kau yang menyuruhnya, lagi pula dia yang meminta untuk dibunuh … kau tahu sendirikan tuan Gerald seperti apa, dia akan langsung mengabulkan permintaan orang yang telah berkhianat padanya," ungkap Rendi mendelik.


"Bajingan itu, kenapa menuduhku! Untung saja tuan Gerald sudah menganggapku sebagai keluarga jika tidak mungkin aku sudah mati di tangannya," dengus Fero kesal. 


Rendi menoleh pada Fero. "Apa kau punya masalah dengannya? Aku rasa dia menuduhmu karena ingin menjatuhkanmu."


"Aku tidak punya masalah apapun dengannya, malah sebelum Hendra tewas dia mengajakku untuk bermain bersama para kupu-kupu." 


"Kau yakin?" Rendi menatap curiga.


Fero mengangguk. Ia tampak berpikir dan mengingat-ingat sesuatu. " Oh iya, akhir-akhir ini dia selalu mengatakan ingin membawa keluarganya ke Jepang untuk berlibur. Padahal setahuku dia tidak begitu tertarik dengan negeri sakura." 


"Ke Jepang?" 


"Iya, seingatku dulu dia selalu ingin berlibur ke Swiss hanya saja dia selalu sibuk jadi dia belum sempat untuk pergi kesana … lalu kenapa tiba-tiba ingin ke Jepang?" 


"Ayo temui keluarganya lagi," ajak Rendi pada Fero.


Fero mengangguk, dan mengikuti Rendi menuju kediaman Hendra. Dua jam setengah mereka melakukan perjalanan, akhirnya mereka sampai disebuah perumahan elite tempat tinggal Hendra. 


Mereka berdiri di depan rumah mewah berpagar tinggi, keadaan rumah terlihat sepi seperti tak berpenghuni. Rendi menekan bel beberapa kali dan tidak ada siapapun yang menyahut. 


"Sepertinya mereka sudah pindah," seru Fero yang menatap rumah itu sambil berpikir.


"Berani sekali mereka pindah, tanpa memberitahu ku," gumam Rendi. 


"Eh, lihat pagarnya tidak di kunci. Ayo masuk," sahut Fero.


Rendi melihat kearea sekitar, setelah di rasa keadaan aman ia pun mengikuti Fero untuk masuk ke dalam rumah. 


"Sekarang, bagaimana caranya untuk masuk?" tanya Rendi berbisik.


Fero mencari sesuatu kesekitar rumah, siapa tahu ada alat untuk membuka pintu atau jendela. Dan benar saja, entah keberuntungan atau hanya kebetulan ia menemukan linggis di dekat garasi. 


"Rendi, aku menemukan ini." Fero menujukan linggis pada Rendi sambil tersenyum.


"Bagus, sekarang cepat buka."


"Aku? Kau saja, aku sudah mencari benda ini tadi sekarang giliran mu untuk membukanya." Fero memberikan linggis itu kedada Rendi.


Rendi berdecak, dan mulai membuka pintu dengan linggis saat sedikit lagi pintu hendak terbuka seorang security memergoki mereka dan menyangka kedua pria itu pencuri. 


"Hei, kalian pencuri ya!" teriak security.


Fero meringis kesakitan, ketika benda padat yang terbuat dari besi itu menimpa kakinya. Ia pun mengangkat sebelah kakinya dan melompat-lompat sambil berteriak,  dia melompat kearah security dan mencoba mengecohkan perhatian petugas kompleks tersebut.


Rendi yang tak menyia-nyiakan kesempatan ini, langsung beraksi meneruskan mencongkel pintu tersebut. Pintu kini telah terbuka, ia masuk ke dalam dan mulai menggeledah setiap ruangan. 


"Sial! Sudah lama aku mengubek-ubek rumah ini tapi, masih belum menemukan apapun," desis Rendi kesal. 


Ia pun berjalan ke arah belakang rumah dan menatap ke salah satu kamar yang ada di bagian belakang, feelingnya mengatakan jika ada sesuatu yang tersimpan disana. Rendi memasuki kamar tersebut, jika di lihat ukuran kamar itu cukup kecil dan dia bisa menebak jika kamar itu adalah kamar Art. 


"Tidak ada apapun disini tapi, kenapa aku merasa jika ada sesuatu yang tersimpan." Rendi mencoba mengangkat kasur, membuka pintu lemari, mengecek kamar mandi juga karpet lantai dan itu sangat mengejutkan.


Ia menemukan sebuah pintu kayu yang ada di lantai kamar tersebut, pintu itu tergembok rapat. Dengan menggunakan alat seadanya, susah payah dirinya membuka gembok tersebut dan akhirnya pintu kayu itu terbuka. 


"Ruang bawah tanah?" Rendi menyalakan senter ponselnya dan mulai turun kebawah. 


Sesampainya ia di dasar ruang bawah tanah, ia mencari saklar lampu dan begitu lampu menyala mata Rendi langsung terbelalak saat melihat setumpuk emas batangan juga barang berharga lainnya yang ada disana, dia tidak tergiur dengan harta yang ada disana Rendi hanya terfokus pada pencariannya yaitu menemukan ponsel Hendra.


Rendi menyusuri ruangan bawah tanah itu perlahan, ia melihat sebuah kotak yang tersimpan di dekat patung gajah yang terbuat dari emas di sudut ruangan. Dia membuka kotak tersebut dan menemukan barang yang sejak kemarin ia cari. 


Setelah mendapatkan barang yang di cari ia pun bergegas untuk pergi namun, langkahnya terhenti ketika dirinya mendengar suara rintihan wanita awalnya ia mengabaikan suara itu karena ia berpikir mungkin hanya halusinasinya saja. Akan tetapi, semakin ia mendengarkan secara seksama rintihan itu semakin terdengar jelas.


Rendi yang memiliki nyali besar, tanpa ada rasa takut mencari sumber suara itu. Hingga pada akhirnya ia berdiri di depan tembok yang sedikit mencurigakan. 


"Siapa didalam?" teriaknya.


"T-tolong," suara wanita itu terdengar lirih dan lemah.


Rendi terhenyak, dan segera mencari cara untuk membuka tembok tersebut. Ia berpikir pasti ada cara untuk membuka pintu tersebut, sebab tidak mungkin wanita itu bisa masuk ke dalam sana jika tidak ada pintu. 


Setengah jam sudah Rendi mencari cara untuk membuka tembok itu tapi, tidak ada hasil. Pria itu memutuskan untuk menelpon Fero, agar menyusulnya kemari bersama polisi. Ia menyenderkan tubuhnya di dekat kotak yang tadi ia temukan dan tanpa sengaja sikunya menyenggol patung gajah emas sampai bergeser dan seketika juga tembok itu terbuka.


Rendi begitu kaget sekaligus kagum, ia tidak mengira jika Hendra memiliki pemikiran yang begitu jenius dengan membuat ruangan seperti ini. 


Tanpa mengulur waktu, Rendi mengecek apa yang ada di dalam ruangan itu. Begitu kakinya sampai di ambang pintu, dia lebih di kejutkan lagi oleh sesosok wanita berambut panjang tanpa busana yang ada di atas ranjang mewah dalam keadaan kedua tangan terikat di sandaran ranjang. 


Wanita itu terlihat mengkhawatirkan, tubuhnya kurus kering tak bertenaga dan mengeluarkan bau tidak sedap. Entah sejak kapan wanita itu terjebak disana jika di perkirakan mungkin sudah satu Minggu lebih. Wanita itu terlihat ingin berbicara tapi, keadaan nya yang lemas membuat wanita itu akhirnya pingsan atau mungkin mati. 


Tak berselang lama, Fero beserta beberapa orang polisi datang menghampiri Rendi. 


Para polisi itu langsung mengurus wanita tadi dan membawanya ke rumah sakit. Pihak kepolisian juga mengucapkan terimakasih pada Rendi, sebab wanita itu adalah orang yang di laporkan hilang oleh keluarganya sejak dua Minggu yang lalu. 


.


.


.


.


Bersambung.